Jumat, 12 Desember 2014

STEMPEL-CAP-TANDA KENABIAN (KHATAM AN-NUBUWWAH)

Gambar ini adalah dua contoh gambar Khatam an-Nubuwwah (Stempel-cap-tanda Kenabian), seperti yang terdapat pada belikat (di antara kedua bahu) Rasulullah Saw.
Keterangan Gambar:
·         Bagian tengah: اللهُ وَحْدَهُ لَاشَريْكَ لَهُ مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ “Allahu wahdahu laa syariika lahu muhammadun ‘abduhu warasuluhu” (Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagiNya, Nabi Muhammad hamba dan utusanNya).
·         Baris kanan: تَوَجَّهُ حَيْثُ شئْتَ  “Tawajjahu haitsu syi’ta” (Kamu (wahai Muhammad Saw.) menghadap ke arah mana pun).
·         Baris kiri: فَانَّكَ مَنْصُوْرٌ  “Fainnaka manshurun” (Maka sesusungguhnya engkau (Nabi Muhammad Saw.) akan dibantu).
A.    Bentuk Khatam An-Nubuwwah dan Faidah Memandangnya
Manakala Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw. menceritakan sifat-sifat Rasulullah Saw., maka ia akan bercerita panjang lebar dan akan berkata: “Di antara kedua bahu Rasulullah Saw. terdapat khatam (tanda) kenabian, yaitu khatam para nabi.” (HR. Ahmad ‘Ubadah adh-Dhabi, Ali bin Hujr dan lainnya, yang mereka terima dari Isa bin Yunus dari Umar bin Abdullah dari Ibrahim bin Muhammad yang bersumber dari salah seorang putera Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw.).
Dari Jabir bin Samurah Ra. mengemukakan perihal Khatam Nabi sebagai berikut: “Aku pernah melihat khatam (kenabian), ia terletak di antara kedua bahu Rasulullah Saw. Bentuknya seperti sepotong daging berwarna merah sebesar telur burung dara.” (HR. Sa’id bin Ya’qub ath-Thalaqani dari Ayub bin Jabir dari Simak bin Harb yang bersumber dari Jabir bin Samurah Ra.)
Dalam Syarh al-Barzanji dikatakan: “Ia (Khatam an-Nubuwwah) adalah daging atau lemak yang hitam (nampak timbul) bercampur kekuningan (seperti urat), lalu sekelilingnya itu ada bulu-bulu rambut yang beriring-iringan seperti bulu kuda (yang halus).
Khatam an-Nubuwwah atau tanda, cap, stempel kenabian atau biasa disebut sebagai lambang “tawajjuh” merupakan cap kenabian sebagai salah satu legalitas tanda kenabian Rasulullah Muhammad Saw. Khatam an-Nubuwwah ini terdapat pada antara pundak Rasulullah Saw. Munculnya stempel kenabian ini dikatakan sejak Rasulullah Saw. dilahirkan. Pendapat lain mengatakan munculnya setelah beberapa saat dilahirkan. Begitu muncul tanda kenabian tersebut bersamaan dengan keluarnya cahaya yang menjulang tinggi ke atas langit.
Diantara asrar (rahasia) dari Khatam an-Nubuwwah tersebut adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi Ra.: “Siapa yang berwudhu kemudian melihatnya (Khatam an-Nubuwwah) di waktu Shubuh, maka Allah menjaganya sampai sore hari. Siapa yang melihatnya di waktu Maghrib, maka Allah menjaganya sampai waktu Shubuh. Siapa yang melihatnya pada permulaan bulan, maka Allah menjaganya sampai akhir bulan dari bala’ dan marabahaya. Siapa yang melihatnya pada waktu bepergian, maka kepergiannya akan menjadi berkah. Dan siapa yang meninggal pada tahun itu juga, maka Allah menutupnya dengan keimanan. Yang terpenting yang saya kehendaki dari Allah bahwa orang yang melihatnya dengan pandangan cinta dan iman sepanjang umurnya sekali saja, maka Allah menjaganya dari semua yang dibenci sampai berjumpa dengan Allah.” (Madarij ash-Shu’ud Syarh al-Barzanji halaman 50-52).
Imam al-Qurthubi Ra. berkata: “Dalam hadits-hadits yang shahih menyatakan bahwa Khatam an-Nubuwwah adalah gumpalan daging berwarna merah terletak dekat dengan bahu sebelah kiri. Ketika Rasulullah Saw. masih kecil, Khatam an-Nubuwwah tersebut sebesar telur burung merpati dan kemudian membesar sekira segenggam tangan.” (Imam al-Munawi dalam Faidh al-Qadir).
Al-Allamah az-Zurqani dalam al-Mawahib al-Laduniyyah Syarh ‘ala asy-Syamail al-Muhammadiyyah berkata: “Al-Hakim dan at-Tirmidzi berkata: “Ia (Khatam an-Nubuwwah) bagaikan telur burung merpati. Di dalamnya tertulis kalimat: “Allahu wahdahu laa syariika lahu.” Dan di luarnya tertulis: “Tawajjahu haitsu syi’ta. Fainnaka manshurun.” Sedangkan dalam Tarikh an-Naisabur menambahkan: “ Di dalam Khatam an-Nubuwwah itu juga tertulis: “Muhammadun rasulullah.” (Al-Mawahib al-Laduniyyah Syarh ‘ala asy-Syamail al-Muhammadiyya juz 1 halamaman 85).
B.     Hadits-hadits Tentang Khatam An-Nubuwwah
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سِمَاكٍ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ سَمُرَةَ قَالَ رَأَيْتُ خَاتَمًا فِي ظَهْرِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّهُ بَيْضَةُ حَمَامٍ و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا حَسَنُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ سِمَاكٍ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ مِثْلَهُ
Jabir bin Samurah berkata: “Aku melihat sebuah cap (stempel) di punggung Rasulullah Saw. kira-kira sebesar telur merpati.” (HR. Muslim hadits no. 2344).
وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ قَالاَ حَدَّثَنَا حَاتِمٌ وَهُوَ ابْنُ إِسْمَعِيلَ عَنِ الْجَعْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجِعٌ فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ ثُمَّ تَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْلَ زِرِّ الْحَجَلَةِ
 As-Saib bin Yazid berkata: “Aku dan bibiku pergi kepada Rasulullah Saw. Lalu bibiku berkata kepada beliau: “Ya Rasulullah, keponakanku sakit.” Maka beliau Saw. mengusap kepalaku, kemudian beliau mendoakan keberkahan bagiku. Sesudah itu beliau berwudhu lalu kuminum sisa air wudhunya. Kemudian aku berdiri di belakang beliau, aku melihat cap kenabian beliau terletak antara kedua bahu kira-kira sebesar telur burung.” (HR. Muslim hadits no. 2345).
حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ و حَدَّثَنِي سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ كِلاَهُمَا عَنْ عَاصِمٍ اْلأَحْوَلِ ح و حَدَّثَنِي حَامِدُ بْنُ عُمَرَ الْبَكْرَاوِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ يَعْنِي ابْنَ زِيَادٍ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَرْجِسَ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَكَلْتُ مَعَهُ خُبْزًا وَلَحْمًا أَوْ قَالَ ثَرِيدًا قَالَ فَقُلْتُ لَهُ أَسْتَغْفَرَ لَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: نَعَمْ وَلَكَ ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ الْآيَةَ {وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ} قَالَ ثُمَّ دُرْتُ خَلْفَهُ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِ النُّبُوَّةِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ عِنْدَ نَاغِضِ كَتِفِهِ الْيُسْرَى جُمْعًا عَلَيْهِ خِيلاَنٌ كَأَمْثَالِ الثَّآلِيلِ
Abdullah bin Sarjis Ra. berkata: “Saya pernah melihat dan makan roti serta daging (atau dia berkata bubur daging) bersama Rasulullah Saw.” Perawi berkata: “Saya bertanya kepada Abdullah bin Sarjis: “Apakah Nabi Muhammad memohonkan ampun untukmu?” Kemudian Abdullah bin Sarjis menjawab: “Ya, dan untuk kamu juga.” Lalu dia membaca ayat: “Mohonkanlah ampunan (hai Muhammad) atas dosamu dan dosa orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad ayat 19). Kemudian Abdullah bin Sarjis berkata: “Lalu saya berputar ke belakang Rasulullah dan saya melihat tanda kenabian di antara dua pundak beliau, yaitu dekat punuk pundak kirinya. Pada tanda kenabian itu ada tahi lalat sebesar kutil.” (HR. Muslim hadits no. 2346).
C.    Pengalaman Para Sahabat Nabi Saw. Tentang Khatam An-Nubuwwah
1.      Ukasyah bin Muhshan Ra.
Ibnu Abbas Ra. Meriwayatkan: “Menjelang hari-hari terakhir wafatnya Rasulullah Saw., beliau memerintahkan kepada Bilal Ra. untuk mengumandangkan adzan. Orang-orang berdatangan menuju ke Masjid Nabi. Mereka berkumpul, baik dari golongan kaum Muhajirin maupun Anshar.
Kemudian Rasulullah Saw. memimpin shalat dua rakaat dengan bacaan yang ringan, atau tidak membaca ayat-ayat yang panjang. Kaum muslimin yang hadir bermakmum kepada beliau. Usai shalat, Rasulullah Saw. naik ke mimbar. Beliau membaca hamdalah dan kemudian menyampaikan beberapa nasihat dengan kata-kata yang tegas.
Para sahabat yang mendengar suara Rasulullah Saw. saat itu menjadi gemetar hatinya. Perlahan tapi pasti, mereka semua kemudian menangis.
“Wahai kaum muslimin,” seru Rasulullah Saw., “sesungguhnya aku ini adalah nabi dan sekaligus penasihat bagi kalian. Aku ini juga sebagai orang yang mengajak manusia kepada jalan Allah dengan izinNya. Aku ini bagaikan saudara kandung yang sayang dan laksana ayah yang welas asih.” Demikian diantaranya bunyi sabda Rasulullah Saw. saat itu.
“Barangsiapa yang mempunyai hak atas diriku yang bisa dituntut, maka hendaklah ia berdiri dan membalas haknya kepadaku saat ini, sebelum aku dituntut balas di hari kiamat nanti,” lanjut Rasulullah Saw.
Semua hadirin menjadi terdiam dalam tangis mereka. Tak seorang pun yang berdiri untuk menuntut balas kepada Nabi yang mereka cintai itu. Sehingga Rasulullah Saw. merasa perlu untuk mengulang pernyataannya saat itu hingga dua sampai tiga kali.
Setelah Rasulullah Saw. mengulang pernyataannya untuk yang ketiga kalinya, maka berdirilah salah seorang diantara yang hadir. Dia adalah Ukasyah bin Muhshan. “Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah. Sekiranya engkau tidak mengumumkan hal ini sampai tiga kali, maka aku tidak akan mengatakan hal ini. Aku pernah bersamamu pada Perang Badar. Ketika itu, untaku tengah mengikuti untamu. Aku turun dari untaku dengan maksud untuk mendekatimu dan mencium kakimu,” ujar Ukasyah menceritakan pengalamannya.
“Akan tetapi,” lanjut Ukasyah, “tiba-tiba saja engkau mengangkat cambukmu dan memukulkannya ke arah untamu, agar ia berjalan dengan cepat. Pada saat itu, ujung cambukmu telah mengenai tiga ruas tulang rusukku. Aku tak tahu, apakah saat itu engkau sengaja mengenaiku atau tidak,” ujar Ukasyah mengakhiri ceritanya.
Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Wahai Ukasyah, sesungguhnya Rasulullah dijauhkan dari bersikap sengaja memukulmu.” Kemudian Rasulullah Saw. berpaling ke arah sahabat Bilal Ra. seraya berkata: “Hai Bilal, pergilah ke rumah Fathimah dan ambilkan cambuk saya.”
Lalu sahabat Bilal Ra. keluar dari masjid sembari meletakkan tangannya di atas kepalanya. “Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk diqishash,” gumamnya lirih. Setibanya di rumah Fathimah Ra., Bilal mengetuk pintu. Setelah Sayyidah Fathimah bertanya tentang siapa yang datang, Bilal menjawab: “Aku Bilal, bermaksud untuk mengambil cambuk Rasulullah Saw.”
“Bilal, ada apakah gerangan sehingga ayahku memerlukan cambuknya?” tanya Fathimah Ra.
“Sesungguhnya, ayahmu telah menyediakan dirinya untuk diqishash,” jawab Bilal Ra.
Mendengar keterangan Bilal itu, Fathimah Ra. menangis. “Bilal, siapakah gerangan yang sampai hati akan mengqishash Rasulullah?” Tanya Fathimah Ra. di sela-sela isak tangisnya sembari menyerahkan cambuk Rasulullah Saw. kepada sahabat Bilal Ra.
Sahabat Bilal Ra. terdiam. Ia sendiri merasa bersedih dengan kejadian itu. Setelah menerima cambuk Rasulullah Saw. tersebut, ia segera berlalu dari hadapan Fathimah menuju ke masjid lagi.
Setibanya Bilal di masjid, segera cambuk itu diserahkan kepada Rasulullah Saw. Selanjutnya, beliau Saw. menyerahkan cambuk itu kepada Ukasyah. Detik-detik pelaksanaan qishash akan segera berlangsung.
Sahabat Abu Bakar Ra. dan Umar Ra. tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi terhadap diri Rasulullah Saw. Dengan serentak, kedua sahabat Rasulullah Saw. tersebut berdiri dan meminta kepada Ukasyah agar menjadikan mereka sebagai penerima qishash yang ditujukan untuk Rasulullah Saw. tersebut.
“Hai Abu Bakar dan Umar, kalian duduklah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui tempat kalian berdua,” ujar Rasulullah Saw.
Sahabat Ali Kw. pun segera bediri dan berseru kepada Ukasyah: “Ukasyah, selama hidupku, aku selalu mendampingi Rasulullah Saw. Ini punggung dan perutku, jatuhkanlah qishash itu padaku. Cambuklah aku saja dengan tanganmu.”
Rasulullah Saw. pun memerintahkan agar sahabat Ali Kw. untuk duduk kembali. “Duduklah Ali. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui niat dan tempatmu,” perintah Rasulullah Saw.
Dua orang putra sahabat Ali Kw., yakni Hasan dan Husain, kemudian berdiri menyusul ayah mereka. Kedua orang ini merupakan cucu kesayangan Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. kerap menggendong mereka dan meredakan tangisan mereka di masa mereka masih berusia kanak-kanak. Kini, mereka telah menjadi dua pemuda titisan darah Rasulullah Saw. dan tampil ingin membela kakeknya. “Ukasyah, bukankah engkau mengetahui betul bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah? Oleh karena itu, jika engkau menjatuhkan qishash tersebut kepada kami, itu sama saja dengan engkau telah mengqishash Rasulullah Saw.,” ujar kedua cucu Rasulullah Saw. tersebut.
“Buah hatiku,” tegur Rasulullah kepada Hasan dan Husain, “duduklah kalian berdua,” lanjut Rasulullah Saw. Keduanya pun mematuhi kata-kata Rasulullah Saw.
Selanjutnya Rasulullah Saw. memandang Ukasyah yang hanya diam membisu mendengarkan segala pembelaan dari sahabat dan keluarga Rasulullah Saw. tersebut. “Hai Ukasyah, sekarang mulailah laksanakan qishashmu. Cambuklah aku,” ucap Rasulullah Saw. kepada Ukasyah.
Namun Ukasyah masih mengajukan syarat lainnya. Ia berkata: “Ya Rasulullah, ketika aku terkena cambukanmu waktu itu, aku tidak mengenakan pakaian.”
Tanpa berkata-kata lagi, Rasulullah Saw. langsung membuka pakaiannya. Hingga tampaklah badan Rasulullah Saw. dari bagian perutnya hingga ke atas. Putih dan penuh cahaya barakah.
Menyaksikan pemandangan itu, serentak semua sahabat yang hadir menjerit dan menangis pilu. Mereka tak sampai hati melihat Rasulullah Saw. diperlakukan seperti itu. Tetapi, yang demikian itu adalah kehendak Rasulullah Saw. Dan kehendak Rasulullah Saw. berarti sama juga dengan kehendak Allah Azza wa Jalla.
Sementara itu, Ukasyah yang memandang tubuh Rasulullah Saw. dari jarak yang paling dekat, menjadi gemetar sekujur tubuhnya. Selama beberapa menit, ia telah menahan gejolak perasaannya untuk memperoleh kesempatan yang diidam-idamkan. Sebuah keinginan yang sudah tertancap sejak awai keislamannya. Keinginan itu pernah ingin ia laksanakan pada masa Perang Badar, tetapi tak juga dapat terlaksana.
Bahkan, gara-gara keinginannya itulah, ia terkena sabetan cambuk Rasulullah Saw. Dan justru karena sabetan cambuk itulah, maka Allah memberikan kesempatan emas itu lagi kepadanya. Kasih sayang Allah kepada Ukasyah sudah barang tentu sangatlah besar. Sehingga, Allah merancang skenario untuk membuat Ukasyah dapat melaksanakan keinginannya itu.
Keinginan Ukasyah itu adalah mencium bagian tubuh Rasulullah Saw. Sebab, ia ingin memperoleh berkah dari tubuh kekasih Allah yang mulia itu. Kini, kesempatan yang ia peroleh bukan saja sekadar mencium bagian kaki Rasulullah Saw. Melainkan ia memiliki peluang untuk dapat mencium tanda kenabian Rasulullah Saw. Ukasyah menangis keras dan memeluk tubuh Rasulullah Saw. dengan penuh kerinduan.
Ia segera memeluk tubuh Rasulullah Saw. yang putih bersinar itu dan mencium tanda kenabian beliau. Tanda kenabian itu terletak di punggung Rasulullah Saw. Tepat di antara dua belikatnya. Di sana tertulis kalimat “Bakhin bakhin manshurun tawajjah haitsu syi’ta fa innahu manshur” (Bagus, bagus. Orang yang ditolong, datanglah menghadap sekiranya engkau kehendaki. Maka, sesungguhnya dia adalah orang yang ditolong).
Tanda kenabian itulah yang pernah juga dicium oleh seorang rahib, yang karena hal itu, ia lalu dimuliakan oleh Allah dan dijamin oleh Allah akan terlepas dari siksa neraka. Derajat itulah yang diinginkan oleh Ukasyah. Ia ingin terlepas dari siksa neraka dengan sebab mencium tanda kenabian itu.
“Ya Rasulullah, aku rela menebus jiwamu dengan jiwaku. Maka, bagaimana mungkin aku sampai hati mengqishash dirimu. Sungguh, aku melakukan hal ini agar badanku dapat bersentuhan dengan badanmu. Sehingga, dengan demikian, Allah akan menghindarkan aku dari siksa api neraka dengan sebab kemuliaanmu,” ujar Ukasyah seraya menangis tersedu-sedu.
Rasulullah Saw. kemudian memandang kepada para hadirin seraya bersabda: “Ketahuilah, jika kalian ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah orang ini.”
Orang yang dimaksud oleh Rasulullah Saw. itu tak lain adalah Ukasyah, seorang sahabat yang rela menerima segala kecurigaan para sahabat Rasul lainnya tentang dirinya yang dianggap ingin mengqishash Rasulullah Saw. Hal itu ia lakukan dengan sabar, demi untuk dapat mencium tanda kenabian Rasulullah Saw.
Mendengar sabda Rasulullah Saw. tersebut, para sahabat serempak berdiri mengucapkan selamat kepada Ukasyah. “Hai Ukasyah, engkau telah memperoleh keuntungan yang sangat besar dan derajat yang tinggi karena akan berteman dengan Rasulullah Saw. di surga,” ujar mereka dengan penuh keharuan. Satu per satu mereka memberi selamat kepada Ukasyah dan mencium keningnya.
2.      Abu Zaid ‘Amr bin Akhthab Al-Anshari Ra.
Dalam suatu riwayat, Alba’ bin Ahmar al-Yasykuri berdialog dengan Abu Zaid ‘Amr bin Akhthab al-Anshari Ra. Abu Zaid berkata: “Rasulullah Saw. bersabda kepadaku: “Wahai Abu Zaid mendekatlah kepadaku dan usaplah belakang tubuhku.”  Maka belakang tubuhnya kuusap, dan terasa jari jemariku menyentuh Khatam.”
Aku (Alba’ bin Ahmar al-Yaskuri) bertanya kepada Abu Zaid: “Apakah Khatam itu?”
Abu Zaid menjawab: “Kumpulan bulu-bulu.” (Riwayat Muhammad bin Basyar dari Abu ‘Ashim dari ‘Uzrah bin Tsabit yang bersumber dari Alba’ bin Ahmar al-Yasykuri).
3.      Salman Al-Farisi Ra.
Abu Buraidah Ra. menceritakan tentang pengalaman Salman al-Farisi Ra. Salman al-Farisi Ra. datang membawa baki (sebuah wadah) berisi kurma kepada Rasulullah Saw. (sewaktu ia baru tiba di Madinah). Baki itu diletakkannya di hadapan Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. betanyaa: “Wahai Salman, apa ini?”
Salman menjawab: “Ini sedekah buat tuan dan sahabat tuan.”
Rasulullah Saw. bersabda: “Bawalah kembali dari sini, saya tidak memakan sedekah.” Baki itu pun diangkat oleh Salman.
Keesokan harinya, ia datang lagi dengan membawa makanan yang serupa dan diletakkan di hadapan Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. bertanya: “Apakah ini wahai Salman?”
Salman menjawab: “Ini adalah hadiah buat tuan.”
Kemudian Rasulullah Saw. bersabda kepada para sahabatnya: “Hidangkanlah!”
Kemudian Salman memperhatikan Khatam yang terletak di belakang Rasulullah Saw. (bagian belakang badan Rasul Saw. sebelah atas), maka ia pun (Salman) menyatakan keimanannya kepada beliau Saw.
Salman Ra. adalah budak seorang Yahudi, maka oleh Rasulullah Saw. ia dibeli dengan beberapa dirham, yakni dengan cara mengupah menanam pohon kurma. Salman bekerja di kebun itu sampai pohon-pohon kurman itu berbuah. Rasulullah Saw. membantunya menanam pohon-pohon itu. Diantaranya ada sebatang pohon yang ditanam Umar Ra. Pohon-pohon itu tumbuh dengan subur, kecuali sebatang pohon yang mati.
Rasulullah Saw. bertanya: “Kenapa pohon yang satu ini?” Umar Ra. menjawab: “Wahai Rasulullah, sayalah yang menanamnya.”
Rasulullah Saw. pun mencabutnya, kemudian menanaminya lagi, dan tumbuhlah dengan baik.” (Riwayat Abu ‘Ammar bin Harits al-Khuza’i dari ‘Ali bin Husain bin Waqid dari Abdullah bin Buraidah yang bersumber dari Abu Buraidah Ra.). (Asy-Syamail al-Muhammadiyyah Bab 2 halaman 21-30).
Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 01 Nopember 2013

Kamis, 11 Desember 2014

Setan mengalir di aliran darah manusia



Anak bayi dilarang keluar Magrib
Dalam hadits Riwayat Bukhari (3303) dan Muslim (2012) dari Jabir radiyallohu ‘anhu, bahwa 
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda :


إذا كان جنح الليل فكفوا صبيانكم فإن للجن انتشارا وخطفة وأطفئوا المصابيح عند الرقاد فإن الفويسقة ربما اجترت الفتيلة فأحرقت أهل البيت


” Jika telah datang malam, maka cegahlah anak-anak kalian untuk keluar karena sesungguhnya jin itu berkeliaran dan melakukan penculikan. Matikan lentera di saat tidur karena sesungguhnya binatang fasik (tikus, pen) itu kadang menarik sumbu lampu sehingga membakar penghuni rumah tersebut”.

Setan itu berjalan melalui darah sebagaimana  hadis:

عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلًا فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ لِأَنْقَلِبَ فَقَامَ مَعِيَ لِيَقْلِبَنِي وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِي دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ فَمَرَّ رَجُلَانِ مِنَ الْأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ فَقَالَا سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَرًّا أَوْ قَالَ شَيْئًا *

Dari Sofiah binti Huyai r.a katanya: Pada suatu malam ketika Nabi s.a.w sedang beriktikaf aku datang kepadanya. Setelah aku berbicara  dengan baginda, akupun berdiri untuk pulang. Rasulullah s.a.w ikut berdiri untuk mengantarku. Tempat tinggal Sofiah adalah di kampung Usamah bin Zaid. Tiba-tiba datang dua orang Ansor.  Mereka melihat Nabi s.a.w, mereka mempercepat langkah mereka. Lalu Nabi s.a.w bersabda: Tenanglah !. Sesungguhnya ini adalah Sofiah binti Huyai
Mereka berkata: Maha suci Allah, wahai Rasulullah.
 Rasulullah s.a.w bersabda Sesungguhnya syaitan itu berjalan melalui aliran darah manusia. Sebenarnya aku hawatir  setan meletakkan kejelekan di hati kalian[4]
[4] Muttafaq alaih  , Bukhori  1819

ketika Abu Bakr Radhiyallahu 'anhu mengomentari bahasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang fasih, ia berkata :

مَارَأَيْتُ مَنْ هُوَ أَفْصَحُ مِنْكَ يَارَسُوْلَ الله

"Aku tidak pernah melihat orang yang lebih fasih bahasanya dibandingkan engkau, wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab :

مَا يَمْنَعُنْي وَأَنَا مِنْ قُرَيْشٍ وَأُرْضِعْتُ فِي بَنِي سَعْدٍ


"Kenapa tidak? Aku dari suku Quraisy, dan aku disusui di Bani Sa’d". [2]
[2]. Lihat As Siratun Nabawiyatu fi Dhauil Kitab was Sunnati, karya Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, hlm. 192.

Ibu Asuh Nabi SAW semasa kecilnya adalah

1. Aminah binti Wahab bin Abdu manaf bin Zuhrah bin Kilaab, ibu beliau
SAW.
2. Tsuwaibah (yang juga ibu susu beliau)
3. Halimah As-sa’diyah (juga ibu susu beliau)
4. Syaimaa’ anak perempuan Halimah As-Sa’diyah yang juga merupakan saudara sepesusuan Nabi SAW (ia mengasuhnya bersama ibunya).
5. Ummu Aiman Barakah Al-Habasyiyah, seorang hamba sahaya yang beliau warisi dari ayah beliau. Ummu Aiman ini yang beliau nikahkan dengan Zaid bin Haritsah, lalu mempunyai anak bernama Usamah bin Zaid.

Ibu susu Nabi SAW
1. Tsuwaibah, seorang hamba sahaya Abu Lahab yang sudah dimerdekakan. Tetapi ia hanya menyusui beliau dalam beberapa hari saja. Waktu itu Tsuwaibah juga menyusui seorang anak yang bernama ‘Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumiy (Abu Salamah), disamping menyusui anaknya sendiri yang bernama Masruh.
2. Halimah As-Sa’diyah, seorang perempuan dari qabilah Bani Sa’ad. Setelah Nabi SAW disusui beberapa hari oleh Tsuwaibah, kemudian beliau disusui oleh Halimah As-Sa’diyah. Pada waktu itu Halimah sedang menyusui anaknya sendiri yang bernama ‘Abdullah (saudaranya Anisah dan Syaimaa’) anaknya Al-Haarits bin ‘Abdul ‘Uzza bin Rifaa’ah As-Sa’diy. Halimah As-Sa’diyah menyusui Nabi SAW hampir dua tahun, disamping itu Halimah As-Sa’diyah juga pernah menyusui Hamzah bin ‘Abdul Muththalib selama satu hari. Disamping itu Halimah As-Sa’diyah juga pernah menyusui Abu Sufyan bin Al Haarits bin ‘Abdul Muththalib (anak paman Nabi SAW).
Saudara sepesusuan Nabi SAW
1. ‘Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumiy
2. Masruh
3. Hamzah bin ‘Abdul Muththalib
4. ‘Abdullah bin Al-Haarits
5. Anisah binti Al-Haarits
6. Syaimaa’ binti Al-Haarits
7. Abu Sufyan bin Al-Haarits bin ‘Abdul Muththalib

Nabi ke Makam ayahnya Abdullah

Pada usia 6 tahun Rasulullah saw diajak oleh ibunda Siti Aminah untuk menziarahi makam ayahnya, Ayahnya meninggal pada saat Beliau masih di dalam kandungan. Siti Aminah dan Muhammd saw serta di temani budak warisan dari ayahnya yang bernama Ummu Aiman. Setelah meminta izin ke kakek tercintanya Abdul Mutholib maka mereka bertiga berangkat ke Madinah dan sampai di Madinah Muhammad adalah seorang anak yang supel, sopan, dan pandai bergaul dengan teman teman –yang notabenenya adalah teman—barunya.

Pada suatu hari, saat beliau bermain ke suatu tempat ada seorang yang Yahudi yang mengetahui ada stempel kenabian di dalam kepribadiannya, sehingga menyebar berita tentang kedatangan Muhammad saw. Berita demi berita berkembang dan berita itu terdengan oleh Ummu Aiman, segera Ummu Aiman melaporkannya ke Siti Aminah. Karena Siti Aminah khawatir apabila terjadi hal hal yang tidak di inginkan maka Muhammad diajak untuk kembali ke Mekkah, demi sang buah hati yang sebenarnya adalah calon pemimpin ummat dan jadi teladan seluruh ummat di dunia ini.

Ditengah perjalanan ayah bunda tercinta yaitu Siti Aminah sakit dan meninggal dunia, kemudian di makamkan di Abwa’. Kemudian Muhammad melanjutkan perjalanan menuju Mekah dengan ditemani dan Ummu Aiman. Sesampainya di Mekah, Muhammd saw diserahkan ke kakeknya Abdul Mutholib dan kini status Muhammad menjadi yatim-piatu yang diasuh oleh kakeknya seorang tokoh Quraisy terkemuka pada masa itu.

Abdul Mutholib mempunyai 12 anak, akan tetapi yang masih hidup pada saat kelahiran Muhammad hanya ada empat yaitu Hamzah, Abbas, Abu Lahab dan Abu Tholib. Hamzah dan Abbas mengimani kerasulan Muhammad saw pada saat mendapat wahyu di gua hiro, sedangkan Abu Tholib dan Abu Lahab, menurut sejarawan keduanya belum beriman dengan kerasulan Muhammd saw sampai akhir hayatnya, meskipun Abu Thalib mendukung dengan gerakan dakwah yang dibangun oleh Rasulullah saw. Berbeda dengan pamannya yang bernama Abu Lahab yang menentang keras terhadap dakwah Rasulullah hingga Allah mengabadikan namanya di dalam al Qur'an yaitu surat al Lahab.

Sepeninggal Abdul mutholib Muhammad ikut pamannya yaitu Abu tholib hingga Abu Tholib meninggal dunia dan berbondong bondong orang orang mekah mulai masuk Islam…(p.wi)
Baca Juga Tafsir 4-7 di sini  << Teksnya di bawah ini : Tafsir yasin 4 - 7


TAfsir Yasin 4-7

Ayat ke -4
عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ.

“yang berada) di atas jalan yang lurus”

Yang dimakasud dengan “shirath” adalah jalan lebar yang lurus menuju satu muara, karena itu jalan tersebut sudah pasti benar, berbeda dengan kata “sabil” yang artinya jalan juga. Kata sabil biasanya digunakan al Qur'an untuk menunjukkan jalan secara umum, yaitu bisa jadi jalan tersebut menuju kebenaran dan mungkin juga jalan tersebut menuju ke arah yang salah.
Jika dikaitakan dengan ayat sebelumnya, maka Al Qur'an adalah sebuah petunjuk jalan yang sudah pasti benar, membimbing ummat manusia ke arah kebaikan, karena al Qur'an menggunakan kata shirath dan bukan menggunakan kata sabil

Ayat-5
تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ
“(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang”
Penegasan bahwa, al Qur'an diturunkan oleh Allah yang maha perkasa, artinya ketentuan Allah seperti yang disampaikan oleh Allah melalui Nabi Muhammad saw pasti berlaku, tidak bisa dihalangi oleh siapapun

Ayat-6
لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ ءَابَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ.
“agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai”.

Tugas utama Rasul adalah memberi peringatan kepada ummat manusia, diantara ummat Nabi saw ada yang beriman dan ada yang tidak beriman. Yang tidak beriman dinamakan kafir. Apa yang disampaikan Muhammad saw mereka anggap hanya bualan belaka, padahal yang sebenarnya adalah dalam hati kecil mereka mengakui akan kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Ketidak-percayaan atas kerasulan Muhammad adalah lebih didasarkan kepada kesombongan orang orang kafir pada waktu itu.

Ayat-7
لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.

Perkataan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah perkataan yang pasti benar, yakni kalam perkataan (kalam) Allah yang tertuang di dalam al Qur'an. Kebenaran al Qur'an tidak dapat diragukan lagi. Meski demikian kebanyakan orang quraisy di zaman itu tidak mempercayainya. Bahkan, bangsa Arab dari kaum Yahudi ada semacam upaya memerangi Muhammad semenjak beliau belum di angkat menjadi Rasul oleh Allah. Untuk membaca Kisah, Rasulullah pada saat ke Madinah untuk berziarah ke makan Ayahanya silahkan klik di Kisah Ziarah Muhammad ke Makam Ayahnya

Nabi Fasih berbicara dan di Operasi

PERSUSUAN NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM DAN PERISTIWA PEMBELAHAN DADA
Setelah Aminah melahirkan bayinya dan diberi nama Muhammad oleh kakeknya di depan Ka’bah, kemudian ia menyusuinya selama beberapa hari. Ibunyalah yang menyusui Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pertama kali. Mengenai lama beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyusu pada ibunya, ada yang mengatakan tiga, tujuh dan ada yang mengatakan sembilan hari.

TSUWAIBAH
Setelah itu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam disusui oleh budak Abu Lahab yang sudah dibebaskan. Dia bernama Tsuwaibah. Wanita ini juga menyusui pamannya, yaitu Hamzah dan menyusui anak bibi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang bernama Abu Salamah al Mahzumi, sehingga mereka menjadi saudara sepersusuan. Sebagaimana dikisahkan dalam sebuah hadits, dari Zainab binti Abu Salamah :

أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ انْكِحْ أُخْتِي بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ ( ولمسلم : عِزَّةَ بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ) قَالَ أَوَتُحِبِّينَ ذَلِكِ قُلْتُ نَعَمْ لَسْتُ لَكَ بِمُخْلِيَةٍ وَأَحَبُّ مَنْ شَارَكَنِي فِي خَيْرٍ أُخْتِي فَقَالَ إِنَّ ذَلِكِ لَا يَحِلُّ لِي فَقُلْتُ إِنَّا نُحَدَّثُ أَنَّكَ تُرِيدُ أَنْ تَنْكِحَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ (وفي رواية : دُرَّةَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ) فَقَالَ بِنْتَ أُمِّ سَلَمَةَ فَقُلْتُ نَعَمْ
قَالَ لَوْ لَمْ تَكُنْ رَبِيبَتِي فِي حَجْرِي مَا حَلَّتْ لِي إِنَّهَا بِنْتُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ أَرْضَعَتْنِي وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَةُ فَلَا تَعْرِضْنَ عَلَيَّ بَنَاتِكُنَّ وَلَا أَخَوَاتِكُنَّ

"Sesungguhnya Ummu Habibah istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengatakan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Wahai, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Nikahilah saudariku putri Abu Sufyan (dalam riwayat Imam Muslim: ‘Izzah binti Abu Sufyan)”. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya,”Apakah engkau menginginkan itu?” Aku (Ummu Habibah) menjawab,”Ya. Aku tidak pernah menjadi istrimu seorang diri, dan orang yang paling aku sukai menemaniku dalam kebaikan adalah saudariku.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Itu tidak halal bagiku.” Ummu Habibah berkata,”Sesungguhnya kami diberitahu, bahwa engkau ingin menikahi anak Abu Salamah (dalam riwayat lain : Durrah binti Abu Salamah).” Rasulullah bertanya,”Putri Abu Salamah?” Aku (Ummu Habibah) menjawab,”Ya.”
Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya dia bukan anak asuhku, dia tetap tidak halal bagiku. Dia itu putri dari saudara sepersusuanku. Aku dan Abu Salamah pernah disusui oleh Tsuwaibah, maka jangankanlah kalian menawarkan anak-anak atau saudari-saudari kalian kepadaku". [HR Imam Bukhari dan Muslim].[1]

Kemudian Imam Bukhari membawakan perkataan ‘Urwah, bahwa Tsuwaibah adalah budak milik Abu Lahab yang telah dibebaskan dan menyusui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tsuwaibah menyusui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam selama beberapa hari, hingga kemudian datang Halimah as Sa’diyah, seorang wanita yang menyusui Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berikutnya.

HALIMAH AS-SA'DIYAH.
Diantara kebiasaan para pemuka bangsa Arab yaitu mencarikan ibu susuan dari pedesaan bagi anak-anak mereka. Tujuannya agar badan anak-anak mereka lebih sehat dan kuat. Karena memandang pengasuh atau ibu susuan yang berada di daerah perkotaan memiliki fisik yang lemah. Disamping itu, agar anak-anak mereka memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Oleh karenanya mereka mengirimkan bayi-bayi mereka ke pedesaan sampai usia delapan, kadang sepuluh tahun.Sebaliknya, orang-orang pedesaan itu sengaja pergi ke kota mencari bayi para pemuka Arab untuk disusui, dengan harapan agar namanya ikut terangkat.

Halimah binti Abu Dzuaib adalah wanita berikutnya yang ditakdirkan Allah Azza wa Jalla untuk menyusui Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia berasal dari kabilah Sa’diyah. Salah satu kabilah yang terkenal dengan wanita-wanita tukang menyusui, serta terkenal memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Oleh karenanya, ketika Abu Bakr Radhiyallahu 'anhu mengomentari bahasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang fasih, ia berkata :

مَارَأَيْتُ مَنْ هُوَ أَفْصَحُ مِنْكَ يَارَسُوْلَ الله

"Aku tidak pernah melihat orang yang lebih fasih bahasanya dibandingkan engkau, wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab :

مَا يَمْنَعُنْي وَأَنَا مِنْ قُرَيْشٍ وَأُرْضِعْتُ فِي بَنِي سَعْدٍ

"Kenapa tidak? Aku dari suku Quraisy, dan aku disusui di Bani Sa’d". [2]

Selama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam disusui oleh Halimah binti Abu Dzuaib as Sa’diyah, banyak kisah-kisah keajaiban yang masyhur dibawakan oleh para ahli sejarah. Namun, kisah tentang Halimah yang panjang, mulai dari proses pencarian bayi susuan sampai barakah-barakah yang muncul di kemudian hari, menurut para ulama ahli hadits, kisah-kisah tersebut dinilai tidak shahih karena sebab sanadnya.[3]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tinggal bersama mereka selama empat tahun, sampai terjadi sebuah peristiwa yang membuat ibu asuhnya Halimah as Sa’diyah merasa cemas dan menghawatirkan anak asuhnya. Peristiwa pembelahan dada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam yang dilakukan oleh Malaikat membuat ibu asuhnya cemas, sehingga ia segera mengembalikan kepengasuhan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada ibunda Aminah.

PERISTIWA PEMBELAHAN DADA.
Peristiwa pembelahan dada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, penyuciannya terjadi sebanyak dua kali, tetapi ada juga yang mengatakan tiga kali. Namun peristiwa pembelahan dada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam (yang kedua), yaitu menjelang penobatan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai nabi terjadi dalam mimpi, sebagaimana dua riwayat yang dibawakan oleh Imam Suyuthi rahimahullah.[4]

Peristiwa pertama terjadi ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berusia empat atau lebih, yaitu ketika beliau sedang menggembala di lembah Bani Sa’d. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu diceritakan :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً فَقَالَ هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ لَأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ يَعْنِي ظِئْرَهُ فَقَالُوا إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقِعُ اللَّوْنِ
قَالَ أَنَسٌ وَقَدْ كُنْتُ أَرْئِي أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِي صَدْرِهِ

"Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam didatangi Malaikat Jibril Alaihissallam ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang bermain dengan beberapa anak [5]. Jibril kemudian menangkapnya, menelentangkannya, lalu Jibril membelah dada. Jibril mengeluarkan hatinya, dan mengeluarkan dari hati beliau n segumpal darah beku sambil mengatakan “Ini adalah bagian setan darimu”. Jibril kemudian mencucinya dalam wadah yang terbuat dari emas dengan air zam-zam, lalu ditumpuk, kemudian dikembalikan ke tempatnya. Sementara teman-temannya menjumpai ibunya (maksudnya orang yang menyusuinya) dengan berlari-lari sembari mengatakan: “Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh”. Kemudian mereka bersama-bersama menjumpainya, sedangkan dia dalam keadaan berubah rona kulitnya (pucat).
Anas mengatakan: "Saya pernah diperlihatkan bekas jahitan di dadanya".

Setelah membawakan hadits ini, penyusun kitab As Siratun Nabawiyatush Shahihah mengatakan: "Tidak diragukan lagi, bahwa pembersihan hati dari bagian setan merupakan persiapan dini untuk kenabian, dan persiapan untuk bebas dari segala kejahatan dan peribadatan kepada selain Allah Azza wa Jalla. Maka tidak ada yang bersemayam di hatinya, kecuali tauhid. Peristiwa-peristiwa masa kecilnya menunjukkan, bahwa semua itu telah terbukti. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah melakukan dosa, serta tidak pernah sujud kepada berhala, meskipun hal itu sudah merata di tengah kaum beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam"

Demikianlah, peristiwa pembelahan dada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam yang pertama, terjadi di Bani Sa’d ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berusia empat tahun atau lebih. Kemudian peristwa ini terulang lagi pada malam Isra’ dan Mi’raj.

Peristiwa pembelahan dada ini, membuat Halimah merasa sangat khawatir atas keselamatan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, Halimah segera menyerahkan kembali Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ke pangkuan ibunda Aminah dan kakeknya Abdul Muththalib, meskipun sebenarnya Halimah sangat menyukainya.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo-Puwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183, Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[1]. Lihat Shahihus Siratin Nabawiyah, karya Syaikh Al Albani, hlm. 15.
[2]. Lihat As Siratun Nabawiyatu fi Dhauil Kitab was Sunnati, karya Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, hlm. 192.
[3]. Lihat As Siratun Nabawiyatush Shahihah, karya Dr. Akram Dhiya’ Al Umari (I/103).
[4]. Ibid.
[5]. Dalam riwayat Ibnu Ishaq, Rasulullah n menceritakan: “Ketika aku dan saudaraku menggembala ternak di belakang rumah, tiba-tiba aku didatangi oleh dua orang …”. (Lihat Shahihus Siratin Nabawiyah, hlm. 16).

JIN yang IKUTAN MENGKHATAMKAN AL-QURAN

Al-hafariy dan Jin yang mengkhatamkan Al-Quran tiap malam jumat

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْعَبَّاسِ ، ثنا سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْجُنَيْدِ ، ثنا الْقَوَارِيرِيُّ ، ثنا أَبُو عِمْرَانَ التَّمَّارُ ، قَالَ : " غَدَوْتُ يَوْمًا قَبْلَ الْفَجْرِ إِلَى مَسْجِدِ الْحَفَرِيِّ فَإِذَا بَابُ الْمَسْجِدِ مُغْلَقٌ وَإِذَا حَسَنٌ جَالِسٌ يَدْعُو وَإِذَا ضَجَّةٌ فِي الْمَسْجِدِ وَجَمَاعَةٌ يُؤَمِّنُونَ عَلَى دُعَائِهِ ، وَالْحَسَنُ يَدْعُو ، قَالَ : فَجَلَسْتُ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ حَتَّى فَرَغَ مِنْ دُعَائِهِ فَقَامَ فَأَذَّنَ وَفَتَحَ بَابَ الْمَسْجِدِ فَدَخَلْتُ فَلَمْ أَرَ فِي الْمَسْجِدِ أَحَدًا فَلَمَّا أَصْبَحَ وَتَفَرَّقَ عَنْهُ النَّاسُ ، قُلْتُ لَهُ : يَا أَبَا سَعِيدٍ ، إِنِّي وَاللَّهِ رَأَيْتُ عَجَبًا ، قَالَ : وَمَا رَأَيْتَ ؟ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي رَأَيْتُ وَسَمِعْتَ ، فَقَالَ : أُولَئِكَ جِنٌّ مِنْ أَهْلِ نَصِيبِينَ يَجِيئُونَ فَيَشْهَدُونَ مَعِي خَتْمَ الْقُرْآنِ كُلَّ لَيْلَةِ جُمُعَةٍ ثُمَّ يَنْصَرِفُونَ " .

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Ja'far, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Al-Abbas, telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabib, telah menceritakan kepda kami Ibrahim bin Al-Junaid, telah menceritakan kepada kami Al-Qaraririy, telah menceritakan kepada kami Abu Imron At-Tammar, Ia berkata : "Suatu hari sebelum subuh saya pergi ke masjid Al-Hafariy, namun pintu masjid masih terkunci, terlihat didalamnya Hasan Al-Hafariy duduk sambil berdoa dan banyak yang mengamini doanya" Abu Imron At-Tammar melanjutkan ceritanya "saya duduk menunggu didepan pintu masjid sampai Hasan Al-Hafariy menyelesaikan doanya kemudian Ia adzan dan membuka pintu masjid, ketika saya masuk saya terkejut karena tidak ada satu orangpun didalam masjid". Ketika pagi menjelang dan para jamaah sudah pulang dari masjid, saya bertanya kepada Al-Hafariy : "wahai Abu Said (Al-Hafariy), Demi Allah saya telah melihat kejadian yang menakjubkan", Al-Hafaariy menyahut: "apa yang yang kamu lihat?", maka saya menceritakan kejadian yang saya liat dan saya dengar tadi, kemudian Al-hafaariy menjelaskan : "Mereka itu adalah para jin penduduk Nashibin mereka datang, menyaksikan dan ikut mengkhatamkan Al-Qur'an setiap malam jumat bersamaku, kemudian mereka bubar/pulang ketempatnya masing-masing.

Sumber : Kitab Hilyatul Auliya' Li Abi Nu'aim 


Related Articles

Sabtu, 06 Desember 2014

Masa Muda dan Remaja Sang Nabi saw

1-Pengasuhan Abu Thalib as

Pengasuhan Abdul Muthalib terhadap cucunya Muhammad Saw. tetap berlangsung ketika ia menyerahkan urusan tersebut kepada anaknya, Abu Thalib. Sebab, ia tahu bahwa Abu Thalib akan mengasuh kemenakannya  dengan cara yang terbaik. Meskipun miskin, Abu Thalib dianggap termulia di antara saudara-saudaranya dan memiliki kedudukan paling terhormat di mata kaum Quraisy. Di samping itu, Abu Thalib adalah saudara sekandung Abdullah. Hal ini semakin menambah kuatnya hubungan darah dengan Muhammad Saw. dan juga memperkuat tali kasih sayang dan cinta kepadanya.

Abu Thalib menerima tanggung jawab ini dengan penuh bangga dan mulia. Istrinya yang baik, Fatimah bin Asad, turut pula membantunya. Mereka berdua lebih mendahulukan Muhammad dalam nafkah dan pakaian daripada diri mereka, bahkan anak-anak mereka sekalipun. Nabi Saw. telah mengungkapkan hal itu saat meninggalnya Fatimah binti Asad. Beliau berkata: “Hari ini ibuku meninggal.” Nabi Saw. mengkafaninya dengan pakaiannya dan meletakkan di liang lahatnya.

Sejak wafatnya Abdul Muthalib, tugas berat Abu Thalib dalam menjaga Nabi Saw. pun telah dimulai. Beliau menjaganya dengan harta, jiwa dan kedudukannya semenjak masa kecilnya. Abu Thalib membela dan menolongnya dengan tangan dan lisannya sepanjang hidupnya, sehingga Muhammad Saw. tumbuh dan menerima wahyu serta  menjelaskan risalah (agama) secara terang-terangan.[1]

2-Perjalanan Ke Syam

Kaum Quraisy terbiasa bepergian ke Syam sekali pada setiap tahun untuk berdagang. Sebab hal itu merupakan sumber utama untuk mendapatkan pekerjaan. Abu Thalib berencana untuk bepergian. Namun dalam perjalanan ini beliau tidak berpikir untuk mengajak Muhammad Saw., karena beliau khawatir perjalanan tersebut akan melelahkannya dan berbagai bahaya yang biasa ditemui saat melewati padang pasir. Namun di saat hendak berangkat, Abu Thalib mengubah keputusannya, karena beliau mendapati kemenakannya sangat mendesaknya untuk ikut dan air matanya berlinangan lantaran berpisah dengan pamannya. Akhirnya, inilah perjalanan pertama Muhammad Saw. ke Syam bersama pamannya. Dalam perjalanan ini Muhammad mengenal ihwal bepergian melewati padang pasir dan mengetahui jalan-jalan yang dilalui kafilah-kafilah.

Masih dalam perjalanan ini, pendeta Buhaira menyaksikan Muhammad dan bertemu dengannya. Ia menemukan tanda-tanda nabi terakhir yang diberitakan oleh Isa a.s. Karena, ia mengetahui Taurat dan Injil dan selainnya dari berbagai sumber yang menyebutkan kabar gembira tentang kemunculan Nabi Terakhir. Kemudian ia menasihati pamannya, Abu Thalib untuk kembali ke Mekkah dan berhati-hati saat menjaganya dari kaum Yahudi yang berencana membunuhnya.[2] Lalu, Abu Thalib pun kembali ke Mekkah bersama kemenakannya, Muhammad Saw.

3-Mengembala Domba

Para Imam Ahlul Bait a.s. tidak meriwayatkan suatu hadis yang menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. memang mengembala domba di masa kecilnya. Memang benar ada riwayat dari Imam Ash-Shadiq a.s. yang menjelaskan bahwa para nabi umumnya mengembala domba, dan hikmah hal tersebut—sebagaimana disebutkan dalam riwayat itu—adalah: “Allah tidak mengutus seorang nabi pun kecuali ia mengembala domba. Dengan itu, Dia mengajarinya cara mengembala (memberikan pertunjuk kepada) manusia.”

Begitu juga terdapat riwayat lain yang dinisbatkan kepada Imam Ash-Shadiq as yang menjelaskan hikmah membajak tanah (bercocok tanam) dan mengembala, yaitu: “Sesungguhnya pekerjaan yang disukai oleh Allah Azza wa Jalla bagi para nabinya ialah bercocok tanam dan mengembala. Yang demikian itu supaya mereka tidak membenci sedikit pun dari air langit (air hujan).”[3]

Diriwayatkan juga bahwa Rasulullah Saw. tidak pernah menjadi buruh (upahan) seorang pun.[4]

Riwayat ini menunjukkan bahwa beliau tidak pernah mengembalakan kambing penduduk Mekkah dengan harapan mendapatkan upah, sebagaimana diklaim oleh sebagian sejarawan yang menyatakan bahwa beliau pernah mengembalakan kambing penduduk Mekkah, dengan merujuk kepada hadis yang terdapat dalam Shahih Al- Bukhari.[5]

Bila ternyata kita mampu membuktikan bahwa beliau memang pernah mengembala kambing di masa kecilnya atau di masa remajanya, maka sebab hal itu—sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq a.s.—adalah persiapan Ilahi terhadap beliau melalui pelaksanaan suatu aktifitas yang membuatnya mampu di kemudian hari untuk mencapai kedudukan yang tinggi dari kesempurnaan yang digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya pada dirimu terdapat suatu budi pekerti yang luhur.”[6] Yaitu kesempurnaan yang menjadikannya siap untuk memikul beban risalah Ilahi yang menuntut pengembalaan (pengasuhan) manusia dan pendidikan mereka serta kesabaran dalam menanggung derita saat memberikan petunjuk dan membimbing mereka.

4-Perang Fijar

Bangsa Arab melakukan beberapa peperangan yang dengannya mereka menodai kehormatan bulan-bulan Haram (bulan-bulan yang mulia), sehingga peperangan tersebut dinamai harb al Fijar (Perang Fijar).[7]

Sebagian sejarawan mengira bahwa Nabi Saw. ikut serta selama beberapa hari dalam peperangan tersebut. Namun, para peneliti sejarah meragukan hal tersebut karena beberapa alasan:

Pertama, bahwa semakin bertambah usia Nabi Saw., kepribadiannya semakin bertambah matang. Dan beliau dikenal memiliki keberanian yang mengagumkan seperti umumnya Bani Hasyim. Namun ini tidak berarti bahwa mereka ikut serta dalam peperangan yang melazimkan kezaliman dan kerusakan. Diriwayatkan bahwa tak seorang pun dari Bani Hasyim yang mengadiri peperangan ini. Bahkan Abu Thalib tidak mengizinkan seorang pun dari mereka untuk terjun di dalamnya. Beliau berkata: “Ini adalah kezaliman dan permusuhan, memutus silaturahmi dan menghalalkan bulan-bulan Haram. Aku tak akan menghadirinya, begitu juga tak seorang pun dari keluargaku.”[8] Dan Abdullah bin Jad`an dan Harb bin Umayyah—dia adalah pimpinan Quraisy dan Kinanah saat itu—mengundurkan diri dan berkata: “Kami tidak ikut serta dalam urusan yang tidak didukung oleh Bani Hasyim.”[9]

Kedua, adanya berbagai riwayat yang bersilang pendapat seputar peran yang dimainkan Nabi Saw. dalam peperangan ini. Sebagian mereka meriwayatkan bahwa tugas Nabi Saw. hanya berkisar pada memberikan anak panah kepada para pamannya dan membalas serangan panah musuh-musuh serta menjaga barang-barang mereka.[10] Ada juga yang meriwayatkan bahwa beliau melepaskan beberapa anak panah dalam peperangan tersebut.[11] Sedangkan pendapat ketiga mengatakan bahwa beliau berhasil menikam Abu Barra’, padahal saat itu beliau masih kecil.[12] Kami tidak tahu apakah orang-orang Arab mengizinkan anak-anak kecil ikut serta dalam peperangan?![13]

5-Sumpah Fudhul

Pasca Perang Fijar, Kaum Quraisy merasakan kelemahan dan perpecahan di antara mereka. Mereka khawatir kaum Arab akan menguasai mereka setelah sebelumnya mereka begitu kuat dan solid. Maka, Zubair bin Abdul Muthalib mendeklarasikan Sumpah Fudhul. Kemudian berkumpullah Bani Hasyim, Zuhrah, Tamim dan Bani Asad di rumah Abdullah bin Jad`an. Orang-orang yang bersumpah membenamkan tangan mereka di air Zamzam dan mereka saling bersumpah untuk menolong orang yang tertindas, saling membantu dalam kehidupan dan mencegah kemungkaran.[14] Ini merupakan sumpah termulia di zaman Jahiliah. Dan Nabi Saw. ikut serta dalam sumpah ini. Saat itu beliau berusia dua puluh tahun.[15] Bahkan beliau—setelah kenabiannya—memuji sumpah tersebut dalam perkataannya: “Sungguh aku lebih menyukai—daripada kekayaan binatang ternak—sumpah yang aku hadiri di rumah Ibn Jad`an. Dan andaikan di masa Islam aku diajak kembali niscaya aku akan menyambutnya.”[16]

Berkenaan dengan penamaan sumpah ini dengan hilf fudhul (Sumpah Fudhul), ada yang mengatakan bahwa di antara yang hadir terdapat tiga orang yang nama mereka berakar dari kata al fadhl (الفضل). Diriwayatkan bahwa sebab diadakannya sumpah ini adalah sebagai berikut: Seorang lelaki dari suku Zubaid atau dari Bani Asad bin Khuzaimah datang ke Mekkah pada bulan Dzulqa`dah dengan membawa barang dagangan. Kemudian `Ash bin Wa’il as Sahmi membelinya, namun ia tidak membayarnya. Lelaki dari suku Zubaidi itu pun meminta tolong kepada kaum Quraisy. Sayangnya, mereka tidak mau menolongnya untuk menyelesaikan masalahnya dengan`Ash bin Wa’il, bahkan mereka pun mengejeknya. Ketika lelaki tersebut melihat bahaya mengitarinya, maka ia mendaki gunung Abi Qubais dan berteriak meminta pertolongan. Kemudian bangkitlah Zubair bin Abdul Muthalib dan mendeklarasikan sumpah tersebut. Kemudian sumpah itu pun dilaksanakan. Selanjutnya, mereka berjalan mendatangi `Ash dan mengambil barang itu darinya dan kemudian menyerahkannya kembali kepada lelaki dari suku Zubaidi tersebut.[17]

6-Membawa Barang Dagangan Khadijah

Kepribadian Muhammad Saw. mulai bersinar di tengah masyarakat Mekkah. Lantaran akhlak beliau yang agung, keinginan yang kuat, kejujuran dan tutur kata yang benar. Tak ayal lagi, banyak hati yang terpikat padanya. Beliau berasal dari keluarga yang suci, namun kefakiran yang melanda keluarga terhormat ini termasuk Muhammad yang hidup di dalamnya—mendorong Abu Thalib untuk mengusulkan kepada kemenakannya yang telah menginjak usia dua puluh lima tahun ini agar mengadu keuntungan dengan membawa barang dagangan Khadijah binti Khuwailid. Abu Thalib lebih dahulu pergi ke Khadijah dan menyampaikan masalah ini. Khadijah pun langsung menyambutnya dan sangat berbahagia. Sebab, Khadijah sudah mengenal Muhammad Saw. Bahkan ia menjanjikan hendak memberikan dua kali lipat keuntungan pada Muhammad. Khadijah tidak pernah melakukan hal demikian kepada orang-orang yang membawakan barang dagangannya.[18]

Muhammad Saw. bepergian ke Syam dengan dibantu oleh budak Khadijah, Maisaroh. Berkat keindahan budi pekertinya dan kelembutan kasih sayangnya, Muhammad mampu membuat Maisaroh senang dan hormat padanya. Melalui kejujuran dan kebijakannya, Muhammad mampu mendatangkan keuntungan yang maksimal. Dan dalam perjalanannya kali ini, tampak beberapa karamah yang mengagumkan. Ketika kafilah telah kembali ke Mekkah, Maisaroh menceritakan apa yang disaksikan dan didengarnya[19] kepada Khadijah. Cerita Maisaroh membuat Khadijah semakin memperhatikan Muhammad Saw. dan berhasrat untuk menjalin tali kasih dengannya.

Sebagian sejarawan mengira bahwa Khadijah menyewa (mengupah) Muhammad untuk membawa dagangannya. Padahal Ya`qubi—pemilik buku sejarah yang muktabar dan paling klasik—berkata: “Adalah tidak benar seperti yang dikatakan oleh orang-orang bahwa Khadijah mengupah Muhammad dengan memberi sesuatu. Muhammad tidak pernah menjadi buruh upahan seorang pun.”[20]

Dan terdapat nas yang diriwayatkan oleh Imam Hasan Al-Askari dari ayahnya Imam Al-Hadi a.s. yang berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Saw. bepergian ke Syam untuk mengadu keuntungan dengan membawa barang dagangan Khadijah binti Khuwailid.”[21]
[1] Manaqib Imam Ali bin Abi Thalib Abi Thalib: 1/35, Tarikh Al-Ya`qubi: 2/14.

[2] Siroh Ibn Hisyam: 1/194, Ash-Shahih min Siroh An-Naby: 1/91-94.

[3] `Ilal Asy-Syara’i`, hal. 23, Safinatul Bihar, silakan anda cari akar kata naba’a

[4]Tarikh Al-Ya`qubi: 2/10.

[5] Shahih Al-Bukhari: Kitab Al-Ijarah, bab 303, hadis nomer 499.

[6] QS. Al-Qalam 68/4.

[7] Mausu`ah At-Tarikh Al-Islami: 1: 301-305 dari Al-Aghani 19:: 74-80.

[8] Tarikh Al-Ya`qubi: 2/15.

[9] Ibid.

[10] Silakan Anda merujuk Mausu`ah At-Tarikh Al-Islami: 1: 304.

[11]As-Siroh An-Nabawiyyah, karya Zaini Dahlan: 1/251, As-Siroh Al-Halabiyyah: 1/127.

[12] Tarikh Al-Ya`qubi: 2/16.

[13] Silakan Anda merujuk As-Shahih fi as Siroh: 1/95.

[14] Al-Bidayah wa An-Nihayah: 3/293, dan silakan Anda merujuk syarah Nahjul Balaghah, karya Ibn Abi Hadid: 14/129 dan 283.

[15]Tarikh Al-Ya`qubi: 1/17.

[16] Siroh Ibn Hisyam: 1/142.

[17] Siroh Al-Halabiyyah: 1/132, Al-Bidayah wa An-Nihayah: 2/291.

[18] Silakan merujuk Bihar Al-Anwar: 16/22, Kasyful Ghummah: 2/134 yang menukil dari Ma`alim Al- `Itrah, karya Janabidzi, juga silakan merujuk As-Siroh Al-Halabiyyah: 1/132.

[19] Al-Bidayah wa An-Nihayah: 2/296, As-Siroh Al-Halabiyyah: 1/136.

[20] Tarikh Al-Ya`qubi: 2/21.

[21] Bihar Al-Anwar: 17/308.