Kamis, 25 September 2014

NABI MUHAMMAD SAW <<< Klick saja ya...


Tulis nama Nabi Muhammad di Kitabmu

ZIARAH KE MAKAM NABI MUHAMMAD SAW
Oleh As-Syekh KH Ali Ma’shum krapyak.
Nabi saw bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْنَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ
“Barang siapa menulis sholawat kepadaku dalam sebuah buku, maka para malaikat selalu memohonkan ampun kepada Alloh pada orang itu selama namaku masih tertulis dalam buku itu.”
اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ
 
A.   PENDAHULUAN
         
Pada suatu ketika Nabi Muhammad saw membaca ayat berisi keluhan Nabi Isa as sebagai berikut :
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۚ  وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“ Jika Ebgkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Maidah : 118).
Dan beliau membaca lagi ayat berisi keluhan Nabi Ibrohim as sebagai berikut :
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Tuhanku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, barang siapa yang mengikutiku maka ia termasuk golonganku, dan barang siapa mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “
(QS. Ibrohim : 36)
Lalu Nabi Muhammad saw berdo’a, mengangkat kedua tangannya dan bersabda :
اَلّلهُمَّ أُمَّتِي …
“Ya Alloh .. Umatku ………… “
Beliau bersujud dan menangis , memohon dikabulkan do’anya ..
         
Selanjutnya. Alloh Yang Maha Mendengar do’a keluhan itu mengutus malaikat Jibril as untuk menanyakan apa sebab Nabi Muhammad saw menangis.
Setelah Malaikat Jibril as melakukan tugasnya, ia lalu melaporkan kembali kepada Alloh Ta’ala.
Lalu Alloh memerintahkan kembali Malaikat Jibril as untuk menyampaikan keputusan-Nya kepada Nabi sebagai berikut :
إِنَّا سَنُرْضِيْكَ فِي أُمَّتِكَ وَلاَ نَسُوْءُكَ
(رواه المسلم)
“Sesungguhnya Aku meluluskan kerelaanmu buat umatmu, dan Aku tidak menimpakan kejelekan atasmu.“
(Semua ini dari Hadts riwayat Imam Muslim)
         
Melihat kisah tersebut kita mengetahui betapa besar tanggung jawab Nabi saw untuk menyelamatkan umatnya kaum Muslimin, dan betapa besar anugerah Alloh yang dilimpahkan kepada kita lantaran permohonan beliau saw itu.
         
Nabi Muhammad saw benar-benar agung jasanya buat kita bahkan amat sangat agung ..
Tidakkah kita perlu membalas jasanya itu .?
Dalam batas yang paling kecil saja, misalnya ;
Seberapa besar kecintaan (mahabbah) kita  kepada Nabi Muhammad saw .?
         
Mahabbah kepada Nabi saw adalah pertanda keimanan. Nabi saw pernah mendo’akan Harmalah bin Yazid yang datang menghadapnya, sebagai berikut :
اَلّلهُمَّ اجْعَلْ لَّهُ لِسَانًا صَادِقًا وَقَلْبًا شَاكِرًا وَاْرزُقْهُ حُبِّي وَ حُبَّ مَنْ يُحِبُّنِي
َ (رواه الطبراني)
“Ya Alloh jadikanlah lisan Harmalah berkata jujur, hatinya syukur, dan anugerahilah kecintaannya kepadaku dan kepada sekalian orang yang mencintaiku ………… “
(HR. Ath-Thobroni)
Dari hadits ini bisa kita petik suatu hikamah, yaitu betapa besarnya nilai mahabbah kepada Nabi saw.
          Mahabbah atau rasa cinta bukanlah sekedar diucapkan dengan lisan tetapi yang terpenting adalah sikap hati.
Setelah hati cinta, maka lisan akan menyatakan dan dengan sendirinya perbuatan anggota badan akan siap mengabdi dan berkorban.
Apabila kita benar-benar mencintai Nabi saw, maka hati kita selalu tertambat pada beliau saw, lisan kita selalu menyebut asma beliau saw, dan kita kerahkan diri kita untuk memenuhi petunjuk beliau saw.
          Tuntutan rasa cinta murni selalu ingin duduk berdampingan, melihat beliau saw dan mengunjungi kediaman beliau saw. Seperti inilah cinta yang sejati.
Hal ini tidak beda dari sebait sya’ir yang di gubah oleh seseorang yang mencintai nona leyla sebagai berikut :
أَرَاْلأَرْضَ تُطْوَى لِي وَ يَدْ نُوْ بَعِيْدُهَا
وَكُنْتُ إِذَا مَا جِئْتُ ليلي أَزُرُوْهَا
“Dan jika aku berkunjung kepada Leyla  Kurasakan sang bumi terlipat kecil, Jarak jauh terasa dekat.“
          Dengan demikian kita bisa mengukur seberapa kadar Mahabbah kita kepada Nabi Muhammad saw. .?
Berapa menit sehari hati kita tertambat kepada Nabi saw. .?
Berapa puluh kali sehari lisan kita membaca Sholawat Nabi saw. .?
Dan berapa banyak tuntunan Nabi saw telah kita kerjakan. .?
Demikian pula, berapa kali kita telah mengunjungi Nabi saw –tempat kediaman makam Nabi saw– .?
Atau berapa kali kita telah niat untuk ziarah kepada Nabi saw, dan seterusnya. .?
B.   ZIARAH KE MAKAM NABI MUHAMMAD SAW
          Ziarah makam Nabi saw adalah salah satu bentuk ekspresi rasa mahabbah kepada beliau saw. Selain itu, Nabi saw sendiri telah bersabda :
ّ مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِى بَعْدَ وَفَاِتي فَكَأنَّمَا زَارَنىِ فِى حَيَاتى
(رواه البيهقى والطبراني وغيرهما)
“Barang siapa pergi untuk berhaji lalu ziarah ke kuburku setelah aku mati, maka bagaikan mengunjungiku ketika aku masih hidup.“
( Riwayat Al-Baihaqi, Ath-Thobroni, dan lainnya )
مَنْ زَارَ قَبْرِى وجبت له شفِاعتى. 
(رواه البيهقى والدارقطنى)
“Barang siapa ziarah ke kuburku, maka pastilah mendapat syafa’atku.“
(Riwayat Al-Baihaqi dan Ad-Daruquthni)
مَنْ جَاءَنِى زَائِراً لَايَعْلَمُ حَاجَةً إِلاَّزِيَارَتِى كَانَ حَقًّا عَلَيَّ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ شَفِيْعًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ. 
(رواه الطبراني والدارقطنى)
“Barang siapa datang ziarah kepadaku dan hanya itu saja keperluannya, maka kewajiban atasku untuk mensyafa’atinya di hari kiamat.“
(Riwayat Ath-Thobroni dan Ad-Daruquthni)
          Demikianlah tiga dalil hadits secara tegas menerangkan keutamaan ziarah ke makam Nabi saw.
Dalam Hadits berikut bisa kita ketahui adanya anjuran untuk kita melakukannya.
مَامِنْ أَحَدٍ مِنْ اُمَّتِي لَهُ سَعَةٌ ثُمَّ لَمْ يَزُرْنِى فَلَيْسَ لَهُ عُدْرٌ
(رواه ابن النجار)
“Tidak seseorangpun dari umatku yang telah berkesempatan (untuk ziarah) kemudian tidak mau melakukan ziarah kepadaku, melainkan tiada lagi alasan baginya.“
(HR. Ibnu Najjar)
C.   KEUTAMAAN ZIARAH KE MAKAM NABI MUHAMMAD SAW
          Dari Hadits di atas kita telah mengetahui bahwa ziarah ke makam Nabi Muhammad saw adalah sama utamanya dengan ziarah kepada Nabi saw sewaktu masih hidup.
          Dalam Hadits riwayat Al-Bukhori dan Muslim menyebutkan sebagai berikut :
لاَتُشَدُّالرَّجَلُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةٍ مَسَاجِدَ : المَسْجِدِ الحَرَامِ  وَمَسْجِِدِي هَذَا، والمَسْجِدِاْلأَقْصَى
(رواه البحاري ومسلم)
“Tidak perlu mengadakan pemberangkatan kecuali untuk menuju tiga Masjid ;
Masjidil-Harom, Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), dan Masjidil-Aqsho.“
(HR. Imam Al-Bukhori dan Muslim)
          Hadits ini menegaskan bahwa ada tiga masjid yang mempunyai keutamaan. Selain yang tiga itu tingkat keutamaannya sama saja ; masjid besar terletak di kota besar dan dihuni oleh orang-orang besar, tingkat keutamaannya sama saja dengan masjid kecil di kota kecil  di bangun  dan di huni oleh orang-orang kecil.
1.    Masjidil-Harom di Makkah mempunyai keutamaan Sholat di dalamnya bernilai 100.000 kali lipat. Keutamaan ini adalah merupakan pancaran dari keagungan nya sebagai Baitulloh dan disini pula terletak Ka’bah yang menjadi kiblat kaum Muslimin.
3.    Masjid Nabawi mempunyai keutamaan Sholat didalamnya bernilai 1000 kali lipat. Keutamaan ini adalah merupakan pancaran dari keagungannya sebagai masjid yang dibangun oleh Nabi saw, tempat beribadahnya Nabi saw, pusat pennyiaran Islam di hari-hari pertamanya, dan bahkan di situ pula Nabi saw dikuburkan. Jadi keutamaan yang besar yang dimiliki Masjid Nabawi adalah semata-mata karena diri Nabi saw. Nabi lah yang menjadi sumber keutamaan masjid tersebut. Kalau bukan karena Nabi saw ada disitu, maka niscaya sama saja dengan masjid-masjid yang lain.
Sekarang kita sudah mengetahui masjid Nabawi mempunyai keutamaan sebesar itu dikarenakan ada Nabi saw, hal ini berarti sumber keutamaannya adalah Nabi saw dan Masjid Nabawi tersebut dapat menimbulkan curahan rohmat dan berkah bagi orang yang mengunjunginya dan beribadah didalamnya.
3.    Masjidil-Aqsho di Palestina mempunyai keutamaan Sholat di dana bernilai 500 kali lipat. Keutamaan ini adalah merupakan pancaran dari keagungannya sebagai masjid tempat peribadatan para Nabi Bani Israil dan bahkan disini pula mereka disemayamkan.
Ada sautu pertanyaan dari sekelompok orang yang salah memahami dalil. Bahwa “Memang benar ziarah ke Masjid Nabawi akan memperoleh berkah, tetapi ziarah ke makam Nabi saw yang menjadi sumber berkah masjid tersebut justru tidak memperoleh berkah, dan bahkan dilarang melakukannya.“
Menurut pembaca risalah ini, benarkah logika kaum yang salah paham tersebut .?
Kami yakin, anda sepakat dengan kami dan bahwa logika sekelompok orang itu salah. Anak yang baru tingkat ibtidaiyyah / Sekolah Dasar pun akan mampu mwnunjukkan kesalahan logika tersebut.
Syaik Abu Said Al-Hammami seorang Ulama Al-Azhar Mesir menilai bahwa logika itu hanya mungkin diucapkan oleh :
المَجَانِيُن اْلَّذِيْنَ لاَيَعُوْنَ مَا يَقُوْلُوْنَ أَوْ يَقُوْلُهُ عَدَوُّالإِسْلاَمَ وَرَسُوْلِ اْلإِسْلاَمِ
“Orang-orang gila yang tidak paham lagi perkataannya sendiri atau perkataan itu dikemukakan oleh musuh Islam dan musuh Rosululloh“ *
D.   ADA YANG SALAH PAHAM
          Seperti telah kami singgung di atas ada sekelompok orang yang melarang untuk ziarah ke makam Nabi saw. Mereka berdalil pada hadits :
لاَتُشَدُّالرِّحَلُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةٍ مَسَاجِدَ : المَسْجِدِ الحَرَامِ  وَمَسْجِِدِي هَذَا، والمَسْجِدِاْلأَقْصَى  (رواه البحاري ومسلم
“ Tidak perlu mengadakan pemberangkatan kecuali untuk menuju tiga ( 3 ) Masjid ; Masjidil-Harom, Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), dan Masjidil-Aqsho“
(Riwayat Imam Al-Bukhori dan Muslim)
Kami merasa aneh bin ajaib. Mengapa Hadits tersebut dikatakan menunjukkan adanya larangan ziarah ke makam Nabi .? Uraian lebih lanjut dan lebih lengkap terlalu panjang di tulis disini. Kami persilahkan anda membaca buku kami yaitu:
“Hujjatu Ahlissunnah wal Jama’ah“ halaman 27 – 35.

Setiap nabi di janji oleh Alah karena nur muhammad

Alloh swt berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Alloh mengambil perjanjian dari para nabi:
“Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rosul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”
Alloh berfirman:
“Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu .?”
Mereka menjawab: “Kami mengakui”
Alloh berfirman:
“Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.”
(QS. Ali Imron: 81).

أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

Nabi Muhammad saw bersabda:
“Aku adalah Sayyid (Pemimpin) manusia di hari kiamat.” (HR. Bukhori dan Muslim)

‘Ali ibn Abu Tholib ra dan Ibn ‘Abbas ra keduanya meriwayatkan bahawa Nabi saw bersabda:
“Alloh tidak pernah mengutus seorang Nabi, dari Adam dan seterusnya, melainkan Nabi itu harus melakukan perjanjian dengan-Nya berkenaan dengan Muhammad saw. Seandainya Muhammad saw diutus di masa hidup Nabi itu, maka ia harus beriman pada beliau dan mendukung beliau dan Nabi itu pun harus mengambil janji yang serupa dari ummatnya.”

Diriwayatkan bahawa ketika Alloh swt menciptakan Nur Nabi-Nabi, Alloh swt memerintahkan kepada mereka untuk memandang pada Nur Nabi Muhammad saw, lalu mereka melihat Nur beliau melingkupi cahaya mereka semua, dan Alloh swt membuat mereka berbicara, dan mereka pun berkata:
“Wahai Tuhan kami, siapakah yang meliputi diri kami dengan cahayanya .?”
Alloh swt berfirman:
“Ini adalah cahaya dari Muhammad ibnu ‘Abdulloh; jika kalian beriman padanya akan Aku jadikan kalian sebagai Nabi-Nabi.”
Mereka menjawab:
“Kami beriman padanya dan pada kenabiannya.”
Alloh swt berfirman:
“Apakah Aku menjadi saksimu .?”
Mereka menjawab: “Ya..”
Alloh swt berfirman:
“Apakah kalian setuju, dan mengambil perjanjian dengan-Ku ini sebagai pengikat dirimu .?”
Mereka menjawab: “Kami setuju..”
Alloh swt berfirman:
“Maka saksikanlah (hai para Nabi), dan Aku menjadi saksi (pula) bersamamu.”
Ma’na dari kalimat “Maka saksikanlah (hai para Nabi), dan Aku menjadi saksi (pula) bersamamu.” bahwa janji Nabi-Nabi yang telah disepakati bersama itu telah dipersaksikan oleh masing-masing pihak, dan Alloh swt menjadi saksi pula atas ikrar mereka itu.
Disamping itu apabila terkemudian diutusnya mereka di dunia, dia yang telah mengambil perjanjian dengan Alloh swt, memberitahukan kepada ummatnya bahwa bilamana datang seorang Rosul yang bernama Ahmad (Muhammad) membenarkan kitab dan hikmah yang ada padanya, mereka akan beriman dengan dia dan akan menolongnya, mereka itu akan mempercayainya, meskipun mereka sendiri telah diberi Al-Kitab dan diberi pula hikmah, mereka tetap akan mempercayai dan mendukungnya.
Hal itu disebabkan karena maksud dari diutusnya Nabi-Nabi dan Rosul-Rosul itu adalah satu. Yaitu menyampaikan ajaran Alloh swt. Oleh karena itu para Nabi dan Rosul itu harus menguatkan tolong-menolong.

Syaikh Taqiyyuddin al-Subkhi mengatakan:
“Dalam ayat mulia ini, tampak jelas penghormatan kepada Nabi saw dan pujian atas kemuliaannya. Ayat ini juga menunjukkan bahawa seandainya beliau diutus di zaman Nabi-Nabi lain itu, maka risalah da’wah beliau pun harus diikuti oleh mereka. Kerana itulah, kenabiannya dan risalahnya adalah universal dan umum bagi seluruh ciptaan dari masa Adam as hingga hari Pembalasan, dan seluruh Nabi beserta ummat mereka adalah termasuk pula dalam ummat beliau saw. Jadi, sabda Nabi Muhammad saw:
“Aku telah diutus bagi seluruh ummat manusia”
bukan hanya ditujukan bagi orang-orang di zaman beliau hingga Hari Pembalasan, tapi juga meliputi mereka yang hidup sebelumnya.”
Hal ini dijelaskan lebih jauh oleh Syaikh Taqiyyuddin al-Subkhi:
Maysaro al-Dhobbi ra berkata bahawa ia bertanya pada Nabi saw:
“Ya Rosululloh, bilakah Anda menjadi seorang Nabi .?”
Beliau saw menjawab:
“Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.”
Berpijak dari hal ini, Nabi Muhammad saw adalah Nabi dari para nabi, sebagaimana telah pula jelas saat malam Isro’ Mi’roj, saat mana para Nabi melakukan sholat berjama’ah di belakang beliau (yang bertindak selaku Imam). Keunggulan beliau ini akan menjadi jelas nanti di Akhirat, saat seluruh Nabi akan berkumpul di bawah bendera beliau saw.”
As-Syi’bi meriwayatkan bahawa seorang laki-laki bertanya:
“Ya Rosululloh, bilakah Anda menjadi seorang Nabi .?”
Beliau menjawab:
“Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya, ketika janji dibuat atasku.”
Al Irbadh ibn Sariya, berkata bahawa Nabi saw bersabda:
“Aku sudah menjadi Penutup Para Nabi, ketika Adam masih dalam bentuk tanah liat.”
Dalam Shohih Muslim, Nabi saw bersabda bahwa Alloh swt telah menulis Taqdir seluruh makhluq lima puluh ribu tahun (dan 1 hari di sisi Alloh adalah 50.000. tahun dunia) sebelum Dia menciptakan Langit dan Bumi, dan `Arasy-Nya berada di atas Air, dan di antara hal-hal yang telah tertulis dalam ad-Dzikir, yang merupakan Ummul-Kitab (induk Kitab), bahawa Nabi Muhammad saw adalah Penutup para Nabi.
Demikianlah Alloh swt telah mengaruniakan kenabian pada ruh Nabi Muhammad saw sebelum penciptaan Nabi Adam as, bahkan sebelum menciptakan alam semesta. dan Alloh swt limpahkan barokah tak berhingga atas ciptaan ini, dengan menuliskan nama Muhammad saw pada ‘Arsy-Nya, dan memberitahu para Malaikat dan lainnya akan penghargaan-Nya yang tinggi bagi beliau saw.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ

“Sesungguhnya Alloh (Yang Maha Agung lagi Yang Maha Kuasa yang menghimpun segala sifat terpuji) dan (demikian pula) malaikat-malaikat-Nya (yang merupakan mahluk-mahluk suci) bersholawat untuk Nabi.
(Alloh melimpahkan rohmat dan aneka anugrah kepada Nabi Muhammad saw, dan para malaikat bermohon kiranya dipertinggi lagi derajat dan dicurahkannya maghfiroh atas beliau saw, yang merupakan mahluk Alloh termulia dan paling banyak jasanya kepada ummat manusia dalam memperkenalkan Alloh swt, dan menunjukkan jalan lurus menuju kebahagia’an).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

(Karena itu) Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu (semua) untuknya (dengan memohon kepada Alloh swt, kiranya sholawat kepada beliau saw lebih dicurahkan lagi, dan di samping itu wahai orang-orang yang beriman, hindarkanlah dari beliau saw, segala aib dan kekurangan, serta sebut-sebutlah keistimewa’an dan jasa-jasa beliau) dan bersalamlah yang sempurna (ya’ni ucapkankanlah salam penghormatan kepada beliau dan penuhi tuntunan beliau)”
(QS. Al-Ahzab : 56).

Kata SHOLLU terambil dari kata SHOLAH yang berma’na “menyebut-nyebut yang baik serta ucapan yang mengandung kebajikan” dan tentu saja do’a dan curahan rohmat merupakan sebagian ma’nanya.
Sedangkan kata SALLIMU terambil dari kata SALAM yang terambil dari akar kata yang terdiri dari tiga huruf SIN LAM MIM ma’na dasar dari kata yang terangkai dari huruf-huruf ini adalah “luput dari kekurangan, kerusakan dan aib”.
Dari sini boleh jadi orang yang mengucapkan kata SELAMAT namun si pengucap tidak menginginkan terjadinya keselamatan atau tidak mengharap yang mengakibatkan kekurangan atau kecelakaan, SALAM atau DAMAI semacam ini adalah ucapan salam atau damai PASIF.

Ada juga SALAM atau DAMAI POSITIF ketika anda mengucapkan selamat kepada seseorang yang sukses dalam usahanya, maka ucapan itu adalah cermin dari keselamatan positif.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِاْلمُرْسَلِيْنَ وَإِمَامِ اْلمُتَّقِيْنَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ

“Ya Alloh, limpahkanlah sholawat, rohmat dan berkahmu pada pemimpin para utusan, pemimpin orang-orang yang bertaqwa dan pamungkas para Nabi.” (HR. Ibnu Majah)

Nama Muhammad dan Ahmad Kunci Al Qur'an

Rosululloh saw mempunyai nama MUHAMMAD, dalam al-Qur’an, digunakan sebagai nama surat ke 47 yang berjumlah 38 ayat. dan kata AHMAD berada dalam surat ke 61 ayat ke 6.

Berdasarkan tabel bilangan prima dapat kita peroleh 16 angka pertama sebagai berikut:
2 3 5 7 11 13 17 19 23 29 31 37 41 43 •47 •53.
Ternyata 2 angka terakhir adalah angka 47 dan 53.

Seperti diketahui al-Qur’an memiliki angka keramat 19, angka ini diperoleh berdasarkan kalimat Basmalah بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ yang bejumlah 19 huruf.

Jika kata MUHAMMAD dan AHMAD dihitung dengan huruf abajadun maka jumlah kata MUHAMMAD = 92 dan AHMAD = 53. Jika nominalnya ditambahkan maka = 9+2+5+3 = 19.

Mungkin anda akan bertanya mengapa angka keramat al-Qur’an 19 .?
Karena 19 merupakan awal angka 1 dan akhir angka 9. Angka yang terdiri dari 1-2-3-4-5-6-7-8-9.
Dan ini merupakan konsep Tuhan yang termaktub dalam al-Qur’an:

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Dhohir dan Yang Bathin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
[QS 57:3]

Nilai MUHAMMAD = 92
dan nilai AHMAD = 53
sehingga MUHAMMAD + AHMAD =
92+53 = 145.

Kata AHMAD berada di surah 61 ayat 6 yang jika digabung menjadi 616.
Gabungan 145 dan 616 menjadi 145.616 = 19 x 7664
Surat MUHAMMAD urutan surat ke 47, jumlah ayat 38, yang jika digabung menjadi angka 4738.
Surat As-Shof dimana kata AHMAD disebut, merupakan surat ke 61 dengan jumlah ayat 14 yang jika digabung menjadi 6114.
Jika digabungkan menjadi 47386114 = 19 x 2494006
Nabi Muhammad saw dilahirkan pada tanggal 20 bulan 04 tahun 571 Masehi. Jika dijumlahkan 2+0+0+4+5+7+1 = 19.
Sedangkan beliau saw menerima wahyu selama 22 tahun dimana 92+22 =114 Jumlah surat-surat dalam al-Qur’an.

MENGENAL AHMAD MUHAMMAD SAW
Ketika Rosululloh saw belum dilahirkan, Nabi-nabi terdahulu, mulai Nabi Adam as sampai Nabi Isa as, telah memberi kabar kepada umatnya akan datangnya Nabi akhir zaman dengan ciri-ciri yang tertentu ..
Yaitu, dilahirkan di kota Makkah, hijrah ke kota Madinah dan wafat di kota Madinah .. dan kekuasaannya membentang sampai di kota Syam. Nama Rosululloh saw kalau di Kitab Injil adalah AHMAD ..
Alloh swt berfirman:
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
“Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata:
“Hai Bani Israil, Sesungguhnya Aku adalah utusan Alloh kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurot, dan memberi kabar gembira dengan -datangnya- seorang Rosul yang akan datang sesudahku, yang namanya AHMAD -Muhammad-.”
Maka tatkala Rosul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata:
“Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. As-Shof [61]:6).

Perlu diketahui, bahwa nama AHMAD yang dikemukakan al-Qur’an itu bukan sekedar nama .. Akan tetapi merupakan pemberian “kekhususan” dari Alloh swt bagi Nabi Muhammad saw, yang ada ma’na hikmah terkandung didalamnya.

Di dalam nama AHMAD huruf Arab أحمد jika ditulis secara terpisah melambangkan simbol gerakan sholat ..
Huruf Alif أ menggambarkan orang yang sedang berdiri.
Huruf Ha ح menggambarkan orang yang sedang rukuk.
Huruf Mim م menggambarkan orang yang sedang sujud.
Huruf Dal د   menggambarkan orang yang sedang duduk tahiyat.
Selain ma’na tersebut, ada juga ma’na yang tersembunyi di balik nama AHMAD .. secara Gramatika Arab, kata AHMAD itu termasuk sighot mubalaghoh -bentuk yang mempunyai arti banyak- dari kata “Hamdu” -memuji- .. Jadi, bisa diambil kesimpulan bahwa Nabi AHMAD, nama dari Nabi MUHAMMAD saw mempunyai arti orang yang paling banyak memuji Alloh swt.
Nabi MUHAMMAD saw bersabda:
“Aku adalah AHMAD tanpa Mim م ”

AHMAD tanpa huruf Mim م akan mempunyai arti AHAD -Esa-, yang merupakan sifat Alloh yang sangat agung tempat bergantung.
Mim م yang merupakan simbol manusia -personifikasi- dan perwujudan bentuk dari sesuatu yang ghaib -manifestasi- ALLOH dalam diri Nabi MUHAMMAD saw .. pada hakikatnya adalah bayangan AHAD yang ada di alam semesta.
Mim م MUHAMMAD adalah wasilah antara makhluk dengan Kholiqnya .. Mim م MUHAMMAD adalah jembatan yang menghubungkan para kekasih ALLOH dengan sang kekasihnya yang mutlak .. dengan kata lain, Nabi MUHAMMAD saw merupakan mediator antara makhluk dengan ALLOH swt.
Menurut Dr Muhammad Iqbal seorang pemikir islam pakistan:
“MUHAMMAD benar-benar berfungsi “mim” yang  “membumikan” ALLOH dalam kehidupan manusia .. dialah “Dhohir”nya ALLOH .. dialah Syafi’ -yang memberikan syafa’at, pertolongan dan rekomendasi- antara makhluk dengan Tuhannya.
Ketika anda ingin merasakan kehadiran ALLOH dalam diri anda, hadirkan MUHAMMAD.
Ketika anda ingin disapa oleh ALLOH, sapalah MUHAMMAD ..
Ketika anda ingin dicintai ALLOH, cintailah MUHAMMAD ..”
“Apabila kamu benar-benar mencintai ALLOH, ikutilah AKU -Muhammad-, niscaya ALLOH cinta kepada kamu”
Kepada orang seperti inilah kita diwajibkan cinta, berkorban dan bermohon kepada ALLOH swt untuk selalu bersamanya, di dunia dan di akherat .. seperti kata beliau saw “Setiap orang akan senantiasa bersama orang yang dicintainya.”

Nama MUHAMMAD kalau ditinjau secara Gramatika Arab berstatus sebagai Isim Maf’ul -obyek- dari asal kata Hammada .. Menurut KH Ali Maksum rh, dalam kitab Amsilatut-Tasrifiyah menyebutkan bahwa penambahan tasdid pada huruf Mim mempunyai faedah Taksir -banyak- artinya adalah orang yang banyak dipuji .. Sejalan yang diperintahkan ALLOH swt dalam firman-Nya:
”Sesungguhnya ALLOH dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi -MUHAMMAD- ..
Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi -MUHAMMAD- dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab [33]:56).
Disamping nama AHMAD yang mengandung simbol orang sholat .. Nama MUHAMMAD apabila ditulis dengan huruf Arab محمد juga berma’na .. menunjukan kerangka manusia ..
Huf Mim pertama م yang bundar menunjukan kepala manusia ..
Huruf Ha’ ح menunjukan dua tangan manusia.
Huruf Mim م yang kedua menunjukan tentang perut manusia.
Huruf dal د menunjukan kedua kaki manusia.

Nama MUHAMMAD yang melambangkan kerangka tersebut mengandung hikmah bahwa, kematian manusia akan menghancur lumatkan tulang-belulang dan seluruh jasadnya, akan tetapi kelak akan di susun kembali oleh ALLOH dalam bentuk semula seperti bentuk manusia .. Ini karena keagungan nama Nabi MUHAMMAD saw ..
Selain itu, ma’na-ma’na yang tersembunyi dalam kandungan setiap huruf-hurufnya kalimat nama محمد ..
Huruf Mim yang pertama mengandung ma’na Minnah -anugerah- .. ALLOH memberi anugerah kepada Nabi MUHAMMAD saw dengan anugerah yang sangat luar biasa melebihi apa yang telah diberikan kepada seluruh makhluk-NYA.
Huruf Ha’ mengandung ma’na Hubbun -cinta- .. ALLOH mencintai Nabi MUHAMMAD saw dan umatnya melebihi cintanya kepada Nabi-nabi yang lain beserta umatnya.
Huruf Mim yang kedua mengandung ma’na Maghfirah -ampunan- .. ALLOH mengampuni segala dosa yang dilakukan oleh Nabi MUHAMMAD saw, baik yang sudah lampau atau yang akan datang .. Nabi MUHAMMAD saw adalah Nabi yang ma’sum -terjaga dari melakukan dosa- .. Adapun umat beliau saw, bagi yang bertaubat, ALLOH mengampuni dosa-dosanya miskipun sebanyak butiran pasir dimuka bumi.
Huruf Dal mengandung ma’na Dawaamuddin -abadinya agama Islam- .. agama Islam akan tetap ada sampai akhir zaman, apabila agama Islam lenyap dari muka bumi, maka terjadilah kehancuran dunia -kiamat-.
Kesimpulannya adalah .. Sebagai ummat Nabi Muhammad saw yang mengaku pemeluk agama Islam .. hendaknya sekali-kali jangan meninggalkan sholat .. karena sholat merupakan tiang agama dan merupakan ajaran Nabi-nabi terdahulu yang disempurnakan oleh Nabi MUHAMMAD saw.
Apabila seseorang muslim sudah menjalankan sholat, zakat, puasa, haji -jika mampu- dan tuntunan Islam lainnya, maka dia termasuk orang yang beruntung yang dijanjikan ALLOH mendapatkan sorga ..

NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI USWATUN HASANAH
Pada tanggal 12 Robiul-awal tahun gajah atau tanggal 20 April 571 Masehi, 14 abad yang lalu telah lahir seorang manusia yang menjadi ROHMATAN LIL’ALAMIN dan menyandang derajat KETERPUJIAN yang tidak terukur ketinggian dan kesempurnaannya serta membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia.
Manusia tersebut adalah AHMAD yang kemudian menyandang nilai-nilai yang sangat tinggi sehingga beliau berhak menyandang gelar MUHAMMAD yang sangat terpuji dan selalu dipuja dan dipuji, yang menjadi ROHMATAN LIL’ALAMIN dan USWATUN HASANAH bagi seluruh makhluk yang ada di alam semesta raya ini.
Kata MUHAMMAD apabila kita renungkan lebih dalam lagi dapat diartikan secara lahiriah maupun secara batiniah.
MUHAMMAD secara lahiriah adalah menunjuk kepada satu sosok seorang manusia biasa yang mempunyai sifat terpuji dan diutus oleh ALLOH untuk menyampaikan seruan atau ajaran Tauhid kepada seluruh umat manusia.
Abbas Mahmud al-Aqqod dalam kitabnya “Abqoriyat Muhammad” menjelaskan:
“Ada empat tipe manusia yaitu 1.Pemikir 2.pekerja 3.Seniman dan 4.Yang jiwanya selalu larut dalam ibadah.
Jarang ditemukan satu pribadi yang berkumpul dalam dirinya dan dalam tingkat yang tinggi dua dari keempat kecenderungan atau tipe tersebut, dan mustahil keempatnya berkumpul dalam diri seseorang.
Namun yang mempelajari pribadi Nabi Muhammad saw akan menemukan bahwa keempatnya bergabung dalam peringkatnya yang tertinggi pada kepribadian beliau saw.”
Al-Qur’an telah menegaskan kemanusiaan Nabi Muhammad saw, diberbagai tempat dan Alloh memerintahkan menyampaikan hal itu kepada manusia dalam berbagai surat, antara lain:
قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلا بَشَرًا رَسُولا
Katakanlah, “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rosul .?” (QS. Al-Isro’ [17]: 93).
Ayat di atas menunjukkan bahwa beliau saw adalah manusia seperti manusia-manusia lainnya, tetapi dari segi risalah dan hidayah-Nya, maka beliau adalah cahaya Alloh dan pelita yang amat terang.
Alloh swt menyatakan hal itu dan berbicara kepada Nabi saw.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا
وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلا كَبِيرًا
“Wahai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan.
Untuk menjadi penyeru pada agama Alloh dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi.
Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang Mukmin, bahwa sesungguhnya, bagi mereka karunia yang besar dari Alloh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 45-47).
Alloh swt berfirman:
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ
“…Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Alloh, dan Kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Maidah [5]: 15).
“Cahaya” dalam ayat ini adalah Rosululloh saw, sebagaimana al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau saw adalah juga cahaya.
Alloh swt berfirman:
فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Maka berimanlah kamu kepada Alloh dan Rosul-Nya serta cahanya -al-Qur’an- yang telah Kami turunkan, dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.
At-Taghobun [64]: 8).
Alloh swt juga menentukan tugasnya kepada Nabi Muhammad saw:
لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
“… Supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang-benderang…” (QS. Ibrohim [14]: 1).
هَذَا بَلاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الألْبَابِ
“-al-Qur’an- Ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya dan supaya mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar -Ulul-Albab- orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” – (QS. Ibrohim [14]: 52).
Nabi Muhammad saw. menegaskan ma’na kemanusiaannya dan penghambaannya
terhadap Alloh, dan mengajarkan agar seluruh umatnya mengikuti kebiasaan-kebiasaan beliau saw yang telah diwahyukan oleh Alloh swt.
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku; bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Maha Esa.
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi [18]:110).

Sebagai manusia biasa, Nabi Muhammad saw merupakan pribadi manusia sempurna yang patut menjadi Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia.
Sebutan “Manusia Sempurna” sering disalah artikan oleh sebagian besar umat Islam, yakni Manusia sempurna adalah sosok manusia yang serba bisa, serba tahu, serba baik dan lain sebagainya.
Padahal jika kita kaji dan renungkan kembali hakikat dari istilah “Sempurna” itu, mempunyai unsur keseimbangan, kesepadanan, kesesuaian dan keharmonisan dalam hal apapun.
Demikian dengan kita, diharapkan ketika dapat menyesuaikan diri dengan Nabi Muhammad, akan terjadi keserasian hubungan, maka akan menjadilah kita “Manusia Sempurna”.
Dalam kajian Tauhid, kesempurnaan yang paling sempurna pada hakikatnya adalah Alloh swt itu sendiri. Apa yang diciptakan Alloh di alam semesta ini merupakan ciptaan yang Maha Sempurna dan tidak ada yang sia-sia, sesuai dengan firman-Nya:
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah, sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang .?” (QS. Al-Mulk [67]:3).
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya -dan tentu tidak juga Kami menciptakan kamu semua- sia-sia tanpa hikmah, yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir.
-dan karenanya mereka berkata bahwa hidup akan berahir di dunia ini, tidak akan ada perhitungan, juga tidak ada sorga dan neraka-, maka celakalah orang-orang kafir -akibat dugaannya- itu, karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shod [38]:27).
“Dan Kami tidak menciptaka langit dan bumi, dan segala apa yang ada diantara keduanya dengan main-main.” (QS. Ad-Dukhon [44]:38).
Alloh swt menciptakan langit dan bumi juga segala yang ada diantara keduanya dengan tata aturan yang demikian rapi, indah serta harmonis, ini menunjukkan bahwa Alloh tidak bermain-main, tidak menciptakannya secara sia-sia tanpa arah dan tujuan yang benar.
Karena hal itu bukan permainan, bukan juga tanpa tujuan, maka pasti Alloh Yang Maha Kuasa ini membedakan antara yang berbuat baik dan buruk, lalu memberi ganjaran balasan sesuai amal perbuatan masing-masing.
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“…Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron [3]:191).
Berdasarkan firman tersebut dapat diambil suatu pengertian bahwa apa yang terjadi dan apa yang dicipta di alam semesta ini adalah suatu kesempurna’an, baik sifat maupun bentuknya.
Misalnya seperti : baik-buruk, indah-jelek, terpuji-tercela, siang-malam, panas-dingin, panjang-pendek, siang-malam, pria-wanita, besar-kecil dan sebagainya.
Jadi suatu kesempurna’an adalah satu keseimbangan dan keharmonisan antara dua sifat atau unsur yang bertolak belakang, sebab apabila hanya ada satu sifat saja atau ada baik saja, atau ada siang saja, atau ada dingin saja, hal itu bukanlah suatu yang dapat disebut sempurna.
Nabi Muhammad saw, adalah sosok yang sangat sederhana dan sempurna, sehingga siapapun dan dari kalangan manapun akan mampu mencontoh setiap gerak dan diam beliau saw, karena beliau memang diciptaka sebagai teladan.
Bila yang meneladaninya dengan niat mengikuti beliau saw, maka niat meneladinya itu mendapat ganjaran dari Alloh swt.

Di dalam Al Qur’an, Alloh swt telah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw adalah contoh yang paling baik bagi ummat manusia pada saat ia masih hidup di atas dunia, yang menghendaki perjumpaan dengan Alloh swt kelak di hari akhir .. Hal ini sesuai dengan firman Alloh swt:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada bagi kamu, pada diri Rosululloh -Nabi Muhammad- itu suri tauladan yang baik bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang senantiasa mengharapkan -rohmat kasih sayang- Alloh dan kebahagiaan Hari akhir dan berdzikir kepada Alloh sebanyak-banyaknya -baik dalam keadaan susah maupun senang-” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Ayat ini berbicara tentang `uswah` yang dirangkai dengan kata `Rosululloh`
“Sesungguhnya telah ada bagi kamu, pada diri Rosululloh”.
Tidak mudah memisahkan atau memilah, mana pekerjaan mana ucapan yang bersumber dari kedudukan beliau sebagai Rosul dan mana pula kedudukan-kedudukan lainya .. misalanya sebagai pemimpin ummat, lingkungan, keluarga atau sebagai suami dari istri-istrinya dan ayah bagi anak-anaknya .. Maka timbul pertanya’an ..!

Jika kepribadian Nabi Muhammad saw secara totalitasnya adalah teladan .. maka pakah itu berarti bahwa segala sesuatu yang bersumber dari pribadi yang baik, benar dan lurus ini -diucapkan atau diperagakan- wajar diteladani mencakup dalam perinciannya-perinciannya ..?
Jawabannya .. Selaku pribadi, hal ini dapat dibagi dalam dua kategori.
Pertama, kekhususan-kekhususan beliau saw yang tidak boleh dan atau tidak harus diteladani, karena kekhususan tersebut berkaitan dengan fungsi beliau sebagai seorang Rosul.
Misalnya kebolehan menghimpun lebih dari empat orang istri dalam saat yang sama, atau kewajiban sholat malam, atau larangan menerima zakat dan lain-lain.
Kedua, sebagai manusia biasa -terlepas dari kerosulannya- segala sesuatu yang bersumber dari pribadi beliau saw – dari setiap gerak dan diamnya- wajar diteladani mencakup dalam perinciannya-perinciannya. Hal ini menunjukkan bahwa yang demikian dapat diikuti “mana yang kamu dapat mengikuti maka lakukanlah.” karena semua adalah Uswatun Hasanah -contoh yang paling baik-. Bila mengikutinya dengan meneladani Nabi Muhammad maka niat mengikutinya itu mendapat ganjaran dari Alloh swt.

DI DALAM DIRI MANUSIA ADA DIRI NABI MUHAMMAD SAW
Alloh swt berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ
“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam dirimu ada Rosululloh …” (QS. Al-Hujurot [49]:7).
Ayat ini bertujuan mendorong manusia untuk mawas diri dengan mengamati keagungan Rosul dan amal-amal beliau yang harus di tanam dalam hati dan diperagakan dalam kehidupnya dari waktu ke waktu, diantaranya yang memberi manfaat berupa rohmat kepada semua makhluk Alloh swt.
Alloh yang memiliki rohmat ta’terbatas, menjadikan Rosul “rohmatan lil’alamin” dan dalam diri manusia ada Rosul, ya’ni -unsur Muhammad ada dalam diri kita- maka sudah menjadi kelaziman bagi kita untuk memberikan rohmat itu kepada ummat Muhammad, khususnya saudara muslim kita .. karena “Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya -sesama muslim- seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Alloh swt berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah -wahai Nabi Muhammad- :
“Jika kamu benar-benar mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imron [3]:31).
Nabi Muhammad saw adalah suatu anasir Yang Bersifat Terpuji, yang telah dimiliki oleh setiap manusia tanpa kecuali. Tetapi tidak semua umat manusia yang menyadari keberadaan anasir tersebut, apalagi menumbuhkannya dalam kehidupan sehari-harinya.
Sehingga tidaklah mengherankan apabila banyak orang yang mengaku umat Nabi Muhammad saw atau umat yang sangat terpuji, justru banyak melakukan perbuatan tercela. Hal ini diakibatkan karena mereka belum dapat meneyerap Muhammad dalam arti nilai-nilai keterpujian dalam dirinya, di setiap aktivitas hidupnya dalam bermasyarakat. Padahal setiap harinya mereka selalu mengatakan : “Aku telah menyaksikan bahwa tiada Tuhan kecuali Alloh dan aku telah menyaksikan bahwa Muhammad adalah Utusan Alloh”.
Sesungguhnya kalimat Syahadat tersebut mempunyai ma’na yang sangat dalam sekali, yaitu “saksinya seorang pesaksi yang menyaksikan kepada siapa dia bersaksi.” Secara hakikat, ma’na simbolis dari “wa asyhadu anna Muhammad Rosululloh” adalah sebuah pengakuan bahwa setiap diri telah ditempati oleh anasir Terpuji yaitu Nur Muhammad, yang harus diimani dan diikuti sesuai dengan yang di firmankan Alloh swt :

NABI MUHAMMAD SAW ADALAH “AYAH” YANG SANGAT CINTA KEPADA ANAK-ANAKNYA
Alloh swt berfirman:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki -dewasa- di antara kamu tetapi dia adalah Rosululloh -bapak ummat yang membimbing mereka dan yang harus di agungkan serta dihormati- dan penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui segalanya.” (QS. Al-Ahzab [33]:40).
Ayat diatas menyebut “laki-laki” akan tetapi disusul dengan kalimat “Rosululloh” tidak lain untuk mengisyaratkan bahwa bukan berarti hubungan dengan wanita terputus. Nabi Muhammad saw, buat mereka adalah bapak ruhani, pembimbing, pemberi petunjuk, pelindung, dan penanggung jawab, dan pastinya beliau pula yang paling wajar mendapat penghormatan dan keta’atan dari anak-anaknya. Sungguh kasih sayangnya kepada ummat melebihi cinta dan kasih sayang orang tua kandung.
Ayat diatas merupakan penyempurnaan dan ketinggian beliau saw, sekaligus sebagai isyarat bahwa ketiadaan anak-anak beliau saw, merupakan hikmah yang telah ditetapkan Alloh swt, ya’ni agar beliau menjadi bapak teladan bagi ummatnya yang betakwa.
Siapakah yang lebih mencintai kita dari Alloh dan Rosul-Nya .. siapakah yang lebih menginginkan kebaikan untuk kita yang baginya sangat berat dan menderita demi menanggung kita ..
Demi Alloh .. hanyalah Rosululloh saw tercinta .. tidak ada yang beliau saw harapkan kecuali kebaikan bagi umatnya ..
Dan tidak ada yang beliau hiraukan kecuali keselamatan kita di dunia dan akhirat ..
Dikala malaikat maut menjemputnya bukan harta atau keluarga yang membuat gundah hati dan fikirannya .. tetapi kita ummatnya .. manusia-manusia yang tidak pernah dijumpainya ..
Lalu apakah gerangan yang ia risaukan dari diri kita .. Apakah kekurangan harta .. atau  pula derita dunia .. bukan, bukan itu .. akan tetapi ketersesatan dan fitnah di dalam agama yang beliau saw risaukan dan beliau pun memberikan solusinya bagi kita ..
sehingga pada suatu saat beliau bersabda:
“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara apabila kalian berpegang teguh pada keduanya niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya .. Kitab Alloh dan sunah Rosul-Nya.”
Tidak ada yang beliau saw inginkan dari kita sebagai ummatnya kecuali agar kita selalu berpegang dengan sunahnya yang disucikan ..
Bukan untuk kebahagiaannya .. bukan pula untuk keselamatannya .. tidak sepeserpun uang yang beliau saw minta dari kita karena harta dunia terlalu remeh baginya ..
Yang beliau inginkan hanyalah keselamatan dan kebahagian kita semua sebagai ummatnya .. lalu masihkah kita ragu untuk mengikuti jejaknya ..?
Beliau saw bersabda :
“Aku bagaikan seorang yang menyalakan api, setelah menyala menerangi sekeliling, laron mengitarinya dan terjerumus ke dalam api itu .. Kalian seperti itu, tetapi aku menghalangi kalian terjerumus ke api, tetapi sebagian kalian terjerumus juga.”
Beliau juga bersabda :
“Aku memegang ikat pinggang kalian, tetapi sebagian kalian terlepas dari pinggangku.”
Demikian Rosul saw mengilustrasikan diri beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim melalui Abu Huroiroh ra.
Kalaulah beliau saw bersikap tegas agar mematuhi hukum-hukumnya, atau ada tuntunan yang sepintas terlihat sangat berat, maka ini tidak lain hanya untuk kemaslahatan ummatnya jua.
Sebenarnya hati beliau saw lebih dahulu teriris-iris melihat kesulitan dan penderitaan yang kita alami ..
Alloh swt berfirman:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Demi -kebesaran dan keagungan Tuhan- sesungguhnya telah datang kepada kamu -wahai seluruh manusia- seorang Rosul -pesuruh Alloh- dari diri kamu sendiri -yang mengenal kamu dan kamu mengenal dia, sangat- berat terasa olehnya apa yang telah menderitakan kamu -baik lahir maupun batin-,
Sangat menginginkan -keselamatan, kebaikan bahkan segala sesuatu yang membahagiakan- bagi kamu semua, baik mukmin maupun kafir , dan- terhadap orang mukmin amat belas kasih lagi penyayang -buat mereka yang diharapkan suatu ketika akan beriman, bahkan kepada seluruh alam.
Jika mereka -memaksakan diri menentang fitrah mereka, sehingga- berpaling lagi enggan mengikuti tuntunanmu wahai Nabi Muhammad- maka katakanlah kepada mereka dan kepada selain mereka, sambil bermohon kepada Alloh-:
“Cukuplah -untuk segala urusanku- Alloh -Yang Maha Kuasa- bagiku.
-Dan yang akan membela dan menganugrahkan kepadaku kebutuhan dan harapanku-.
Tidak ada Tuhan yang menguasai alam raya, tumpuan semua makhluk serta wajib disembah- selain Dia.
Hanya kepada-Nya -bukan kepada yang selain-Nya- aku bertawakkal -berserah diri setelah aku berusaha sekuat kemampuanku-.
dan Dia adalah Tuhan Pemilik -Pencipta dan pengatur- ‘Arsy yang agung.”
(QS. At-Taubah [9]: 128-129).
Kata ANFUSAKUM memberi kesan bahwa Rosul adalah sejiwa dengan kamu, mengetahui detak-detik jantung kamu .. merasakan getaran jiwamu serta menyukai kamu sebagaimana apa yang disukainya ..
Demikian kesan yang terkandung dalam kalimat “seorang Rosul dari diri kamu sendiri” .. keberadaan Nabi Muhammad saw begitu dekat hadir dalam jiwa kamu ya’ni anak-anaknya, hususnya yang istiqomah meneruskan perjuangan beliau saw, merohmati kaum yang beriman.
Hal ini sejalan dengan fitrah kejadian manusia. Alloh swt berfirman:
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ
ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ
“-Dialah- Yang membuat sebaik baiknya segala sesuatu yang Dia ciptakan -sehingga semua berpotensi berfungsi sebaik mungkin sesuai dengan tujuan penciptaan-.
Dan Dia telah memulai penciptaan manusia -Adam as- dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari -sedikit- saripati air mani yang diremehkan -lemah tidak berdaya karena sedikitnya bila dilihat kadarnya atau menjijikkan bila dipandang-.
Kemudian -yang lebih hebat dari itu- Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam -tubuh-nya, ruh -dari-Nya,
dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran -agar kamu dapat mendengar kebenaran-, dan penglihatan -agar kamu dapat melihat tanda-tanda kebesaran-Nya- dan hati -agar kamu dapat berfikir dan beriman-, -tetapi- sedikit sekali kamu bersyukur.
Namun banyak diantara kamu yang kufur, tidak memfungsikan anugrah-anugrah itu sebagaimana yang Alloh kehedaki, tetapi memfungsikannya untuk hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya-.” – (QS. As-Sajadah[32]:7-9).
Kata AHSAN berarti membuat sesuatu menjadi baik .. Kebaikan sesuatu itu diukur pada potensi dan kesiapannya secara sempurna mengemban fungsi yang dituntut dari sesuatu itu .. contoh :
Pisau yang baik adalah yang tajam, karena dia diciptakan untuk memotong .. Kursi yang baik adalah yang dapat diduduki dengan nyaman .. kendaraan yang baik adalah yang dapat mengantar pada tujuan .. Demikian seterusnya.
Ayat diatas menyatakan bahwa Alloh swt, telah menciptakan semua ciptaan-Nya dalam keadaan baik .. diciptakan-Nya secara sempurna agar masing-masing dapat berfungsi sebagaimana yang dikehendaki-Nya.
Malaikat diciptakan Alloh swt sebagai makhluk sempurna untuk tugas-tugas yang seharusnya mereka emban.
Masing-masing binatang telah diciptakan Alloh swt dengan sempurna untuk tujuan penciptaannya .. ada yang dapat dimakan, ada juga yang tidak .. ada yang jinak ada pula yang liar dan buas .. ada pula yang untuk keindahan dan hiburan,
Semua diciptakan sebaik-baiknya dan sempurna.
Manusia dan jin pun demikian .. hanya saja untuk makhluk mukallaf ini, Alloh swt memberi mereka tugas, dengan potensi sempurna untuk menyukseskan tugas masing-masing .. tetapi dalam saat yang sama, mereka diuji .. dan untuk ujian itu mereka pun diberi potensi, sehingga pada akhirnya manusia dan jin berpotensi untuk menjadi baik dan buruk.
Manusia dan jin yang mengabaikan potensi baiknya dan mengikuti potensi buruk, akan gagal dalam ujian dan itulah yang menjadi setan .. Sebaliknya adalah manusia yang ahsan yang berhasil lulus dalam ujian.
Demikian Alloh swt menciptakan semua makhluk dalam keadaan sempurna sesuai dengan tujuan dan fungsi yang diembannya.
Dengan demikian tidaklah benar jika dikatakan bahwa manusia adalah makluk yang paling sempurna sebelum ia menjadi pemberi rohmat kepada makhluk-makhluk Alloh swt.
Semua makhluk-Nya sempurna, manusia adalah makhluk yang ditundukkan kepadanya alam raya, sebagai sarana untuk mengemban tugasnya.
Manusia telah dimuliakan Alloh swt, tetapi bukan makhluk manusia ini yang termulia .. dalam kontek ini Alloh swt berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا
“Dan sesungguhnya, telah Kami muliakan anak-anak Adam, dan Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas kebanyakan dari siapa yang telah kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” – (QS. Al-Isro’ [17]:70).
Perhatikan ayat ini, tidak menyatakan: “melebihkan atas semua” tetapi “melibihkan atas kebanyakan” artinya manusia tertentu dari kebanyakan manusia yang di lebihkan oleh Alloh dengan sempurna.
Kata MIN RUCHIHI dari ruh-Nya, ya’ni ruh Alloh. ini bukan berarti ada “bagian” ruh Ilahi yang dianugrahkan kepada manusia .. karena Alloh tidak terbagi, tidak juga terdiri unsur-unsur .. DIA adalah SHOMAD Esa/Tunggal, tidak terbagi dan tidak berbilang .. yang dimaksud adalah ruh ciptaan-Nya .. Penisbahan ruh itu kepada Alloh adalah penisbahan PEMULIAAN DAN PENGHORMATAN ayat ini bagaikan berkata: “Dia meniupkan kedalam tubuh manusia, ruh yang mulia dan terhormat dari ciptaan-Nya”
“Manusia terdiri dari tanah dan ruh Ilahi”
Karena tanah, manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam .. sama halnya dengan makhluk-makhluk hidup di bumi lainnya .. ia butuh makan, minum, tidur, jaga, hubungan sex dll.
Dengan ruh, ia meningkat dari dimensi kebutuhan tanah itu .. walupun ia tidak dapat bahkan tidak boleh melepaskannya, karena tanah adalah bagian dari substansi kejadiannya .. Ruh pun memiliki kebutuhan-kebutuhan, agar dapat terus menghiasi manusia.
Dengan ruh manusia diantar menuju tujuan non materi yang tidak dapat diukur di laboratorium, tidak juga dikenal oleh alam materi .. dimensi spiritual inilah yang mengantar manusia untuk cenderung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan dll.
Itulah yang mengantar manusia menuju suatu realitas Yang Maha Sempurna, tanpa cacat, tanpa batas, dan tanpa akhir.
“Sesungguhnya kepada Tuhanmu lah kembalinya segala sesuatu.” (QS.96:8).
“Hai manusia sesungguhnya engkau bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.” (QS.84:6).
Demikian manusia yang diciptakan Alloh swt, disempurnakan ciptaan-Nya dan dihembuskan kepadanya ruh ciptaan-Nya.
Dengan gabungan unsur kejadiannya itu, manusia akan berada dalam satu alam yang hidup dan berma’na, yang dimensinya melebar keluar melampaui dimensi tanah dan dimensi matreal.
NABI MUHAMMAD SAW ROHMAT SEMESTA ALAM RAYA
Alloh swt berfirman:
وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus kamu -wahai Nabi Muhammad- melainkan untuk -menjadi- rohmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107).
Ayat ini sangat singkat, tetapi mengandung ma’na yang sangat luas.
Hanya dengan 5 -lima- kata .. Terdiri dari 25 -dua puluh lima- huruf.
Ayat ini menyebut 4 -empat- hal pokok :
1. Rosul -utusan Alloh- dalam hal ini Nabi Muhammad saw.
2. Yang mengutus Nabi Muhammad saw, dalam hal ini Alloh swt.
3. Yang diutus kepada mereka -al-’alamin-.
4. Risalah, yang kesemuanya mengisyaratkan sifat-sifatnya, ya’ni “rohmat” yang sifatnya sangat besar.
Nabi Muhammad saw adalah rohmat .. bukan saja kedatangan beliau membawa ajaran agama, tetapi sosok dan kepribadian beliau adalah cerminan rohmat ALLOH yang bersifat AR-ROHMAN dan ARROHIM yang dianugerahkan Alloh swt kepada beliau saw.
Ayat ini tidak menyatakan bahwa:
“Kami tidak mengutus engkau untuk membawa rohmat, tetapi sebaga rohmat atau angkau menjadi rohmat bagi seluruh alam”
Firman Alloh swt dalam surat Ali Imron 159
“Maka disebabkan rohmat dari Alloh-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.”
Penggalan ayat ini dapat menjadi salah satu bukti bahwa Alloh swt sendiri yang mendidik dan membentuk kepribadian Nabi Muhammad saw.
Sebagaimana sabda beliau saw:
“Aku dididik oleh Tuhanku, maka sungguh baik hasil pendidikan-Nya.”
Kepribadian Nabi Muhammad saw dibentuk sehingga bukan hanya pengetahuan yang Alloh limpahkan kepada beliau melalui wahyu-wahyu al-Qur’an, tetapi juga hati beliau disinari, bahkan totalitas wujud beliau merupakan rohmat bagi seluruh alam.
Sebagaimana pengakuan beliau saw adalah “rohmatun-muhdab” -rohmat yang dihadiahkan oleh Alloh kepada seluruh alam-.
Pemnbentukan kepribadian Nabi Muhammad saw, menjadikan sikap, ucapan, perbuatan, gerak dan diam, bahkan seluruh totalitas beliau adalah rohmat, bertujuan mempersamakan totalitas beliau dengan ajaran islam yang beliau sampaikan, karena itu pula Nabi Muhammad adalah penjelmaan konkret dari akhlak al-Qur’an sebagaimana dilukiskan oleh Sayyidah ‘Aisyah ra.
Kata “alam” dalam arti kumpulan sejenis makhluk Alloh yang hidup, baik hidup sempurna maupun terbatas .. Jadi ada alam manusia, alam malaikat, alam jin, alam hewan, alam tumbuhan dan bintang-bintang -planet-. Semua itu memperoleh rohmat dengan kehadiran Nabi Muhammad saw.
Dengan rohmat itu terpenuhilah hajat batin manusia untuk meraih ketenangan, ketentraman, serta pengakuan atas wujud, hak, bakat dan fitrahnya, sebagaimana terpenuhi pula hajat keluarga kecil dan besar, menyangkut bimbingan, perlindungan dan pengawasan serta saling pengertian dan penghormatan.
Jangankan manusia .. binatang dan tumbuhan pun memperoleh rohmat beliau saw.
Sebelum bangsa Eropa mengenal organesasi pecinta binatang, Nabi Muhammad saw telah mengajarkan perlunya mengasihi binatang.
Banyak sekali pesan beliau saw, menyagkut hal ini, dimulai dari perintah mengasah pisau terlebih dahulu sebelum digunakan untuk menyembeleh -HR Muslim-.
Beliau saw juga memperingatkan bahwa ada seorang wanita masuk neraka karena mengurung seekor kucing hingga akhirnya mati tanpa memberinya makan, dan tidak pula melepaskannya untuk mencari makan sendiri. -HR Bukhori Muslim-.
Dalam ajaran Nabi Muhammad saw sebagai Rohmat itu, terlarang memetik bunga sebelum mekar, atau buah sebelum matang, karena tugas manusia adalah mengantar semua makhluk menuju tujuan penciptaan. .. … …. ….. …… ……. …….. ………
Kembang diciptakan antara lain agar mekar sehingga lebah datang menghisap sarinya dan mata menjadi senang memandangnya, disamping lebah menghasilkan madu yang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan perkembangan pengobatan.
Bahkan benda-benda tak bernyawa pun mendapat kasih sayang beliau saw. Antara lain terlihat ketika beliau memnberi nama-nama bagi benda-benda husus beliau.
Pedang beliau saw diberi nama : dzul-fiqor
Perisai beliau saw diberi nama : dzul-fadhul
Pelana beliau saw diberi nama : ad-daj
Tikar beliau saw diberi nama : al-kuz
Cermin beliau saw diberi nama : al-midallah
Gelas minum beliau saw diberi nama : al-mamsyuk, dan lain-lain.
itu semua untuk mengesankan bahwa benda-benda tak bernyawa itu bagaikan memiliki kepribadian yang juga membutuhkan rohmat kasih sayang dan persahabatan.
TUGAS “ANAK” SEBAGAI PENERUS NABI MUHAMMAD SAW DENGAN MEMBERI ROHMAT KASIH SAYANG KEPADA SAUDARA MUKMIN
Alloh swt berfirman:
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا
“Dan HAMBA-HAMBA ARROHMAN yang baik itu, -ialah- orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan lemah-lembut -dan rendah hati-.
Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, MEREKA MENGUCAPKAN SALAM -kata-kata yang mengandung keselamatan-.”
– (QS.25:63).
Mereka yang disifati sebagai hamba-hamba ar-Rohman adalah yang ta’at dan dipilih Alloh swt, yaitu yang ikhlas dan sabar serta berdzikir dan bersyukur dengan memberikan rohmat kasih sayang kepada saudara mukmin.
Salah satu dari sifat kelemah-lembutan dan kerendahan hati mereka adalah terhadap orang-orang jahil. “dan apabila ornag-orang jahil menyapa mereka” dengan sapaan tidak wajar atau yang mengandung amarah atau yang membuat sakit hati, “mereka berucap salam” ya’ni mereka membiarkan dan meninggalkannya, bahkan mereka berdo’a untuk keselamatan semua pihak.
Menurut Hujjatul-islam al-Ghozali:
Buah yang dihasilkan oleh peneladanan sifat ar-Rohman pada diri seseorang akan menjadikannya memercikkan rohmat dan kasih sayang kepada hamba-hamba Alloh yang lengah, dan ini mengantarnya mengalihkan mereka dari jalan kelengahan menuju Alloh secara lemah lembut, tidak dengan kekerasan.
Dia akan memandang orang-orang berdosa dengan pandangan kasih sayang -rohmat- serta menilai setiap kedurhakaan yang terjadi di alam raya bagaikan kedurhakaan terhadap dirinya, sehingga dia dalam pertaubatannya tidak menyisihkan sedikit pun upaya memohonkan ampunan bagi orang lain seperti bagi dirinya sendiri.
“Mereka itulah orang-orang yang akan dibalas dengan martabat yang sangat tinggi karena kesabaran mereka” – (QS.25:75).
Seseorang yang menghayati bahwa Alloh adalah ar-Rohman -pemberi rohmat kepada makhluk-makhluk-Nya dalam kehidupan dunia- dan ar-Rohim -pemberi rohmat kepada makhluk-makhluk-Nya dalam kehidupan akhirat- akan berusaha memantapkan dirinya sifat rohmat dan kasih sayang sehingga menjadi ciri kepribadiannya.
Dia tidak akan ragu atau segan mencurahkan rohmat kasih sayang itu kepada sesama manusia tanpa membedakan suku, bangsa, ras maupun tingkat keimanan, dengan memberi rohmat kasih sayang, baik yang hidup maupun yang mati.
Dia akan menjadi bagai matahari yang tidak kikir atau bosan memancarkan cahaya dan kehangatannya, kepada siapapun dan dimanapun.
Kata SALAMAN terambil dari akar kata SALIMA yang ma’nanya berkisar pada KESELAMATAN dan keterhindaran dari segala yang tercela.
Keselamatan adalah batas antara keharmonisan, kedekatan dengan perpisahan serta rohmat dengan siksaan.
Ciri sifat kepribadian mereka yang kedua adalah:
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
“Dan orang-orang yang -penuh rohmat juga mereka yang senantiasa- memasuki malam hari -beribadah secara tulus-, demi untuk Tuhan -pemelihara- mereka -tanpa pamrih- dalam bersujud dan berdiri -sholat-.” – (QS.25:64).
Ayat diatas menyatakan betapa pentingnya mendekatkan diri kepada Alloh swt dengan melakukan sholat malam, dalam satu riwayat dinyatakan bahwa siapa yang sholat sunnah dua roka’at setelah sholat isya’, maka telah dapat dinilai melaksanakan kandungan ayat ini.
Quraisy Syihab mengatakan bahwa, sifat pertama yang disandang oleh hamba-hamba Alloh itu yang disebut oleh ayat 63 adalah sifat mereka yang berkaitan dengan makhluk, sedang di ayat 64 ini adalah yang berkaitan dengan al-Kholiq. Ini mengisyaratkan pentingnya interaksi antar sesama makhluk serta pelunya mendahulukan kepentingan mereka dari pada ketaatan kepada Alloh yang bersifat sunnah.

Arti Nama Muhammada SAW

Alloh swt berfirman:

إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِىِّ ۚ يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
”Sesungguhnya Alloh dan malaikat-malaikat-Nya bershalowat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab :56).

Ketika Rosululloh saw belum dilahirkan, Nabi-Nabi terdahulu, mulai Nabi Adam as sampai Nabi Isa as telah memberi kabar kepada ummatnya akan datangnya Nabi akhir zaman dengan ciri-ciri tertentu. Yaitu, dilahirkan di kota Makkah, hijrah di kota Madinah dan wafatnya juga di kota Madinah, dan kekuasaannya membentang sampai di kota Syam.

Nama Rosululloh saw kalau di Kitab Injil adalah Ahmad. Alloh swt berfirman:
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
“Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata:
“Hai Bani Isra’il, Sesungguhnya Aku adalah utusan Alloh kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurot, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rosul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).”
Maka tatkala Rosul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”
(QS. As-Shof : 6).

Perlu diketahui, bahwa nama yang dikemukam oleh Nabi Isa tadi, itu bukan sekedar nama. Akan tetapi merupakan pemberian dari Alloh swt yang tentunya ada ma’na yang terkandung didalamnya.
Nama Ahmad jika ditulis dengan huruf Arab tanpa dipisah-pisah ada filosof tentang adanya gerakan dalam sholat.
Huruf alif (ا) menunjukan simbol tentang orang yang berdiri.
Huruf cha’ (ح) menggambarkan tentang orang yang sedang rukuk.
Huruf mim (م) menggambarkan tentang orang yang sedang sujud.
Huruf dal (د)  menunjukan gambaran orang yang sedang duduk tahiyat sholat.
Selain ma’na tersebut, ada juga ma’na yang tersembunyi di balik nama Ahmad. Yaitu, secara Gramatika Arab, kata Ahmad itu termasuk sighot mubalaghoh (bentuk yang mempunyai arti banyak), dari kata Hamdu (memuji). Jadi, bisa diambil kesimpulan bahwa Nabi Ahmad saw, nama dari Nabi Muhammad saw mempunyai arti orang yang paling banyak memuji Alloh swt.
Nabi Muhammad saw bersabda:
“Aku adalah Ahmad tanpa mim (م)”
Ahmad tanpa mim (م) akan mempunyai arti Ahad (Esa), yang merupakan sifat Alloh swt yang sangat unik.
Mim (م) yang merupakan simbol personafikasi dan manifestasi Alloh swt dalam diri Nabi Muhammad saw pada hakikatnya adalah bayangan Ahad yang ada di alam semesta.
Mim adalah wasilah antara makhluk dengan Kholiqnya. Mim adalah jembatan yang menghubungkan para kekasih Alloh swt dengan sang kekasihnya yang mutlak.
Dengan kata lain, Nabi Muhammad saw merupakan mediator antara makhluk dengan Kholiq (Yang Maha Pencipta).
Menurut Iqbal seorang ulama pakistan mengatakan:
“Muhammad benar-benar berfungsi “mim” yang  “membumikan” Alloh swt dalam kehidupan manusia. Dialah “dhohir”nya Alloh; dialah Syafi’ (yang memberikan syafaat, pertolongan dan rekomendasi) antara makhluk dengan Kholiqnya.
Ketika anda ingin merasakan kehadiran Alloh dalam diri anda, hadirkan Muhammad ketika anda ingin disapa oleh Alloh, sapalah Muhammad ketika anda ingin dicintai Alloh, cintailah Muhammad “Apabila kalian cinta kepada Alloh maka ikutilah aku (Muhammad) Alloh akan cinta kepada kalian.”
Kepada orang seperti inilah kita diwajibkan cinta, berkorban dan bermohon untuk selalu bersamanya, di dunia dan akhirat. Seperti kata Nabi saw: “Setiap orang akan senantiasa bersama orang yang dicintainya.”
Selain nama Ahmad saw, Rosululloh saw juga mempunyai nama Muhammad saw. Nama ini pemberian dari Alloh swt yang dibisikkan malaikat Jibril as kepada Aminah ibunda Nabi saw.
Adapun nama tersebut kalau ditinjau secara Gramatika Arab berstatus sebagai Isim Maf’ul (obyek) dari asal kata Hammada. Menurut kiai Ali Maksum Krapyak Yogya dalam kitab Amsilatut-Tasrifiyah menyebutkan bahwa penambahan tasdid mempunyai faidah Taksir (banyak). Jadi, artinya adalah orang yang banyak dipuji. Sebab semua makhluk di dunia ini memuji Rosululloh saw dengan membaca sholawat untuknya.
Nama Muhammad apabila ditulis dengan hurup Arab menunjukan kerangka manusia. Sebab, mim (م) yang bundar dari kata Muhammad (محمد) itu menunjukan kepala manusia, karena kepala manusia itu bundar. Huruf  cha’ (ح) kalau kita dobelkan menjadi dua akan menunjukan dua tangan manusia. Huruf  mim (م) yang kedua menunjukan tentang perut manusia. Huruf dal (د) menunjukan kedua kaki manusia.
Selain itu, ada juga ma’na-ma’na yang tersembunyi lagi. Yaitu:
Huruf mim menunjukan kata “Minnah” (anugerah). Alloh swt memberi anugerah kepada Rosululloh saw dengan anugerah yang sangat luar biasa melebihi apa yang telah diberikan kepada yang lainnya.
Huruf cha’ menunjukan kata “Hubbun” (cinta). Alloh swt mencintai Nabi Muhammad saw dan ummatnya melebihi cintanya kepada Nabi dan Rosul yang lain beserta ummatnya.
Huruf mim yang kedua menunjukan kata “Maghfiroh” (ampunan). Alloh swt mengampuni segala dosa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, baik yang sudah lampau atau yang akan datang. Nabi Muhammad saw adalah Nabi yang maksum (terjaga dari melakukan dosa). Adapun jika disandarkan untuk ummatnya, maka  Alloh swt akan mengampuni dosa-dosa ummat Nabi Muhammad saw jikalau mereka mau bertaubat. Tidak seperti ummat-ummat terdahulu yang apabila melakukan dosa langsung mendapat siksa dan teguran dari Alloh swt.
Huruf dal menunjukan kata “Dawaamuddin” (abadinya agama Islam). Sebab, agama Islam akan tetap ada sampai akhir zaman. Apabila agama Islam sudah lenyap karena ditinggal oleh manusia, maka tunggulah kehancuran dunia ini.
Kesimpulan dari semua ini, kalau orang itu sudah mengaku agamanya Islam, maka kerjakanlah sholat. Sebab, sholat merupakan tiang agama dan merupakan ajaran Nabi-Nabi terdahulu yang disempurnakan oleh Nabi Muhammad saw.
Jika seseorang sudah menjalankan sholat dan ajaran Islam yang lainnya, maka dia termasuk orang yang bertaqwa yang akan mendapatkan anugrah rohmat dan dimasukkannya oleh Alloh swt ke dalam sorga-Nya. Karena ummat Nabi Muhammad saw yang masuk ke sorga itu akan dirupakan manusia. Mengapa demikian .?
Ini kembalinya kepada keagungan nama Nabi Muhammad saw yang menunjukkan kerangka manusia. Apabila  manusia masih berbentuk manusia, maka dia tidak akan masuk neraka.
IKHLAS SHOLAT
Sebuah pengalaman Spiritual dalam iman seorang guru besar mengatakan bahwasanya di dalam setiap ibadah yang kita kerjakan harus bisa menyentuh dan memasuki dimensi spritual. Dimensi spiritual itu tidak lain adalah ihsan:
“An ta’budalloh ka annaka taroohu waillam yakun taroohu fainnahu yarooka”. Kita beribadah kepada Alloh seakan kita melihat-Nya, apabila kita tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kita”.
Ulama-ulama dahulu sering berdebat seputar masalah “MELIHAT ALLOH” di akhirat nanti.
Menurut paham sebagian besar ulama, di akhirat nanti Alloh swt dapat dilihat, “yang tak dapat terlihat itu hanyalah yang tak mempunyai wujud”. Yang mempunyai wujud mesti dapat dilihat. Sedangkan Alloh swt “mempunyai wujud”.
Sementara argumen ulama yang lain, “Alloh swt tidak dapat dilihat” Argumen mereka, dikatakan “Alloh swt tak mengambil tempat dan dengan demikian tidak dapat dilihat karena yang dapat dilihat hanya yang mengambil tempat.”
Kedua paham yang saling bertolak belakang ini pun memakai dalil-dalil Al-Qur’an untuk menegaskan pendapatnya, di antaranya surat al-Qiyamah ayat 22-23 :
“Wajah-wajah orang mukmin pada waktu itu berseri-seri. Kepada Tuhan-nyalah mereka nadhirah (melihat).”
Menurut paham ulama yang pertama kata nadhirah dalam ayat itu harus diartikan melihat, bukan berpikir, sebab akhirat bukan tempat berpikir. Kata itu juga tidak bisa diartikan menunggu karena wujuh, ya’ni muka atau wajah, tidak dapat menunggu, yang menunggu adalah manusia.
Sedangkan menurut ulama kedua kata nadhoro harus di artikan menunggu. “nadhora bukan berarti ru’yah (Arab : Melihat),”
Itulah teolog-teolog dahulu, mereka punya argumen masing-masing untuk meneguhkan keyakinannya.
Tapi, yang lebih penting sebenarnya bukan bisa atau tidak bisanya kita melihat Tuhan di akhirat nanti, melainkan bagaimana di dalam setiap beribadah kita seakan-akan ada di hadapan-Nya, “melihat”-Nya, atau meyakini bahwa kita “dilihat-Nya”, supaya ibadah kita benar-benar bisa memasuki satu pengalaman spritual yang indah dan menakjubkan.
Misalnya, ketika kita berdzikir atau sholat.
Sholat yang ihsan bisa membawa kita pada satu pengalaman yang sepenuhnya terjadi komunikasi dan dialog langsung dengan Alloh swt, yang pada akhirnya akan membekas pada hati dan akal pikiran kita, dan akan memberikan dorongan untuk mencegah dan menjauhi perbuatan keji dan munkar.
Sholat tanpa pengalaman spritual di dalamnya hanya akan menggugurkan kewajiban kita semata, tidak akan menjadi satu perisai untuk menghadapi perbuatan keji dan munkar. Sholat yang tidak mencapai ihsan tidak akan menimbulkan satu komitmen moral dan tindakan aktual dalam memperjuangkan kebenaran.
Salah besar jika ada orang yang mengatakan bahwa sholat itu tidak penting .. Tetapi SHOLAT SANGATLAH PENTING.
Kata mereka yang lupa, “Yang penting adalah perjuangan membela golongan orang-orang kaum kecil,” Justru dengan sholat yang ihsan akan membimbing kita dalam perjuangan itu, supaya tidak anarkis dan brutal, kita akan dituntun oleh NAFSUL-MUTHMAINNAH.
An-Nafs Al-Muthmainnah artinya Inilah jiwa/nafsu yang tenang dan tentram karena senantiasa mengingat Alloh swt. Jiwa/nafsu yang tenang dan tentram karena senantiasa gemar berdekatan dengan Alloh swt. Jiwa/nafsu yang tenang dan tentram dalam ketaatan kepada Alloh swt. Jiwa/nafsu yang tenang dan tentram baik ketika ditimpa musibah maupun mendapatkan ni’mat.
Jika mendapatkan musibah, ia ridho terhadap taqdir Alloh swt. Jika kehilangan sesuatu, ia tidak putus asa, dan jika ia mendapatkan ni’mat, ia tidak lupa daratan. Inilah jiwa/nafsu yang tenang dan tentram dalam iman. Tidak tergoyahkan oleh keragu-raguan dan syubhat. Jiwa/nafsu yang rindu untuk bertemu dengan Tuhannya.
Dan inilah jiwa/nafsu yang ketika wafat dikatakan kepadanya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridho dan diridhoi.” (QS Al-Fajr: 27-28)
Pengalaman Iman akan membawa seseorang pada perkenalan dengan Alloh swt secara pribadi. Ia mengenal Alloh swt karena imannya sanggup membawanya pada “perjumpaan” dengan-Nya. Yang namanya pengalaman pastinya objektif, pengalaman iman pun seperti itu adanya, namun terjadi secara spiritual.
DUNIA SUFI
Puncak dari perjalanan iman yang bersifat spiritual yang ada di dunia yang fana ini adalah Pengalaman “PERJALANAN” Isro’ Mi’roj nya Nabi kita Muhammad saw dan kembalinya beliau saw ke dunia yang brutal ini. Itulah Rosul kita.
Kita tahu bahwa tujuan kita hidup di dunia ini ingin bertemu dengan Alloh swt, namun Rosululloh saw berbeda beliau saw kembali lagi ke dunia untuk memberikan pencerahan bagi umat manusia.
Seorang Sufi mengatan:
“Demi Alloh, seandainya aku Muhammad saw, aku tidak ingin kembali lagi ke dunia karena sudah bertemu dengan Tuhan, sedangkan Tuhan adalah tujuan terakhir hidupku, mengapa ketika aku sampai ke puncak tujuanku aku harus kembali lagi ke dunia yang fana ini.”
Kembalinya Rosululloh saw ini pun bisa kita pahami dari bahasa-bahasa beliau saw. Bahasa-bahasa hadits ini tidak membuat kita bingung tujuh lapis. Berbeda dengan bahasa para sufi, “Aku adalah al-Haqq,” kata al-Halaj.
Para sufi begitu asyik di dunianya yang telah “berjumpa” Alloh swt. Mereka mabuk dalam keindahan Alloh swt. Ketika mereka mabuk, mereka tidak mampu dan bisa kembali lagi ke dunia manusia; dalam pema’naan bahasa, mereka tak turun ke bahasa manusia biasa seperti kita.
Rosululloh tidak akan membingungkan umatnya.
Bahkan Beliau swt sendiri berkata dalam hadits shohih, “Saya bukan Tuhan dan Anak Tuhan”.
Kembalinya Rosululloh saw. ke dunia setelah bertemu dengan Tuhan mengisyaratkan bahwa pengalaman spiritual kita pun harus kembali membumi dalam kehidupan sehari-hari dengan terus menerus tak kenal lelah memperjuangkan kebajikan dan kebenaran.
Wallohu a’lam bish-showab.

Jelang lahirnya Nabi Muhammad SAW

Masyarakat di Makkah dan bangsa Arab selalu membicarakan, kedatangan Nabi yang ditunggu-tunggu sudah semakin dekat.
Para pendeta Yahudi dan Nasrani, serta peramal-peramal Arab selalu membicarakannya.
Dan Alloh swt telah mengabulkan do’a Nabi Ibrohim as. Yang diabadikan dalam al-Qur’an:


رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ
“Tuhan kami, utuslah bagi mereka seorang Rosul dari kalangan mereka.” (QS. Al-Baqoroh: 129).

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Ya Rabb-kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur'an) dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." – (QS.Al-Baqoroh:129)

Dan terwujudlah kabar gembira dari Nabi Isa as.



وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
“Dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rosul yang akan datang sesudahku, namanya Ahmad (Muhammad).” (QS. As-shof : 6).

Hingga pada malam detik-detik menggembirakan bagi semesta akan lahirannya bayi suci yang kedatangannya dinantikan seluruh makhluk, Aminah tidak pernah merasa letih atau pun kepayahan.
Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-Syafi’i di kitabnya An-Ni’matul Kubro ‘Alal ‘Aalam menyebutkan:
Pada bulan kesembilan kehamilan Sayyidah Aminah (bulan Robi’ul-Awwal), saat kelahiran Nabi Muhammad saw sudah semakin dekat, Alloh swt semakin melimpahkan berbagai macam anugerahnya kepada Sayyidah Aminah. Mulai malam tanggal satu hingga malam tanggal 12 Bulan Robi’ul Awwal hingga malam kelahiran Rosululloh Muhammad saw,
Pada malam tanggal 1 Alloh swt melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa kepada Sayyidah Aminah, sehingga beliau merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Pada malam tanggal 2 datang seruan berita gembira kepadanya bahwa sebentar lagi dirinya akan mendapati anugerah agung yang luar biasa dari Alloh swt.
Pada malam tanggal 3 datang seruan memanggil kepadanya:
”Wahai Aminah, sudah dekat saatnya Engkau akan melahirkan Nabi agung Rosululloh Muhammad saw yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Alloh swt.”
Pada malam tanggal 4 Sayyidah Aminah mendengar beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan sangat jelas sekali.
Pada malam tanggal 5 Sayyidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabiyyulloh Ibrohim as Kholilulloh.
Pada malam tanggal 6 Sayyidah Aminah melihat cahaya Rosululloh saw memenuhi segala penjuru alam semesta.
Pada malam tanggal 7 Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira, sehingga kebahagiaan dan kedamaiannya semakin memuncak.
Pada malam tanggal 8 Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut sangat jelas mengumandangkan:
”Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat saat kelahiran Nabi agung kekasih Alloh swt Pencipta alam semesta.
Pada malam tanggal 9 Alloh swt semakin mengucurkan limpahan belas kasih sayangnya kepada Sayyidah Aminah, sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah atau sakit dalam diri dan jiwa Sayyidah Aminah.
Pada malam tanggal 10 Sayyidah Aminah melihat tanah Khoif dan Mina ikut bergembira ria menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw.
Pada malam tanggal 11 Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Nabi Muhammad saw.
Maka, pada malam 12 Bulan Robi’ul-Awwal, langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun, saat itu Abdul Mutholib sedang bermunajat kepada Alloh swt di sekitar Ka’bah, dan Sayyidah Aminah sendirian di rumah, tanpa ada seorangpun yang menemaninya.
Tiba-tiba Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah, dan perlahanan-lahan muncul empat wanita yang sangat anggun nan cantik jelita, diliputi cahaya yang memancar berkilauan disertai semerbak harum wewangian memenuhi seluruh ruangan.
Wanita pertama berkata kepada Sayyidah Aminah:
”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi agung junjungan alam semesta (Muhammad saw).
Kenalilah olehmu sesungguhnya aku ini adalah Hawwa’ Ibunda seluruh umat manusia. Aku diperintahkan Alloh swt untuk menemanimu.”
Kemudian Ibu Hawwa’ duduk di samping kanan Sayyidah Aminah.
Wanita yang kedua mendekat kepada Sayyidah Aminah dan berkata:
”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan (Nabi Muhammad saw) seorang Nabi agung yang dianugerahi Alloh swt kesucian yang sempurna pada diri dan kepribadiannya. Nabi agung yang ilmunya sebagai sumber seluruh ilmunya para Nabi dan para kekasih Alloh swt. Nabi agung yang cahayanya meliputi seluruh alam semesta.
Dan ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku ini adalah Sarah istri Nabiyyulloh Ibrohim as, aku diperintahkan Alloh swt untuk menemanimu.”
Kemudian Sayyidah Sarah duduk di sebelah kiri Sayyidah Aminah.
Wanita ketiga mendekat dan kepadanya dan berkat:
”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi agung (Muhammad saw) Kekasih Alloh swt yang paling agung, dan insan sempurna yang paling utama mendapati pujian dari Alloh swt dan dari seluruh makhuk-Nya.
Ketahuilah sesungguhnya aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Alloh swt untuk menemanimu.”
Kemudian Sayyidah Asiyah binti Muzahim tersebut duduk di belakang Sayyidah Aminah.
Sejenak Sayyidah Aminah semakin kagum, karena wanita yang ke empat lebih anggun berwibawa dan memiliki kecantikan luar biasa, wanita itu mendekat kepada Sayyidah Aminah dan berkata:
”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi agung (Muhammad saw) yang dianugerahi Alloh swt berbagai macam mukjizat yang sangat agung dan sangat hebat, dialah junjungan seluruh penghuni langit dan bumi, hanya untuk dia semata segala bentuk Sholawat (Rohmat) Alloh swt dan Salam Sejahtera-Nya yang sempurna.
Ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Maryam Ibunda Nabiyyulloh Isa as. Kami semua ditugaskan Alloh swt untuk menemanimu demi menyambut kehadiran Rosululloh Muhammad saw.”
Kemudian Sayyidah Maryam Ibunda Nabiyyulloh Isa as duduk mendekatkan diri di depan Sayyidah Aminah.
Maka, keempat wanita suci mulia yang agung di sisi Alloh saw tersebut kemudian merapat dan mengelilingi Sayyidah Aminah Binti Wahab, ibunda Rosululloh Muhammad saw. sehingga beliau semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan dalam jiwanya.
Keajaiban berikutnya adalah Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya saling berdatangan silih berganti memasuki ruangannya dan mereka memanjatkan puja puji dan tasbih kepada Alloh dengan berbagai macam bahasa yang berbeda-beda.
Saat berikutnya adalah Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat olehnya berbagai macam bintang-bintang di angkasa raya yang sangat indah berkilauan yang saling berterbangan di langit ke segenap penjuru angkasa yang sangat cerah dipenuhi cahaya.
Detik berikutnya adalah Alloh swt perintahkan kepada Malaikat Ridlwan penjaga sorga agar mengomando semua bidadari sorga berdandan dan memakai segala macam bentuk perhiasan kain sutera dengan bermahkotakan emas, intan permata yang gemerlapan dan menebarkan wewangian sorga yang harum semerbak ke segala arah demi menyambut kedatangan Nabi Muhammad saw.
Selanjutnya, Alloh swt limpahkan mandat khusus kepada Malaikat Jibril as untuk mengemban tugas agung dalam momen yang paling agung dan bersejarah bagi seluruh makhluk Alloh swt.
Alloh swt berfirman kepada Malaikat Jibrilas:
”Wahai Jibril… Serukanlah kepada seluruh arwah suci para Nabi, Rosul dan para Wali agar berbaris rapi menyambut kehadiran Kekasih-Ku al-Musthofa.
Wahai Jibril… Bentangkanlah hamparan kemuliaan dan keagungan derajat al-Qurob dan al-Wishol kepada kekasih-Ku yang memiliki maqom luhur disisi-Ku.
Wahai Jibril… Perintahkanlah kepada Malik agar menutup semua pintu neraka.
Wahai Jibril… Perintahkanlah kepada Ridwan agar membuka seluruh pintu sorga.
Wahai Jibril… Pakailah olehmu Haullah ar-Ridhwan (Pakaian agung yang meliputi keagungan Alloh swt) demi menyambut kekasih-Ku Muhammad.
Hai Jibril… Turunlah ke bumi dengan membawa seluruh pasukan malaikat Muqorrabin, Karubbiyyin, para Malaikat yang selalu mengelilingi Arsy-Ku demi menyambut kedatangan kekasih-Ku.
Wahai Jibril… Kumandangkanlah seruan ke penjuru langit hingga lapis ke tujuh dan ke segenap penjuru bumi hingga lapisan paling dalam, beritakanlah kepada seluruh mahluk-Ku bahwa sesungguhnya sekarang adalah saatnya kedatangan Nabi akhir zaman, Muhammad al-Musthofa.”
Perintah Alloh saw segera di laksanakan:
Malaikat Jibril as memimpin para malaikat turun ke bumi hingga memenuhi seluruh gunung-gunung Makkah, mereka berbaris rapi meliputi seluruh tanah suci Makkah.
Sayap-sayap mereka terlihat laksana mega-mega putih berkilauan memenuhi angkasa, hingga alam semesta terliputi pendaran cahaya kemilauan dari sayap sayap mereka.
Seluruh hewan-hewan yang ada di segenap penjuru bumi, di lautan dan di angkasa bersuka cita menyambut kedatangan Nabi Muhammad saw.
Dan Ka’baitulloh pun ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw.
Ibunda Rosululloh saw Sayyidah Aminah berkata:
“Saat itu (dengan izin Alloh swt) terlihat jelas olehku gedung-gedung yang ada di Syiria dan Palestina. Aku juga melihat tiga pilar bendera yang dibawa oleh para malaikat, yang satu ditancapkan di jagad timur, yang satu ditancapkan di jagad barat dan yang satunya lagi di atas Ka’baitulloh.
Dalam keadaan yang dipenuhi oleh rahasia (misteri) segala keajaiban yang sedemikian rupa, seketika pula datang serombongan burung-burung bercahaya yang indah memenuhi ruanganku, datang silih berganti, paruh dan sayapnya adalah berupa mutiara zamrud dan yaqut yang indah sekali. Burung-burung itu menebarkan berbagai macam mutiara dan permata yang beraneka ragam indahnya di ruanganku.
Setelah itu mereka serentak memanjatkan puja puji dan tasbih kepada Alloh swt.
Dan aku lihat pula para malaikat datang bergerombolan dan silih berganti sambil membawa mabkhoroh (tempat dupa) berupa emas merah dan emas putih yang berisikan dupa-dupa wewangian sorga yang semerbak harum baunya memenuhi seluruh jagad raya, sambil bergemuruh suara mereka mengucapkan sholawat dan salam (kepada Nabi agung Rosululloh Muhammad saw).
Ketika itu pula aku melihat bulan terbelah di atasku laksana qubah, dan bintang-bintang gemerlapan berjajar rapi di atas kepalaku laksana mata rantai emas intan permata.
Dan tiba-tiba telah ada di sisiku secangkir minuman putih bening melebihi susu, aku meminumnya, dan terasa ni’mat sekali, kelezatan manisnya melebihi gula dan madu, dan kesejukkannya melebihi salju (es), maka seketika lepaslah segala dahagaku, sangat terasa ni’mat, segar dan lezat sekali yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Cahaya yang luar biasa meliputi diriku, lalu datanglah burung putih berkilauan cahaya mendekati dan mengusapkan sayapnya pada diriku, saat itulah tanda-tanda kelahiran mulai aku rasakan dan aku bersandar pada para wanita yang ada di sekelilingku. Maka lahirlah Nabi agung akhir zaman, Kekasih Alloh swt yang sempurna, Rosululloh Muhammad saw, dan aku tidak melihat kecuali hanya sinar cahaya yang sangat agung.
Tidak lama kemudian, aku melihat putraku (Rosululloh Muhammad saw) telah berada di sampingku terselimuti dengan sutera putih di atas hamparan sutera hijau dalam keadaan sujud (kepada Alloh swt) dengan mengangkat jari telunjuknya.
Dan aku mendengar dia (Rosululloh saw) mengucapkan:
ألله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا …
”Alloh Maha Besar dengan segala keagungan-Nya, Segala Puji bagi Alloh atas segala anugerah-Nya, Maha Suci Alloh kekal abadi selama-lamanya…”
Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdurrohman Ad-Diba’iy menyebutkan:
فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا
“Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad saw), ‘Arsy seketika brgetar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid dan istighfar (kepada Alloh swt) dengan mengucapkan:
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر أستغفر الله
“Maha Suci Alloh, Segala puji bagi Alloh, Tidak ada tuhan selain Alloh, Alloh Maha Besar, aku memohon ampun kepada Alloh.”
Sesungguhnya dengan keagungan Nabi Muhammad saw, Alloh swt telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya ya’ni malaikat Jibril as, malaikat muqorrabin, malaikat Karubiyyin, malaikat yang selalu mengelilingi Arsy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Nabi Muhammad saw dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Alloh swt.
Pada saat itulah puncak kegembiraan seluruh penghuni alam semesta. Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari sorga, seluruh makhluk-makhluk Alloh swt yang ada di daratan, di lautan di angkasa dan bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arsy, seluruhnya meluapkan kegembiraan dan mengucapkan Sholawat Ta’dhim kepada Kekasih Alloh swt, Nabi Akhir Zaman, Rosululloh Muhammad saw.
Semua fenomena keajaiban-keajaiban hebat luar biasa yang terjadi pada saat kelahiran Nabi Muhammad saw yang diwujudkan oleh Alloh swt, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluk-Nya bahwa Nabi Muhammad saw adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung kedudukannya dan yang paling mulia derajatnya di sisi-Nya.
Wallohu a’lam bish-showab.

Detik-detik kelahiran Nabi SAW

Al-Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-Syafi’i di kitabnya An-Ni’matul Kubraa ‘Alal ‘Aalam hal. 61 telah menyebutkan ;
Bahwa sesungguhnya pada bulan kesembilan kehamilan Sayyidah Aminah (bulan Rabi’ul Awwal), saat hari-hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad sudah semakin dekat, Allah SWT semakin melimpahkan berbagai macam anugerahnya kepada Sayyidah Aminah, mulai malam tanggal satu hingga malam tanggal 12 Bulan Rabi’ul Awwal malam kelahiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW;
 
Pada malam tanggal 1 Allah SWT melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa kepada Sayyidah Aminah, sehingga Beliau merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

 
Pada malam tanggal 2 datang seruan berita gembira kepadanya bahwa sebentar lagi dirinya akan mendapati anugerah agung yang luar biasa dari Allah SWT.
 Pada malam tanggal 3 datang seruan memanggil kepadanya…”Wahai Aminah, sudah dekat saatnya Engkau akan melahirkan Nabi Agung Rasulullah Muhammad SAW yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah SWT”.
 Pada malam tanggal 4 Sayyidah Aminah mendengar beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan sangat jelas sekali.
 
Pada malam tanggal 5 Sayyidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabiyyullah Ibrahim AS Khalilullah.
 
Pada malam tanggal 6 Sayyidah Aminah melihat cahaya Rasulullah SAW memenuhi segala penjuru alam semesta.
 
Pada malam tanggal 7 Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira, sehingga kebahagiaan dan kedamaiannya semakin memuncak.
 
Pada malam tanggal 8 Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut sangat jelas mengumandangkan….”Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat saat kelahiran Nabi Agung Kekasih Allah SWT Pencipta alam semesta..”
 
Pada malam tanggal 9 Allah SWT semakin mengucurkan limpahan Belas Kasih Sayangnya kepada Sayyidah Aminah, sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah atau sakit dalam diri dan jiwa Sayyidah Aminah.
 
Pada malam tanggal 10 Sayyidah Aminah melihat tanah Khoif dan Mina ikut bergembira ria menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW .
Pada malam tanggal 11 Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.
 
Maka, pada malam 12 Bulan Rabi’ul Awwal, langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun, saat itu Sayyid Abdul Muthalib sedang bermunajat kepada Allah SWT di sekitar Ka’bah, dan Sayyidah Aminah sendirian di rumah, tanpa ada seorangpun yang menemaninya, tiba-tiba Beliau Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah, dan perlahanan-lahan muncul empat wanita yang sangat anggun nan cantik jelita dan diliputi cahaya yang memancar berkemilauan serta semerbak harum wewangian memenuhi seluruh ruangan. Tiba-tiba wanita pertama datang dan berkata kepada Sayyidah Aminah;
 
………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung junjungan alam semesta Baginda Nabi Muhammad SAW. Kenalilah olehmu sesungguhnya aku ini adalah Hawwa’ Ibunda seluruh umat manusia. Aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu….
 
Kemudian Ibu Hawwa’ duduk di samping kanan Sayyidah Aminah. Dan mendekat lagi wanita yang kedua kepada Sayyidah Aminah untuk menyampaikan kabar gembira kepadanya;
………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Baginda Nabi Muhammad SAW, seorang Nabi Agung yang dianugerahi Allah SWT kesucian yang sempurna pada diri dan kepribadiannya. Nabi Agung yang ilmunya sebagai sumber seluruh ilmunya para Nabi dan para kekasihnya Allah SWT. Nabi Agung yang cahayanya meliputi seluruh alam. Dan ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku ini adalah Sarah istri Nabiyyullah Ibrahim As, aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu.”
 
Kemudian Sayyidah Sarah duduk di sebelah kiri Sayyidah Aminah. Maka, wanita ketigapun kemudian mendekat dan menyampaikan berita gembira kepadanya;
………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Baginda Nabi Muhammad SAW Kekasih Allah SWT yang paling agung, dan insan sempurna yang paling utama mendapati pujian dari Allah SWT dan dari seluruh makhuk-Nya. Perlu engkau ketahui sesungguhnya aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu”.
 
Kemudian sayyidah Asiyah binti Muzahim tersebut duduk di belakang Sayyidah Aminah. Sejenak Sayyidah Aminah semakin kagum, karena wanita yang ke empat adalah lebih anggun berwibawa dan memiliki kecantikan luar biasa. Kemudian mendekat kepada Sayyidah Aminah untuk menyampaikan kabar gembira;
 
………”Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang dianugerahi Allah SWT berbagai macam mukjizat yang sangat agung dan sangat luar biasa, Beliaulah junjungan seluruh penghuni langit dan bumi, hanya untuk Beliau semata segala bentuk Sholawat (Rahmat Ta’dhim) Allah SWT dan Salam Sejahtera-Nya yang sempurna. Ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Maryam Ibunda Nabiyyullah Isa AS. Kami semua ditugaskan Allah SWT untuk menemanimu demi menyambut kehadiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW.
 
Kemudian Sayyidah Maryam Ibunda Nabiyyullah Isa AS duduk mendekatkan diri di depan Sayyidah Aminah. Maka, keempat wanita suci mulia nan agung di sisi Allah SWT tersebut kemudian merapat dan mengelilingi diri Ibunda Rasulullah Muhammad SAW Sayyidah Aminah Binti Wahab, sehingga Ibunda Rasulullah SAW semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan dalam jiwanya. Kebahagiaan dan keindahan yang dialami oleh Ibunda Rasulullah SAW saat itu, tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Dan peristiwa demi peristiwa yang sangat agung, semakin Allah SWT limpahkan demi penghormatan besar kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW.
 
Keajaiban berikutnya adalah Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya saling berdatangan silih berganti memasuki ruangan Sayyidah Aminah dan mereka memanjatkan puja puji dan tasbih kepada Allah SWT dengan berbagai macam bahasa yang berbeda-beda.
 
Detik berikutnya adalah Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh Beliau berbagai macam bintang-bintang di angkasa raya yang sangat indah berkilauan yang saling berterbangan di langit ke segenap penjuru angkasa yang sangat cerah dipenuhi cahaya.
 
Maka, detik berikutnya adalah Allah SWT perintahkan kepada Malaikat Ridlwan penjaga sorga agar mengomando semua bidadari sorga supaya berdandan rapi cantik jelita dan memakai segala macam bentuk perhiasan kain sutera dengan bermahkotakan emas, intan permata yang gemerlapan dan menebarkan wewangian sorga yang harum semerbak ke segala arah demi menyambut kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW.
 
Selanjutnya, Allah SWT limpahkan mandat khusus kepada Malaikat Jibril AS untuk mengemban tugas agung dalam momen yang paling agung dan bersejarah bagi seluruh makhluk Allah SWT, Firman Allah SWT kepadanya;
يا جبريل صف راح الأرواح في أقداح الشراب يا جبربل انشر سجادات القرب والوصال لصاحب النور والرفعة والإتصال يا جبريل مر مالكا أن يغلق أبواب النيران يا جبريل قل لرضوان أن يفتح أبواب الجنان يا جبريل البس حلة الرضوان يا جبريل اهبط إلى الأرض بالملائكة الصافين والمقربين والكروبيين والحافين يا جبريل ناد في السموات والأرض في طولها والعرض قد آن أوان اجتماع المحب بالمحبوب والطالب بالمطلوب
Yang artinya kurang lebih;
“Hai Jibril, serukanlah kepada seluruh arwah suci para Nabi, para Rasul dan para Wali agar berkumpul berbaris rapi menyambut kedatangan Nabi Agung Muhammad SAW. Hai Jibril, bentangkanlah hamparan kemuliaan dan keagungan derajat Al-Qurb dan Al-Wishal kepada Nabi Agung Muhammad SAW yang memiliki Nur dan Maqam luhur di Sisi-Ku. Hai Jibril, perintahkanlah kepada Malik agar menutup semua pintu neraka. Hai Jibril, perintahkanlah kepada Ridlwan agar membuka seluruh pintu sorga. Hai Jibril, pakailah olehmu Hullah Ar-Ridlwan (pakaian khusus yang diliputi Keridloan-Ku) demi menyambut Kekasih-Ku Nabi Agung Muhammad SAW. Hai Jibril, turunlah ke bumi dengan membawa seluruh pasukan malaikat, para Malaikat Muqarrabin, para Malaikat Karubiyyin, para Malaikat yang selalu mengelilingi ‘Arasy, suruh mereka semua turun ke bumi dan berbaris rapi demi memuliakan dan mengagungkan kedatangan Kekasih-Ku Nabi Agung Muhammad SAW. Hai Jibril, kumandangkanlah seruan di seluruh penjuru langit hingga lapis ke tujuh dan di segenap penjuru bumi hingga lapisan paling dalam, beritakan kepada seluruh makhluk-Ku bahwa sesungguhnya …Sekarang telah tiba saatnya kedatangan Nabi akhir zaman, Nabi Agung kekasih Allah SWT, Baginda Nabi Muhammad SAW ………….
 
Kemudian seketika itu pula Malaikat Jibril AS secepat kilat langsung melaksanakan seluruh mandat khusus dan agung dari Allah SWT tersebut. Serentak Beliau bawa seluruh pasukan malaikat turun ke bumi hingga memenuhi seluruh gunung-gunung Makkah dan berbaris rapi meliputi seluruh tanah suci Makkah. Sayap-sayap mereka terlihat laksana mega-mega putih berkilauan memenuhi angkasa. Dan saat itu pula seluruh hewan-hewan yang ada di segenap penjuru di bumi, di lautan dan di angkasa bersuka cita demi menyambut kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW.
 
Ibunda Rasulullah SAW Sayyidah Aminah berkata; Saat itu pula, dengan ijin Allah SWT, bisa terlihat jelas olehku gedung-gedung yang ada di Syiria dan Palestina. Aku juga melihat tiga pilar bendera yang dibawa oleh para malaikat. Yang satu ditancapkan di jagad timur, yang satu ditancapkan di jagad barat dan yang satunya lagi di atas Ka’bah Baitullah. Dalam keadaan yang dipenuhi oleh misteri segala keajaiban yang sedemikian rupa, seketika pula datang serombongan burung-burung bercahaya yang indah memenuhi ruanganku, datang silih berganti. Paruh dan sayapnya adalah berupa mutiara zamrud dan yaqut yang indah sekali. Burung-burung tersebut menebarkan berbagai macam mutiara dan permata yang beraneka ragam indahnya di ruanganku. Setelah itu mereka serentak memanjatkan puja puji dan tasbih kepada Allah SWT. Dan aku lihat pula para malaikat datang bergerombolan dan silih berganti sambil membawa mabkharah (tempat dupa) berupa emas merah dan emas putih yang berisikan dupa-dupa wewangian sorga yang semerbak harum baunya memenuhi seluruh jagad raya, sambil bergemuruh suara mereka mengucapkan sholawat dan salam kepada Nabi Agung Rasulullah Muhammad SAW. Seketika itu pula aku lihat bulan terbelah di atasku laksana qubah, dan bintang-bintang gemerlapan berjajar rapi di atas kepalaku laksana mata rantai emas intan permata. Dan tiba-tiba telah ada di sisiku secangkir minuman putih bening melebihi susu. Seketika aku meminumnya, dan terasa nikmat sekali, kelezatan manisnya melebihi gula dan madu, dan kesejukkannya melebihi salju (es). Maka seketika lepaslah segala dahagaku. Sangat terasa nikmat, segar dan lezat sekali yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Seketika cahaya yang luar biasa meliputi diriku. Kemudian, datanglah burung putih berkilauan cahaya mendekati dan mengusapkan sayapnya pada diriku. Saat itulah tanda-tanda kelahiran mulai aku rasakan dan aku bersandar pada para wanita yang ada di sekelilingku. Seketika lahirlah Nabi Agung akhir zaman, Kekasih Allah SWT yang sempurna, Rasulullah Muhammad SAW, dan saya tidak melihat kecuali hanya sinar cahaya yang sangat agung. Tidak lama kemudian, aku melihat putraku (Rasulullah Muhammad SAW) telah berada di sampingku terselimuti dengan sutera putih di atas hamparan sutera hijau dalam keadaan sujud mengiba ke hadirat Allah SWT dengan mengangkat jari telunjuknya. Dan saya mendengar Beliau Rasulullah SAW mengucapkan ;
 
ألله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا
……….”Allah Maha Besar dengan segala Keagungan-Nya, Segala Puji bagi Allah atas segala anugerah-Nya, Maha Suci Allah kekal abadi selama-lamanya………”
 
Pada saat itulah semakin memuncak kegembiraan seluruh penghuni alam semesta. Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari sorga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan di angkasa dan bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan Sholawat Ta’dhim kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Dan bahkan Ka’bah Baitullah ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
 
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdur Rahman Ad-Diba’iy hal 192 dan 193 ;
فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا
Yang artinya kurang lebih;
“Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan;
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر أستغفر الله
Yang artinya kurang lebih;
“Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT..”
 
Sesungguhnya dengan keagungan Beliau Baginda Rasulullah Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqarrabin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.
 
Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluknya Allah SWT bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.
Dan riwayat-riwayat semua yang tersebutkan di atas, bukan sekedar cerita belaka, namun telah kami nukil data-datanya dari kitab-kitab para ulama ahlussunnah waljama’ah yang sangat akurat dan otentik. Diantaranya adalah Kitab Al-Hawi Lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang telah mengarang tidak kurang dari 600 kitab yang dijadikan marja’ (pedoman) bagi para ulama ahlussunnah waljama’ah dalam penetapan hukum-hukum syariat Islam. Bahkan para ulama ahlussunnah waljama’ah telah sepakat menjuluki Beliau dengan gelar ‘Jalaaluddiin’ yakni sebagai pilar keagungan agama Islam.
 
Bukan hanya dari kitab Beliau saja kami menukil, namun juga dari kitab-kitab para ulama ahlussunnah waljama’ah lainnya yang juga telah disepakati dan dijadikan sebagai sumber pedoman oleh para ulama. Diantaranya adalah Kitab Dalailun Nubuwwah Lil Imam Al-Baihaqi, Kitab Dalailun Nubuwwah Lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy, Kitab An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Aalam Lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Sabiilul Iddikar Lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad, Kitab Al-Ghurar Lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy, Kitab Asy-Syifa’ Lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy, Kitab As-Siirah An-Nabawiyyah Lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy, Kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Aalamin Lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy…dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar (diakui dan dijadikan pedoman oleh para ulama).
Sumber: Kitab Nurul Musthofa Jilid 1, Habib Murtadho bin Abdullah bin Ahmad Al-Kaff