Kamis, 22 Januari 2015

Mush’ab bin Umair

Mush’ab bin Umair  (Arab: مصعب بن عمير) 

adalah seorang remaja Quraish terkemuka, paling tampan, penuh dengan jiwa dan semangat muda. Sejarawan dan ahli riwayat menjelaskan masa mudanya dengan ungkapan, “seorang penduduk Mekkah yang mempunyai nama paling harum.”

     Dia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan serta tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tidak seorangpun di antara anak-anak muda Mekkah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya sedemikian rupa sebagaimana Mush’ab bin Umair .

     Mungkinkah anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah bibir gadis-gadis Mekkah, dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan berubah menjadi pelaku cerita tentang keimanan dan kepahlawanan?

     Demi Allah, kisah Mush’ab bin Umair  atau yang dijuluki oleh kaum muslimin dengan sebutan “Mush’ab Yang Baik” adalah kisah yang penuh pesona. Ia merupakan salah satu di antara orang-orang yang ditempa oleh islam dan dididik oleh Muhammad. Namun, bagaimana sosok sejatinya?

     Sungguh kisah hidupnya merupakan suatu kehormatan bagi seluruh umat manusia.

     Suatu hari, anak ini mendengar tentang Muhammad Al-Amin yang mulai menjadi perhatian bagi penduduk Mekkah; bahwa Muhammad menyatakan dirinya telah diutus oleh Allah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, sebagai penyeru yang mengajak umat beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.

     Saat siang dan malam perhatian penduduk Mekkah tidak lepas dari berita itu. Ketika yang ada hanya perbincangan tentang Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  dan agama yang dibawanya, anak muda yang manja ini paling banyak mendengar berita itu.

     Meskipun usianya masih belia, ia menjadi bunga di setiap pertemuan dan perkumpulan. Setiap pertemuan apapun, mereka berharap Mush’ab  hadir di dalamnya. Penampilannya yang anggun dan otaknya yang cerdas meupakan keistimewaan ibnu Umair , yang mampu membuka semua hati dan pintu.

     Mush’ab  telah mendengar bahwa Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  bersama pengikutnya sering mengadakan pertemuan di suatu tempat yang jauh dari gangguan dan ancaman orang-orang Quraish. Pertemuan itu diadakan di Bukit Shafa di rumah Al-Al-Arqam bin Abdul Al-Arqam .

     Tanpa berpikir panjang dan tak ada seorangpun yang menemani, pada suatu senja ia pergi ke rumah Al-Arqam. Kerinduan dan rasa penasaran membuatnya berani melakukan itu.

     Di tempat itulah Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  bertemu dengan para shahabatnya, untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada mereka dan shalat bersama mereka, menghadap kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa.

   Ketika Mush’ab  baru saja duduk, ayat-ayat Al-Qur’an mulai mengalir dari qalbu Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم] , bergema melalui kedua bibir beliau, mengalir sampai ke telinga dan meresap ke dalam hati para pendengar. Di senja itu hati Mush’ab  telah berubah menjadi hati yang tunduk oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Keharuan yang ia rasakan hamper-hampir saja membuat tubuhnya terangkat dari tempat duduknya. Ia seolah-olah terbang oleh perasaan gembira. Tetapi, Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  mengulurkan tangannya yang penuh kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang bergejolak itu. Tiba-tiba hatinya berubah tenang dan damai, bagai lautan yang damai.

     Pemuda yang baru saja masuk islam dan beriman itu tampak telah memiliki hikmah yang luas dan berlipat ganda dari usianya. Ia mempunyai kepekaan hati yang mampu mengubah jalan sejarah.

     Ibunda Mush’ab, Khannas binti Malik adalah sosok ibu yang memiliki kekuatan kepribadian yang cemerlang. Pesona pribadinya itu telah membuatnya disegani. Setelah memeluk islam, tidak ada sosok yang paling ditakuti oleh Mush’ab bin Umair  khawatir dan takut di muka bumi ini selain ibundanya.

     Seandainya Mekkah dengan segala patung, tokoh-tokoh terhormat, dan padang pasirnya membentuk suatu formasi yang mengepung dan memusuhinya, Mush’ab  akan menganggap itu bukanlah musuh yang berat saat itu. Tetapi, bila musuh itu adalah ibundanya, inilah kekhawatiran yang membuatnya gelisah.

     Dia berpikir cepat dan memutuskan untuk menyembunyikan keislamannya, kecuali jika Allah berkehendak lain. Tetapi, ia tetap bolak-balik ke darul Al-Arqam dan bermajlis bersama Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم] . Dia benar-benar merasa tenteram dengan menjadi orang yang beriman dan tetap berupaya menghindari kemurkaan ibundanya, yang sampai saat itu tidak tahu sama sekali tentang keislamannya.

  
      Hanya saja, di Mekkah tiada rahasia yang tersembunyi. Mata dan telinga orang-orang Quraish ada di setiap tempat mengikuti setiap langkah dan menyusuri setiap jejak. Utsman bin Thalhah melihat Mush’ab  ketika memasuki rumah Al-Arqam secara diam-diam. Kali ini, Utsman melihatnya shalat yang dilakukan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Ia pun segera menemui ibunda Mush’ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.

     Mush’ab  berdiri di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekkah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang benar-benar yakin dan mantap, Mush’ab  membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan oleh Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan; kejujuran dan ketakwaan.

     Ketika sang ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan keras, tangan yang terayun bagai anak panah itu tiba-tiba lunglai dan jatuh terkulai di hadapan cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan tenang. Kewibawaannya telah menimbulkan penghormatan dan ketenangannya menumbuhkan kepercayaan.

     Sebagai seorang ibu, ibunda Mush’ab tidak tega memukul dan menyakiti putranya. Tetapi pengaruh berhala-berhala terhadap dirinya membuat dirinya harus bertindak dengan cara lain. Ia membawa putranya itu ke ruang yang terisolir di dalam rumahnya, lalu mengurungnya di dalam ruangan itu dan ditutup rapat-rapat.

     Mush’ab  tinggal dalam kurungan itu sekian lama hingga beberapa orang di antara kaum muslimin hijrah ke habasyah (Ethiopia). Mendengar berita hijrah ini Mush’ab  pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lalu berhijrah ke Habasyah dengan penuh ketaatan. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muhajirin, lalu pulang ke Mekkah.

     Kemudian dia pergi lagi hijrah kedua bersama para shahabat atas titah Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  dan taat kepada beliau. Tetapi, di Habasyah maupun di Mekkah tak ada bedanya bagi Mush’ab . Ujian dan penderitaan yang harus dihadapi Mush’ab  kian meningkat tanpa kenal waktu dan tempat.

     Mush’ab  telah berhasil membentuk pola kehidupannya dengan format baru sesuai dengan yang dicontohkan oleh sosok pilihan, Muhammad  [صلى الله عليه وسلم] . Dia kini telah sampai pada keyakinan bahwa hidupnya sudah sepantasnya dipersembahkan untuk Penciptanya Yang Maha Tinggi, Rabb-nya Yang Maha Agung.

     Suatu hari ia muncul di hadapan beberapa kaum muslimin yang sedang duduk di sekeliling Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم] . Saat memandang Mush’ab , mereka semua menundukkan kepala dan merasa prihatin. Beberapa orang di antara mereka berlinang air mata karena terharu. Hal itu karena mereka melihat Mush’ab  memakai jubah using yang penuh dengan tambalan. Mereka teringat penampilannya sebelum masuk islam, ketika pakaiannya bagaikan bunga-bunga di taman hijau yang terawat dan menyebarkan bau yang wangi.

     Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  sendiri menatapnya dengan pandangan yang bijaksana. Pandangan yang penuh dengan rasa syukur dan kasih sayang. Kedua bibir beliau menyunggingkan senyuman mulia seraya bersabda:

“Aku telah mengetahui Mush’ab  ini sebelumnya. Tidak ada pemuda Mekkah yang lebih dimanja oleh orangtuanya seperti dirinya. Kemudian ia meninggalkan itu semua karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.”

     Sejak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush’ab  kepada agamanya yang lama, segala fasilitas yang dahulu dinikmatinya dihentikan. Bahkan, ibunya tidak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala. Sang ibu tega membiarkannya menanggung derita kemurkaannya, walau itu adalah anak kandungnya sendiri.

     Akhirnya pertemuan Mush’ab  dengan ibunya adalah ketika perempuan itu hendak mengurungnya kembali setelah ia pulang dari Habasyah. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang yang membantu melaksanakan rencananya. Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad putranya yang tidak bisa ditawar lagi, tidak ada jalan lain baginya kecuali  melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush’ab  pun tidak kuasa menahan tangis.

     Perpisahan itu menggambarkan kita kegigihan yang luar biasa dari pihak ibu dalam kekafiran, sebaliknya kebulatan tekad sangat kuat dari pihak anak dalam mempertahankan keimanan. Sang ibu mengusirnya dari rumah.

     Dia berkata, “Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi.”

     Mush’ab  menghampiri ibunya seraya berkata, “Wahai bunda! Saya ingin menyampaikan nasehat kepada bunda, dan ananda merasa kasihan kepadamu. Saksikanlah bahwa tiada ilah (yang berhak disembah) selain Allah, dan Muhammad  [صلى الله عليه وسلم]  adalah hamba dan utusan-Nya,”

     Ibunya menjawab dengan penuh emosi dan kesal, “Demi bintang! Sekali-kali aku takkan masuk ke dalam agamamu itu. Otakku bias jadi rusak, dan akalku akan melemah.”

     Mush’ab  kini meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dinikmatinya selama ini, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda yang berpenampilan mewah dan wangi itu kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang. Suatu hari ia adakalanya makan dan beberapa hari menderita lapar. Tetapi, jiwanya yang telah dihiasi dengan akidah yang suci dan memancar oleh cahaya ilahi, telah mengubah dirinya menjadi seorang manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani.

      Suatu saat Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  memilih Mush’ab  untuk melakukan tugas yang paling agung saat itu. Ia menjadi utusan Rasulullah ke Madinah untuk mengajarkan agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan berbai’at kepada Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  di bukit Aqabah, mengajak orang-orang yang lain agar menganut agama Allah, dan mempersiapkan Madinah untuk hijrah yang agung.

     Ketika itu sebenarnya masih banyak tokoh yang lebih tua di kalangan shahabat, lebih berpengaruh, dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  daripada Mush’ab . Tetapi, Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab Yang Baik”. Beliau menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas yang besar di pundak pemuda itu, dan menyerahkan nasib agama islam kepadanya di Madinah, yang tidak lama lagi akan menjadi Darul Hijrah, pusat para da’I dan dakwah, dan markas para pengemban misi islam dan prajurit perang.

     Mush’ab  memikul amanah itu dengan bekal kearifan pikir dan kemuliaan akhlak yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya. Kezuhudan, kejujuran, dan kesungguhan hatinya telah berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk islam.

     Pada saat awal tiba di Madinah, yang menganut agama islam di sana hanya dua belas orang, yang telah berbai’at di bukit Aqabah. Tetapi, beberapa bulan kemudian, banyak orang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

     Pada musim haji berikutnya setelah tahun perjanjian Aqabah, kaum muslimin Madinah mengirim utusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Jumlah mereka adalah 70 mukmin laki-laki dan perempuan. Mereka berangkat dipimpin oleh guru mereka, yang tidak lain adalah orang yang diutus oleh Nabi kepada mereka, yaitu “Mush’ab Yang Baik”.

     Dengan kesopanan dan kebaikan yang ditunjukkan, Mush’ab bin Umair  telah menjadi bukti bahwa Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  tahu bagaimana memilih orang yang tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, dan mampu menempatkan diri pada batas-batas yang telah ditetapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada agama Allah, menyampaikan berita gembira tentang agama-Nya yang mengajak manusia menuju hidayah Allah. Membimbing mereka ke jalan yang lurus. Tugasnya hanyalah menyampaikan agama Allah seperti tugas Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  yang diimaninya.

     Di Madinah Mush’ab  tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zurarah. Ia bersama As’ad mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat kitab suci Rabbnya, yang telah ia ketahui. Mereka berdua menyampaikan kalimat Allah “bahwa Allah adalah ilah Yang Maha Esa

     Mush’ab  pernah menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri dan shahabatnya, yang nyaris celaka jika tanpa kecerdasan akal dan kebesaran jiwwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap oleh Usaid bin Al-Hudhair , pemimpin kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid  menodong Mush’ab  dengan belati yang terhunus.

     Dia sangat murka dan sakit hati menyaksikan Mush’ab  yang datang untuk menyelewengkan kaumnya dari agama mereka, membujuk mereka agar meninggalkan tuhan-tuhan mereka, dan menceritakan Allah Yang Maha Esa yang belum pernah mereka ketahui sebelum itu. Tuhan-tuhan yang selama ini mereka kenal bisa dilihat dengan jelas terpajang di tempatnya dan bila seseorang berkepentingan, ia tahu di mana tempat tuhannya. Dia bias langsung menghadap tuhannya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan. Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam pikiran suku Abdul Asyhal. Berbeda dengan Rabb Muhammad  [صلى الله عليه وسلم]  yang sedang didakwahkan oleh utusan yang datang kepada mereka itu; tiada seorang pun yang mengetahui tempat dan melihat-Nya.

     saat kaum Muslimin yang sedang duduk bersama Mush’ab  melihat kedatangan Usaid  dengan membawa kemurkaan bagaikan api yang berkobar, mereka pun merasa khawatir. Tetapi, “Mush’ab Yang Baik” tetap tenang, percaya diri, dan menunjukkan kegembiraan.

     Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid  berdiri di hadapan Mush’ab  dan As’ad, seraya berkata, “Apa maksud kalian datang ke kampung kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika kalian tidak ingin mati!


     Bagaikan samudra yang tenang dan dalam; laksana cahaya fajar yang ceria dan damai, ketulusan hati Mush’ab  mampu menggerakkan lidahnya untuk mengeluarkan ucapan yang lembut, “Mengapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai, anda dapat menerimanya. Sebaliknya, jika tidak, kami akan menghentikan apa yang anda benci.”

     Usaid  adalah sosok yang berakal cerdas. Dalam hal ini, ia melihat bahwa Mush’ab  mengajaknya berdialog dan meminta pertimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Ia hanya dimohon bersedia mendengar, bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab , dan jika tidak, Mush’ab  berjanji akan meninggalkan kampung dan penduduknya untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan orang lain ataupun dirugikan. Ketika itulah Usaid  menjawab, “Sekarang aku insyaf.”

     Dia pun melemparkan belatinya ke tanah dan duduk mendengarkan. Ketika Mush’ab  membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menguraikan seruan yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah, dada Usaid  mulai terbuka dan bercahaya, berdetak mengikuti naik turunnya suara, serta meresapi keindahannya. Belum selesai Mush’ab  menyampaikan seruannya, Usaid  sudah berseru kepadanya dan orang-orang yang bersamanya, “Alangkan indah dan benarnya ucapan itu. Apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk agama ini?”

     Mereka pun menjawabnya dengan suara tahlil yang menggerumuh bagai hendak mengguncangkan bumi. Kemudian Mush’ab  berkata kepada Usaid , “Hendaklah ia menyucikan badan dan pakaiannya, serta bersaksi bahwa tiada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah.”

     Setelah itu Usaid  meninggalkan mereka, kemudian kembali dengan rambut yang masih meneteskan air sisa bersuci. Ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada ilah kecuali Allah dan Muhammad utusan-Nya.

     Berita Usaid  pun cepat tersebar bagaikan cahaya. Keislamannya disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz . Setelah mendengar uraian Mush’ab , Sa’ad  pun merasa puas dan masuk islam. Langkah ini disusul oleh Sa’ad bin ubadah . Dengan keislaman mereka bertiga, maka selesailah persoalan dengan berbagai suku di Madinah.

     Warga Madinah saling berdatangan dan bertanya-tanya antara sesama mereka, “Jika Usaid bin Al-Hudhair , Sa’ad bin Mu’adz , dan Sa’ad bin ubadah  telah masuk islam, apalagi yang kita tunggu? Ayolah kita pergi kepada Mush’ab  dan beriman bersamanya. Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya.”

     Demikianlah, duta Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  yang pertama telah mencapai hasil yang gemilang. Keberhasilan yang memang wajar dan pantas diraih oleh Mush’ab .

     Hari berganti hari dan tahun demi tahun terus berjalan hingga tiba waktu Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  bersama shahabat beliau hijrah ke Madinah. Orang-orang Quraish semakin terbakar oleh dendam. Mereka menyiapkan segala yang diperlukan untuk melanjutkan tindak kezaliman terhadap hamba-hamba Allah yang shaleh. Perang Badar meletus dan kaum Quraish pun harus menelan pil pahit yang menghabiskan sisa-sisa pikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menuntut balas.

     Setelah itu perang uhud menjelang dan kaum Muslimin pun bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman, untuk memilih siapa di antara mereka yang berhak membawa bendera perang. Beliau pun memanggil “Mush’ab Yang Baik”, dan akhirnya ia tampil sebagai pembawa panji perang kaum Muslimin.

     Peperangan berkobar dan berkecamuk dengan sengitnya. Namun, pasukan pemanah melanggar perintah Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم] . Mereka meninggalkan posisinya di puncak bukit setelah melihat orang-orang musyrik mundur dan menderita kekalahan. Perbuatan mereka itu secepatnya mengubah suasana, hingga kemenangan kaum Muslimin beralih menjadi kekalahan. Pasukan kaum Muslimin dikagetkan oleh serangan balik pasukan berkuda Quraish yang menyatroni mereka dari puncak bukit. Mereka diserang saat dalam keadaan lengah dengan pedang-pedang yang haus darah dan mengamuk bagai orang gila.

     Ketika musuh melihat barisan kaum Muslimin porak-poranda, mereka pun mengalihkan serangan kearah Rasulullah [صلى الله عليه وسلم]   untuk membunuh beliau. Mush’ab  pun menyadari ancaman yang berbahaya tersebut. Dia pun mengangkat panji perang setinggi-tingginya dan bagaikan raungan singa ia bertakbir sekeras-kerasnya. Ia berjalan ke depan, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Ia memfokuskan semua upaya untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم] . Ia bertahan sendirian bagaikan satuan pasukan.

     Sungguh, walau pun seorang diri, Mush’ab  bertempur laksana pasukan tentara besar. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedangkan yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam. Tetapi musuh kian bertambah banyak, mereka hendak menyebrang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai posisi Rasulullah.

     Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata yang akan menceritakan saat-saat terakhir dalam kehidupan Mush’ab bin Umair . Ibnu Sa’ad  menuturkan, “Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil Al-Abdari  menceritakan kepada kami dari ayahnya yang berkata: Mush’ab bin Umair  adalah pembawa bendera di perang Uhud. Tatkala barisan kaum Muslimin kocar-kacir, Mush’ab  tetap bertahan pada posisinya. Ibnu Qami’ah datang berkuda, lalu menebas tangan kanannya hingga putus. Mush’ab  mengucapkan, ‘Muhammad  [صلى الله عليه وسلم]  itu tiada lain hanyalah seorang utusan.’ Kini ia memegang bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab  membungkuk kearah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan, ia mendekap bendera ke dada sambil mengucapkan, ‘Muhammad  [صلى الله عليه وسلم]  itu tiada lain hanyalah seorang utusan, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa utusan.’ Musuh menyerangnya kembali dengan tombak dan menusukannya hingga patah. Mush’ab  akhirnya gugur , dan bendera perang pun jatuh.” <Ibnu Hisyam: II/3 dan Zadul Ma’ad: II/97 – edt.>

     Mush’ab  gugur dan panji perang jatuh. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Hal itu dialaminya setelah mengarungi kancah pengorbanan dan keimanan dengan keberanian yang luar biasa. Saat itu Mush’ab  yakin bahwa sekiranya ia gugur, tentu jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  tanpa ada pembela yang akan melindungi beliau.

     Karena cintanya yang tiada batas kepada Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم] , dan cemas memikirkan nasib beliau bila seandainya ia gugur, maka setiap sabetan pedang menebas tangannya, ia mengucapkan, “Muhammad http://www.elahmad.com/sahaba/salla.gif itu tiada lain hanyalah seorang utusan, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa utusan.“ Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibaca sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat Al-Qur’an yang selalu dibaca orang.

     Setelah pertempuran sengit itu selesai, jasad pahlawan ulung yang syahid itu ditemukan dalam keadaan terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi oleh darahnya yang mulia. Tubuh yang telah kaku itu seolah-olah masih khawatir bila menyaksikan Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  ditimpa bencana, sehingga wajahnya disembunyikan agar tidak melihat peristiwa yang sangat tidak ia inginkan itu. Atau, mungkin juga ia merasa malu karena telah gugur sebelum hatinya tenteram oleh kepastian akan keselamatan Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم] ; sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah.

     Wahai Mush’ab , cukuplah Allah bagimu. Namamu harum semerbak dalam kehidupan.

     Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  bersama para shahabat meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan kata perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab , air mata beliau mengucur deras. Khabab bin Al-Arat  menuturkan, “Kami hijrah bersama Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  dengan mengharap ridha Allah, maka Allah memberikan balasan kepada kami. Di antara kami ada yang meninggal dan belum mendapatkan balasan (dunia) sedikitpun; di antaranya adalah Mush’ab bin Umair  yang gugur pada perang Uhud. Kami tidak mendapatkan sesuatu untuk mengafaninya kecuali sepotong kain. Jika kami menutup kepalanya, kedua kakinya tersingkap dan jika kami menutup kakinya, kepalanya tersingkap. Nabi  [صلى الله عليه وسلم]  bersabda, ‘Tutupilah kepalanya dengan kain (mantel) dan tutuplah kakinya dengan idzkhir (rumput yang berbau harum yang biasa digunakan dalam penguburan’.“ <Shahih Al-Bukhari: II/579-584.>

     Kepedihan yang mendalam memang oleh Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  atas terbunuhnya paman beliau, Hamzah, dan jasadnya dipotong-potong oleh orang-orang musyrik sedemikian rupa. Air mata beliau bercucuran dan hati beliau bergolak oleh duka. Medan pertempuran penuh dengan mayat para shahabat beliau yang masing-masing bagi beliau merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya. Namun, semua pemandangan yang menyedihkan itu tidak memalingkan Rasulullah untuk berhenti di dekat jasad duta beliau yang pertama, untuk melepaskan kepergiannya dan mengungkapkan duka bela sungkawa.

     Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  berdiri di depan jasad Mush’ab bin Umair  dengan pandangan mata yang penuh dengan cahaya kesetiaan dan kasih sayang. Beliau membacakan ayat di hadapannya:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلً

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya). <Al-Ahzab: 23>

     Kemudian dengan penuh rasa iba beliau memandangi kain yang digunakan untuk menutupi jasadnya, seraya bersabda, “Ketika di Mekkah dulu, tidak ada seorang pun yang aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripada dirimu. Namun, sekarang, engkau (gugur) dengan rambutmu yang kusut masai dan hanya dibalut sehelai kain.”

     Setelah itu pandangan beliau tertuju ke medan pertempuran dengan pemandangan jasad syuhada rekan-rekan Mush’ab  yang tergeletak di atasnya, Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  bersabda, “Sungguh, Rasulullah  [صلى الله عليه وسلم]  akan menjadi saksi pada hari kiamat nanti bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah,”

     Kemudian beliau berpaling ke arah shahabat yang masih hidup, dan bersabda, “Wahai manusia, berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka. Ucapkanlah salam untuk mereka. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tiada seorang Muslim pun yang mengucapkan salam kepada mereka sampai hari kiamat, kecuali mereka pasti membalas salamnya.” 

Orang yang pertama mati Syahid

Sabar adalah salah sifat terpuji yang telah ditanamkan Islam kedalam hati para wanita mukminah dari kalangan para shahabiyat, dan menumbuhkannya dalam sanubari mereka, sehingga salah seorang diantara mereka pada saat menghadapi berbagai cobaan dan musibah bagaikan gunung yang kokoh tak bergerak, dan bagaikan singa di sarangnya, ia tidak takut dan tidak ragu.

Mereka telah mengalami berbagai siksaan lahir dan batin, mengalami sakit parah, kemiskinan yang mencekik, kehilangan orang-orang yang dicinati. Namun itu semua tidak menggoyahkan keimanan mereka, tidak membunuh semangat mereka, tidak menjadikan mereka berkeluh kesah, lemah dan gelisah.

Diantara shahabiyat yang mendapat anugerah tersebut adalah Sumaiyah, seorang wanita yang pertama kali mendapatkan syahid dalam Islam.

Kisahnya,….

Dalam ketegaran menghadapi siksaan, tampak sekali sikap Sumaiyah binti Khabbat, ibu Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu, sebagai contoh terdepan dan bukti yang sangat tepat dalam hal ini.

Abu Jahal, panglima kezhaliman memakaikan baju besi pada Sumaiyah, kemudian menjemurnya dibawah terik panas matahari yang membakar. Walaupun begitu ia bersabar dan mengharap pahala, ia tidak berharap sesuatu kecuali Allah dan Hari Akhir. Ketika sikap beliau ini mematahkan kesombongan Abu Jahal, dan mengobarkan kemarahan di hatinya, Abu Jahal melakukan apa yang dilakukan oleh para penguasa zhalim lagi jahat ketika tak mampu berbuat apa-apa. Karena ketegaran Sumaiyah radhiallahu ‘anha dalam agamanya, Abu Jahal mendekatinya, kemudian menusuknya dengan tombak hingga meninggal dunia.

Dalam kitab ‘Usdhu al-ghabah’, al-Hafizh Ibnu hajar mengatakan, “Abu Jahal menusuk sumaiyah dengan tombak yang ada ditangannya pada kemaluannya hingga meninggal dunia. Beliau adalah orang yang mati syahid pertama dalam Islam, beliau dibunuh sebelum hijrah, dan beliau termasuk diantara orang yang memperlihatkan keislamannya secara terang-terangan pada awal datangnya Islam.”

Ini adalah merupakan pelajaran bagi setiap mukminah yang diinginkan oleh orang-orang yang brbuat dosa untuk dicopot dari agamanya, hendaknya ia meneladani ketegaran, keteguhan dan kesabaran Sumaiyah. Semboyannya adalah perkataan Abu Athiyah:

“Bersabarlah dalam kebenaran, engkau akan merasakan manisnya
Kesabaran demi kebenaran terkadang harus melaluikepedihan”.

Hal ini juga menunjukkan bahwa sabar itu tidaklah ada batasnya, sampai Allah mendatangkan keputusan dan ketetapan-Nya.

Sumber: Durus min Hayat ash-Shahabiyat, karya Abdul Hamid bin Abdurrahman as-Suhaibani.

Wafat dirubung Laba-laba

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus 10 mata-mata yang dipimpin Ashim bin Tsabit al-Anshari kakek Ashim bin al-Khaththab. Ketika mereka tiba di daerah Huddah antara Asafan dan Makkah mereka berhenti di sebuah kampung suku Hudhail yang biasa disebut sebagai Bani Luhayan.

Kemudian Bani Luhayan mengirim sekitar 100 orang ahli panah untuk mengejar para mata-mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berhasil menemukan sisa makanan berupa biji kurma yang mereka makan di tempat istirahat itu. Mereka berkata, ‘Ini adalah biji kurma Madinah, kita harus mengikuti jejak mereka.’

Ashim merasa rombongannya diikuti Bani Luhayan, kemudian mereka berlindung di sebuah kebun. Bani Luhayan berkata, ‘Turun dan menyerahlah, kami akan membuat perjanjian dan tidak akan membunuh salah seorang di antara kalian.’ Ashim bin Tsabit berkata, ‘Aku tidak akan menyerahkan diri pada orang kafir.’ Lalu memanjatkan doa, ‘Ya Allah, beritakan kondisi kami ini kepada NabiMu shallallahu ‘alaihi wasallam.’

Rombongan Bani Luhayan melempari utusan Rasulullah dengan tombak, sehingga Ashim pun terbunuh. Utusan Rasulullah tinggal tiga orang, mereka setuju untuk membuat perjanjian. Mereka itu adalah Hubaib, Zaid bin Dasnah dan seorang lelaki yang kemudian ditombak pula setelah mengikatnya. Laki-laki yang ketiga itu berkata, ‘Ini adalah penghianatan pertama. Demi Allah, aku tidak akan berkompromi kepadamu karena aku telah memiliki teladan (sahabat-sahabatku yang terbunuh).’

Kemudian rombongan Bani Hudhail membawa pergi Hubaib dan Zaid bin Dasnah, mereka berdua dijual. Ini terjadi setelah peperangan Badar. Adalah Bani Harits bin Amr bin Nufail yang membeli Hubaib. Karena Hubaib adalah orang yang membunuh al-Harits bin Amir pada peperangan Badar. Kini Hubaib menjadi tawanan Bani al-Harits yang telah bersepakat untuk membunuhnya.

Pada suatu hari Hubaib meminjam pisau silet dari salah seorang anak perempuan al-Harits untuk mencukur kumisnya, perempuan itu meminjaminya. Tiba-tiba anak laki-laki perempuan itu mendekati Hubaib bahkan duduk dipangkuannya tanpa sepengetahuan ibunya. Sementara tangan kanan Hubaib memegang silet. Wanita itu berkata, ‘Aku sangat kaget.’ Hubaib pun mengetahui yang kualami. Hubaib berkata, ‘Apakah kamu khawatir aku akan membunuh anakmu? Aku tidak mungkin membunuhnya.’

Wanita itu berkata, ‘Demi Allah aku tidak pernah melihat tawanan sebaik Hubaib. Dan demi Allah pada suatu hari, aku melihat Hubaib makan setangkai anggur dari tangannya padahal kedua tangannya dibelenggu dengan besi, sementara di Makkah sedang tidak musim buah. Sungguh itu merupakan rizki yang dianugrahkan Allah kepada Hubaib.’

Ketika Bani al-Harits membawa keluar Hubaib dari tanah haram untuk membunuhnya, Hubaib berkata, ‘Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan shalat dua rakaat.’ Mereka mengizinkan shalat dua rakaat. Hubaib berkata, ‘Demi Allah, sekiranya kalian tidak menuduhku berputus asa pasti aku menambah shalatku.’ Lalu Hubaib memanjatkan doa, ‘Ya Allah, susutkanlah jumlah bilangan mereka, musnahkanlah mereka, sehingga tidak ada seorang pun dari keturunannya yang hidup,’ lalu mengucapkan syair:

Mati bagiku bukan masalah, selama aku mati dalam keadaan Islam
Dengan cara apa saja Allahlah tempat kembaliku
Semua itu aku kurbankan demi Engkau Ya Allah
Jika Engkau berkenan,
berkahilah aku berada dalam tembolok burung karena lukaku (syahid)

Lalu Abu Sirwa’ah Uqbah bin Harits tampil untuk membunuh Hubaib. Hubaib adalah orang Islam pertama yang dibunuh dan sebelum dibunuh melakukan shalat.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahu para sahabat pada hari disiksanya Hubaib, bahwa kaum Quraisy mengutus beberapa orang untuk mencari bukti bahwa Ashim bin Tsabit telah terbunuh dalam peristiwa itu, mereka mencari potongan tubuh Ashim. Karena Ashim adalah yang membunuh salah seorang pembesar Quraisy. Tetapi Allah melindungi jenazah Ashim dengan mengirim sejenis sekawanan lebah yang melindungi jenazah Ashim, sehingga orang-orang itu tidak berhasil memotong bagian tubuh jenazah Ashim sedikit pun.” (HR. Al-Bukhari, no. 3989; Abu Dawud, no. 2660.)

Kisah Zaid bin Haritsah Yang Dijadikan Tawanan

Ibnu Sa’d meriwayatkan dalam kitab Thabaqat-nya dengan sanadnya dari Hisyam bin Muhammad bin as-Saaib al-Kalbi dari bapaknya bahwasanya dia berkata:”Dahulu Haritsah bin Syarhiil (bapak Zaid bin Haritsah) menikah dengan seorang wanita di Thayi’ dari kabilah Nabhan dan melahirkan anak-anak yaitu Jabalah, Asma’ dan Zaid.” Dan dia pun menyebutkan kisah tentang jatuhnya Zaid menjadi tawanan setelah disergap oleh pasukan berkuda dari Tihamah dari kabilah Bani Fazarah. Kemudian tentang dijualnya dia (Zaid) sebagai budak di pasar ‘Ukazh dan melihatnya Nabi kepada Zaid sebelum beliau diutus menjadi Nabi. Kemudian dibelinya Zaid oleh Khadijah dan sampainya dia ke tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan di dalamnya terdapat kisah kedatangan Haritsah dan sebagian kerabatnya (saudara) untuk mencari Zaid dan akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan pilihan kepada Zaid (antara tetap bersama Nabi atau kembali bersama bapak dan keluarganya)….sampai akhir kisah. (ath-Thabaqat 3/42)

Al-Hafizh (Ibnu Hajar al-‘Asqalani) rahimahullah berkata di dalam kitab at-Tahdziib (Tahdzibut Tahdzib) setelah menyandarkan kiash tersebut kepada Tamam (Tamam bin Muhamad ar-Razi) dalam kitab Fawa’id-nya:”Hadits Munkar Jiddan (sangat munkar), dan telah dibawakan oleh Al-Hafizh Abu ‘Abdillah bin Mandah di kitab Ma’rifatush Shahabah dalam pembahasan biografinya, dan beliau berkata:’Sesungguhnya ia (kisah ini) tidak diriwayatkan kecuali dengan sanad (rangkaian perwayatan) ini.’ Kemudian aku melihatnya di dalam al-Mustadrak karya Imam al-Hakim ((3/235) namun imam adz-Dzahabi menghapus hadits ini dari kitab Talkhis-nya dikarenakan ke-dha’if-annya ), namun beliau (al-Hakim) tidak tegas (terang-terangan) mengatakan ke-shahih-annya.” (at-Tahdzib 11/79. Dan beliau berkata dalam Fathul Bari (7/87) setelah menyandarkan riwayat tersebut kepada Ibnu Mandah dan Tamam:”Dengan sanad yang ganjil dari ketluarga Zaid bn Haritsah.” Dan beliau berkata di kitab al-Ishabah dalam biografi Haritsah bapak Zaid:”…Dan para perawi dalam sanad tersebut tidak dikenal.” )

Dan sanad Ibnu Sa’d di dalamnya ada gurunya yaitu Hisyam dan bapaknya dan keduanya adalah perawi yang matruk (perawi yang tertuduh berdusta).

Ibnu Ishaq rahimahullah juga menyebutkan kisah tersebut dalam Sirah-nya namun tanpa sanad. (Ar-Raduh al-Anf)

Ibnu ‘Abdil Barr membawakan riwayat di kitab al-Isti’ab dari jalur Abu Ishaq as-Sabi’i berkata:”Dikatakan kepada Jabalah bin Haritsah, siapakah yang lebih besar anda ataukah Zaid?” Maka dia (Jabalah) menjawab:”Zaid lebih dari aku dan aku dilahirkan sebelumnya.” Kemudian dia (Ibnu ‘Abdil Barr) menyebutkan kisah secara ringkas tentang jatuhnya Zaid menjadi seorang tawanan. Dan di dalamnya tidak disebutkan tentang kedatangan bapak Zaid dan kerabatnya dan kejadian setelahnya.

Abu ‘Umar Ibnu ‘Abdil Barr berkata sebelum menyebutkan kisah ini:”Sebagian mereka memasukkan (ke dalam sanad kisah tersebut) Farwah bin Naufal di antara Abu Ishaq dan Jabalah.”

Al-Hafizh (Ibnu Hajar al-‘Asqalani) rahimahullah berkata di kitab at-Tahdziib (Tahdzibut Tahdzib) dalam biografi Jabalah:”Dan yang benar dari Abu Ishaq dari Farwah darinya (Jabalah).” (at-Tahdziib 2/61)

Adapun penamaannya dengan Zaid bin Muhammad, maka hal ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya dalam bab: ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ dari kitab at-Tafsir dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwsanya Zaid bin Haritsah mantan budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dahulu kami tidak biasa memanggilnya melainkan dengan Zaid bin Muhammad, hingga turun al-Qur’an:


ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ

”….Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah…” (QS. Al-Ahzab: 5)

Dan diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dalam kitab Fadha’ilush Shahabah, bab. Fadha’ilu Zaid. (Syarh Shahih Muslim 15/195)

Dan Imam at-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu ‘Amr asy-Syaibani berkata:”Telah mengabarkan kepadaku Jabalah bin Haritsah saudar Zaid, ia berkata:Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku berkata kepada beliau:


يا رسول الله ابعث معي أخي زيدا

”Wahai Rasulullah, berikan saudaraku Zaid ini pergi bersamaku (kembali kepada keluarga kami).” Kemudian Nabi berkata:


هو ذا

”Ini dia.” Lalu beliau melanjutkan:


فإن انطلق معك لم أمنعه

”Maka jika dia (Zaid) pergi bersamamu maka aku tidak akan menghalangi/melarangnya.” Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata:


يا رسول الله والله لا أختار عليك أحدا

”Wahai Rasulullah, demi Allah, aku tak akan memilih seorang pun selain anda.”

Jabalah berkata:


قال فرأيت رأي أخي أفضل من رأيي

”Maka aku mengetahui pendapat saudaraku lebih bagus dari pendapatku.”

Kemudian Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata:”Hadits ini adal hadits hasan gharib, kami tak mengetahuinya kecuali dari hadits Ibnu Ar-Rumi dari Ali bin Mushir.” Selesai perkataan Imam at-Tirmidzi (Sunan at-Tirmidzi 10/319 dalam Tuhfatul Ahwadzi)

Dan Syaikh al-Albani rahimahullah membawakannnya dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi (3/231 no. 2998)

Dan diriwayatkan oleh Imam al-Hakim rahimahullah dan beliau mengatakan:”Shahih sanadnya, namun keduannya (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Dan (komentar Imam al-Hakim) disepakati oleh Imam adz-Dzahabi rahimahullah.

(Sumber:ما شاع ولم يثبت في السيرة النبوية hal. 23-24

Penantian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Terhadap Seorang Laki-laki Selama Tiga Har

Dan di antara kisah yang masyhur di dalam Sirah (Sirah Nabawiyyah) adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari ‘Abdullah bin Abi al-Hamsaa’radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

بَايَعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَيْعٍ قَبْلَ أَنْ يُبْعَثَ وَبَقِيَتْ لَهُ بَقِيَّةٌ فَوَعَدْتُهُ أَنْ آتِيَهُ بِهَا فِي مَكَانِهِ فَنَسِيتُ ثُمَّ ذَكَرْتُ بَعْدَ ثَلَاثٍ فَجِئْتُ فَإِذَا هُوَ فِي مَكَانِهِ، فَقَالَ: يَا فَتًى لَقَدْ شَقَقْتَ عَلَيَّ أَنَا هَاهُنَا مُنْذُ ثَلَاثٍ أَنْتَظِرُكَ

” Dahulu aku pernah membeli sesuatu dari Nabi sebelum beliau diutus menjadi Nabi. Dan beliau masih mempunyai sisa bayaran/harga (yang harus aku bayar), maka aku menjanjikan kepadanya untuk datang melunasinya di tempat tersebut. Lalu aku lupa dan baru ingat setelah tiga hari. Lalu aku datang menemui beliau, dan ternyata beliau ada di tempat tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Wahai anak muda, engkau telah memberatkan diriku, aku di sini selama tiga (hari) untuk menunggumu.”

Imam Abu Dawud telah meriwayatkan hadits ini dari jalur Ibrahim bin Thahman dari Budahil dari ‘Abdul Karim dari (bin) ‘Abdullah bin Syaqiq dari bapaknya dari ‘Abdullah bin Abi al-Hamsaa’ radhiyallahu ‘anhu.

Dan perbedaan pendapatnya adalah, apakah ia ‘Abdul Karim dari ‘Abdullah atau Abdul Karim bin ‘Abdullah? Abu Dawud rahimahullah berkata:”Berkata Muhammad bin Yahya (adz-Dzuhliy, Syaikh/gurunya Abu Dawud di dalam hadits ini):’ Ini yang ada pada kami adalah ‘Abdul Karim bin ‘Abdullah bin Syaqiq.’”

Abu Dawud rahimahullah berkata:” Beginilah riwayat itu sampai kepada kami dari ‘Ali bin Abdullah.”

Al-Hafizh (Ibnu Hajar) rahimahullah berkata di dalam at-Taqriib (1/515):” ‘Abdul Karim bin ‘Abdullah bin Syaqiq al-‘Uqaili al-Bashriy adalah perawi yang Majhul (tidak dikenal).”

Dan beliau rahimahullah berkata dalam biografi Ibnu Abi al-Hamsaa’ di kitab at-Tahdzhiib (5/192):”Dia memiliki satu hadits yang diperselisihkan dalam status sanadnya, yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud.”

Imam adz-zahabi rahimahullah menyebutkan kisah tersebut dalam pembahasan Sirah di kitab beliau Tarikh al-Islam dan beliau menyandarkannya kepada Abu Dawud.

Al-‘Iraqiy rahimahullah di dalam kitab beliau Takhriij al-Ihyaa’ (4/1692) berkata:”Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan diperselisihkan dalam sanadnya, dan Ibnu Mahdiy berkata:’Aku tidak menduga Ibrahim bin Thahmaan kecuali seorang yang salah (keliru).’”

Dan Syaikh al-Albani rahimahullah menyatakan bahwa hadits tersebut dha’if di dalam kitab Shahih Dha’if Sunan Abi Dawud (10/496) no hadts 4996

(Sumber:ما شاع ولم يثبت في السيرة النبوية hal. 20)

Khadijah Binti Khuwailid Radhiallahu ‘anha

(Sang kekasih yang selalu dikenang jasanya)

Beliau adalah seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Dia adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah). Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Beliau dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.

Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi yang membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun.Tatkala Abu Halah wafat, beliau dinikahi oleh Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi hingga beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka cerai.

Setelah itu banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau tetapi beliau memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan yang mana beliau menjadi seorang yang kaya raya. Suatu ketika, beliau mencari orang yang dapat menjual dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad sebelum bi’tsah (diangkat menjadi Nabi), yang memiliki sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia, maka beliau meminta kepada Muhammad untuk menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah. Beliau memberikan barang dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh selainnya. Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama Maisarah dan Allah menjadikan perdagangannya tersebut menghasilkan laba yang banyak. Khadijah merasa gembira dengan hasil yang banyak tersebut karena usaha dari Muhammad, akan tetapi ketakjubannya terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari semua itu. Maka mulailah muncul perasaan-perasaan aneh yang berbaur dibenaknya, yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Pemuda ini tidak sebagamana kebanyakan laki-laki lain dan perasaan-perasaan yang lain.

Akan tetapi dia merasa pesimis; mungkinkah pemuda tersebut mau menikahinya, mengingat umurnya sudah mencapai 40 tahun? Apa nanti kata orang karena ia telah menutup pintu bagi para pemuka Quraisy yang melamarnya?

Maka disaat dia bingung dan gelisah karena problem yang menggelayuti pikirannya, tiba-tiba muncullah seorang temannya yang bernama Nafisah binti Munabbih, selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog hingga kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembuyikan oleh Khodijah tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya. Nafisah membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik.Terbukti dengan banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya.

Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar dari rumah Khadijah, dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga terjadilah dialog yang menunjukan kelihaian dan kecerdikannya:

Nafisah : Apakah yang menghalangimu untuk menikah wahai Muhammad?

Muhammad : Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah .

Nafisah : (Dengan tersenyum berkata) Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita yang kaya raya, cantik dan berkecukupan, maka apakah kamu mau menerimanya?

Muhammad : Siapa dia ?

Nafisah : (Dengan cepat dia menjawab) Dia adalah Khadijah binti Khuwailid

Muhammad : Jika dia setuju maka akupun setuju.

Nafisah pergi menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan kepada paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi sayyidah Khadijah. Kemudian berangkatlah Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi putra saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar.

Setelah usai akad nikah, disembelihlah beberapa ekor hewan kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir. Khadijah membuka pintu bagi keluarga dan handai taulan dan diantara mereka terdapat Halimah as-Sa’diyah yang datang untuk menyaksikan pernikahan anak susuannya. Setelah itu dia kembali ke kampungnya dengan membawa 40 ekor kambing sebagai hadiah perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena dahulu dia telah menyusui Muhammad yang sekarang menjadi suami tercinta.

Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri dari Muhammad al-Amin dan jadilah dirinya sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri. Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad ingin mengembil salah seorang dari putra pamannya, Abu Tholib, maka Khadijah menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Tholib radhiallâhu ‘anhu agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam .

Allah memberikan karunia pada rumah tangga tersebut berupa kebehagaian dan nikmat yang berlimpah, dan mengkaruniakan pada keduanya putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqqayah, Ummi Kalsum dan Fatimah.

Kemudian Allah Ta’ala menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai Khalwat (menyendiri), bahkan tiada suatu aktifitas yang lebih ia sukai dari pada menyendiri. Beliau menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah di Gua Hira’ sebulan penuh pada setiap tahunnya. Beliau tinggal didalamnya beberapa malam dengan bekal yang sedikit jauh dari perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Makkah yakni menyembah berhala dan lain –lain.

Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa tertekan dengan tindakan Muhammad yang terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan dirumah. Apabila dia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pergi ke gua, kedua matanya senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari jauh. Bahkan dia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau tanpa mengganggu suaminya yang sedang menyendiri.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di dalam gua tersebut hingga batas waktu yang Allah kehendaki, kemudian datanglah Jibril dengan membawa kemuliaan dari Allah sedangkan beliau di dalam gua Hira’ pada bulan Ramadhan. Jibril datang dengan membawa wahyu.Selanjutnya beliay Nabi Saw keluar dari gua menuju rumah beliau dalam kegelapan fajar dalam keadaaan takut, khawatir dan menggigil seraya berkata: “Selimutilah aku ….selimutilah aku …”.

Setelah Khadijah meminta keterangan perihal peristiwa yang menimpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menjawab:”Wahai Khadijah sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku”.

Maka Istri yang dicintainya dan yang cerdas itu menghiburnya dengan percaya diri dan penuh keyakinan berkata: “Allah akan menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, sugguh aku berharap agar anda menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya anda telah menyambung silaturahmi, memikul beban orang yang memerlukan, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran.

Maka menjadi tentramlah hati Nabi berkat dukungan ini dan kembalilah ketenangan beliau karena pembenaran dari istrinya dan keimanannya terhadap apa yang beliau bawa.

Namun hal itu belum cukup bagi seorang istri yang cerdas dan bijaksana, bahkan beliau dengan segera pergi menemui putra pamannya yang bernama waraqah bin Naufal, kemudian beliau ceritakan perihal yang terjadi pada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam . Maka tiada ucapan yang keluar dari mulutnya selain perkataan: “Qudus….Qudus…..Demi yang jiwa Waraqah ada ditangan-Nya, jika apa yang engkau ceritakan kepadaku benar,maka sungguh telah datang kepadanya Namus Al-Kubra sebagaimana yang telah datang kepada Musa dan Isa, dan Nuh alaihi sallam secara langsung.Tatkala melihat kedatangan Nabi, sekonyong-konyong Waraqah berkata: “Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, Sesungguhnya engkau adalah seorang Nabi bagi umat ini, pastilah mereka akan mendustakan dirimu, menyakiti dirimu, mengusir dirimu dan akan memerangimu. Seandainya aku masih menemui hari itu sungguh aku akan menolong dien Allah “. Kemudian ia mendekat kepada Nabi dan mencium ubun-ubunnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Apakah mereka akan mengusirku?”. Waraqah menjawab: “Betul, tiada seorang pun yang membawa sebagaimana yang engkau bawa melainkan pasti ada yang menentangnya. Kalau saja aku masih mendapatkan masa itu …kalau saja aku masih hidup…”. Tidak beberapa lama kemudian Waraqah wafat.

Menjadi tenanglah jiwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala mendengar penuturan Waraqah, dan beliau mengetahui bahwa akan ada kendala-kendala di saat permulaan berdakwah, banyak rintangan dan beban. Beliau juga menyadari bahwa itu adalah sunnatullah bagi para Nabi dan orang-orang yang mendakwahkan dien Allah. Maka beliau menapaki jalan dakwah dengan ikhlas semata-mata karena Allah Rabbul Alamin, dan beliau mendapatkan banyak gangguan dan intimidasi.

Adapun Khadijah adalah seorang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang pertama kali masuk Islam.

Beliau adalah seorang istri Nabi yang mencintai suaminya dan juga beriman, berdiri mendampingi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dicintainya untuk menolong, menguatkan dan membantunya serta menolong beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman sehingga dengan hal itulah Allah meringankan beban Nabi-Nya.Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali ke rumahnya. Beliau (Khadijah) meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ayat-ayat Al-Qur’an juga mengikuti (meneguhkan Rasulullah), Firman-Nya:

“Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-Mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (belasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-Mu, bersabarlah!”(Al-Muddatstsir:1-7).

Sehingga sejak saat itu Rasulullah yang mulia memulai lembaran hidup baru yang penuh barakah dan bersusah payah. Beliau katakan kepada sang istri yang beriman bahwa masa untuk tidur dan bersenang-senang sudah habis. Khadijah radhiallâhu ‘anha turut mendakwahkan Islam disamping suaminya -semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau. Diantara buah yang pertama adalah Islamnya Zaid bin Haritsah dan juga keempat putrinya semoga Allah meridhai mereka seluruhnya.

Mulailah ujian yang keras menimpa kaum muslimin dengan berbagai macam bentuknya,akan tetapi Khadijah berdiri kokoh bak sebuah gunung yang tegar kokoh dan kuat. Beliau wujudkan Firman Allah Ta’ala:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’ , sedangkan mereka tidak diuji lagi?” . (Al-’Ankabut:1-2).

Allah memilih kedua putranya yang pertama Abdullah dan al-Qasim untuk menghadap Allah tatkala keduanya masih kanak-kanak, sedangkan Khadijah tetap bersabar. Beliau juga melihat dengan mata kepalanya bagaimana syahidah pertama dalam Islam yang bernama Sumayyah tatkala menghadapi sakaratul maut karena siksaan para thaghut hingga jiwanya menghadap sang pencipta dengan penuh kemuliaan.

Beliau juga harus berpisah dengan putri dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah istri dari Utsman bin Affan radhiallâhu ‘anhu karena putrinya hijrah ke negeri Habsyah untuk menyelamatkan diennya dari gangguan orang-orang musyrik. Beliau saksikan dari waktu ke waktu yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan. Akan tetapi tidak ada kata putus asa bagi seorang Mujahidah. Beliau laksanakan setiap saat apa yang difirmankan Allah Ta’ala :

“Kamu sungguh-sungguh akan duji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberikan kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, ganguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang di utamakan “. (Ali Imran:186).

Sebelumnya, beliau juga telah menyaksikan seluruh kejadian yang menimpa suaminya al-Amin ash-Shiddiq yang mana beliau berdakwah di jalan Allah, namun beliau menghadapi segala musibah dengan kesabaran. Semakin bertambah berat ujian semakin bertambahlah kesabaran dan kekuatannya. Beliau campakkan seluruh bujukan kesanangan dunia yang menipu yang hendak ditawarkan dengan aqidahnya. Dan pada saat-saat itu beliau bersumpah dengan sumpah yang menunjukkan keteguhan dalam memantapkan kebenaran yang belum pernah dikenal orang sebelumnya dan tidak bergeming dari prinsipnya walau selangkah semut. Beliau bersabda: “Demi Allah wahai paman! seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan dakwah ini, maka sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa karenannya”.

Begitulah Sayyidah mujahidah tersebut telah mengambil suaminya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai contoh yang paling agung dan tanda yang paling nyata tentang keteguhan diatas iman. Oleh karena itu, kita mendapatkan tatkala orang-orang Quraisy mengumumkan pemboikotan mereka terhadap kaum muslimin untuk menekan dalam bidang politik, ekonomi dan kemasyarakatan dan mereka tulis naskah pemboikotan tersebut kemudian mereka tempel pada dinding ka’bah; Khadijah tidak ragu untuk bergabung dengan kaum muslimin bersama kaum Abu Thalib dan beliau tinggalkan kampung halamannya untuk menempa kesabaran selama tiga tahun bersama Rasul dan orang-orang yang menyertai beliau menghadapi beratnya pemboikotan yang penuh dengan kesusahan dan menghadapi kesewenang-wenangan para penyembah berhala. Hingga berakhirlah pemboikotan yang telah beliau hadapi dengan iman, tulus dan tekad baja tak kenal lelah. Sungguh Sayyidah Khadijah telah mencurahkan segala kemampuannya untuk menghadapi ujian tersebut di usia 65 tahun. Selang enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan itu wafatlah Abu Thalib, kemudian menyusul seorang mujahidah yang sabar -semoga Allah meridhai beliau- tiga tahun sebelum hijrah.

Dengan wafatnya Khadijah maka meningkatlah musibah yang Rasul hadapi. Karena bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Khadijah adalah teman yang tulus dalam memperjuangkan Islam.

Begitulah Nafsul Muthmainnah telah pergi menghadap Rabbnya setelah sampai pada waktu yang telah ditetapkan, setelah beliau berhasil menjadi teladan terbaik dan paling tulus dalam berdakwah di jalan Allah dan berjihad dijalan-Nya. Dalalm hubungannya, beliau menjadi seorang istri yang bijaksana, maka beliau mampu meletakkan urusan sesuai dengan tempatnya dan mencurahkan segala kemamapuan untuk mendatangkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah beliau berhak mendapat salam dari Rabb-nya dan mendapat kabar gembira dengan rumah di surga yang terbuat dari emas, tidak ada kesusahan didalamnya dan tidak ada pula keributan didalamnya. Karena itu pula Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik wanita adalah Maryam binti Imran, sebaik-baik wanita adalah Khadijah binti Khuwailid”.

Ya Allah ridhailah Khadijah binti Khuwailid, As-Sayyidah Ath-Thahirah. Seorang istri yang setia dan tulus, mukminah mujahidah di jalan diennya dengan seluruh apa yang dimilikinya dari perbendaharaan dunia. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik karena jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin.

Pernikahan Nabi dengan Khadijah

Pada saat Muhammad saw memasuki usia dua puluh tahun, beliau hadir di Hilful Fudhul, orang-orang Makkah menerima keputusan beliau terkait dengan Hajar Aswad, beliau juga terkenal dengan kejujuran, kesetian, amanah, iffah dan kebersihan hati plus kehormatan asal usul dan kebaikan leluhur.

Di Makkah terdapat seorang wanita bangsawan sekaligus hartawan pemilik kesempurnaan jiwa, keluhuran akhlak dan ketinggian budi pekerti. Wanita tersebut adalah Khadijah binti Khuwailid al-Asadiyah al-Qurasyiyah. Khadijah mendengar kesempurnaan Muhammad saw yang membuatnya menawarkan kerja sama perdagangan dengan modal darinya. Khadijah melakukan ini agar Nabi saw memiliki penghasilan ekonomi sehingga tidak tergantung kepada nafkah pamannya Abu Thalib. Muhammad saw menerima tawaran Khadijah dengan rela, dia berangkat bersama rombongan dagang ke Syam disertai Maesarah pembantu Khadijah.

Ini adalah perjalanan kedua bagi Nabi saw ke Syam, yang pertama adalah perjalanan beliau bersama pamannya ketika beliau masih anak-anak. Dalam perjalanan ini bersama Muhammad saw Maersarah melihat keajaiban, di antaranya adalah bahwa dia melihat dua orang malaikat memayungi rekan kerjanya itu dari terik matahari pada saat sinarnya menyengat tubuh. Pada suatu hari Nabi saw singgah berteduh di bawah sebuah pohon dekat biara seorang rahib. Rahib ini melihatnya maka dia bertanya kepada Maesarah tentangnya, maka Maesarah berkata, “Dia adalah laki-laki Quraisy dari tanah Haram.” Maka rahib ini berkata, “Tidak ada seorang pun yang berteduh di bawah pohon itu kecuali seorang nabi.” Rahib ini berkata demikian karena dia menyaksikan tanda-tanda kenabian yang berkibar di depan mata setiap pemilik bashirah yang mencermati.

Muhammad saw pulang dengan keuntungan besar. Khadijah berbahagia karenanya. Khadijah lebih berbahagia lagi manakala pelayannya Maesarah menceritakan kepadanya perkara rahib dan naungan dua malaikat kepada beliau dari sengatan matahari. Karena hal ini dan hal lainnya Khadijah berminat menikah dengan Muhammad saw yang pada saat itu berumur dua puluh lima tahun dan umur Khadijah sendiri antara tiga puluh lima dan empat puluh tahun. Sebelumnya Khadijah telah menikah dengan Abu Halah Zararah at-Taimi dan sebelumnya dengan Atiq bin A’idz al-Makhzumi, dari suaminya yang akhir ini Khadijah melahirkan seorang putri bernama Hindun. Jadi Nabi saw mempunyai dua anak tiri yaitu Hind dan Halah.

Langkah selanjutnya di ambil oleh Khadijah, dia mengirim pesan kepada Nabi saw melalui seorang kawannya. Dalam pesannya Khadijah berkata, “Wahai anak paman, sesungguhnya aku berminat kepadamu karena hubungan kekerabatan dan kemuliaanmu pada kaummu, kebaikan akhlakmu dan kejujuran kata-katamu.” Kemudian Khadijah menawarkan dirinya untuk menikah. Pada saat itu Khadijah tergolong wanita Quraisy yang bernasab terhormat, berkedudukan mulia dan berharta besar. Setiap laki-laki dari kaumnya berusaha untuk mendapatkannya namun tidak seorang pun yang berhasil.

Hal ini disampaikan oleh Nabi saw kepada paman-pamannya, maka Abu Thalib dan Hamzah berangkat bersama untuk menemui bapaknya Khuwailid bin Asad, maka kedua paman Nabi saw ini melamar Khadijah kepada bapaknya dan bapaknya menikahkannya. Nabi saw memberinya mahar dua puluh ekor unta muda. Khadijah adalah wanita pertama yang dinikahi oleh Rasulullah saw dan Rasulullah saw tidak menikah dengan wanita mana pun sampai Khadijah wafat dan berpulang ke sisiNya, semua anak beliau, al-Qasim, Abdullah, Zaenab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah, dari Khadijah selain Ibrahim. Yang akhir ini dari Maria al-Qibthiyah al-Mishriyah.

Pelajaran

Banyak hal yang bisa petik dari pemaparan di atas, namun penulis hanya membatasi pada sisi yang berkait dengan pernikahan.

1- Keterangan tentang kesempurnan jiwa yang Allah Ta’ala berikan kepada Muhammad saw yang karenanya Khadijah berminat menikah dengannya, sisi ini penting diperhatikan karena Khadijah tidak menikah dengan Muhammad saw karena semata-mata dia seorang pemuda, kalau memang demikian maka pemuda Makkah tidak hanya Muhammad saw, ini artinya pada diri Muhammad ada sesuatu yang tidak dimiliki oleh siapa pun dan hal itu dilihat oleh Khadijah.

2- Pilihan Muhammad saw yang jatuh kepada Khadijah sebagai istri adalah pilihan jitu, terbukti setelah itu bahwa keberadaan Khadijah dengan segala kelebihannya sangat berarti dan dibutuhkan oleh Muhammad saw dalam memikul risalah dakwah.

3- Bukan aib jika wanita menyatakan keinginannya untuk menikah dengan seorang laki-laki, selama hal itu disampaikan dengan memperhatikan patokan sopan santun dan norma-norma agama seperti yang dilakukan oleh Khadijah.

4- Disyariatkannya lamaran sebelum menikah dan hal itu dilakukan oleh kerabat suami seperti yang dilakukan oleh Hamzah dan Abu Thalib yang melamar Khadijah kepada bapaknya Khuwailid bin Asad.

5- Kemuliaan Khadijah Ummul Mukminin. Dia adalah sayyidah para wanita Quraisy yang sebenarnya. Jibril alaihis salam telah datang membawa berita gembira yang termasuk berita genbira terbesar untuk Khadijah dari Allah Azza wa Jalla yaitu, “Sesungguhnya Allah berfirman kepadamu –maksudnya adalah Nabi saw-, ‘Sampaikan salam dari-Ku kepada Khadijah dan berikanlah dia berita gembira yaitu sebuah istana di surga dari emas.”