Jumat, 13 Januari 2017

Doa Nabi Muhammad Saat Perang Uhud

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS Al-Anfaal 45)

Umat islam dibuat rebutan bagai makanan

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Rasulullah bersabda: “Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.” Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari hati musuh kalian kepada kalian, dan akan Allah tanamkan ke dalam hati kalian Al-wahn.” Seseorang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu Al-wahn?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (ABUDAUD – 3745) Shahih

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ اللَّهُمَّ لَا قَابِضَ لِمَا بَسَطْتَ وَلَا بَاسِطَ لِمَا قَبَضْتَ وَلَا هَادِيَ لِمَا أَضْلَلْتَ وَلَا مُضِلَّ لِمَنْ هَدَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُقَرِّبَ لِمَا بَاعَدْتَ وَلَا مُبَاعِدَ لِمَا قَرَّبْتَ اللَّهُمَّ ابْسُطْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِكَ وَرَحْمَتِكَ وَفَضْلِكَ وَرِزْقِكَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ النَّعِيمَ الْمُقِيمَ الَّذِي لَا يَحُولُ وَلَا يَزُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ النَّعِيمَ يَوْمَ الْعَيْلَةِ وَالْأَمْنَ يَوْمَ الْخَوْفِ اللَّهُمَّ إِنِّي عَائِذٌ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أَعْطَيْتَنَا وَشَرِّ مَا مَنَعْتَ اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنْ الرَّاشِدِينَ اللَّهُمَّ تَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ وَأَحْيِنَا مُسْلِمِينَ وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِينَ غَيْرَ خَزَايَا وَلَا مَفْتُونِينَ اللَّهُمَّ قَاتِلْ الْكَفَرَةَ الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِكَ وَاجْعَلْ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ اللَّهُمَّ قَاتِلْ الْكَفَرَةَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَهَ الْحَقِّ

Pada hari Perang Uhud ketika orang-orang musyrik berlari mundur, Rasulullah bersabda: “Berbarislah kalian hingga saya memuji Rabbku” lalu mereka (para sahabat) membuat barisan di belakang, lalu Rasulullah bersabda: “Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu, ya Allah tidak ada yang bisa mengenggam apa yang telah Engkau bentangkan dan tidak ada pula yang bisa membentangkan apa yang telah Engkau genggam. Tidak ada yang bisa memberi petunjuk terhadap siapa yang telah Engkau sesatkan, tak ada pula yang bisa menyesatkan siapa yang telah Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang bisa memberi terhadap apa yang telah Engkau tahan dan tidak ada pula yang bisa menahan terhadap apa yang telah Engkau beri. Tidak ada yang bisa mendekatkan terhadap apa yang telah Engkau jauhkan dan tidak ada pula yang bisa menjauhkan terhadap apa yang telah Engkau dekatkan. Ya Allah bentangkan pada kami dari barakah-Mu, rahmat–Mu, kelebihan-Mu dan rizki-Mu. Ya Allah, saya memohon kepada-Mu kenikmatan yang kekal yang tidak berlalu dan tidak pula hilang. Ya Allah saya memohon kepada-Mu kenikmatan pada saat kefakiran, dan keamanan pada saat ketakutan. Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa saja yang telah Engkau berikan, dan dari kejelekan apa saja yang telah Engkau tahan. Ya Allah, cintakan pada diri kami keimanan dan hiaskanlah pada hati-hati kami. dan bencikan diri kami terhadap kekufuran, kefasikan serta kemaksiatan. Jadikan kami di antara orang-orang yang berpetunjuk. Ya Allah, wafatkan kami dalam keadaan Islam, hidupkan kami dalam keadaan Islam dan sertakan kami bersama dengan orang orang sholeh yang tidak hina dan tidak pula terfitnah. Ya Allah, perangilah orang–orang kafir yang mendustakan para Rasul-Mu dan merintangi jalan-Mu, dan berikan mereka siksa-Mu dan adzab-Mu. Ya Allah, perangilah orang orang kafir yang telah diberi kitab (yahudi dan nashroni), ya Allah Ilah (Tuhan) kebenaran.” (AHMAD – 14945) Shahih

Senin, 02 Januari 2017

Abdullah bin Ubay bin Salul memusuhi nabi

Nabi SAW dan Musuh Besarnya Abdullah bin Ubay bin Salul
Kaum Yahudi sudah diusir karena perbuatannya yang melampaui batas di dalam menghancurkan ketentraman dan kedamaian masyarakat Madinah yang terdiri atas bermacam-macam suku dan agama yang berbeda itu. Namun, keadaanMadinah belum aman betul akibat ulah Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin orang-orang munafik yang senantiasa menggunting dalam lipatan.
Beberapa lama kemudian dikabarkan bahwa Abdullah bin Ubay sakit keras. Abdullah, anak Abdullah bin ubay yang sudah masuk islam, walaupun anaknya seorang munafik yang jahat, tetapi sesuai dengan ajaran Alquran dan tuntunan Nabi, tetap melayani ayahnya dengan cermat dan penuh kasih sayang.
Hanya ia merasa sangat berat ketika ayahnya, dalam nafasnya yang makin sesak dan ajalnya yang makin mendekat, meminta padanya untuk memberitahu Nabi tentang sakitnya dan memohon agar dia bersedia menjenguknya sebelum dia mati. Agaknya menjelang mautnya, Abdullah bin Ubay sangat ketakutan membayangkan siksa neraka yang mengancamnya akibat maker-makar jahatnya sewaktu dia masih segar-bugar.
Selaku anak yang taat, ia pun mendatangi Nabi menyampaikan harapan ayah tercintanya waktu itu, kebetulan Umar bin Khatab sedang bersama Rasulullah. Beliau tersenyum ramah mendengarkan Abdullah berbicara sedangkan Umar tidak, ia meminta Nabi agar tidak meluluskan permintaan gembong kaum munafik itu. Alasannya, ia telah banyak sekali menghancurkan kepentingan kaum muslimah, dan serigkali mengkhianati Rasulullah. Apalagi dengan fitnah-fitnah keji yang selalu disebarkan untuk menjatuhkan nama Nabi.
Kepada Umar Radulullah menjawab ramah seraya mengenakan jubahnya yang terbagus, agar Abdullah bin ubay menghargai permintaannya. Lalu, ia berangkat mengikuti anak Abullah bin Ubay dari belakang. Umar walaupun tidak senang, terpaksa menyertai Nabi menuju rumah si sakit.
Setiba disana, Umar semakin mendongkol sebab dengan merengek-rengek minta dikasihani Abdullah bin Ubay memohon supaya Nabi melepas jubahnya itu unutk menyelimuti badannya. Abdullah bin Ubay ingin mati berselimutkan jubah Nabi.
Tampang Umar bertambah kecut, giginya menggertak dan tangannya mengepal. Sekali ini dengan wajah keras ia member isyarat kepada Nabi lewat matanya yang menyorot berapi-api. Ia teringat betapa hampir saja bertumpahkan darah antara kaum Muhajirin dan kaum Anshor gara-gara berita buruk dan desas-desusu yang dilontarkan oleh Abdullah bin Ubaybeberapa waktu sebelum sakitnya. Ia terkenang bagaimana tentara isalam nyaris hancur dalam perang. Uhud akibat desersi sebagian pasukan yang dipelopori oleh Abdullah bin Ubay. Jadi Umar amat benci rengekan Abdullah bin Ubay yang macam anak kecil itu.
Namun, Nabi berpendapat lain. ia adalah pemimpin bagi semua orang, semua manusia, bahkan jin dan rasul untuk sebnagsanya. Ia adalah rahmat buat alam semesta. Karena itu, nabi segera melepas jubahnya, dan menyelimutkannya ketubuh Abdullah bin Ubay yang tengah ditimpa demam hebat. Terkabullah keinginan pemuka kaum munafik itu untuk mati berselimut jubah Nabi yang suci.
Selepas itu umar bekata kecewa, “Ya,Rasulullah, engkau ini bagaimana? Bukankah Abdullah bin Ubay itu musuhmu?”
“Bukan. Dialah yang memusuhiku.”jawab Nabi.
“Yang jelas dia tidak pernah kering dari usaha jahat untuk membinasakanmu dan menghancurkan agamamu, mengacau masyarakat Madinah yang rukun dan damai. Ia adalah dedengkot kaum munafik.”
“Betul katamu,Umar,” jawab Nabi tetap tenang.
“ALangkah beruntungnya dia kalau dapat mati dengan berselimut jubahmu. Padahal kami para sahabatmu belum tenteu memperoleh nasib sebaik itu.”
Nabi lantas bersabda dengan penuh bijaksana.:Umar, jangan sempitpikiranmu. Apakah aku tidak boleh membuatnya senang sebentar sebelum ia mengalami azab berkepanjangan di neraka? Abdullah bin Ubay tidak akan selamat memakai jubahku dalam ajalnya.
Sebab jubahku tidak akan menyelamatkan siapa-siapa. Manusia hanya akan selamat olrh iman dan amaln salehnya sendiri.”

Abu Rafi’, Seorang Yahudi Musuh Nabi

Abu Rafi’, Seorang Yahudi Musuh Nabi
Diriwayatkan dari al-Barra’ bin Azib dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus rombongan terdiri dari kaum Anshar yang dipimpin oleh Abdullah bin ‘Atik kepada Abu Rafi’ al-Yahudi. Abu Rafi’ adalah seorang yang senantiasa menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyusahkan beliau. Ia tinggal di sebuah benteng di Hijaz.
Ketika utusan rombongan telah mendekati wilayah Hijaz pada sore hari, mereka beristirahat. Sementara itu, Abdullah berkata kepada kawan-kawannya, ‘Duduklah kalian di tempat masing-masing, aku akan menuju pintu gerbang itu dan merayu penjaga pintunya, mudah-mudahan aku bisa masuk benteng.’
Abdullah berangkat menuju pintu gerbang, setelah tiba di depan pintu, ia menutupi tubuhnya dengan pakaian seolah-olah ingin buang hajat. Kemudian orang-orang masuk ke dalam benteng. Penjaga pintu berkata (ditujukan kepada Abdullah bin Atik), ‘Hai, kalau kamu ingin masuk cepat masuk, sebentar lagi aku ingin menutup pintu gerbang ini.’ Kemudian aku pun masuk. Ketika semua orang telah masuk benteng, penjaga pintu itu menutup pintu gerbang dengan memberi palang.
Sebentar kemudian aku menuju pintu gerbang lain dan aku ambil palangnya, lalu pintu itu aku buka. Aku dapati Abu Rafi’ sedang begadang dengan kawan-kawannya di atas loteng. Ketika kawan-kawan Abu Rafi’ meninggalkan tempat itu, aku naik ke atas loteng. Setiap kali aku melewati sebuah pintu lalu aku kunci dari dalam. Jika nanti ada orang yang melihat aku, harus aku habisi nyawanya.
Sekarang aku sudah sampai ke atas loteng. Ternyata Abu Rafi’ berada di sebuah ruangan yang gelap di tengah-tengah keluarganya. Aku tidak tahu di mana posisi Abu Rafi’, maka aku memanggil, ‘Wahai Abu Rafi’,’ Abu Rafi’ menjawab, ‘Siapa kamu?’ Aku menuju arah suara itu, lalu aku memukulnya dengan pedangku. Aku sendiri terperanjat, aku belum berhasil membunuhnya. Abu Rafi’ berteriak, lalu aku keluar rumah tidak jauh dari tempat itu, lalu aku masuk lagi. Aku berkata, ‘Kenapa kamu teriak Abu Rafi’?’ Abu Rafi’ menjawab, ‘Celaka, baru saja ada seseorang berada di dalam rumah ini berusaha membunuhku dengan pedangnya.’ Abdullah berkata, ‘Lalu aku pukul lagi Abu Rafi’ berkali-kali, tetapi tidak sampai membunuhnya. Baru kemudian aku tusuk dengan ujung pedangku hingga tembus punggungnya. Sekarang aku yakin bahwasanya aku telah berhasil membunuhnya. Kemudian aku membuka pintu demi pintu untuk turun loteng, dan aku sudah sampai di lantai bawah kediaman Abu Rafi’.’
Malam itu adalah malam bulan purnama, aku terpeleset (ketika turun loteng), betisku terluka, kemudian aku balut dengan kain sorbanku. Aku pergi untuk duduk di depan pintu gerbang. Aku berkata pada diriku, ‘Malam ini aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mengetahui berita kematiannya. ‘
Pada pagi harinya ketika ayam berkokok, seseorang mengumumkan dari atas benteng, ‘Saya memberitahukan bahwa Abu Rafi’, seorang pedagang di wilayah Hijaz telah meninggal dunia.’ Setelah itu aku pulang menemui kawan-kawanku, aku berkata, ‘Sebuah kemenangan, Allah telah membunuh Abu Rafi’.’
Aku pergi menemui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, aku menceritakan peristiwa itu kepada beliau. Beliau berkata kepadaku, ‘Julurkan kakimu. Lalu aku membentangkan kakiku kemudian Rasulullah mengusapnya, sehingga seakan-akan aku tidak pernah merasakan sakit pada kakiku’.” (HR. al-Bukhari, 4039.)

Perbuatan Utbah bin Rabi’ah Yang Mengantarkannya ke Neraka

Prediksi Kenabian
Umayyah bin Abi Shalt adalah seorang penyihir Jahiliyah yang terkenal. Dia banyak menelaah buku lagi membaca, bahwa seorang Nabi dari kalangan Arab akan diutus, diberitakan pula telah tiba masanya seorang Nabi akan keluar. Referensi menyebutkan kabar yang mengisyaratkan, Umayyah menduga bahwa Utbah bin Rabi’ah yang akan menjadi nabi.
Ibnu Asakir dan yang lainnya dari para sejarawan meriwayatkan kisah panjang seputar berita ini. Dia menyebutkan dari Abu Sufyan bin Harb, bahwasanya dia berkata:
Aku keluar bersama Umayyah bin Abi Shalt untuk berdagang ke Syam.
Dalam kisah disebutkan bahwa Umayyah mengetahui akan diutusnya seorang nabi dari kalangan Arab Hijaz. Dia menduga bahwa dialah Nabi itu. Hanya saja sewaktu di perjalanan menuju Syam dia bertemu dengan seorang pendeta Nashrani. Darinya dia mengetehaui, bahwa nabi itu akan diutus dari kalangan Quraisy yang umurnya 40 tahun. Karena itu Umayyah mengabarkan kepada Utbah bahwa dialah Nabi.”
Abu Sufyan berkata: Umayyah bertanya kepadaku tentang Utbah bin Rabi’ah. Katanya, “Wahai Abu Sufyan, kabarkanlah kepadaku tentang Utbah bin Rabi’ah, apakah dia menghindari kezhaliman dan hal-hal yang haram?”
Aku menjawab, “Ya, demi Allah.”
Umayyah berkata, “Dia menyambung tali persaudaraan dan berseru untuk menyambungnya?”
Aku menjawab, “Ya demi Allah.”
Umayyah berkata, “Dia memuliakan kedua belah pihak, penengah dalam keluarga/suku?”
Aku menjawab, “Ya.”
Umayyah berkata, “Apakah engkau mengetahui orang Quraisy yang lebih mulia darinya?”
Aku menjawab, “Tidak, demi Allah aku tidak mengetahuinya.”
Dia berkata, “Apakah dia memiliki kebutuhan?”
Aku menjawab, “Tidak, bahkan dia seorang yang kaya raya.”
Dia berkata, “Berapa umurnya?”
Aku menjawab, “Lebih dari seratus tahun.”
Dia berkata, “Sesungguhnya usia kemuliaan dan harta menghinakannya.”
Maka kukatakan padanya, “Tidaklah usia bertambah melainkan kemuliaan pun bertambah.”
Dia berkata, “Aku mendapati dalam kitab-kitabku, bahwa Nabi itu diutus di wilayah kita ini. Aku mengira dirikulah orangnya. Tatkala aku belajar kepada ahli ilmu, ternyata dia dari Bani Abdi Manaf. Lantas kulihat dia dari Bani Abdi Manaf, lalu kuperhatikan dan tidak kudapati orang yang layak untuk ini selain Utbah bin Rabi’ah. Maka tatkala engkau mengabariku tentang usianya aku mengetahui bahwa dia orangnya, karena dia telah melewati 40 tahun sementara wahyu belum turun kepadanya.”
Umayyah meyakinkan bahwa sifat-sifat Utbah telah gugur dan jauh dari kenabian.
Abu Sufyan berkata: Tatkala aku pulang ke Mekah, aku mendapati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus. Kemudian aku menemui Umayyah di Tha’if lantas kukatakan padanya seakan aku menghinakannya, “Wahai Abu Utsman –kunyah (panggilan) Umayah- Nabi yang engkau gambarkan telah keluar!”
Dia berkata, “Jika dia berada di atas kebenaran, maka ikutilah dia.”
Aku berkata, “Apa yang menghalangimu untuk mengikutinya padahal engkau telah mengetahui kebenaran?”
Dia menjawab, “Tidak ada yang menghalangiku melainkan rasa malu terhadap kaum wanita Tsaqif. Aku pernah berbicara kepada mereka bahwa aku seorang Nabi, kemudian bagaimana kalau mereka mengetahui aku tunduk kepada anak muda dari Bani Abdi Manaf!”
Kabar ini barangkali memberikan titik terang pada kita tentang kemuliaan turun menurun yang terpendam dalam jiwa Utbah bin Rabi’ah, yang menjadikan dirinya berhak dinobatkan sebagai nabi dari yang lain. Dan nampaknya bagi saya –wallahu a’lam- bahwa ini merupakan salah satu sebab yang menjadikan Utbah termasuk orang-orang yang berbuat kriminal yang terbesar permusuhannya terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Tatkala benih-benih keislaman mulai menyentuh hati kaum mukminin, Utbah bin Rabi’ah tergolong di antara orang yang berdiri menentang dengan kesombongan dan kecongkakannya di hadapannya kaum muslimin dan menghalangi Rasul yang mulia beserta para sahabatnya, mereka mendapat gangguan darinya, mereka selalu berhadapan dengan kekerasan dan kezhalimannya. Di antara yang mendapat gangguannya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.
Abu Bakar radhiallahu ‘anhu seorang pemberani di saat tak seorang pun dari kaum muslimin terang-terangan berbicara di hadapan para penyembah berhala dari kalangan Quraisy, mereka berada di Darul Arqam bersembunyi dari kaum musyrikin.
Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu menyampaikan ide kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –jumlah kaum muslimin kala itu mencapai 38 orang- agar mengumumkan dakwah, Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai Abu Bakar, kita ini masih sedikit.”
Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu mendesak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga Beliau mengizinkan mereka keluarga ke Masjidil Haram, kaum muslimin berpencar, setiap orang bersama keluarganya, sementara Abu Bakar berdiri berkhutbah di hadapan manusia dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk, dialah orang pertama yang menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kaum musyrikin menyerang Abu Bakar dan kaum muslimin, dengan penyerangan serempak ala Jahiliyah, mereka menyerang kaum muslimin di segenap penjuru masjid. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu diinjak dan dipukul dengan pukulan yang melukai. Si Fasiq yang berlagak mulia Utbah bin Rabi’ah mendekat dan memukul dengan kedua sandalnya yang menyakitkan muka Abu Bakar, sampai dia tak sadarkan diri. Kemudian keluarganya menbawanya ke rumah, seraya berkata, “Demi Allah, kalau seandainya Abu Bakar meninggal, kami akan membunuh Abul Walid Utbah bin Rabi’ah.
Abu Quhafah –ayah Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu- dan kaumnya berusaha mengajaknya berbicara hingga dia sadar dan menjawab mereka di akhir siang. Tahukah anda, kalimat pertama yang diucapkan Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu saat itu?
Dia tidak bertanya tentang dirinya dan apa yang diperbuat oleh si Fasiq Utbah, serta apa yang dideritanya akibat siksaan dan cercaan, melainkan dia berkata, “Apa yang diperbuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”
Semuanya merasa kebingungan, mereka mencerca, mengecam dan meninggalkannya dalam kesal dan marah karena apa yang diucapkan oleh Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.
Setelah kaumnya meninggalkan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, tinggallah sang Ibu –Salma binti Shakhr- (Ummul Khair) berduaan dengannya. Abu Bakar berkata kepadanya,
“Apa yang diperbuat Rasulullah wahai ibuku?”
Dia menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengetahui keadaan temanmu pada hari ini.”
Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata, “Pergilah ke Ummu Jamil Fathimah bintil Khaththab tanyakan padanya –dia termasuk orang yang menyembunyikan keislamannya-.” Maka sang ibu pergi menemuinya seraya berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar bertanya kepadamu tentang temannya Muhammad bin Abdillah.”
Fatimah berkata, “Aku tidak mengetahui seorangpun, jika engkau menginginkan aku pergi bersamamu ke anakmu, aku akan melakukannya.”
Dia berkata, “Ya.”
Maka dia pergi bersamanya hingga menemui Abu Bakar yang menderita sakit parah, dia bertanya padanya, “Apa yang dilakukan Rasulullah?”
Fatimah merasa takut terhadap ibunya Salma binti Shakhr dan berkata,
“Ini adalah ibumu, apakah engkau mendengar wahai Abu Bakar?”
Dia berkata, “Jangan khawatir tentangnya dan jangan takut, insya Allah.”
Fatimah berkata, “Dia selamat dan baik Alhamdulillah, dia di Darul Arqam.”
Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak akan makan dan minum sehingga menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Setelah suasana sepi, keduanya membawa Abu Bakar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau dituntun sambil bersandar kepada ibu dan Fatimah. Setibanya di tempat tujuan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecupnya, lalu diikuti oleh kaum muslimin yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa sedih, lantas Abu Bakar berkata,
Ayah ibuku sebagai taruhannya wahai Rasulullah, aku baik-baik saja, hanya wajahku yang agak sakit terkena pukulan si Fasiq Utbah bin Rabi’ah –wajah Abu Bakar bengkak karena kerasnya pukulan- ini ibuku yang berbuat baik terhadap anaknya, engkau diberkahi, maka ajaklah dia ke jalan Islam, semoga Allah menyelamatkannya dari api Neraka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakannya, agar dia masuk Islam dan mengajaknya ke Jalan Allah Azza wa Jalla, lantas dia masuk Islam dan berbai’at.
Dari kejadian ini mulailah Utbah bin Rabi’ah menyiksa kaum muslimin dengan beragam gangguan dan penyiksaan. Di sisi lain, hal itu menjadiakn ketinggian dan kemuliaan bagi Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.
Al-Qasthalani rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya Al-Mawahib, tentang keistimewaan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang langka dengan menyatakan, “Para Ulama menyebutkan, Abu Bakar radhiallahu ‘anhu lebih utama daripada orang beriman dari keluarga Fir’aun, karena dia hanya berjuang dengan lisan, sementara Abu Bakar berjuang dengan lisan dan tangan, dia membela Nabi dengan perkataan juga perbuatan.”
Duta Besar Orang-orang Jahat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendakwahi orang-orang Quraisy dan manusia pada umumnya, agar beriman kepada Allah Azza wa Jalla. Utbah bin Rabi’ah dan orang-orang yang bersamanya merintangi petunjuk, dengan berbuat zhalim dan menampakkan kebodohan orang Jahiliyyah. Penglihatan mereka buta tidak bisa melihat cahaya kebanran. Mereka merasakan bahaya dakwah yang mengancam patung-patung mereka. Maka guncanglah keadaan mereka, khususnya Utbah yang –menurut pengakuannya- mengetahui ilmu sihir, perdukunan dan sya’ir. Dia mengira dengan kebodohannya, bahwa dia akan membuat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima tawarannya agar meninggalkan dakwah.
Suatu saat Utbah bersama segolongan kaum musyrikin duduk di Masjidil Haram saling berunding sesama mereka, menimbang dan berdebat serta mengutarakan usul. Saat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk sendirian di samping mereka, namun jauh dari pemikiran mereka yang rapuh.
Utbah tampil di tengah-tengah kelompok, dia mengutarakan apa yang ada di kepalanya yang dianggapnya dapat mengenyahkan segala problematika mereka dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menyerahkan kepada Utbah segala keadaan mereka, dengan harapan nantinya, orang yang dianggap mampu menyingkirkan gelombang yang mendera dapat menyelematkan mereka, mereka berkata dengan satu saura, “Kerjakanlah wahai Abul Walid, apa yang menjadi pendapatmu.”
Maka berdirilah Utbah seraya berjalan dalam keadaan penuh dusta, hingga dia menghampiri dan duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas dia mengajak Beliau berbicara dengan apa yang di pikirannya, “Wahai putra saudaraku, sesungguhnya engkau bagian dari kami, kita termasuk orang-orang pilihan dan yang memiliki kedudukan juga kehormatan.”
Kemudian Utbah beranjak mendustakan dan berdusta dengan kebodohannya, dan mengaku bahwa dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan risalah yang dibawanya merupakan khayalan dari setan juga sekutunya, serta apa yang digambarkan oleh dirinya yang rendah. Dia berkata:
“Sesungguhnya engkau mendatangi kaummu dengan perkara yang besar, memecah belah kesatuan mereka dan engkau anggap mimpi mereka adalah kebodohan, engkau anggap aib tuhan dan agama mereka, serta engkau kafirkan nenek moyang mereka.”
Kemudian dia meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memenuhi permintaannya, hingga dia mengutarakan pada Beliau beberapa perkara, yang diharapkan beliau menerima sebagiannya. Dengan demikian tersingkap problematika Quraisy, sebagaimana akan lenyap problema Utbah sendiri, jika kaum Quraisy memilihnya sebagai duta yang menjembatani antara kaum Quraisy dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam keadaan yang tenang, percaya diri dan hati yang penuh dengan keimanan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,
“Katakanlah wahai Abul Walid, aku akan mendengarmu.”
Duhai, apakah hal yang diutarakan Utbah dalam majlis itu?!
Pemikiran yang Rendah dan Lapuk
Utbah bin Rabi’ah mengemukakan pemikiran-pemikiran rapuhnya yang tergambar dalam otaknya yang hanya berisi kesesatan. Dia beranjak dari tempat perkumpulan kaumnya ke majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memaparkan pemikirannya. Barangkali Nabi bersedia menerima sebagiannya, hingga kaum Quraisy mengaplikasikannya, dan sedikit demi sedikit terpecahlah berbagai problema dan kesulitan.
Utbah mengungkapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam empat perkara, yang menunjukkan kadar pemikirannya yang rendah lagi terbelakang, Dia berkata:
“Wahai pura saudaraku,
Jika engkau menghendaki dengan seruanmu itu harta benda, kami akan mengumpulkan untukmu harta hingga engkau menjadi orang terkaya di antara kita.
Jika engkau menghendaki kemuliaan (kekuasaan), kami tidak memutus perkara melainkan dengan persetujuanmu.
Jika engkau menghendaki kedudukan, akan kami jadikan engkau sebagai raja.
Jika apa yang kau bawa datangnya dari bangsa jin yang engkau lihat, sedang engkau tidak bisa menolaknya, akan kami datangkan untukmu tabib dan kami nafkahkan harta kami demi kesembuhanmu.”
Ini pemikiran yang bercokol di kepala Utbah, intelek Quraisy dan salah seorang yang berpura-pura menggunakan otaknya untuk menuntaskan problematika yang diangkat bersama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukanlah suatu keanehan bagi kepala dan ubun-ubun busuk, yang disanggah oleh leher yang panjang lagi keras, mengungkapkan hal semacam ini?
Tidak sampai di situ, bahkan si Utbah ini –semoga Allah memburukkannya- termasuk orang Quraisy yang dekat nasabnya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan manusia paling tahu akan kegiatan serta kehidupan dan pertumbuhan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam!!
Tidak ada laporan sama sekali bahwa Nabi pilihan dan tercinta berambisi mengumpulkan harta dunia, tidak diketahui dari Beliau –atau tercatat dalam sejarah- bahwa beliau meminta kepada mereka untuk menjadikan pemimpin atau raja di Mekah, bahkan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya meminta mereka agar menyucikan diri dan hati dari kotornya penyembahan patung, juga memerdekakan akal mereka dari lumut-lumut Jahiliyah yang hina.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih terdiam tidak menjawab apa yang didengarnya, dari orang yang berlagak intelek, namun sebenarnya bodoh seperti Utbah, hingga si Utbah usai dari perkataan dan pemaparannya. Hal itu tidak menggoyahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan Beliau berkata, “Sudah puaskah engkau wahai Abul Walid?”
Utbah berkata, “Ya.”
Nabi bersabda, “Dengarkanlah aku.”
Utbah mendekatkan telinganya mempersiapkan panca indera dan perasaannya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat-ayat yang jelas berupa petunjuk dan pembeda yaitu firman Allah:
“Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. Mereka berkata: ‘Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)’.” (QS. Al-Fushilat: 1-5)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan bacaannya sedangkan Utbah diam dengan meletakkan kedua tangannya di belakang punggung sambil bersandar pada keduanya mendengarkan Beliau. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam usai hingga ayat sajadah, Beliau pun sujud kemudian Beliau bersabda, “Engkau telah mendengarnya wahai Abul Walid baru saja, maka perhatikanlah hal itu olehmu!”

Allah Menurunkan Ayat berkenaan dengan Al-Walid bin Al-Mughirah

Allah menurunkan firman-Nya berkenaan dengan Al-Walid

“Dan mereka berkata, ‘Mengapa Alquran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Tha’if) ini?’” (QS. Az-Zukhruf: 31)
Dan firman-Nya:
“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.” (QS. Al-Muddatstsir: 11)

– Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Allah Ta’ala menurunkan sebanyak 104 ayat berkenaan denagn Al-Walid bin al-Mughirah.”
– Al-Walid termasuk orang-orang yang mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengganggu Beliau.
– Dia termasuk orang yang divonis masuk Neraka dengan firman Allah
“Aku akan memasukkannya ke dalam (Neraka) Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 26)

Kemewahan dan Kedudukan
Sebelum terbitnya cahaya Islam, sebagian rumah dan keluarga Quraisy terkenal dengan kekayaannya, harta yang berlimpah dan kehidupan yang mewah. Di antara keluarga yang kaya ini adalah Bani Makhzum.
Di Bani Makhzum al-Walid Ibnul Mughirah bin Abdillah bin Amr al-Makhzumi al-Qurasyi tumbuh berkembang. Dia lahir di Mekah sekitar 95 tahun sebelum hijrah Nabawiyah. Sejak membuka kedua matanya dia mengetahui bahwa keluarganya tergolong paling mulia di keluarga Quraisy dan paling tinggi, terhormat dan paling kaya. Ayah atau saudaranya adalah pemimpin terhormat yang kedudukannya hampir menyamai kedudukan para pemimpin Quraisy.
Ayahnya adalah al-Mughirah bin Abdillah, sosok lelaki yang memberi kesan kepada setiap orang dari bani Makhzum untuk menasabkan diri kepadanya, hingga dikatakan Al-Mughiri, sebagai kehormatan menisbatkan diri kepadanya.
Saudaranya Hisyam Ibnul Mughirah pemimpin Bani Makhzum dalam Harbul Fijar. Tatkala Hisyam meninggal, suku Quraisy mencatat hari kematiannya seakan sejarah yang agung. Pasar diutup selama tiga hari karena kematiannya.
Saudaranya al-Faqih Ibnul Mughirah, salah seorang paling dermawan dari bangsa Arab di masanya. Dia memiliki rumah yang disediakan untuk para tamu, siapa saja yang bisa menempatinya tanpa meminta izin dan kapan saja.
Saudara yang lainnya adalah Abu Hudzaifah Ibnul Mughirah, salah seorang dari empat orang termulia yang ikut mengambil ujung kain guna memikul Hajar Aswad untuk dikembalikan ke tempatnya di Ka’bah yang mulia, sebagai petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum masa kenabian.
Adapun saudaranya Abu Umayyah Ibnul Mughirah yang dijuluki dengan ‘Pemberi bekal bagi Musafir’, dia salah seorang ahli hikmah di kalangan Quraisy. Dialah yang mengusulkan mereka, untuk menjatuhkan pilihan kepada orang yang memasuki pintu masjid pertama kali, untuk mengangkat Hajar Aswad ke tempatnya yang semula, mereka pun ridha dengan keputusan itu. Telah nampak kebenaran apa yang disyaratkannya dengan fakta, bahwa mereka semua rela pada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meletakkan Hajar Aswad.
Adapun julukannya ‘Pemberi bekal bagi Musafir’ telah disebutkan dalam referensi, bahwa dia mencukupi teman-temannya dalam perjalanan dengan apa yang mereka butuhkan, hingga mereka tidak bersiap dengan perbekalan.
Agar kita mengetahui kedudukan Bani Makhzum, mesti kita mengetahui bahwa mereka mempunyai 30 kuda dalam peperangan Badr, padahal suku Quraisy secara keseluruhan hanya 70 kuda. Mereka memiliki 200 unta dan emas dalam ribuan timbangan. Juga ditambah dengan bekal dan bantuan dan lainnya.
Dari kaca mata yang terbatas ini, kita ketahui betapa agungnya dia di sisi mereka. Jiwa Al-Walid Ibnul Mughirah –khususnya- tidak rela diungguli kemuliaan dan kewibawaannya oleh seorang pun, siapa pun dia.
Di Antara Kabar al-Walid di Masa Jahiliyyah
Agar pengamatan lebih luas dengan bentuk lebih jelas, marilah kita berkenalan dengan sebagian kabar al-Walid dalam kehormatannya. Kita masuk sedikit ke dalam jiwanya untuk mengenal bualannya.
Al-Walid Ibnul Mughirah merupakan salah seorang kaya dari Bani Makhzum yang menjadi rujukan. Kun-yahnya Abu Abdi Syams, Quraisy memberikannya julukan al-Idl sebagaimana dia dijuluki pula Al-Wahiid (satu-satuya) –satu-satunya orang Arab- karena dia seorang diri yang membuat kiswah Ka’bah pada suatu tahun, dan di tahun berikutnya dilakukan oleh seluruh kaum Quraisy.
Quraisy tidak mencukupkan (julukan) al-Idl atau al-Wahid, mereka menjulukinya dengan laqab lain yaitu Raihanah Quraisy, tatkala diketahui bahwa dia menggunakan pakaian yang berhias. Di masa Jahiliyah mereka mengatakan, “Tidak, demi baju Walid yang lama dan yang baru.” Dan dinyatakan bahwa Hajar Aswad dibawa dan diletakkan dengan pakaian al-Walid bin al-Mughirah.
Di bidang hukum, al-Walid merupakan salah seorang hakim Arab di masa Jahiliyah dan salah seorang pemimpin Quraisy di Daar an-Nadwah.
Al-Walid sebagai Pionir
Sejarah mencatat Al-Walid sebagai Pionir dalam ragam peristiwa di masa Jahiliyah, di antaranya:
Dia orang pertama yang menghapus sumpah di masa Jahiliyah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkannya dalam Islam.
Dia adalah orang pertama yang melepaskan sepatu dan sandal saat akan memasuki Ka’bah yang mulia di masa Jahiliyah, kemudian di masa Islam orang-orang melepaskan sandal-sandal mereka.
Dikatakan, bahwa dia orang pertama yang mengharamkan khamr terhadap dirinya di masa Jahiliyah dan memukul anaknya Hisyam karena meminumnya.
Al-Walid adalah orang pertama yang memotong tangan pencuri di masa Jahiliyah, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan hukum tersebut di masa Islam.
Barangkali tanda-tanda kemuliaan ini menanamkan dalam jiwa al-Walid benih-benih kibr (sombong) yang menjadikan dia melihat dirinya sebagai pemuka Quraisy. Karena itu tatkala Usaid bin Abil Aish bertepuk dada, al-Walid berkata, “Aku lebih baik darimu dari sisih ayah dan ibu, serta aku lebih kokoh daripadamu di mata Quraisy dalam hal nasab.”
Perannya Dalam Pembangunan Ka’bah
Referensi menunjukkan dan menetapkan bahwa al-Walid Ibnul Mughirah termasuk orang yang memiliki kecerdikan dan keberanian. Terbukti di saat Ka’bah yang mulia diperebutkan –sebelum masa kenabian- yakni tatkala kaum musyrikin hendak merobohkannya untuk dibangun kembali dengan bangunan baru, sebagai bentuk kehormatan yang dahulu mereka agungkan dengan khusyu.
Al-Walid punya andil yang menonjol tatkala Ka’bah dihancurkan dan dibangun kembali oleh Quraisy.
Sebelumnya kaum Quraisy berfikir panjang mengenai perkara Ka’bah, dahulu Ka’bah tidak beratap, bangunannya rendah. Suatu hal yang menjadikannya tidak aman dari para pencuri yang datang untuk mengambil sebagian harta simpanan orang-orang Quraisy yang dijaga dan disimpan dalam Ka’bah.
Dahulu ketinggian Ka’bah sekitar 7 meter dalam keadaan tidak beratap, sedangkan pintunya rendah bisa dimasuki siapa saja. Yang punya nadzar menunaikan nadzarnya dengan melempar emas, perhiasan dan wewangian ke dalam Ka’bah yang berfungsi sebagai kotak nadzar, yakni berupa sumur di dekat pintunya di sebelah kanan bagian dalam.
Dahulu tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berumur 35 tahun, datanglah banjir besar yang melahap dinding Ka’bah dan merapuhkan pondasinya. Sebelumnya Ka’bah pernah terbakar disebabkan seorang wanita membakar dupa. Hal ini menjadikan Quraisy terdesak untuk mengambil keputusan melangkah ke depan guna memperbaikinya. Situasi dan kondisi saat itu memungkinkan Quraisy melakukan perbaikan Ka’bah. Lautan telah menghempaskan perahu salah seorang pedagang ke Jeddah. Maka keluarlah utusan Quraisy yang dipimpin oleh al-Walid Ibnul Mughirah ke Jeddah untuk membeli perahu itu, mereka mengambil kayunya untuk dijadikan atap.
Quraisy ingin merobohkan Ka’bah, akan tetapi tujuan mereka terbendung dikarenakan kedudukan Ka’bah di hati mereka, sehingga mereka takut tertimpa bencana, kala itu al-Walid berkata pada mereka, “Apakah kalian menginginkan perombakan untuk perbaikan atau berniat jelek?”
Mereka berkata, “Kami menginginkan perbaikan wahai Abu Abdi Syamsy.”
Al-Walid menjawab, “Sesungguhnya Allah tidak akan mencelakakan orang yang berbuat kebaikan.”
Mereka berkata, “Siapakah yang akan memanjatnya lantas menghancurkannya?”
Al-Walid berkata, “Aku yang akan memanjatnya, lalu menghancurkannya.”
Kemudian al-Walid mendaki ke atas Ka’bah dengan membawa palu seraya berkata, “Ya Allah, kami tidak menghendaki melainkan perbaikan.” Lalu dia mengambil palu dan mulai menghancurkannya. Tatkala orang-orang Quraisy melihat sebagian Ka’bah telah hancur dan tidak datang adzab yang mereka takutkan, mereka pun ikut menghancurkannya. Tatkala mereka mulai membangun, Al-Walid berkata pada mereka, “Janganlah kalian memasukkan ke dalam rumah Rabb kalian melainkan harta terbaik kalian. Janganlah kalian memasukkan ke dalam pembangunannya harta dari hasil riba, judi, upah lacur, dan hindarkanlah harta jelek kalian, sesungguhnya Allah tidak menerima kecuali yang baik.”
Kaum Quraisy meneruskan proyek pembangunan Ka’bah. Tatkala sampai pada peletakkan Hajar Aswad, mereka berselisih pendapat tentang siapa yang berhak untuk meletakkannya, hingga hampir saja terjadi peperangan di antara mereka.
Abu Umayyah Ibnul Mughirah –saudara al-Walid- berkata, “Marilah kita menetapkan hukum, bagi orang pertama muncul dari pintu masjid –sekarang Baab as-Salaam-.” Mereka pun sepakat atas hal itu. Leher-leher mereka mendongak ke arah pintu. Muncullah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas memutuskan perkara mereka.
Beliau meminta batu itu didatangkan, lantas diletakkan di atas kain kemudian berkata, “Hendaklah setiap suku mengambil bagian dari ujung kalin.”
Kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam naik dan meminta mereka mengangkat batu kepadanya, lantas Beliau meletakkan Hajar Aswad dengan tangannya yang mulia. Dengan begitu kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin tinggi dibanding semula di sisi mereka, penghormatan di atas penghormatan. Beliau telah menghindarkan Quraisy dari sejelek-jelek pertempuran yang hampir saja terjadi, kalau tidak karena karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keutamaan-Nya atas mereka dan keberkahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Nampaknya jiwa Al-Walid Ibnul Mughirah terkesan dengan kejadian ini, terlukis dalam jiwanya bekas yang menyibak penutup yang menghalangi pandangan selama ini, sedikit demi sedikit. Khususnya, tatkala ada yang berkata di antara yang hadir bersama mereka karena kagum dengan kejadian yang dilihatnya dan penghargaan yang diberikan kepada orang yang lebih muda dari mereka, “Alangkah mengagumkan kaum yang menyandang kemuliaan dan kepemimpinan, orang tua maupun orang muda, menyerahkan pada orang yang lebih muda umurnya, paling sedikit hartanya, mereka menjadikannya pemimpin dan hakim! Adapun Laata dan Uzza akan tersisih, mereka akan berebut bagian dan pamor sesama mereka dan setelah hari ini akan terjadi perkara dan berita yang agung.”
Kabar agung itu menjadi nyata, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusnya setelah lima tahun usai pembangunan Ka’bah. Pada saat itu Al-Walid berdiri menghadang untuk memalingkan manusia dari jalan Allah dan apa yang diturunkan-Nya berupa kebenaran untuk menjadi penghuni nereka.
Apakah Alquran Diturunkan Kepada Muhammad?!
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan Islam kepada manusia. Alquran yang mulia turun dengan bahasa Arab. Al-Walid dan kaum musyrikin Quraisy mengetahui dengan rasa bahasa Arab yang mereka miliki, bahwa Alquran tidak mungkin datang dari manusia, karena itu mereka sendiri menghadang lagi memerangai Alquran dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Mereka berkata, ‘Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah’.” (QS. Al-An’am: 124)
Karena itu, suatu hari al-Walid Ibnul Mughirah berdiri seraya berkata, “Akankah Alquran turun kepada Muhammad, sementara aku tidak mendapatkannya, padahal aku pembesar Quraisy dan pemimpinnya?! Mengenyampingkan Abu Mas’ud ats-Tsaqif, padahal kami dua orang pembesar negeri –Mekah dan Tha’if-.” Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan:
“Dan mereka berkata, ‘Mengapa Alquran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?’ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka…” (QS. Az-Zukhruf: 31-32)
Ini menjadi bukti atas kecongkakan al-Walid dan kesombongannya, perbuatan dosanya, dan pelecehannya terhadap perkara risalah. Maka Alahlah yang Maha mengetahui dalam menjatuhakan risalah-Nya. Alangkah bagusnya apa yang dikatakan al-Bushiri dalam syairnya:
Apabila keterangan tidak memberikan manfaat sedikit pun, maka meraba petunjuk merupakan suatu kebodohan. Jika akal tersesat dalam mencapai ilmu, maka apakah yang bisa diucapkan oleh para penyair yang fasih?!
Sarana yang dijadikan senjata pamungkas oleh Al-Walid untuk menyumbat dakwah Islam, menyingkap tanda kebodohan dan buruk pemikirannya. Hal itu dimaksudkan untuk melaksanakan tujuan-tujuannya yang hina.
Di antaranya, sekumpulan kaum musyrikin Quraisy bergegas menemui Abu Thalib dengan arahan dari al-Walid. Ikut bersama mereka ‘Ammarah anaknya, mereka berkata padanya:
“Wahai Abu Thalib inilah ‘Ammarah Ibnul Walid, pemuda paling kuat di suku Quraisy dan paling tampan. Ambillah dia untukmu dengan kecerdasan dan pertolongannya, jadikanlah dia anakmu maka dia untukmu, dan serahkan kepada kami anak saudaramu yang menyelisihi agamamu dan agama nenek moyangmu, dia memecah belah kaummu juga membodohkan penalaran mereka. Kami akan membunuhnya, dengan demikian seimbang, satu lelaki ditukar satu lelaki.”
Abu Thalib berkata, “Demi Allah, alangkah buruk rayuan kalian! Akankah kalian memberikan anak kalian kepadaku untuk kuberi makan sedangkan kalian meminta anakku untuk kalian bunuh? Tidak, demi Allah hal ini tidak akan terjadi selamanya.”
Taktik picisan ini tidak bermanfaat bagi al-Walid, untuk meredupkan dakwah dan menghancurkannya. Dia beralih ke cara lain lebih ampuh guna meloloskan diri dari apa yang dianggap aib dalam pandangan umum. Karena itu dia berfikir dalam kejahatan, untuk memalingkan para delegasi Arab yang datang ke Mekah untuk menunaikan haji. Berikut ini akan kita lihat sebagian dari pendapatnya dan tipu dayanya yang mengakibatkan kesengsaraan.
Bersambung insya Allah…

Apakah Rosululloh Saw Ummi atau buta huruf?

APAKAH, Rosululloh Saw Ummi?
Dalam menguraikan masalah ummi ini, Syekh Amin asy-Syanqithi merekonstruksi pemahaman dari nas al-Qur’an demikian: bahwa kita tahu jika permulaan wahyu yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw adalah perintah membaca dan menulis, lalu mengapa beliau sendiri justru tidak bisa baca tulis?
Syekh Amin meneropong jawaban dari pertanyaan ini melalui dua sudut pandang:

Pertama, bahwa keummian Nabi saw merupakan bukti atas kesempurnaan mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw, di mana kendati beliau tidak bisa baca tulis, akan tetapi bisa menjadi pengajar (mu‘allim) serta penyampai (muballigh) pesan-pesan Ilahi. Allah SWT berfirman:

هُوَ الذي بَعَثَ فِي الأميين رَسُولاً مِنْهُمْ (الجمعة 2:62).

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka. (QS. Al-Jumu‘ah [62]: 2).

Kedua, kendati Nabi saw tidak bisa baca tulis, bukan berarti beliau mengabaikan pentingnya belajar baca tulis, akan tetapi sebaliknya, Nabi Muhammad saw sangat memperhatikan pentingnya baca-tulis bagi generasi umat Islam. Inilah keistimewaan berikutnya dari keummian Nabi saw. Bagaimana seorang yang tidak bisa baca-tulis malah men-support umatnya untuk bisa mahir baca-tulis. Inilah keistimewaan yang tidak ada duanya.

Hal ini telah terbukti dalam sejarah yang tidak mungkin terbantahkan lagi, bahwa Nabi saw pada periode Madinah banyak mengangkat sekretaris untuk menulis ayat-ayat al-Qur’an, padahal Nabi saw sangat mengahafalnya, dan hafalan itu telah dijamin oleh Allah SWT, bahwa beliau tidak akan pernah lupa setelah membacanya.

Selain asy-Syanqithi, di sini kami paparkan juga uraian Imam ar-Razi ketika menjelaskan sifat ke-ummi-an Nabi Muhammad saw. Dalam hal ini, beliau mengutip pendapat Imam az-Zajjaj, bahwa yang dikehendaki dengan ummi adalah kondisi seorang anak seperti saat dilahirkan oleh ibu, tidak mempelajari tulisan, dan tetap seperti itu hingga dewasa. Az-Zajjaj kemudian mengutip sabda Nabi Muhammad saw, “Innâ ummatun ummiyyatun lâ naktubu wa lâ nahsibu” (Kita adalah umat yang ummi, yang tidak bisa menulis serta tidak bisa menghitung). Memang kebanyakan kondisi orang-orang Arab pada saat itu tidak bisa baca tulis, termasuk Rasulullah saw.
Selanjutnya, ar-Razi menjelaskan sisi kemukjizatan sifat keummian Nabi saw. Beliau menyorotinya dari beberapa aspek:

Pertama, kebiasaan para khatib di zaman Rasulullah saw ketika menyampaikan kata-kata dalam khutbahnya kemudian mengulangi yang kedua kali maka dapat dipastikan antara ucapan yang pertama dengan ucapan yang kedua akan terjadi perbedaan kata kendati sedikit. Sedangkan Rasulullah saw, meskipun beliau tidak bisa membaca serta tidak bisa menulis, ketika beliau menyampaikan ayat-ayat al-Qur’an, maka sedikitpun tidak akan terjadi perubahan kata, meskipun beliau membacanya berulang-ulang. Dan inilah yang membuat orang-orang Arab yakin bahwa apa yang disampaikan Rasulullah saw tidak mungkin dari beliau sendiri, akan tetapi merupakan mukjizat yang dijadikan bukti oleh Allah SWT akan kebenaran Rasul-Nya. Hal ini merupakan isarat dari firman Allah SWT berikut:

سَنُقْرِئُكَ فَلاَ تَنْسَى. (الأعلى [87]: 6)

Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad), maka kamu tidak akan lupa. (QS. Al-A‘la [87]: 6).

Kedua, andaikan Rasulullah saw bisa membaca dan bisa menulis, maka pasti akan memunculkan kecurigaan di hati orang-orang Arab akan ketidak-aslian al-Qur’an. Mereka akan menduga jika Rasullulah saw telah mempelajari kitab-kitab orang terdahulu, kemudian disalin dalam bentuk ucapan lain dan diklaim sebagai ayat-ayat suci al-Qur’an. Akan tetapi hal itu tidak terjadi sehingga orang kafir Quraisy tidak mempunyai celah untuk memunculkan keraguan itu dalam al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ (العنكبوت [29]: 48)

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (al-Qur’an) sesuatu kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (QS. Al-Ankabut [29]: 48).

Ketiga, belajar menulis dan belajar membaca merupakan hal yang mudah. Bagi orang yang mempunyai bekal kecerdasan sedikit saja, ia tidak perlu butuh waktu lama untuk bisa baca tulis. Sedangkan Rasulullah saw oleh Allah SWT telah diberi pengetahuan yang dimiliki oleh orang-orang terdahulu serta pengetahuan orang-orang yang akan datang (‘ilmal-awwalîn wal-âkhirîn). Meskipun Rasulullah saw mempunyai pengetahuan yang demikian tinggi, ternyata sudah umum di kalangan orang-orang Arab jika beliau tidak bisa baca-tulis, sebuah pengetahuan yang bisa dicapai oleh siapa saja, hatta bagi orang yang tidak mempunyai kecerdasan. Dari sini sangat tampak sisi mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw
Ta'bir penguat dari penjelasan tersebut disampaikan An-Nawawi dalam kitab Sarah Shohih Muslim sbb:

(قال ) أي : سالم ( وكان الناس ) أي : العرب ( أميين ) أي : لقوله تعالىهو الذي بعث في الأميين رسولا منهم قال جمهور المفسرين الأمي من لا يحسن الكتابة والقراءة ، وقال بعضهم الأمي منسوب إلى الأم ، وقيل إلى أم القرى ، وهي مكة وعلى التقادير فهو كناية عن عدم الكتابة والقراءة والدراسة والمعرفة بأمور الحساب والكتاب كما هو حقها فكأنه شبه بالطفل الذي خرج من بطن أمه ولم يعلم شيئا أو بسكان أم القرى فإنهم مشهورون بأنهم ليسوا أهل كتاب وحساب ، ولا كتابة ، ولا دراسة قال الخطابي إنما قيل لمن لم يكتب [ ص: 269 ] ولم يقرأ أمي ؛ لأنه منسوب إلى أمة العرب وكانوا لا يكتبون ، ولا يقرءون ويقال : إنما قيل له أمي ؛ لأنه باق على الحالة التي ولدته أمه لم يتعلم قراءة ، ولا كتابة ، والحاصل أن كلا من القراءة والكتابة كانت فيهم قليلة نادرة فإذا لم يتعلموا الكتب ولم يقرءوها حتى يعرفوا حقائق الأمور ، ولا يذهلهم عظائم المحن عند وقوع الفتن فلا جرم تحيروا في أمر موته - صلى الله عليه وسلم - إذ سبب العلم بجواز موت الأنبياء وكيفية انتقالهم إلى دار الجزاء إنما هو الممارسة بالمدارسة أو المشاهدة ، ولذا قال ( لم يكن فيهم نبي قبله فأمسك الناس)

والله موافق إلى أقوام الطارق... والله أعلم بالصواب


Semoga bermanfaat

Matinya Abu Lahab

Abu Lahab Mati di Tangan Seorang Wanita
Siapa tidak kenal Abu Lahab? Namanya diabadikan Allah dalam Qur’an ketika ia bersama istrinya dijebloskan ke dalam api neraka. Akan tetapi, banyak diantara kita yang tidak mengetahui bagaimana matinya seorang musuSiapa tidak kenal Abu Lahab? Namanya diabadikan Allah dalam Qur’an ketika ia bersama istrinya dijebloskan ke dalam api neraka. Akan tetapi, banyak diantara kita yang tidak mengetahui bagaimana matinya seorang musuh Allah bernama Abu Lahab ini. Seorang pembesar bangsa Quraisy yang juga salah seorang paman Nabi kita yang mulia Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Ternyata yang menyebabkan matinya Abu Lahab adalah sebuah pukulan yang dilakukan oleh seorang shahabiyyah yang mulia. Beliau adalah Lubabah Al-Kubra yang dikenal dengan panggilan Ummu Fadl binti Al-Harits radhiyallahu anha. Wanita yang juga menjadi saudara kandung Sayyidah Maimunah binti Al-Harits radhiyallahu anha.

Ummu Fadl tercatat sebagai wanita kedua yang masuk Islam setelah Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu anha. Ummu Fadl juga adalah seorang istri dari sahabat yang mulia sekaligus paman dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yaitu Al-Abbas ibn Abdil Muththalib radhiyallahu anhu.
Rasulullah sendiri sering mengunjunginya dan beristirahat siang di rumahnya. Keluarga mulia ini juga termasuk salah satu tempat bersandar Rasulullah pada masa sulit. Lain halnya dengan Ummu Jamil. Meski kata jamil terlekat dinamanya, namun perangai dan tingkah lakunya jauh dari keindahan. Sebagai isteri Abu Lahab, Ummu Jamil adalah wanita yang terkenal aktif memusuhi dan memerangi Islam. Tak jarang diantara dua keluarga yang masih sangat dekat hubungannya itu menimbulkan percekcokan.
Ummu Fadl, bersama suami dan anak-anaknya pun kemudian sepakat untuk menyembunyikan keIslaman mereka karena khawatir dengan kejahatan kaumnya. Namun Allah berkehendak lain, Al-Abbas malah tertawan ditangan kaum muslimin saat Perang Badr.
Kondisi kaum muslimin yang belum mengetahui perihal keIslamannya sedikit banyak menyulitkan Rasulullah. Walhasil beliaupun menebus sang paman Al-Abbas seperti orang musyrik lainnya. Taktik ini dilakukan agar rahasia keIslaman Al Abbas tetap tidak terbongkar oleh orang-orang Quraisy.
Ummu Fadl pun melihat kemarahan orang-orang kafir termasuk iparnya, Abu Lahab. Kekalahan kaum kafir dalam Perang Badr sangat mengiris hati Abu Lahab. Ummu Fadl pun mewanti-wanti ke empat anaknya agar tidak menunjukkan raut wajah bahagia sehingga keIslaman mereka tetap tidak bocor ke telinga kaum Quraisy.

Namun sebuah kejadian betul-betul merubah segalanya. Hal ini bermula ketika Ummu Fadl beserta seorang budaknya bernama Abu Rafi` turut mendengarkan perbincangan di ujung rumahnya antara iparnya, Abu Lahab dan keponakannya Abu Sufyan Ibnul Harits.
Saat itu, Abu Sufyan menceritakan kepada Abu Lahab bagaimana kaumnya kalah melawan kaum muslimin. Abu Lahab pun hanya bisa marah-marah dan melontarkan sumbah serapah atas kenyataan itu. Sebaliknya, di ujung rumah, Ummu Fadl justru sangat bersuka cita atas apa yang didengarnya.
Abu Sufyan berkata, ”Demi Allah, walau demikian aku tidak akan menyalahkan mereka karena kami menghadapi manusia-manusia putih berkuda putih diantara langit dan bumi dan tidak ada yang mampu mengalahkan mereka.”

Tentu saja Ummu Fadl merasa bahagia mendengarnya, akan tetapi Abu Rafi` tidak lagi mampu menahan rasa bahagianya hingga kemudian ia berteriak, ”Demi Allah, itu adalah para Malaikat!!”
Mendengar teriakan itu, Abu Lahab bangkit. Dengan diliputi rasa marah, ia lantas menghampiri Abu Rafi’ lalu memukulnya secara keras. Sontak saja melihat budaknya dipukul, Ummu Fadl menjadi lupa terhadap langkah untuk menyembunyikan keIslamannya. Wanita mulia ini kemudian mencabut sebuah tiang yang ada di rumahnya dan lewat jiwa pemberani langsung menghajar kepala Abu Lahab lalu berkata, ”Beraninya kamu memukul Abu Rafi`saat tidak ada majikannya”.

Apa yang terjadi? Kepala Abu Lahab bonyok bukan kepalang. Rambutnya dibanjiri kucuran darah dari pentungan yang dilayangkan Ummu Fadl. Abu lahab pun kemudian meninggalkan rumah saudaranya, Al-Abbas. Berselang tujuh malam, luka tersebut semakin parah dan bekas pukulan itu menembus sampai otak hingga menyebabkan pembusukanh Allah bernama Abu Lahab ini. Seorang pembesar bangsa Quraisy yang juga salah seorang paman Nabi kita yang mulia Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Ternyata yang menyebabkan matinya Abu Lahab adalah sebuah pukulan yang dilakukan oleh seorang shahabiyyah yang mulia. Beliau adalah Lubabah Al-Kubra yang dikenal dengan panggilan Ummu Fadl binti Al-Harits radhiyallahu anha. Wanita yang juga menjadi saudara kandung Sayyidah Maimunah binti Al-Harits radhiyallahu anha.

Ummu Fadl tercatat sebagai wanita kedua yang masuk Islam setelah Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu anha. Ummu Fadl juga adalah seorang istri dari sahabat yang mulia sekaligus paman dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yaitu Al-Abbas ibn Abdil Muththalib radhiyallahu anhu.
Rasulullah sendiri sering mengunjunginya dan beristirahat siang di rumahnya. Keluarga mulia ini juga termasuk salah satu tempat bersandar Rasulullah pada masa sulit. Lain halnya dengan Ummu Jamil. Meski kata jamil terlekat dinamanya, namun perangai dan tingkah lakunya jauh dari keindahan. Sebagai isteri Abu Lahab, Ummu Jamil adalah wanita yang terkenal aktif memusuhi dan memerangi Islam. Tak jarang diantara dua keluarga yang masih sangat dekat hubungannya itu menimbulkan percekcokan.
Ummu Fadl, bersama suami dan anak-anaknya pun kemudian sepakat untuk menyembunyikan keIslaman mereka karena khawatir dengan kejahatan kaumnya. Namun Allah berkehendak lain, Al-Abbas malah tertawan ditangan kaum muslimin saat Perang Badr.

Kondisi kaum muslimin yang belum mengetahui perihal keIslamannya sedikit banyak menyulitkan Rasulullah. Walhasil beliaupun menebus sang paman Al-Abbas seperti orang musyrik lainnya. Taktik ini dilakukan agar rahasia keIslaman Al Abbas tetap tidak terbongkar oleh orang-orang Quraisy.
Ummu Fadl pun melihat kemarahan orang-orang kafir termasuk iparnya, Abu Lahab. Kekalahan kaum kafir dalam Perang Badr sangat mengiris hati Abu Lahab. Ummu Fadl pun mewanti-wanti ke empat anaknya agar tidak menunjukkan raut wajah bahagia sehingga keIslaman mereka tetap tidak bocor ke telinga kaum Quraisy.

Namun sebuah kejadian betul-betul merubah segalanya. Hal ini bermula ketika Ummu Fadl beserta seorang budaknya bernama Abu Rafi` turut mendengarkan perbincangan di ujung rumahnya antara iparnya, Abu Lahab dan keponakannya Abu Sufyan Ibnul Harits.
Saat itu, Abu Sufyan menceritakan kepada Abu Lahab bagaimana kaumnya kalah melawan kaum muslimin. Abu Lahab pun hanya bisa marah-marah dan melontarkan sumbah serapah atas kenyataan itu. Sebaliknya, di ujung rumah, Ummu Fadl justru sangat bersuka cita atas apa yang didengarnya.
Abu Sufyan berkata, ”Demi Allah, walau demikian aku tidak akan menyalahkan mereka karena kami menghadapi manusia-manusia putih berkuda putih diantara langit dan bumi dan tidak ada yang mampu mengalahkan mereka.”

Tentu saja Ummu Fadl merasa bahagia mendengarnya, akan tetapi Abu Rafi` tidak lagi mampu menahan rasa bahagianya hingga kemudian ia berteriak, ”Demi Allah, itu adalah para Malaikat!!”
Mendengar teriakan itu, Abu Lahab bangkit. Dengan diliputi rasa marah, ia lantas menghampiri Abu Rafi’ lalu memukulnya secara keras. Sontak saja melihat budaknya dipukul, Ummu Fadl menjadi lupa terhadap langkah untuk menyembunyikan keIslamannya. Wanita mulia ini kemudian mencabut sebuah tiang yang ada di rumahnya dan lewat jiwa pemberani langsung menghajar kepala Abu Lahab lalu berkata, ”Beraninya kamu memukul Abu Rafi`saat tidak ada majikannya”.

Apa yang terjadi? Kepala Abu Lahab bonyok bukan kepalang. Rambutnya dibanjiri kucuran darah dari pentungan yang dilayangkan Ummu Fadl. Abu lahab pun kemudian meninggalkan rumah saudaranya, Al-Abbas. Berselang tujuh malam, luka tersebut semakin parah dan bekas pukulan itu menembus sampai otak hingga menyebabkan pembusukan