Wanita sholehah itu bernama Khadijah, nama lengkapnya Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai, ia berasal dari golongan pembesar di Mekkah. Khadijah al-Kubra memiliki ayah bernama Khuwailid bin Asad dan ibunya bernama Fatimah binti Za’idah, ia berasal dari kabilah Bani Asad dari suku Quraisy.
Pada suatu hari, saat masih pagi buta, dengan penuh kegembiraan Khadijah pergi ke rumah sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal. Khadijah berkata, “Tadi malam aku bermimpi sangat menakjubkan. Aku melihat matahari berputar-putar di atas kota Mekkah, lalu turun ke arah bumi. Ia semakin mendekat dan semakin mendekat. Aku terus memperhatikannya untuk melihat kemana ia turun. Ternyata ia turun dan memasuki rumahku. Cahayanya yang sangat agung itu membuatku tertegun. Lalu aku terbangun dari tidurku”.
Kemudian Waraqah mengatakan, “Aku sampaikan berita gembira kepadamu, bahwa seorang lelaki agung dan mulia akan datang meminangmu. Ia memiliki kedudukan penting dan kemasyhuran yang semakin hari semakin meningkat”. Tidak lama kemudian Khadijah ditakdirkan menjadi isteri Nabi Muhammad.
Ketika Nabi Muhammad masih muda dan dikenal sebagai pemuda yang lurus dan jujur sehingga Muhammad mendapat julukan Al-Amin, telah diperkenankan untuk ikut menjualkan barang dagangan milik Khadijah. Hal yang lebih banyak menarik perhatian Khadijah adalah kemuliaan jiwa Nabi Muhammad.
Yang menarik dari pernikahan antara Nabi Muhammad dan Khadijah adalah Khadijah lah yang lebih dahulu mengajukan permohonan untuk meminang Beliau, Padahal pada saat itu bangsa Arab jahiliyah memiliki adat, pantang bagi seorang wanita untuk meminang pria dan semua itu terjadi dengan adanya usaha orang ketiga, yaitu Nafisah Binti Munyah dan peminangan dibuat melalui paman Muhammad yaitu Abu Thalib. Keluarga terdekat Khadijah tidak menyetujui rencana pernikahan ini. Namun Khadijah sudah tertarik oleh kejujuran, kebersihan dan sifat-sifat istimewa Beliau ini, sehingga ia tidak memperduliakan segala kritikan dan kecaman dari keluarga dan kerabatnya.
Kisah Khadijah istri Rasulullah – Khadijah juga merupakan wanita yang cerdas, mengenai ketertarikannya kepada Nabi Muhammad ia mengatakan, “Jika segala kenikmatan hidup diserahkan kepadaku, dunia dan kekuasaan para raja Persia dan Romawi diberikan kepadaku, tetapi aku tidak hidup bersamamu, maka semua itu bagiku tak lebih berharga daripada sebelah sayap seekor nyamuk”
Khadijah menikah dengan Nabi Muhammad, ketika berumur 40 tahun, sedangkan Nabi Muhammad saat ini masih berumur 25 tahun. Ada yang mengatakan usianya saat itu tidak sampai 40 tahun, hanya sedikit lebih tua dari Nabi Muhammad. Khadijah merupakan wanita kaya dan juga terkenal. Khadijah dapat hidup mewah dengan hartanya sendiri. Meskipun memiliki kekayaan melimpah, Khadijah merasa kesepian hidup menyendiri tanpa suami, karena suami pertama dan keduanya telah meninggal. Namun ada beberapa sumber menyangkal bahwa Khadijah pernah menikah sebelum bertemu Nabi Muhammad.
Kisah Khadijah istri Rasulullah, Sewaktu malaikat turun membawa wahyu kepada Muhammad maka Khadijah adalah orang pertama yang mengakui kenabian suaminya, dan wanita pertama yang memeluk Islam, sehingga ia termasuk as-Sabiqun al-Awwalun (orang pertama yang memeluk islam). Sepanjang hidupnya bersama Nabi, Khadijah begitu setia menemaninya dalam setiap peristiwa baik suka dan duka. Setiap kali suaminya ke Gua Hira’, Khadijah pasti menyiapkan semua perbekalan dan keperluan suaminya. Seandainya suaminya agak lama tidak pulang ke rumah, Khadijah akan melihat untuk memastikan keselamatan Nabi Muhammad. Sekiranya Nabi Muhammad khusyuk bermunajat, Khadijah tinggal di rumah dengan sabar sehingga Beliau pulang. Apabila suaminya mengadu kesusahan serta berada dalam keadaan gelisah, beliau coba sekuat mungkin untuk mententram dan menghiburkan, sehingga suaminya benar-benar merasai tenang. Setiap ancaman dan penganiayaan mereka dihadapi bersama. Kemudian Allah mengkaruniakannya 3 orang anak, mereka adalah Qasim, Abdullah, dan Fatimah.
Khadijah merupakan wanita yang sholehah, ia sangat berbakti kepada sang suami. Misalnya dalam banyak kegiatan pribadatan suaminya, Khadijah bisa dipastikan selalu bersama nabi Muhammad dan membantunya, sepertinya menyediakan air untuk berwudu suaminya. Sehingga sangat wajar jika dalam salah satu sabda Nabi muhammad, disebutkan keistimewaan Khadijah, “Di saat semua orang mengusir dan menjauhiku, ia beriman kepadaku. Ketika semua orang mendustakan aku, ia meyakini kejujuranku. Sewaktu semua orang menyisihkanku, ia menyerahkan seluruh harta kekayaannya kepadaku.”
Khadijah meninggal pada usia 64 tahun 6 bulan. ia menjadi istri nabi muhammad selama 24 tahun, hidup bersama nabi Muhammad, menemaninya dalam suka dan duka.
Itulah sepenggal Kisah Khadijah Istri Rasulullah, ia merupakan wanita sholehah yang patut menjadi taulana para wanita muslimah. Semoga para wanita dapat meneladani sifat-sifat Khadijah Aamiin.
Jumat, 20 Maret 2015
Maria Qibti dan wafatnya Ibrahim putra Nabi
Rasulullah mendapat hadiah dari Gubernur Mesir
Suatu saat Rasulullah menerima hadiah dari Gubernur Mesir, yakni Mariah yang kemudian menjadi istri Rasulullah. Mariah adalah seorang wanita yang beragama Ortodok Koptik.
Rasulullah berkata kepada Khalifah Umar, "Nanti Mesir akan berjaya melalui tanganmu (kekuasaanmu), saya titipkan keluarga Mariah kepadamu."
Rasulullah menitipkan keluarga Mariah adalah untuk menjaga agama Mariah sebelumnya yakni Ortodok Koptik.
"Dan akhirnya terbukti, ketika Perang Salib, tidak satupun orang Ortodok Koptik yang diserang. Dan hingga saat ini Ortodok Koptik tetap eksis di Alexandria".
*Diceritakan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam Refleksi Awal Tahun PBNU, Selasa, 4 Desember 2011. Soure: nu.or.id
MARIA, PEREMPUAN YAHUDI ISTERI RASULULLAH
Muhammad Rasulullah mengirim surat kepada Raja Muqauqis melalui Hatib bin Baltaah, rnenggugah raja agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima Hatib dengan ramah dan hangat, namun dengan ramah dia menolak memeluk Islam. Lalu, sesuai tradisi politik dan budaya zaman itu, sebagai pernyataan persaudaraan dia mengirimkan Maria dan Sirin, dua gadis cantik berdarah Yahudi Mesir, dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah.
Di tengah perjalanan Hatib rnerasakan kesedihan hati Mariyah karena harus rneninggalkan kampung halamannya. Hatib rnenghibur mereka dengan menceritakan Rasulullah dan Islam, kemudian mengajak mereka merneluk Islam. Mereka pun menerirna ajakan tersebut.
Rasulullah menerima kabar penolakan Muqauqis dan hadiahnya tahun 7 H . dan betapa terkejutnya Rasulullah terhadap budak pemberian Muqauqis itu. Beliau menikahi Maria dan menjodohkan Sirin kepada penyairnya, Hasan bin Tsabit.
Istri-istri Nabi yang lain sangat cemburu atas kehadiran orang Mesir yang cantik itu, sehingga Rasulullah harus menitipkan Maria di rumah Haritsah bin Nu’man yang terletak di sebelah masjid.
Seperti halnya Sayyidah Raihanah binti Zaid, Mariyah al-Qibtiyah adalah budak Rasulullah yang kemudian beliau bebaskan dan beliau nikahi. Rasulullah memperlakukan Mariyah sebagaimana beliau memperlakukan istri-istri beliau yang lainnya. Abu Bakar dan Umar pun memperlakukan Mariyah layaknya seorang Ummul-Mukminin. Dia adalah istri Rasulullah satu-satunya yang melahirkan seorang putra, Ibrahirn, setelah Khadijah. ]
Dari Mesir ke Yastrib (Madianh)
Tentang Maria, tidak banyak yang diketahui selain nama ayahnya. Nama lengkapnya adalah Maria binti Syama’un dan dilahirkan di dataran tinggi Mesir yang dikenal dengan nama Hafn. Ayahnya berasal dan Suku Qibti, dan ibunya adalah penganut agarna Kristen Masehi Romawi. Setelah remaja, bersarna saudara perempuannya, Sirin, Maria dipekerjakan pada Raja Muqauqis.
Ibrahim bin Muhammad
Allah menghendaki Maria al-Qibtiyah melahirkan seorang putra Rasulullah setelah Khadijah r.a. Betapa gembiranya Rasulullah mendengar berita kehamilan Maria, terlebih setelah putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, dan Ruqayah telah meninggal dunia anak dari Khadijah.
Maria mengandung setelah setahun tiba di Madinah. Kehamilannya membuat istri-istri Rasul cemburu karena telah beberapa tahun mereka menikah, namun tidak kunjung dikaruniai seorang anak pun. Rasulullah menjaga kesehatan kandungan Maria dengan sangat hati-hati. Pada bulan Dzulhijjah tahun kedelapan hijriyah, Maria melahirkan bayinya yang kemudian Rasulullah memberinya nama Ibrahim seperti nama bapak para nabi, Ibrahim. Kaum muslimin menyambut kelahiran putra Rasulullah dengan gembira.
Akan tetapi, di kalangan istri Rasul lainnya api cemburu tengah membakar, suatu perasaan yang Allah ciptakan dominan pada kaum wanita. Rasa cemburu semakin tampak bersamaan dengan rahasia pertemuan Rasulullah dengan Maria di rumah Hafshah saat Hafshah tidak berada di rumahnya. Hal ini menyebabkan Hafshah marah. Atas kemarahan Hafshah itu Rasulullah rnengharamkan Maria atas diri beliau. Allah pun menegur Rasulullah lewat firman-Nya:
“Hai Muhammad, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ (QS. At-Tahriim:1)
Aisyah mengungkapkan rasa cemburunya, “Aku tidak pernah cemburu kepada wanita kecuali kepada Maria karena dia berparas cantik dan Rasulullah sangat sayang kepadanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, lalu dia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, beliau sering kali di sana siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kamar atas, tetapi beliau tetap mendatangi tempat itu. Sungguh itu lebih menyakitkan bagi kami.” Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Allah memberinya anak, sementara kami tidak dikaruni anak seorang pun.”
Beberapa orang Munafiqun bergunjing, menuduh Maria telah melahirkan anak hasil perbuatannya dengan Maburi, budak yang menemaninya dari Mesir dan kemudian menjadi pelayan Maria. Akan tetapi, Allah membukakan kebenaran untuk diri Maria setelah Ali menemui Maburi dengan pedang terhunus. Maburi menuturkan bahwa dirinya adalah laki-laki yang telah dikebiri oleh raja.
Pada usianya yang kesembilan belas bulan, Ibrahim jatuh sakit sehingga meresahkan kedua orang tuanya. Maria bersama Sirin senantiasa menunggui Ibrahim. Suatu malam, ketika sakit Ibrahim bertambah parah, dengan perasaan sedih Nabi bersama Abdurrahman bin Auf pergi ke rumah Maria. Ketika Ibrahim dalam keadaan sekarat, Rasulullah bersabda, “Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai anakku Ibrahim.”
Tanpa beliau sadari, air mata telah bercucuran. Ketika Ibrahim meninggal dunia, beliau kembali bersabda, “Wahai Ibrahim, seandainya ini bukan perintah yang haq, janji yang benar, dan masa akhir kita yang menyusuli masa awal kita, niscaya kami akan merasa sedih atas kematianmu lebih dari ini. Kami semua merasa sedih, wahai Ibrahim… Mata kami menangis, hati kami bersedih, dan kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan murka Allah.”
Demikianlah keadaan Nabi ketika menghadapi kematian putranya. Walaupun tengah berada dalam kesedihan, beliau tetap berada dalam sikap yang tegar sehingga tetap menjadi contoh ketika menghadapi cobaan besar. Rasulullah mengurus sendiri jenazah Ibrahim kemudian beliau menguburkannya di Baqi’.
Setelah Rasulullah wafat, Maria hidup menyendiri dan menjalani hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Dia wafat lima tahun setelah wafatnya Rasulullah, yaitu pada tahun ke-46 hijrah, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah sendiri yang menyalati jenazah Maria, kemudian dikebumikan di Baqi’.
Semoga Allah menempatkannya pada kedudukan yang mulia dan penuh berkah. Amin.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١) قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ وَاللَّهُ مَوْلاكُمْ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (٢) وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ (٣)إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ (٤)عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا
(٥)
Terjemah Surat At Tahrim Ayat 1-51. [1] [2]Wahai Nabi![3] Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu[4]?
Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[5].
2. Sungguh, Allah telah mewajibkan kepadamu membebaskan diri dari sumpahmu[6]; dan Allah adalah Pelindungmu[7] dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana[8].
3. Dan ingatlah ketika secara rahasia Nabi membicarakan suatu peristiwa kepada salah seorang istrinya (Hafsah)[9]. Lalu dia (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah)[10] dan Allah memberitahukan peristiwa itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepadanya (Nabi), lalu (Nabi) memberitahukan (kepada Hafsah) sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain[11]. Maka ketika dia (Nabi) memberitahukan pembicaraan itu kepadanya (Hafsah), dia bertanya, "Siapa yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab, "Yang memberitahukan kepadaku adalah Allah Yang Maha Mengetahui lagi Mahateliti."
4. Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh, hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan)[12]; dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, Maka sesungguhnya Allah menjadi Pelindungnya dan (juga) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain itu malaikat-malaikat adalah penolongnya[13].
5. [14]Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh Jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu, perempuan-perempuan yang patuh[15], yang beriman[16], yang taat[17], yang bertobat[18], yang beribadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan[19]
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١) قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ وَاللَّهُ مَوْلاكُمْ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (٢) وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ (٣)إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ (٤)عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا (٥)
Terjemah Surat At Tahrim Ayat 1-51. [1] [2]Wahai Nabi![3] Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu[4]? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[5].
2. Sungguh, Allah telah mewajibkan kepadamu membebaskan diri dari sumpahmu[6]; dan Allah adalah Pelindungmu[7] dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana[8].
3. Dan ingatlah ketika secara rahasia Nabi membicarakan suatu peristiwa kepada salah seorang istrinya (Hafsah)[9]. Lalu dia (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah)[10] dan Allah memberitahukan peristiwa itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepadanya (Nabi), lalu (Nabi) memberitahukan (kepada Hafsah) sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain[11]. Maka ketika dia (Nabi) memberitahukan pembicaraan itu kepadanya (Hafsah), dia bertanya, "Siapa yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab, "Yang memberitahukan kepadaku adalah Allah Yang Maha Mengetahui lagi Mahateliti."
4. Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh, hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan)[12]; dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, Maka sesungguhnya Allah menjadi Pelindungnya dan (juga) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain itu malaikat-malaikat adalah penolongnya[13].
5. [14]Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh Jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu, perempuan-perempuan yang patuh[15], yang beriman[16], yang taat[17], yang bertobat[18], yang beribadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan[19].
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-at-tahrim-ayat-1-12.html#sthash.TmH2BNB2.dpuf
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu, kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. At-Tahrim [66]: 1-2)
Dengan usainya Perang Tabuk, maka selesailah amanat Allah diajarkan ke seluruh Jazirah Arab.
Dan Rasulullah sudah merasa aman dari setiap permusuhan yang akan ditujukan kepada agama Islam.
Utusan-utusan dari pelbagai daerah datang menghadap beliau dengan menyatakan kesetiaan serta mengumumkan keislaman mereka. Perang Tabuk bagi Rasulullah merupakan ekspedisi terakhir. Sesudah itu, beliau menetap di Madinah.
Perjanjian Hudaibiyah tidak dapat disangkal merupakan satu kemenangan umat Islam yang tidak disadari oleh kaum Musyrikin. Sebab lewat perjanjian damai itu, Islam kemudian mampu menyebar luas hingga keluar kota Makkah dan Madinah, bahkan sampai ke pelosok negeri lain. Perjanjian perdamaian itu juga menjadi satu bukti bahwa penyebarluasan agama Islam bukan akibat dari sebilah pedang atau peperangan. Sebaliknya, Islam menyebar dengan jiwa kasih sayang, rasa damai dan yang lebih penting lagi; teladan dari kehidupan nabi yang menebarkan pesona dan ketakjuban bagi siapa pun. Tidak salah, jika dalam waktu singkat -–pada masa perjanjian Hudaibiyah itu—Islam diam-diam merambah ke berbagai wilayah dan pengikut Muhammad menjadi bertambah.
Kenyataan itu menegaskan bahwa Islam adalah agama untuk semua umat manusia yang menghuni bumi ini dan bukan hanya bagi penduduk Madinah dan Makkah.
Karena itu, setelah berjuang dengan penuh penderitaan di Makkah dan Madinah, nabi Muhammad menyeru Islam ke beberapa negara tetangga. Sepulang dari Hudaibiyah, rasul segera mengumpulkan semua pengikutnya dan mengumumkan bahwa pada saat itu adalah moment yang tepat menyebarkan pesan-pesan Islam hingga ke mancanegara. Dan para sahabat menerima misi itu dengan suka cita. Maka, mulailah nabi Muhammad mengirimkan utusan untuk menyampaikan surat ajakan kepada beberapa raja negara tetangga.
Dari sekian raja di negeri tetangga, salah satu penguasa yang mendapatkan surat dari nabi itu adalah Raja al-Muqauqis, penguasa kaum Koptik di Mesir. Dan yang membawa surat nabi itu adalah Khatib bin Abi Balta`ah. Raja menyambut Khatib serta menerima pesan nabi itu dengan penuh penghargaan. Raja al-Muqauqis juga mau membaca surat nabi, dan setelah membaca dengan seksama, sang raja meletakkan surat itu kemudian meminta kepada Khatib untuk menjelaskan sifat dan perangai rasulullah.
Khatib lalu bercerita tentang diri nabi. Dan ternyata perangai nabi yang diceritakan Khatib itu tidak melenceng dari sifat seorang nabi yang akan datang yang sudah raja ketahui dari kitab suci terdahulu. Seketika itu, raja tidak ragu untuk mengakui kenabian Muhammad. Akan tetapi, yang menjadi persoalan adalah, raja takut kalau bangsa Koptik Mesir tidak mau menerima pesan tersebut. Di samping itu, juga ada kekhawatiran mengenai posisinya kalau rakyat kemudian melakukan pemberontakan. Akhirnya, raja menerima pesan nabi itu secara pribadi dan saat Khatib pulang, raja menitipkan pesan lewat surat kepada nabi, juga mengirim hadiah buat nabi. Di antara hadiah itu adalah seekor keledai putih dan dua budak perempuan, Mariyah al-Qibthiyah dan saudara perempuannya bernama Sirin. Rasulullah memilih Mariyah dan memberikan Sirin kepada Hasan bin Tsabit.
Mariyah memang seorang budak, tetapi ia sebenarnya memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan orang Koptik. Ia adalah putri dari Syam`un. Setelah dijadikan sebagai hadiah buat nabi, Mariyah pun memeluk Islam. Rasul kemudian menempatkan Mariyah di Al-Aliyah (sebuah kebun yang kemudian dikenal dengan sebutan Masyrabah Ummu Ibrahim) dan rasulullah kerap mondar-mandir di kebun tersebut menemui Mariyah.
***
Pada suatu hari, Hafshah (anaknya sohabat Umar, seorang istri nabi) pergi keluar rumah. Padahal di hari itu, adalah jadwal rasulullah mendatangi rumah Hafshah. Entah kenapa, Hafshah justru pergi ke rumah ayahnya, Umar bin Khattab dan bercengkrama dengan sang ayah. Di saat Hafshah sedang pergi itulah, rasul mendatangi budak wanita beliau, Mariyah dan kemudian mengajak pergi ke rumah Hafshah.
Tak lama kemudian Hafshah pulang ke rumah. Betapa terkejutnya Hafshah mendapati budak wanita itu dan rasulullah berada di rumahnya. Ia kaget. Tapi ia menunggu budak wanita itu keluar, meski dengan rasa cemburu yang meledak-ledak. Mengetahui jika Hafshah datang, rasulullah pun menyuruh budak wanita itu keluar dan masuklah Hafshah ke dalam. Seketika itu juga, Hafshah langsung berkata pada Rasulullah,
“Sungguh aku tahu orang yang ada di sampingmu tadi. Demi Allah, sungguh engkau telah menyakitiku.”
Rasul menjawab, “Demi Allah, aku pasti meminta keridhaanmu. Aku akan merahasiakan sebuah rahasia kepadamu, oleh karena itu, jagalah rahasia tersebut.”
Hafshah sedikit tenang, dan penasaran sehingga bertanya, “Rahasia apa itu?”
Rasul berkata, “Aku bersaksi kepadamu bahwa budak wanitaku (Mariyah) ini haram bagiku demi mendapatkan keridhaanku.”
Dari raut muka Hafshah, Rasul mendapatkan kesan tertentu dari perkataan Hafshah yang tersakiti. Karenanya, rasul ingin menghibur sehingga secara rahasia beliau membisikkan kepada Hafsah bahwa Mariyah haram bagi beliau, seraya meminta Hafshah menyembunyikan rahasia itu untuk tidak memberitahukan kepada seorang pun dari istri-istri beliau yang lain.
Tetapi Hafshah ternyata tidak menyembunyikan rahasia itu. Di hari esok, Hafshah bahkan mendatangi rumah Aisyah dan menceritakan rahasia tersebut, “Berbahagialah engkau, sesungguhnya rasulullah telah mengharamkan budak wanita beliau bagi beliau.”
Rahasia yang semula hanya diketahui oleh Hafshah itupun terkuak dan Aisyah jadi tahu sehingga berita (rahasia) itu tersebar kepada istri-istri beliau yang lain pula. Lebih dari itu, Aisyah minta pula agar Mariyah tidak tinggal sekota dengan Rasulullah. Jelas, peristiwa itu membuat rasulullah marah dan bersumpah tidak akan mendekati istri-istrinya selama satu bulan.
Kemarahan Rasul itu, karena Rasul diberitahu oleh Allah jika rahasia itu sudah tak lagi menjadi rahasia lagi. Ketika Hafshah menceritakan rahasia itu pada Aisyah, Allah telah memperlihatkan kejadian itu kepada Rasulullah lewat wahyu dengan turunnya ayat suci, yakni ayat-ayat pertama surat al-Tahrim. “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Tahrim 1-2).
Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah, para ulama berbeda pendapat menyangkut ucapan nabi yang dikemukakan dalam sebab turun surat ini. Ada yang menilainya kalau ucapan nabi itu sebagai sumpah karena komitmen nabi kepada Hafshah itu dinilai serupa sumpah. Ada juga yang tidak menilainya sebagai sumpah. Yang menilainya sumpah, berbeda pendapat; apakah beliau membatalkan sumpahnya atau tidak. Alasan yang berpendapat bahwa beliau tidak membatalkan adalah ayat di atas yang menyatakan bahwa Allah Maha Pengampun, yakni Allah telah mengampuni beliau sehingga tidak perlu membatalkannya dengan kaffarat.
Ada juga yang berpendapat bahwa beliau menebus sumpah itu dengan memerdekakan hamba, berdasar QS. al-Maidah [5]: 89 yang menegaskan bahwa, “Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluarga kamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kffarat-nya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpah kamu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar).
Dalam ayat berikutnya, al-Quran menjelaskan asal mula peristiwa yang mengundang turunnya teguran itu, “Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah), dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitahukan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah).
Maka tatkala (Muhammmad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya, ‘Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?’ Nabi menjawab, ‘Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.’ Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mu’min yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan (QS. At-Tahrim [66]: 3-5).
Lebih lanjut, Quraish Shihab menjelaskan bahwa setelah turunnya ayat-ayat di atas, hati nabi kembali menjadi tenang. Meski demikian, ayat-ayat di atas secara tidak langsung menggambarkan satu sisi dari kehidupan nabi Muhammad, seorang nabi yang memiliki tugas suci dalam menyampaikan risalah Ilahi dan pada saat yang sama juga tidak bisa keluar dari sifat kemanusaannya. Di sana digambarkan satu upaya nabi merayu dan membujuk pasangan, ada rahasia pribadi yang dibisikkan, diminta untuk merahasiakan, ada dorongan seksual, ada rasa marah, ada juga perasaan cemburu dan bersamaan dengan itu semua ada bimbingan dan pengarahan Allah, karena tuntunan risalah Islamiyah bukannya mencabut potensi dan bawaan manusia tetapi ia adalah ajaran yang sesuai dengan fitrah sehingga ia mengukuhkan dan mengarahkannya ke arah yang benar.
***
Setelah Rasulullah tahu, Hafshah merasa bersalah atas apa yang diperbuatnya, yakni menyebarkan rahasia Rasulullah berkenaan dengan Mariyah itu kepada Aisyah. Hafshah pun kemudian memberitakan bahwa nabi Muhammad telah menceraikannya. Umar mengetahui hal itu. Ia lalu menaburkan tanah di atas kepada putrinya, Hafshah sebagai tanda penyesalan, seraya berkata, “Allah tidak peduli dengan Umar dan putrinya”.
Pada hari esoknya, malaikat Jibril datang kepada Nabi, dan berkata, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu untuk kembali kepada Hafshah sebagai rahmat bagi Umar.”
Ketika itu, Rasul sedang berada di masjid untuk menjauhkan diri dari istri-istrinya. Sebagian orang berkata bahwa Rasulullah telah menceraikan istri-istrinya. Umar berusaha menemui Nabi dan ia berkata kepada salah seorang budak, bernama Rabah untuk memintakan izin kepada rasulullah baginya untuk bertemu.
“Hai Rabah, mintakan izin bagiku untuk bertemu Rasulullah. Sesungguhnya aku datang karena Hafshah. Demi Allah, apabila beliau menyuruhku mendera batang leher Hafshah, niscaya akan aku dera.”
Rasulullah mendengar hal itu dan beliau memberikan izin kepada Umar untuk masuk. Betapa sedihnya hati Umar ketika melihat keadaan Rasulullah ketika itu, sehingga membuat Umar kemudian berkata, ““Ya, Rasulullah, apakah yang menyusahkan Anda tentang hal wanita? Jika Anda menceraikan mereka, maka sesungguhnya Allah bersamamu, begitu pula malaikat-Nya dan Jibril; sedang aku, Abu Bakar dan kaum mu`minin, bersama Anda.”
Lalu Rasulullah memberitahukan kepada Umar bin Khattab bahwa beliau sesungguhnya tidak menceraikan mereka, tetapi sedang menjauhkan diri selama sebulan sebagai pelajaran bagi mereka. Maka, keluarlah Umar dari tempat Rasulullah untuk menerangkan kepada kaum muslimin bahwa nabi tidak menceraikan istri-istrinya dan terjadinya peristiwa itu, tidak ada maksud lain, kecuali sebagai pelajaran bagi istri-istri nabi.
***
Dengan usainya Perang Tabuk, maka selesailah amanat Allah diajarkan ke seluruh Jazirah Arab. Dan Rasulullah sudah merasa aman dari setiap permusuhan yang akan ditujukan kepada agama Islam.
Hari-hari berlalu dengan beberapa peristiwa yang terjadi bersamanya, di antaranya kelahiran Ibrahim dari kandungan Mariyah. Allah memberikan anugrah kepada Rasul dengan kelahiran seorang anak lelaki dari Mariyah, Ibrahim, yang kelahirannya menjadi kebanggaan tersendiri. Madinah al-Munawwarah beserta seluruh kaum muslimin merasa beruntung dengan lahirnya Ibrahim, sehingga Mariyah sendiri semakin mendapatkan tempat di hati rasulullah yang mulia.
Apabila beliau selesai menerima para utusan, mengurus masalah-masalah kaum Muslimin, menunaikan kewajiban kepada Allah serta hak kewajiban seluruh keluarganya, beliau selalu melihat Ibrahim dan mengawasi pertumbuhannya. Cinta kasih Rasulullah kepada Ibrahim semakin dalam. Dan sepanjang bulan itu, yang menjadi pengasuh Ibrahim adalah Ummu Saif, yang menyusuinya.
Cinta kasih Rasulullah kepada Ibrahim bukan karena suatu maksud pribadi yang ada hubungannya dengan risalah yang beliau bawa, atau nanti Ibrahim disiapkan menjadi penggantinya. Rasulullah tidak memikirkan anak atau siapa yang akan mewarisinya. Bahkan beliau bersabda, "Kami para Nabi, tidak dapat diwarisi. Apa yang kami tinggalkan untuk sedekah."
Dan cinta kasih kepada Ibrahim ini kian mendalam, karena sebelumnya beliau telah kehilangan kedua puteranya—Qasim dan Tahir—saat keduanya masih bayi dalam pangkuan Khadijah Al-Kubra. Setelah Khadijah wafat, Rasulullah kehilangan putri satu demi satu, setelah mereka bersuami dan menjadi ibu. Sekarang tak ada lagi yang masih hidup selain Fatimah.
Tanggal 18 Rajab tahun 10 Hijrah
Ibrahim menderita sakit setelah mencapai usia dua tahun(19 bulan), Dengan penuh kasih, Mariyah (ibunya) merawat anak itu dibantu oleh bibinya, Sirin yang juga saudara perempuan ibunya. Melihat putranya yang masih kecil itu merintih dengan pedih karena sakitnya yang keras, Rasulullah menyandarkan diri dan berkata, “Sesungguhnya kami, wahai Ibrahim, tidak kuasa melepaskan kamu sidikit pun dari (takdir) Allah.“
Akhirnya, beliau mengucapkan salam bagi ruh Ibrahim, membungkuk dan menciumnya. Dengan air mata yang mengalir dari kelopak mata dan hati yang sedih, beliau berkata, “Namun kami tidak berkata selain apa yang direlai Allah. Dan sesungguhnya kami, wahai Ibrahim, sedih berpisah denganmu. Sesungguhnya kita adalah makhluk Allah dan kepada-Nya kita semua akan kembali…”
Jenazah Ibrahim putra Rasulullah, dipersiapkan untuk dimakamkan. Rasul bersama kaum muslimin kemudian pergi mengantarkannya. Rasulullah yang mulai melakukan shalat atas jenazah putranya dan memasukkannya ke dalam makamnya, kemudian bersama orang-orang yang mengantarkan, kembali pulang dengan perasaan teramat sedih. Akan tetapi, sewaktu dalam perjalanan pulang itu, orang-orang melihat gerhana matahari. Entah kenapa, beberapa orang berkata, “Gerhana itu terjadi karena wafatnya Ibrahim.”
Tatkala mendengar apa yang diucapkan orang-orang, Rasul bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana itu bukan karena mati atau hidupnya seseorang.”
عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ: كَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ النَّاسُ: كَسَفَتْ الشَّمْسُ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ
Dari Al-Mughirah bn Syu’bah, ia berkata,”Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah saw. (yaitu) pada hari wafatnya Ibrahim (putra Nabi). Kemudian orang-orang berkata,’Terjadinya gerhana matahari itu karena wafatnya Ibrahim. Kemudian Rasulullah saw. bersabda,’Sesungguhnya matahari dan bulan itu tidak gerhana karena wafat seseorang dan tidak karena hidupnya seseorang. Maka apabila kalian melihat (kejadian gerhana), maka shalatlah dan berdoalah kepada Allah.(Shahih Al-Bukhari,I:228 no.1043)
Mariyah al-Qibtiyah sendiri, ibu Ibrahim akhirnya wafat pada bulan Muharram pada tahun 16 H. Meski demikian, sebutan wanita ini tetap hidup di dalam al-Qur`an (surat at-Tahrim). Ia disebut-sebut orang sebagai putri Mesir yang lahir di tepi sungai Nil, sebelah timur Negeri Shiffin, di daratan tinggi Mesir. (n. mursidi)
-----------------
Putra - putri Nabi
Al-Qasim, seorang laki-laki, anak pertama Rasulullah saw. yang dilahirkan dan meninggal sebelum masuk masa kenabian (masa mulai turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw.), ketika meninggal ia masih berusia dua tahun.Abdullah, putra Nabi saw. yang disebut juga at-Thayyib dan at-Thahir, ada pula yang berpendapat bahwa nama lainnya adalah at-Thayyib bukan at-Thahir. Mengenai kelahirannya ada yang berpendapat bahwa ia lahir ketika telah masuk masa kenabian, tetapi ada pula yang mengatakan kalau ia tak pernah menemui masa kenabian.
Zainab, anak perempuan Rasulullah saw. yang tertua. Melahirkan anak yang bernama ‘Aliy dan Yahya yang keduanya meninggal waktu masih kecil.
Ruqayyah, putri Rasulullah saw. yang diperistri oleh Utsman bin Affan. Beliau melahirkan seorang anak yang bernama Abdullah. Putri Rasulullah saw. ini wafat pada hari ketika Zaid bin Haritsah menyampaikan berita gembira tentang kemenangan kaum muslimin dalam pertempuran Badar.
Ummu Kultsum, putri Nabi saw. yang dinikahi Utsman bin Affan setelah saudarinya (Ruqayyah) wafat. Ummu Kultsum wafat pada bulan Sya’ban tahun 9 Hijriyah tanpa memiliki anak.
Fathimah (Fatimah), putri Nabi saw. yang diperistri oleh ‘Ali bin Abi Thalib. Beliau melahirkan anak yang bernama Hasan, Husain, Muhsin, Ruqayyah, Zainab dan Ummu Kultsum. Adapun Muhsin dan Ummu Kultsum meninggal waktu masih kecil.
Ibrahim, putra Rasulullah yang meninggal saat berumur tujuh puluh malam, ada pula yang mengatakan saat berusia tujuh bulan dan yang lain berpendapat berumur delapan bulan.
Putra-putri Nabi Muhammad saw. yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah dilahirkan di Makkah oleh istri Nabi saw. yang pertama, yaitu Khadijah r.a.
Semua putri Rasulullah saw. pernah mengalami masa kenabian, masuk Islam dan turut berhijrah ke Madinah.
Adapun Ibrahim dilahirkan di Madinah oleh istri Nabi saw. yang bernama Maria al-Qibthiyyah (orang Mesir).
Semua anak-anak Nabi saw. meninggal saat beliau masih hidup, kecuali Fathimah yang wafat paling akhir, yakni tujuh bulan setelah wafatnya Rasulullah saw.
Mengapa Semua Putra Nabi Diwafatkan Masih Kecil?
Sebagaimana yang telah diterangkan di atas, putra-putra Rasulullah saw. (al-Qasim, Abdullah dan Ibrahim) semuanya meninggal ketika masih kecil, sehingga keturunan Rasulullah saw. diteruskan lewat anak perempuan beliau. Mengapa bukan dari anak laki-lakinya dan mengapa pula mereka diwafatkan sewaktu masih kecil?
Ini karena Nabi Muhammad saw. telah ditetapkan sebagai nabi terakhir sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT. dalam al-Qur’an Surah al-Ahzab ayat 40 yang artinya:
“…tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Al Ahzab: 40"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".(QS. 33:40)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 40
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (40)
Tatkala Rasulullah saw nikah dengan Siti Zainab, banyak orang-orang munafikin yang mencela pernikahan itu karena dipandang sebagai menikahi bekas istri anaknya sendiri. Maka Allah menurunkan ayat ini yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw tidak usah khawatir tentang cemoohan dan kritikan orang-orang yang mengatakan bahwa beliau menikahi bekas istri anaknya, karena Zaid itu bukan anak kandung beliau pribadi tetapi hanya sebagai anak angkat saja. Dan Muhammad bukan sekali-kali bapak dari seorang laki-laki di antara umatnya akan tetapi ia adalah utusan Allah dan Nabi-Nya yang penutup. Tidak ada Nabi lagi setelah beliau. Dan Nabi Muhammad saw itu adalah bapak dari setiap orang kaum muslimin dalam segi kehormatan dan kesayangan, sebagaimana setiap Rasul pun adalah bapak dari sekalian umatnya Muhammad itu bukan bapak dari seorang laki-laki dan umatnya dengan pengertian "bapak" dalam segi keturunan yang menyebabkan haramnya musaharah, akan tetapi beliau adalah bapak dari segenap kaum mukminin dalam segi agama, sebagaimana beliau pula mempunyai rasa kasih sayang kepada seluruh umatnya untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat seperti kesayangan seorang ayah terhadap anak-anaknya.Putra-putri Nabi saw dari Siti Khadijah tiga orang, yaitu Qasim, Tayyib dan Tahir di mana semuanya meninggal dunia sebelum balig. Dan dari Mariya Qibtiyah seorang anak laki-laki bernama Ibrahim yang juga meninggal ketika masih kecil. Dan empat anak perempuan dari Siti Khadijah yaitu Zainab, Rokayyah, Ummu Kalsum dan Fatimah. Yang tiga pertama meninggal setelah enam bulan Nabi wafat. Dan Allah Taala Maha Mengetahui segala sesuatu siapa yang diangkat sebagai Nabi-Nabi yang terdahulu dan siapa yang diangkat sebagai Nabi penutup.
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 40
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (40)
(Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian) dia bukan bapak Zaid, Zaid bukanlah anaknya, maka tidak diharamkan baginya untuk mengawini bekas istri anak angkatnya yaitu Zainab (tetapi dia) adalah (Rasulullah dan penutup nabi-nabi) artinya tidak akan lahir lagi nabi sesudahnya.Dan menurut suatu qiraat dibaca Khataman Nabiyyiina, sama dengan alat untuk mencap atau cincin, yang maksudnya sesudah dia para nabi dilak atau ditutup. (Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu) antara lain Dia mengetahui bahwa tidak akan ada nabi lagi sesudah Nabi Muhammad saw. seumpama Nabi Isa turun nanti, maka ia akan memerintah dengan memakai syariat Nabi Muhammad.
Terkait :
Dalil-Dalil Gerhana Bulan KhusufDalil-Dalil Gerhana Bulan Khusuf
Ayo Sahabat, rapatkan barisan, kita persiapkan diri untuk Shalat Gerhana Bulan nanti subuh/jam 3 dini hari. Untuk menambah motivasi kita melaksanakannya, berikut saya paparkan dalil-dalilnya:
فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ. وَخَسَفَ الْقَمَرُ
Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya (Q.S. Al-Qiyamah:7-8)اَلْخُسُوْفُ لِلْقَمَرِ وَالْكُسُوْفُ لِلشَّمْسِ، وَقِيْلَ الْكُسُوْفُ فِيْهِمَا إِذَا زَالَ بَعْضُ ضَوْءِهِمَا، وَالْخُسُوْفُ إِذَا ذَهَبَ كُلُّهُ.
Khusuf
itu untuk bulan. Sedangkan Kusuf untuk matahari. Ada yang menyatakan
kusuf itu untuk kedunya apabila hilang sebagian cahayanya. Sedangkan
khusuf apabila hilang seluruhnya.
(Mufradat Alfazhil Quran:149)
(Shahih Al-Bukhari,I:228 no.1043)
(Mufradat Alfazhil Quran:149)
(وَخَسَفَ الْقَمَرُ)
أَيْ ذَهَبَ ضَوْءُهُ، كَمَا نَعْقِلُهُ مِنْ حَالِهِ فِي الدُّنْيَا، إِلاَّ أَنَّ الْخُسُوْفَ فِي الدُّنِيَا إِلَى انْجِلاَءٍ، وَفِي اْلآخِرَةِ لاَيَعُوْدُ ضَوْءُهُ
WA KHASAFAL QOMAR yaitu: hilang cahaya-nya. Sebagaimana kita memahaminya dari keadaan-nya di dunia. Akan tetapi khusuf di dunia itu hingga terang. Sedangkan di akhirat cahayanya tidak akan kembali lagi. (Tafsir Al-Maraghi,XXIX:148)عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ: كَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ النَّاسُ: كَسَفَتْ الشَّمْسُ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ
Dari Al-Mughirah bn Syu’bah, ia berkata,”Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah saw. (yaitu) pada hari wafatnya Ibrahim (putra Nabi). Kemudian orang-orang berkata,’Terjadinya gerhana matahari itu karena wafatnya Ibrahim. Kemudian Rasulullah saw. bersabda,’Sesungguhnya matahari dan bulan itu tidak gerhana karena wafat seseorang dan tidak karena hidupnya seseorang. Maka apabila kalian melihat (kejadian gerhana), maka shalatlah dan berdoalah kepada Allah.(Shahih Al-Bukhari,I:228 no.1043)
عَنْ عَائِشَةَ قالت : فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُو
Dari
Aisyah… (Beliau bersabda), “Apabila kalian melihat hal itu, maka
berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bershodaqohlah”.
(Shahih Al-Bukhari,I:220 no.1044)
(Shahih Al-Bukhari,I:220 no.1044)
وَمِنْ أايَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لاَ تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
(الفصلت : ٣٧)
Dan sebagian dari
tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan.
Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan,
tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya
kepada-Nya saja menyembah.
(Q.S. Fushilat:37)
(Q.S. Fushilat:37)
Terkait :
Maria Qibti dan wafatnya Ibrahim putra NabiMaria Al Qibtiyah istri Nabi
Siapakah Maria Al Qibtiyah yang Jelita itu?
Ketika berbicara nama Maria Al Qibtiyah maka ingatan kita akan senantiasa tertuju kepada surat ke 66 ayat pertama :
Seperti halnya Sayyidah Raihanah binti Zaid, Mariyah al-Qibtiyah adalah budak Rasulullah yang kemudian beliau bebaskan dan beliau nikahi. Rasulullah memperlakukan Mariyah sebagaimana beliau memperlakukan istri-istri beliau yang lainnya. Abu Bakar dan Umar pun memperlakukan Mariyah layaknya seorang Ummul-Mukminin. Dia adalah istri Rasulullah satu-satunya yang melahirkan seorang putra, Ibrahirn, setelah Khadijah.
A. Dari Mesir ke Yastrib
Tentang nasab Mariyah, tidak banyak yang diketahui selain nama ayahnya. Nama lengkapnya adalah Mariyah binti Syama’un dan dilahirkan di dataran tinggi Mesir yang dikenal dengan nama Hafn. Ayahnya berasal dan Suku Qibti, dan ibunya adalah penganut agarna Masehi Romawi. Setelah dewasa, bersarna saudara perempuannya, Sirin, Mariyah dipekerjakan pada Raja Muqauqis.
Rasulullah saw. mengirim surat kepada Muqauqis melalui Hatib bin Baltaah, rnenyeru raja agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima Hatib dengan hangat, namun dengan ramah dia menolak memeluk Islam, justru dia mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah. Di tengah perjalanan Hatib rnerasakan kesedihan hati Mariyah karena harus rneninggalkan kampung halamannya. Hatib rnenghibur mereka dengan menceritakan Rasulullah dan Islam, kemudian mengajak mereka merneluk Islam. Mereka pun menerirna ajakan tersebut.
Rasulullah teläh menerima kabar penolakan Muqauqis dan hadiahnya, dan betapa terkejutnya Rasulullah terhadap budak pemberian Muqauqis itu. Beliau mengambil Mariyah untuk dirinya dan menyerahkan Sirin kepada penyairnya, Hasan bin Tsabit. Istri-istri Nabi yang lain sangat cemburu atas kehadiran orang Mesir yang cantik itu sehingga Rasulullah harus menitipkan Mariyah di rumah Haritsah bin Nu’man yang terletak di sebelah rnasjid.
B. Ibrahim bin Muhammad saw.
Allah menghendaki Mariyah al-Qibtiyah melahirkan seorang putra Rasulullah setelah Khadijah r.a. Betapa gembiranya Rasulullah mendengar berita kehamilan Mariyah, terlebih setelah putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, dan Ruqayah meninggal dunia.
Mariyah mengandung setelah setahun tiba di Madinah. Kehamilannya membuat istri-istri Rasul cemburu karena telah beberapa tahun mereka menikah, namun tidak kunjung dikaruniai seorang anak pun. Rasulullah menjaga kandungan istrinya dengan sangat hati-hati. Pada bulan Dzulhijjah tahun kedelapan hijrah, Mariyah melahirkan bayinya yang kemudian Rasulullah memberinya nama Ibrahim demi mengharap berkah dari nama bapak para nabi, Ibrahim a.s.. Lalu beliau memerdekakan Mariyah sepenuhnya. Kaum muslimin menyambut kelahiran putra Rasulullah saw. dengan gembira.
Akan tetapi, di kalangan istri Rasul lainnya api cemburu tengah membakar, suatu perasaan yang Allah ciptakan dominan pada kaum wanita. Rasa cemburu sernakin tampak bersamaan dengan adanya pertemuan Rasulullah saw. dengan Mariyah di rumah Hafshah sedangkan Hafshah tidak berada di rumahnya.
Hal ini menyebabkan Hafshah marah. Atas kemarahan Hafshah itu Rasulullah rnengharamkan Mariyah atas diri beliau.
Kaitannya dengan hal itu, Allah SWT telah menegur lewat firman-Nya:
Aisyah mengungkapkan rasa cemburunya kepada Mariyah, “Aku tidak pernah cemburu kepada wanita kecuali kepada Mariyah karena dia berparas cantik dan Rasulullah sangat tertarik kepadanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, lalu dia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, beliau sering kali di sana siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kamar atas, tetapi beliau tetap mendatangi tempat itu. Sungguh itu lebih menyakitkan bagi karni.” Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Allah memberinya anak, sementara kami tidak dikaruni anak seorang pun.”
Beberapa orang dari kalangan golongan munafik menuduh Mariyah telah melahirkan anak hasil perbuatan serong dengan Maburi, budak yang menemaninya dari Mesir dan kemudian menjadi pelayan bagi Mariyah. Akan tetapi, Allah membukakan kebenaran untuk diri Mariyah setelah Ali ra. menemui Maburi dengan pedang terhunus. Maburi menuturkan bahwa dirinya adalah laki-laki yang telah dikebiri oleh raja.
Pada usianya yang kesembilan belas bulan, Ibrahim jatuh sakit sehingga meresahkan kedua orang tuanya. Mariyah bersama Sirin senantiasa menunggui Ibrahim. Suatu malarn, ketika sakit Ibrahim bertambah parah, dengan perasaan sedih Nabi saw. bersama Abdurrahman bin Auf pergi ke rumah Mariyah. Ketika Ibrahim dalam keadaan sekarat, Rasulullah saw. bersabda, “Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai Ibrahim.”
Tanpa beliau sadari, air mata telah bercucuran. Ketika Ibrahim meninggal dunia, beliau kembali bersabda,
“Wahai Ibrahim, seandainya ini bukan penintah yang haq, janji yang benar, dan masa akhir kita yang menyusuli masa awal kita, niscaya kami akan merasa sedih atas kematianmu lebih dari ini. Kami semua merasa sedih, wahai Ibrahim… Mata kami menangis, hati kami bersedih, dan kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan murka Allah.”
Demikianlah keadaan Nabi saw ketika menghadapi kematian putranya. Walaupun tengah berada dalam kesedihan, beliau tetap berada dalam jalur yang wajar sehingga tetap menjadi contoh bagi seluruh manusia ketika menghadapi cobaan besar. Rasulullah saw. mengurus sendiri jenazah anaknya kemudian beliau menguburkannya di Baqi’.
C. Saat Wafatnya
Setelah Rasulullah wafat, Mariyah hidup menyendiri dan menujukan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Dia wafat lima tahun setelah wafatnya Rasulullah, yaitu pada tahun ke-46 hijrah, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah sendiri yang menyalati jenazah Sayyidah Mariyah al-Qibtiyah, kemudian dikebumikan di Baqi’.
(Dinukil dari buku Dzaujatur-Rasulullah SAW, karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh)
Semoga Allah menempatkannya pada kedudukan yang mulia dan penuh berkah. Amin.
Ketika berbicara nama Maria Al Qibtiyah maka ingatan kita akan senantiasa tertuju kepada surat ke 66 ayat pertama :
يا أيها النبي لم تحرم ما أحل الله لك تبتغي مرضات أزواجك والله غفور رحيم
Artinya : “Hai Muhammad, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (QS. At-Tahriim:1)Seperti halnya Sayyidah Raihanah binti Zaid, Mariyah al-Qibtiyah adalah budak Rasulullah yang kemudian beliau bebaskan dan beliau nikahi. Rasulullah memperlakukan Mariyah sebagaimana beliau memperlakukan istri-istri beliau yang lainnya. Abu Bakar dan Umar pun memperlakukan Mariyah layaknya seorang Ummul-Mukminin. Dia adalah istri Rasulullah satu-satunya yang melahirkan seorang putra, Ibrahirn, setelah Khadijah.
A. Dari Mesir ke Yastrib
Tentang nasab Mariyah, tidak banyak yang diketahui selain nama ayahnya. Nama lengkapnya adalah Mariyah binti Syama’un dan dilahirkan di dataran tinggi Mesir yang dikenal dengan nama Hafn. Ayahnya berasal dan Suku Qibti, dan ibunya adalah penganut agarna Masehi Romawi. Setelah dewasa, bersarna saudara perempuannya, Sirin, Mariyah dipekerjakan pada Raja Muqauqis.
Rasulullah saw. mengirim surat kepada Muqauqis melalui Hatib bin Baltaah, rnenyeru raja agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima Hatib dengan hangat, namun dengan ramah dia menolak memeluk Islam, justru dia mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah. Di tengah perjalanan Hatib rnerasakan kesedihan hati Mariyah karena harus rneninggalkan kampung halamannya. Hatib rnenghibur mereka dengan menceritakan Rasulullah dan Islam, kemudian mengajak mereka merneluk Islam. Mereka pun menerirna ajakan tersebut.
Rasulullah teläh menerima kabar penolakan Muqauqis dan hadiahnya, dan betapa terkejutnya Rasulullah terhadap budak pemberian Muqauqis itu. Beliau mengambil Mariyah untuk dirinya dan menyerahkan Sirin kepada penyairnya, Hasan bin Tsabit. Istri-istri Nabi yang lain sangat cemburu atas kehadiran orang Mesir yang cantik itu sehingga Rasulullah harus menitipkan Mariyah di rumah Haritsah bin Nu’man yang terletak di sebelah rnasjid.
B. Ibrahim bin Muhammad saw.
Allah menghendaki Mariyah al-Qibtiyah melahirkan seorang putra Rasulullah setelah Khadijah r.a. Betapa gembiranya Rasulullah mendengar berita kehamilan Mariyah, terlebih setelah putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, dan Ruqayah meninggal dunia.
Mariyah mengandung setelah setahun tiba di Madinah. Kehamilannya membuat istri-istri Rasul cemburu karena telah beberapa tahun mereka menikah, namun tidak kunjung dikaruniai seorang anak pun. Rasulullah menjaga kandungan istrinya dengan sangat hati-hati. Pada bulan Dzulhijjah tahun kedelapan hijrah, Mariyah melahirkan bayinya yang kemudian Rasulullah memberinya nama Ibrahim demi mengharap berkah dari nama bapak para nabi, Ibrahim a.s.. Lalu beliau memerdekakan Mariyah sepenuhnya. Kaum muslimin menyambut kelahiran putra Rasulullah saw. dengan gembira.
Akan tetapi, di kalangan istri Rasul lainnya api cemburu tengah membakar, suatu perasaan yang Allah ciptakan dominan pada kaum wanita. Rasa cemburu sernakin tampak bersamaan dengan adanya pertemuan Rasulullah saw. dengan Mariyah di rumah Hafshah sedangkan Hafshah tidak berada di rumahnya.
Hal ini menyebabkan Hafshah marah. Atas kemarahan Hafshah itu Rasulullah rnengharamkan Mariyah atas diri beliau.
Kaitannya dengan hal itu, Allah SWT telah menegur lewat firman-Nya:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Hai Muhammad, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (QS. At-Tahriim:1)Aisyah mengungkapkan rasa cemburunya kepada Mariyah, “Aku tidak pernah cemburu kepada wanita kecuali kepada Mariyah karena dia berparas cantik dan Rasulullah sangat tertarik kepadanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, lalu dia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, beliau sering kali di sana siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kamar atas, tetapi beliau tetap mendatangi tempat itu. Sungguh itu lebih menyakitkan bagi karni.” Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Allah memberinya anak, sementara kami tidak dikaruni anak seorang pun.”
Beberapa orang dari kalangan golongan munafik menuduh Mariyah telah melahirkan anak hasil perbuatan serong dengan Maburi, budak yang menemaninya dari Mesir dan kemudian menjadi pelayan bagi Mariyah. Akan tetapi, Allah membukakan kebenaran untuk diri Mariyah setelah Ali ra. menemui Maburi dengan pedang terhunus. Maburi menuturkan bahwa dirinya adalah laki-laki yang telah dikebiri oleh raja.
Pada usianya yang kesembilan belas bulan, Ibrahim jatuh sakit sehingga meresahkan kedua orang tuanya. Mariyah bersama Sirin senantiasa menunggui Ibrahim. Suatu malarn, ketika sakit Ibrahim bertambah parah, dengan perasaan sedih Nabi saw. bersama Abdurrahman bin Auf pergi ke rumah Mariyah. Ketika Ibrahim dalam keadaan sekarat, Rasulullah saw. bersabda, “Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai Ibrahim.”
Tanpa beliau sadari, air mata telah bercucuran. Ketika Ibrahim meninggal dunia, beliau kembali bersabda,
“Wahai Ibrahim, seandainya ini bukan penintah yang haq, janji yang benar, dan masa akhir kita yang menyusuli masa awal kita, niscaya kami akan merasa sedih atas kematianmu lebih dari ini. Kami semua merasa sedih, wahai Ibrahim… Mata kami menangis, hati kami bersedih, dan kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan murka Allah.”
Demikianlah keadaan Nabi saw ketika menghadapi kematian putranya. Walaupun tengah berada dalam kesedihan, beliau tetap berada dalam jalur yang wajar sehingga tetap menjadi contoh bagi seluruh manusia ketika menghadapi cobaan besar. Rasulullah saw. mengurus sendiri jenazah anaknya kemudian beliau menguburkannya di Baqi’.
C. Saat Wafatnya
Setelah Rasulullah wafat, Mariyah hidup menyendiri dan menujukan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Dia wafat lima tahun setelah wafatnya Rasulullah, yaitu pada tahun ke-46 hijrah, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah sendiri yang menyalati jenazah Sayyidah Mariyah al-Qibtiyah, kemudian dikebumikan di Baqi’.
(Dinukil dari buku Dzaujatur-Rasulullah SAW, karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh)
Semoga Allah menempatkannya pada kedudukan yang mulia dan penuh berkah. Amin.
Jumat, 27 Februari 2015
Mantan Suami Kodijah al Kubro
assalamu'alaikum Wr Wb.......
pertanyaan titipan nih gan yg amhar mohon di jawab :-) ....:Baginda Rasullullah SAW kan menikahi siti khadijah RA, sdngkan Siti Khadijah RA dalam keadaan janda kan....
pertanyakan siapa nama suami Siti Khadijah sblum Nabiyyuna Muhammad Rasulullah SAW.....???? fauron 'ajiilan ditunggu jawabannya.....???
JAWABAN :
Siti Khodijah menikah dengan Nabi umur 40 tahun dan meninggal umur 65 tahun. Beliau seorang janda karena beliau sebelumnya telah menikah.
Mantan suami Siti Khodijah
Siti Khadijah menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi. Pernikahan itu membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun. Tak lama kemudian suaminya meninggal dunia, dengan meninggalkan kekayaan yang banyak, juga jaringan perniagaan yang luas dan berkembang. Lalu Siti Khadijah menikah lagi untuk yang kedua dengan Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al- Makhzumi. Setelah pernikahan itu berjalan beberapa waktu, akhirnya suami keduanya pun meninggal dunia, yang juga meninggalkan harta dan perniagaan.
coba cari di buku baitun nubuwwah, karya ulama indonesia. Semua istri nabi dan putri nabi di bahas tuntas di sana, bukunya tebel banget.
Wa'alaikumsalam
Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam Khadijah ra pernah menikah dua kali, yang pertama dengan ‘Atiiq Bin Abdillah Bin Makhzuum dan yang kedua dengan Abu Haalah Bin Zaraarah at-Tamimy.
“Adalah Khadijah sebelum dinikahi baginda Nabi berada dalam pernikahan ‘Aaid Bin Abdillah Bin Makhzuum, setelah ia meninggal, Khadijah menikah dengan Abu Haalah Bin Zaraarah at-Tamimy, setelah ia meninggal, Khadijah dinikahi oleh Rasulullah SAW setelah Khadijah menuturkan keinginannya untuk diperisteri oleh Nabi Muhammad SAW.
(Arwa’ al-Qaim al-Hadhriyyah Fii Sayrah I/6)
“Adalah Khadijah sebelum dinikahi baginda Nabi berada dalam pernikahan ‘Atiiq Bin ‘Aabid Bin ‘Abdillah Bin Amr Bin Makhzuum, Ibunya Fathimah Binti Zaaidah Bin Asham Bin Rawaahah Bin Hajar Bin Mu’iish Bin Luay. Bersama ‘Atiiq beliau dikaruniai puteri yang kemudian meninggal dunia.Setelah ‘Atiiq meninggal dunia, beliau menikah dengan Abu Haalah Bin Zaraarah Bin Nabbaas Bin Zaraarah Bin Habiib Bin Salaamah Bin Ghadzy Bin Jarwah Bin Usaid Bin Amr Bin Tamiim yang merupakan keturunan Abd ad-Daar Bin Qushay, pernikahan beliau dengan Halaah dikaruniai putera yang diberi nama Hindun Bin Abu Haalah.Setelah Abu Haalah meninggal, beliau menikah dengan Rasulullah SAW dengan membawa Hindun Bin Abu Haalah bersamanya, pernikahan beliau bersama Nabi dikaruniai delapan putera yaitu : Al-Qaasim, at-Thoyyib, at-Thoohir, Abdullah, Zaenab, Ruqayyah, Ummi Kultsum dan Fathimah az-zahraa.
(Taarikh at-Thobry II/211)
Wallahu A'lamu Bis showaab.
pertanyaan titipan nih gan yg amhar mohon di jawab :-) ....:Baginda Rasullullah SAW kan menikahi siti khadijah RA, sdngkan Siti Khadijah RA dalam keadaan janda kan....
pertanyakan siapa nama suami Siti Khadijah sblum Nabiyyuna Muhammad Rasulullah SAW.....???? fauron 'ajiilan ditunggu jawabannya.....???
JAWABAN :
Siti Khodijah menikah dengan Nabi umur 40 tahun dan meninggal umur 65 tahun. Beliau seorang janda karena beliau sebelumnya telah menikah.
Mantan suami Siti Khodijah
Siti Khadijah menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi. Pernikahan itu membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun. Tak lama kemudian suaminya meninggal dunia, dengan meninggalkan kekayaan yang banyak, juga jaringan perniagaan yang luas dan berkembang. Lalu Siti Khadijah menikah lagi untuk yang kedua dengan Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al- Makhzumi. Setelah pernikahan itu berjalan beberapa waktu, akhirnya suami keduanya pun meninggal dunia, yang juga meninggalkan harta dan perniagaan.
coba cari di buku baitun nubuwwah, karya ulama indonesia. Semua istri nabi dan putri nabi di bahas tuntas di sana, bukunya tebel banget.
Wa'alaikumsalam
Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam Khadijah ra pernah menikah dua kali, yang pertama dengan ‘Atiiq Bin Abdillah Bin Makhzuum dan yang kedua dengan Abu Haalah Bin Zaraarah at-Tamimy.
وكانت قبله تحت عائذ بن عبد الله بن مخزوم فمات عنها فتزوجها بعده أبو هالة بن زرارة التميمي، ثم مات عنها ثم تزوجها رسول الله بعد أن أبدت له رضي الله عنها رغبتها في الزواج به
“Adalah Khadijah sebelum dinikahi baginda Nabi berada dalam pernikahan ‘Aaid Bin Abdillah Bin Makhzuum, setelah ia meninggal, Khadijah menikah dengan Abu Haalah Bin Zaraarah at-Tamimy, setelah ia meninggal, Khadijah dinikahi oleh Rasulullah SAW setelah Khadijah menuturkan keinginannya untuk diperisteri oleh Nabi Muhammad SAW.
(Arwa’ al-Qaim al-Hadhriyyah Fii Sayrah I/6)
وكانت قبله عند عتيق بن عابد بن عبدالله بن عمر بن مخزوم وأمها فاطمة بنت زائدة بن الأصم بن رواحة بن حجر بن معيص بن لؤي فولدت لعتيق جارية ثم توفي عنها وخلف عليها أبو هالة بن زرارة بن نباش بن زرارة بن حبيب بن سلامة بن غذي بن جروة بن أسيد بن عمرو بن تميم وهو في بني عبدالدار بن قصي فولدت لأبي هالة هند بن أبي هالة ثم توفي عنها فخلف عليها رسول الله وعندها ابن أبي هالة هند فولدت لرسول الله ثمانية القاسم والطيب والطاهر وعبدالله وزينب ورقية وأم كلثوم وفاطمة
“Adalah Khadijah sebelum dinikahi baginda Nabi berada dalam pernikahan ‘Atiiq Bin ‘Aabid Bin ‘Abdillah Bin Amr Bin Makhzuum, Ibunya Fathimah Binti Zaaidah Bin Asham Bin Rawaahah Bin Hajar Bin Mu’iish Bin Luay. Bersama ‘Atiiq beliau dikaruniai puteri yang kemudian meninggal dunia.Setelah ‘Atiiq meninggal dunia, beliau menikah dengan Abu Haalah Bin Zaraarah Bin Nabbaas Bin Zaraarah Bin Habiib Bin Salaamah Bin Ghadzy Bin Jarwah Bin Usaid Bin Amr Bin Tamiim yang merupakan keturunan Abd ad-Daar Bin Qushay, pernikahan beliau dengan Halaah dikaruniai putera yang diberi nama Hindun Bin Abu Haalah.Setelah Abu Haalah meninggal, beliau menikah dengan Rasulullah SAW dengan membawa Hindun Bin Abu Haalah bersamanya, pernikahan beliau bersama Nabi dikaruniai delapan putera yaitu : Al-Qaasim, at-Thoyyib, at-Thoohir, Abdullah, Zaenab, Ruqayyah, Ummi Kultsum dan Fathimah az-zahraa.
(Taarikh at-Thobry II/211)
Wallahu A'lamu Bis showaab.
Selasa, 03 Februari 2015
Julukan Al amin
Ketika Nabi Muhammad Saw. Berumur 35 th telah terjadi perombakan banguan ka’bah oleh pemuka-pemuka qurisy, namun dalam hal meletakan hajar aswad ketempatnya semula, terjadilah persoalan siapa yang lebih berhak meletakan hajar aswad ketempatnya semula, terjadilah pertikaian dan pertengkaran dalam persoalan ini, maka datanglah rasulullah Saw. Memberikan ide cemerlangnya, kata Nabi, bagaimana kalau begini saja....siapa yang lebih dahulu besok pagi memasuki masjid ini maka dialah yang berhak meletakan hajar aswad itu ketempatnya semula, kemudian pemuka2 Quraisy itupun menyepakati usulan Nabi, ternyata pada pagi harinya Nabi telah berada dalam masjid lebih dahulu daripada pemuka2 Quraisy itu dan merekapun mematuhi apa yang telah disepakatinya, maka diberikanlah kesempatan kepada Nabi Untuk meletakan Hajar aswad itu ketempatnya semula.
Kemudian Nabi membentangkan serbannya yang 4 persegi,kemudian diletakannya hajar aswad itu diatas serbannya, dan disuruh oleh Nabi agar 4 orang pemuka2 Quraisy itu masing2nya memegang sudut serbannya dan mengangkatnya bersama-sama ketempatnya semula dan setelah hajar aswad itu berada dekat tempatnya, barulah Nabi mengangkat dan meletakan hajar asawad itu ditempatnya semula.
Dengan keadilan dan kebijaksanaan Nabi ini, keluarlah ucapan dari mulut pemuka-pemuka Quraisy itu,
dengan kebijaksanaan dan ke’adilan Nabi ini, dapat kita lihat bahwa bak pepatah orang minang “ Gadangnyo indak malendo, Gapuak indak mambuang lamak, cadiak indak manjua kawan, nan bak kayu gadang di tangah koto, baurek balimbago matan, urek jo batangnyo tampek baselo jo basanda dek urang banyak, dahan jo rantiangnyo tampek bataduah katiko hujan, tampek balindung katiko kapaneh.
Kaumuslimin Walmuslimat Rahimakullah .....
Lalu kenapa Nabi itu diberi Gelar AL-AMIN ...? didalam tarekh disebutkan, beliau itu diberi gelar AL-AMIN karna beliau memilki 5 sifat :
1. الصِّدْقُ artinya jujur, jujur.... merupakan sifat yang mulia, siapa yang memilikinya maka ia akan mulia, jujur ... merupakan sifat terpuji, siapa yang memilkinya maka ia akan menjadi manusia terpuji, dizaman era globalisasi keterbukaan ini banyak orang yang membicarakan sifat jujur, jujur dalam bedagang, jujur dalam bekerja, jujur dalam bergaul, jujur dalam berpolitik, namun sedikit sekali yang mengamalkan kejujuran itu, orang yang selalu bersikap jujur dan mengamalkan kejujuran itu maka ia akan dicatat disisi allah sebagai orang yang BENAR. Dan begitu juga sebaliknya siapa yang pendusta kemudian dusta itu menjadi pakain dalam hidupya maka ia akan dicatat disisi allah sebagai manusia PENDUSTA, Mari kita berlaku jujur dalam kehidupan.
2. الْآمَانَة artinya dapat dipercaya, Rasulullah Saw.
Suatu ketika ditawarkan oleh siti khadijah untuk menjualkan dagangannya kenegri syam dan Nabipun menerima tawaran itu, lalu berdaganglah Nabi kenegri syam dengan seorang teman laki-laki yang bernama Maisyarah, sekembalinya dari berdagang itu setelah dihitung hasil dagangan itu, rupanya beliau mendapatkan untung yang sangat banyak, didalam Tarekh disebutkan بِرِبْحٍ عَظِيْمٍ (dengan untung yang besar), kenapa Rasulullah ditawarkan untuk menjualkan dagangan ...? karna rasul adalah seorang yang bisa dipercaya, seorang yang bisa menjaga amanah.
amanah tidak hanya pangKat dan jabatan yang kita emban, namun harta, anak keluarga, dan diri kitapun merupakan amanah allah Swt yang mesti kita jaga, diantara orang yang akan mewarisi sorga firdaus itu adalah orang yang memelihara amanah
dan juga sabda Rasulullah saw.
(Apabila Amanah sudah disia-siakan maka tunggulah hari kiamat, Berkata Abu Hurairah Bagaimana menyia-nyiakan amanah itu ? Beliau menjawab “Apabila suatu pekerjaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancuran) ( shahih Bukhari)
3. الْحِلْمُ Artinya penyantun, Setiap kali Rasulullah pergi kemasjid selalu diludahi dan diludahi, kemudian di sa’at yang lain rasul tidak diludahi lagi, ditanyakan oleh rasul, rupanya orang itu sakit, maka rasulpun bergegas untuk menjenguknya, rupanya memang orang itu dalam keadaan sakit, dengan kedatang rasul orang itupun menangis, lalu apa yang ia tangiskan ...? karna ternyata rasulullah lah orang yang pertama datang menjenguknya disa’at ia terbaring sakit. Orang yang selama ini ia benci, orang yang selama ini ia ludahi, ternyata disa’at tubuh yang sehat berobah menjadi sakit, orang yang dimusuhi dan dibenci selama ini, itulah yang datang pertama kali menjenguknya. Alangkah penyantunya Rasulullah Saw.
Nan Kuriak iyolah kundi, nan merah iyolah sago *
Nan Baiak iyolah budi, nan indah iyolah baso *
Muluik manih kucindan Murah, Budi Baik Baso katuju.
4. الْحَيَاءُ artinya Pemalu,
Di antara sifat beliau yang patut kita tauladani adalah “pemalu”, Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallah ‘anhu mengatakan: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam itu lebih pemalu daripada gadis dalam pingitan. Jika beliau tidak menyukai sesuatu, niscaya kami dapat mengetahui ketidak sukaan beliau itu dari wajahnya.” (HR. Al-Bukhari),
dari Imran bin Hushain ra. berkata, Nabi SAW bersabda, "malu itu tidak membawa selain kebaikan" jadi kalau ingin jadi manusia yang baik-baik maka pakailah sifat malu. wanita yang menutup aurat, tidak memamer-mamerkan auratnya, adalah bukti seorang wanita yang memilki rasa malu, dan sekali gus bukti bahawa ia seorang yang beriman, karna malu itu adalah sebahagian dari iman, sekarang telah kita saksikan para remaja dan remaji, termasuk orang2 dewasa, bahkan orang yang sudah berumur tuapun ikut-ikutan untuk membuka-buka auratnya, seolah-seolah buka aurat sudah biasa saja, janganlah tertipu dengan tipuan-tipuan iblis laknatullah, yang akan menjerumuskan kita lembah kehinaan dan unjung-unjungnya adalah neraka, marilah kita tingkatkan rasa malu kita kepada allah swt, dengan selalu menutup aurat dan berakhlak dengan akhlak Rasulullah Saw.
Alah kaliki dek binalu, tumbuah sarumpun ditapi tabek,
Kalau lah habih raso jo malu, bak cando kayu lungga pangabek.
5. Kaum Muslimin Walmuslimat Rahikumullah ....yang terakhir التَّوَاضُع artinya rendah hati. Orang yang randah hati akan ditinggikan oleh allah swt. dan orang yang tinggi hati akan di randahkan oleh allah swt. Banyak orang yang rendah hati ketika ia belum memiliki apa-apa, belum punyak banyak harta, belum punya pangkat dan jabatan, tetapi banyak juga orang yang sombong dan takabbur ketika dia diberikan kesempatan oleh allah swt. Sangat banyak orang rendah hati ditinggikan oleh allah, namun banyak juga orang-orang yang sombong dan takabbur yang dihancurkan allah swt, contoh, fir’aun ditenggelamkan di lautan merah karna sombong, Qarun ditelan dan di benamkan kedalam perut bumi bersama harta nya lantaran sombong, Tsa’labah mati dalam keadaan durhaka kepada allah dan Nabinya karna lalai dan sombong, oleh karna itu marilah kita jadikan nabi sebagai uswatun hasanah, contoh tauladan yang baik didalam kehidupan kita.
Sebagai Kesimpulan pembicaraan kita ini, Nabi Muhammad Digelari AL-AMIN sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul karna lantaran beliau memiliki 5 sifat yang mulia:
1. Sidik Artinya Jujur
2. Amanah artinya dapat dipercaya
3. Al-hilmu Artinya Penyantun
4. Al-hayak Artinya Pemalu
5. Tawaduk Artinya Rendah Hati
Good nigh Selamat Malam * Good Morning Selamat Pagi *
Saya Sudahi saja dengan Salam * Semoga Kita Berjupa lagi *
بالله التوفيق و الهداية و الرضى و العناية
و السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
Semoga bermanfaat
Muhammad tinggal dengan pamannya, menerima apa yang ada. Ia melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh mereka yang seusia dia. Bila tiba bulan-bulan suci, kadang ia tinggal di Makkah dengan keluarga, kadang pergi bersama mereka ke pasar-pasar yang berdekatan dengan Ukaz, Majanna dan Dzu'l Majaz, mendengarkan sajak-sajak yang dibawakan oleh penyair-penyair Mudhahhabat dan Mu'allaqat.
Ia mendambakan cahaya hidup yang akan lahir dalam segala manifestasi kehidupan, dan yang akan dicapainya hanya dengan dasar kebenaran. Kenyataan ini dibuktikan oleh julukan yang diberikan orang kepadanya dan bawaan yang ada dalam dirinya. Itu sebabnya, sejak ia masih anak-anak, gejala kesempurnaan, kedewasaan dan kejujuran hatinya, sudah tampak. Sehingga semua penduduk Makkah memanggilnya Al-Amin (yang dapat dipercaya).
Yang menyebabkan dia lebih banyak merenung dan berpikir, adalah pekerjaannya menggembalakan kambing sejak dalam masa mudanya itu. Dia menggembalakan kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Dengan gembira ia menyebutkan saat-saat yang dialaminya pada waktu menggembala itu. Di antaranya ia berkata, "Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing. Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing. Aku diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad."
Gembala kambing yang berhati terang itu, dalam udara yang bebas lepas di siang hari, dalam kemilau bintang bila malam sudah bertahta, menemukan suatu tempat yang serasi untuk pemikiran dan permenungannya. Ia menerawang dalam suasana alam demikian, karena ia ingin melihat sesuatu di balik semua itu. Dalam pelbagai manifestasi alam ia mencari suatu penafsiran tentang penciptaan semesta ini. Ia melihat dirinya sendiri.
Pemikiran dan permenungan demikian membuat ia jauh dari segala pemikiran nafsu manusia duniawi. Ia berada lebih tinggi dari itu sehingga adanya hidup palsu yang sia-sia akan tampak jelas di hadapannya. Oleh sebab itu, dalam perbuatan dan tingkah-lakunya, Muhammad terhindar dari segala penodaan nama yang sudah diberikan kepadanya oleh penduduk Makkah, dan memang begitu adanya: Al-Amin.
Karena itu ia terhindar dari cacat. Yang sangat terasa benar nikmatnya, ialah bila ia sedang berpikir atau merenung. Dan kehidupan berpikir dan merenung serta kesenangan bekerja sekadarnya seperti menggembalakan kambing, bukanlah suatu cara hidup yang membawa kekayaan berlimpah-limpah baginya. Dan memang tidak pernah memedulikan hal itu. Dalam hidupnya ia memang menjauhkan diri dari segala pengaruh materi.
Bukankah dia juga yang pernah berkata, "Kami adalah golongan yang hanya makan bila merasa lapar, dan bila sudah makan tidak sampai kenyang?" Bukankah dia juga yang sudah dikenal orang hidup dalam kekurangan selalu dan minta supaya orang bergembira menghadapi penderitaan hidup? Cara hidup yang mengejar harta dengan serakah demi pemenuhan hawa nafsu, sama sekali tidak pernah dikenal Muhammad selama hidupnya.
Suatu ketika ia mendengar berita, bahwa Khadijah binti Khuwailid mengupah orang-orang Quraisy untuk menjalankan perdagangannya. Khadijah adalah seorang wanita pedagang yang kaya dan dihormati, mengupah orang yang akan memperdagangkan hartanya itu. Berasal dari Keluarga (Bani) Asad, ia bertambah kaya setelah dua kali menikah dengan keluarga Makhzum, sehingga dia menjadi seorang penduduk Makkah terkaya. Ia menjalankan bisnisnya dengan bantuan sang ayah, Khuwailid, dan beberapa orang kepercayaannya. Beberapa pemuka Quraisy pernah melamarnya, tetapi ditolaknya. Ia yakin mereka itu melamar hanya karena memandang hartanya.
Tatkala Abu Thalib mengetahui, bahwa Khadijah sedang menyiapkan perdagangan yang akan dibawa dengan kafilah ke Syam, ia memanggil keponakannya—yang ketika itu sudah berumur dua puluh lima tahun.
"Anakku," kata Abu Thalib, "Aku bukan orang berpunya. Keadaan makin menekan kita juga. Aku mendengar, bahwa Khadijah mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi aku tidak setuju kalau akan mendapat upah semacam itu juga. Setujukah kau kalau hal ini kubicarakan dengan dia?"
"Terserah paman," jawab Muhammad.
Abu Talib pun pergi mengunjungi Khadijah:
"Khadijah, setujukah kau mengupah Muhammad?" tanya Abu Thalib. "Aku mendengar engkau mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi buat Muhammad aku tidak setuju kurang dari empat ekor."
"Kalau permintaanmu itu buat orang yang jauh dan tidak kusukai, akan kukabulkan, apalagi buat orang yang dekat dan kusukai." Demikian jawab Khadijah.
Kembalilah sang paman kepada keponakannya dengan menceritakan peristiwa itu. "Ini adalah rejeki yang dilimpahkan Tuhan kepadamu," katanya.
Setelah mendapat nasihat paman-pamannya Muhammad pergi dengan Maisara, budak Khadijah. Dengan mengambil jalan padang pasir kafilah itu pun berangkat menuju Syam. Perjalanan ini menghidupkan kembali kenangannya tentang perjalanan yang pertama dulu itu. Hal ini membuatnya lebih banyak bermenung, berpikir tentang segala yang pernah dilihat dan didengar sebelumnya; tentang peribadatan dan kepercayaan-kepercayaan di Syam atau di pasar-pasar sekeliling Makkah.
Dengan kejujuran dan kemampuannya ternyata Muhammad mampu benar memperdagangkan barang-barang Khadijah, dengan cara bisnis yang lebih menguntungkan daripada yang dilakukan orang lain sebelumnya. Setelah tiba waktunya kembali, mereka membeli segala barang dagangan dari Syam yang kira-kira akan disukai oleh Khadijah.
Dalam perjalanan kembali kafilah itu singgah di Mar'z Zahran. Ketika itu Maisara berkata, "Muhammad, cepat-cepatlah kau menemui Khadijah dan ceritakan pengalamanmu. Dia akan mengerti hal itu."
Muhammad berangkat dan tengah hari sudah sampai di Makkah. Ketika itu Khadijah sedang berada di ruang atas. Bila dilihatnya Muhammad di atas unta dan sudah memasuki halaman rumahnya, ia turun dan menyambutnya. Didengarnya Muhammad bercerita dengan bahasa yang begitu fasih tentang perjalanannya serta laba yang diperolehnya, demikian juga mengenai barang-barang Syam yang dibawanya. Khadijah gembira dan tertarik sekali mendengarkan.
Sesudah itu, Maisara pun datang pula yang lalu bercerita juga tentang Muhammad, betapa halusnya wataknya, betapa tinggi budi pekertinya. Hal ini menambah pengetahuan Khadijah di samping yang sudah diketahuinya sebagai pemuda Makkah yang besar jasanya.
Dalam waktu singkat saja kegembiraan Khadijah ini telah berubah menjadi rasa cinta, sehingga dia—yang sudah berusia empat puluh tahun dan telah menolak lamaran pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar Quraisy—tertarik juga hatinya mengawini pemuda ini, yang tutur kata dan pandangan matanya telah menembusi kalbunya. Pernah ia membicarakan hal itu kepada saudaranya yang perempuan—kata sebuah sumber, atau dengan sahabatnya, Nufaisa binti Munya—kata sumber lain.
Nufaisa pergi menjajagi Muhammad seraya berkata, "Kenapa kau tidak mau kawin?"
"Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan," jawab Muhammad.
"Kalau itu disediakan dan yang melamarmu itu cantik, berharta, terhormat dan memenuhi syarat, tidakkah akan kau terima?"
"Siapa itu?"
Nufaisa menjawab hanya dengan sepatah kata, "Khadijah!"
"Dengan cara bagaimana?" tanya Muhammad. Sebenarnya ia sendiri berkenan kepada Khadijah sekalipun hati kecilnya belum lagi memikirkan soal perkawinan, mengingat Khadijah sudah menolak permintaan hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan Quraisy.
Setelah pertanyaan itu Nufaisa berkata, "Serahkan hal itu kepadaku."
Maka Muhammad pun menyatakan persetujuannya. Tak lama kemudian Khadijah menentukan waktunya yang kelak akan dihadiri oleh paman-paman Muhammad supaya dapat bertemu dengan keluarga Khadijah guna menentukan hari pernikahan.
Kemudian pernikahan itu berlangsung dengan diwakili oleh paman Khadijah, Umar bin Asad, sebab Khuwailid ayahnya sudah meninggal sebelum Perang Fijar. Hal ini dengan sendirinya telah membantah apa yang biasa dikatakan, bahwa ayahnya ada tapi tidak menyetujui perkawinan itu dan bahwa Khadijah telah memberikan minuman keras sehingga ia mabuk dan dengan begitu perkawinannya dengan Muhammad kemudian dilangsungkan.
Di sinilah dimulainya lembaran baru dalam kehidupan Muhammad. Dimulainya kehidupan sebagai suami-isteri dan ibu-bapak. Suami-isteri yang harmonis dan sebagai ibu-bapak yang telah merasakan pedihnya kehilangan anak, sebagaimana pernah dialami Muhammad yang telah kehilangan ibu-bapak ketika masih kecil.
Pada usia 20 tahun, Muhammad SAW mendirikan Hilful-Fudûl, suatu lembaga yang bertujuan membantu orang-orang miskin dan teraniaya. Saat itu di Mekah memang sedang kacau akibat perselisihan yang terjadi antara suku Quraisy dengan suku Hawazin. Melalui Hilful-Fudûl inilah sifat-sifat kepemimpinan Muhammad SAW mulai tampak. Karena aktivitasnya dalam lembaga ini, disamping ikut membantu pamannya berdagang, namanya semakin terkenal sebagai orang yang terpercaya. Relasi dagangnya semakin meluas karena berita kejujurannya segera tersiar dari mulut ke mulut, sehingga ia mendapat gelar Al-Amîn, yang artinya orang yang terpercaya.
Selain itu ia juga terkenal sebagai orang yang adil dan memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Suatu ketika bangunan Ka’bah rusak karena banjir. Penduduk Mekah kemudian bergotong-royong memperbaiki Ka’bah. Saat pekerjaan sampai pada pengangkatan dan peletakan Hajar Aswad ke tempatnya semula, terjadi perselisihan. Masing-masing suku ingin mendapat kehormatan untuk melakukan pekerjaan itu. Akhirnya salah satu dari mereka kemudian berkata, “Serahkan putusan ini pada orang yang pertama memasuki pintu Shafa ini.”
Mereka semua menunggu, kemudian tampaklah Muhammad SAW muncul dari sana. Semua hadirin berseru, “Itu dia al-Amin, orang yang terpercaya. Kami rela menerima semua keputusannya.”
Setelah mengerti duduk perkaranya, Muhammad SAW lalu membentangkan sorbannya di atas tanah, dan meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah, lalu meminta semua kepala suku memegang tepi sorban itu dan mengangkatnya secara bersama-sama. Setelah sampai pada ketinggian yang diharapkan, Muhammad SAW meletakkan batu itu pada tempatnya semula. Dengan demikian selesailah perselisihan di antara suku-suku tsb dan mereka pun puas dengan cara penyelesaian yang sangat bijak itu.
Kemudian Nabi membentangkan serbannya yang 4 persegi,kemudian diletakannya hajar aswad itu diatas serbannya, dan disuruh oleh Nabi agar 4 orang pemuka2 Quraisy itu masing2nya memegang sudut serbannya dan mengangkatnya bersama-sama ketempatnya semula dan setelah hajar aswad itu berada dekat tempatnya, barulah Nabi mengangkat dan meletakan hajar asawad itu ditempatnya semula.
Dengan keadilan dan kebijaksanaan Nabi ini, keluarlah ucapan dari mulut pemuka-pemuka Quraisy itu,
رَضِيْنَا بِالآمِيْنَ
(Kami Meredoi dengan Keputusan Al-Amin),dengan kebijaksanaan dan ke’adilan Nabi ini, dapat kita lihat bahwa bak pepatah orang minang “ Gadangnyo indak malendo, Gapuak indak mambuang lamak, cadiak indak manjua kawan, nan bak kayu gadang di tangah koto, baurek balimbago matan, urek jo batangnyo tampek baselo jo basanda dek urang banyak, dahan jo rantiangnyo tampek bataduah katiko hujan, tampek balindung katiko kapaneh.
Kaumuslimin Walmuslimat Rahimakullah .....
Lalu kenapa Nabi itu diberi Gelar AL-AMIN ...? didalam tarekh disebutkan, beliau itu diberi gelar AL-AMIN karna beliau memilki 5 sifat :
1. الصِّدْقُ artinya jujur, jujur.... merupakan sifat yang mulia, siapa yang memilikinya maka ia akan mulia, jujur ... merupakan sifat terpuji, siapa yang memilkinya maka ia akan menjadi manusia terpuji, dizaman era globalisasi keterbukaan ini banyak orang yang membicarakan sifat jujur, jujur dalam bedagang, jujur dalam bekerja, jujur dalam bergaul, jujur dalam berpolitik, namun sedikit sekali yang mengamalkan kejujuran itu, orang yang selalu bersikap jujur dan mengamalkan kejujuran itu maka ia akan dicatat disisi allah sebagai orang yang BENAR. Dan begitu juga sebaliknya siapa yang pendusta kemudian dusta itu menjadi pakain dalam hidupya maka ia akan dicatat disisi allah sebagai manusia PENDUSTA, Mari kita berlaku jujur dalam kehidupan.
2. الْآمَانَة artinya dapat dipercaya, Rasulullah Saw.
Suatu ketika ditawarkan oleh siti khadijah untuk menjualkan dagangannya kenegri syam dan Nabipun menerima tawaran itu, lalu berdaganglah Nabi kenegri syam dengan seorang teman laki-laki yang bernama Maisyarah, sekembalinya dari berdagang itu setelah dihitung hasil dagangan itu, rupanya beliau mendapatkan untung yang sangat banyak, didalam Tarekh disebutkan بِرِبْحٍ عَظِيْمٍ (dengan untung yang besar), kenapa Rasulullah ditawarkan untuk menjualkan dagangan ...? karna rasul adalah seorang yang bisa dipercaya, seorang yang bisa menjaga amanah.
amanah tidak hanya pangKat dan jabatan yang kita emban, namun harta, anak keluarga, dan diri kitapun merupakan amanah allah Swt yang mesti kita jaga, diantara orang yang akan mewarisi sorga firdaus itu adalah orang yang memelihara amanah
وَ الّذِيْنَ هُمْ ِلآمَانَاتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ
“Dan orang2 yg memelihara amanah dan janji” (QS. Al-mukminun : 8),dan juga sabda Rasulullah saw.
أَدِّ اْلآمَانَةَ إِلىَ مَنِ ئْتَمَنَكَ وَ لاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ
(Bayarkanlah Amanah itu kepada orang yang memberi amanah kepadamu dan janganlah engkau berkhianat kepada orang yang berkhianat kepadamu) kemudian pada Sabda Rasulullah yang lain mengatakan :“إِذَا ضُيِّعَتِ اْلآمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ . قَالَ اَبُوْ هُرَيْرَةَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا ؟ قَالَ إِذَا اُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلىَ غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
(Apabila Amanah sudah disia-siakan maka tunggulah hari kiamat, Berkata Abu Hurairah Bagaimana menyia-nyiakan amanah itu ? Beliau menjawab “Apabila suatu pekerjaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancuran) ( shahih Bukhari)
3. الْحِلْمُ Artinya penyantun, Setiap kali Rasulullah pergi kemasjid selalu diludahi dan diludahi, kemudian di sa’at yang lain rasul tidak diludahi lagi, ditanyakan oleh rasul, rupanya orang itu sakit, maka rasulpun bergegas untuk menjenguknya, rupanya memang orang itu dalam keadaan sakit, dengan kedatang rasul orang itupun menangis, lalu apa yang ia tangiskan ...? karna ternyata rasulullah lah orang yang pertama datang menjenguknya disa’at ia terbaring sakit. Orang yang selama ini ia benci, orang yang selama ini ia ludahi, ternyata disa’at tubuh yang sehat berobah menjadi sakit, orang yang dimusuhi dan dibenci selama ini, itulah yang datang pertama kali menjenguknya. Alangkah penyantunya Rasulullah Saw.
Nan Kuriak iyolah kundi, nan merah iyolah sago *
Nan Baiak iyolah budi, nan indah iyolah baso *
Muluik manih kucindan Murah, Budi Baik Baso katuju.
4. الْحَيَاءُ artinya Pemalu,
Di antara sifat beliau yang patut kita tauladani adalah “pemalu”, Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallah ‘anhu mengatakan: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam itu lebih pemalu daripada gadis dalam pingitan. Jika beliau tidak menyukai sesuatu, niscaya kami dapat mengetahui ketidak sukaan beliau itu dari wajahnya.” (HR. Al-Bukhari),
dari Imran bin Hushain ra. berkata, Nabi SAW bersabda, "malu itu tidak membawa selain kebaikan" jadi kalau ingin jadi manusia yang baik-baik maka pakailah sifat malu. wanita yang menutup aurat, tidak memamer-mamerkan auratnya, adalah bukti seorang wanita yang memilki rasa malu, dan sekali gus bukti bahawa ia seorang yang beriman, karna malu itu adalah sebahagian dari iman, sekarang telah kita saksikan para remaja dan remaji, termasuk orang2 dewasa, bahkan orang yang sudah berumur tuapun ikut-ikutan untuk membuka-buka auratnya, seolah-seolah buka aurat sudah biasa saja, janganlah tertipu dengan tipuan-tipuan iblis laknatullah, yang akan menjerumuskan kita lembah kehinaan dan unjung-unjungnya adalah neraka, marilah kita tingkatkan rasa malu kita kepada allah swt, dengan selalu menutup aurat dan berakhlak dengan akhlak Rasulullah Saw.
Alah kaliki dek binalu, tumbuah sarumpun ditapi tabek,
Kalau lah habih raso jo malu, bak cando kayu lungga pangabek.
5. Kaum Muslimin Walmuslimat Rahikumullah ....yang terakhir التَّوَاضُع artinya rendah hati. Orang yang randah hati akan ditinggikan oleh allah swt. dan orang yang tinggi hati akan di randahkan oleh allah swt. Banyak orang yang rendah hati ketika ia belum memiliki apa-apa, belum punyak banyak harta, belum punya pangkat dan jabatan, tetapi banyak juga orang yang sombong dan takabbur ketika dia diberikan kesempatan oleh allah swt. Sangat banyak orang rendah hati ditinggikan oleh allah, namun banyak juga orang-orang yang sombong dan takabbur yang dihancurkan allah swt, contoh, fir’aun ditenggelamkan di lautan merah karna sombong, Qarun ditelan dan di benamkan kedalam perut bumi bersama harta nya lantaran sombong, Tsa’labah mati dalam keadaan durhaka kepada allah dan Nabinya karna lalai dan sombong, oleh karna itu marilah kita jadikan nabi sebagai uswatun hasanah, contoh tauladan yang baik didalam kehidupan kita.
Sebagai Kesimpulan pembicaraan kita ini, Nabi Muhammad Digelari AL-AMIN sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul karna lantaran beliau memiliki 5 sifat yang mulia:
1. Sidik Artinya Jujur
2. Amanah artinya dapat dipercaya
3. Al-hilmu Artinya Penyantun
4. Al-hayak Artinya Pemalu
5. Tawaduk Artinya Rendah Hati
Good nigh Selamat Malam * Good Morning Selamat Pagi *
Saya Sudahi saja dengan Salam * Semoga Kita Berjupa lagi *
بالله التوفيق و الهداية و الرضى و العناية
و السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
Semoga bermanfaat
Muhammad tinggal dengan pamannya, menerima apa yang ada. Ia melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh mereka yang seusia dia. Bila tiba bulan-bulan suci, kadang ia tinggal di Makkah dengan keluarga, kadang pergi bersama mereka ke pasar-pasar yang berdekatan dengan Ukaz, Majanna dan Dzu'l Majaz, mendengarkan sajak-sajak yang dibawakan oleh penyair-penyair Mudhahhabat dan Mu'allaqat.
Ia mendambakan cahaya hidup yang akan lahir dalam segala manifestasi kehidupan, dan yang akan dicapainya hanya dengan dasar kebenaran. Kenyataan ini dibuktikan oleh julukan yang diberikan orang kepadanya dan bawaan yang ada dalam dirinya. Itu sebabnya, sejak ia masih anak-anak, gejala kesempurnaan, kedewasaan dan kejujuran hatinya, sudah tampak. Sehingga semua penduduk Makkah memanggilnya Al-Amin (yang dapat dipercaya).
Yang menyebabkan dia lebih banyak merenung dan berpikir, adalah pekerjaannya menggembalakan kambing sejak dalam masa mudanya itu. Dia menggembalakan kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Dengan gembira ia menyebutkan saat-saat yang dialaminya pada waktu menggembala itu. Di antaranya ia berkata, "Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing. Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing. Aku diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad."
Gembala kambing yang berhati terang itu, dalam udara yang bebas lepas di siang hari, dalam kemilau bintang bila malam sudah bertahta, menemukan suatu tempat yang serasi untuk pemikiran dan permenungannya. Ia menerawang dalam suasana alam demikian, karena ia ingin melihat sesuatu di balik semua itu. Dalam pelbagai manifestasi alam ia mencari suatu penafsiran tentang penciptaan semesta ini. Ia melihat dirinya sendiri.
Pemikiran dan permenungan demikian membuat ia jauh dari segala pemikiran nafsu manusia duniawi. Ia berada lebih tinggi dari itu sehingga adanya hidup palsu yang sia-sia akan tampak jelas di hadapannya. Oleh sebab itu, dalam perbuatan dan tingkah-lakunya, Muhammad terhindar dari segala penodaan nama yang sudah diberikan kepadanya oleh penduduk Makkah, dan memang begitu adanya: Al-Amin.
Karena itu ia terhindar dari cacat. Yang sangat terasa benar nikmatnya, ialah bila ia sedang berpikir atau merenung. Dan kehidupan berpikir dan merenung serta kesenangan bekerja sekadarnya seperti menggembalakan kambing, bukanlah suatu cara hidup yang membawa kekayaan berlimpah-limpah baginya. Dan memang tidak pernah memedulikan hal itu. Dalam hidupnya ia memang menjauhkan diri dari segala pengaruh materi.
Bukankah dia juga yang pernah berkata, "Kami adalah golongan yang hanya makan bila merasa lapar, dan bila sudah makan tidak sampai kenyang?" Bukankah dia juga yang sudah dikenal orang hidup dalam kekurangan selalu dan minta supaya orang bergembira menghadapi penderitaan hidup? Cara hidup yang mengejar harta dengan serakah demi pemenuhan hawa nafsu, sama sekali tidak pernah dikenal Muhammad selama hidupnya.
Nabi membawa dagangan Khodijah
Suatu ketika ia mendengar berita, bahwa Khadijah binti Khuwailid mengupah orang-orang Quraisy untuk menjalankan perdagangannya. Khadijah adalah seorang wanita pedagang yang kaya dan dihormati, mengupah orang yang akan memperdagangkan hartanya itu. Berasal dari Keluarga (Bani) Asad, ia bertambah kaya setelah dua kali menikah dengan keluarga Makhzum, sehingga dia menjadi seorang penduduk Makkah terkaya. Ia menjalankan bisnisnya dengan bantuan sang ayah, Khuwailid, dan beberapa orang kepercayaannya. Beberapa pemuka Quraisy pernah melamarnya, tetapi ditolaknya. Ia yakin mereka itu melamar hanya karena memandang hartanya.
Tatkala Abu Thalib mengetahui, bahwa Khadijah sedang menyiapkan perdagangan yang akan dibawa dengan kafilah ke Syam, ia memanggil keponakannya—yang ketika itu sudah berumur dua puluh lima tahun.
"Anakku," kata Abu Thalib, "Aku bukan orang berpunya. Keadaan makin menekan kita juga. Aku mendengar, bahwa Khadijah mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi aku tidak setuju kalau akan mendapat upah semacam itu juga. Setujukah kau kalau hal ini kubicarakan dengan dia?"
"Terserah paman," jawab Muhammad.
Abu Talib pun pergi mengunjungi Khadijah:
"Khadijah, setujukah kau mengupah Muhammad?" tanya Abu Thalib. "Aku mendengar engkau mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi buat Muhammad aku tidak setuju kurang dari empat ekor."
"Kalau permintaanmu itu buat orang yang jauh dan tidak kusukai, akan kukabulkan, apalagi buat orang yang dekat dan kusukai." Demikian jawab Khadijah.
Kembalilah sang paman kepada keponakannya dengan menceritakan peristiwa itu. "Ini adalah rejeki yang dilimpahkan Tuhan kepadamu," katanya.
Setelah mendapat nasihat paman-pamannya Muhammad pergi dengan Maisara, budak Khadijah. Dengan mengambil jalan padang pasir kafilah itu pun berangkat menuju Syam. Perjalanan ini menghidupkan kembali kenangannya tentang perjalanan yang pertama dulu itu. Hal ini membuatnya lebih banyak bermenung, berpikir tentang segala yang pernah dilihat dan didengar sebelumnya; tentang peribadatan dan kepercayaan-kepercayaan di Syam atau di pasar-pasar sekeliling Makkah.
Dengan kejujuran dan kemampuannya ternyata Muhammad mampu benar memperdagangkan barang-barang Khadijah, dengan cara bisnis yang lebih menguntungkan daripada yang dilakukan orang lain sebelumnya. Setelah tiba waktunya kembali, mereka membeli segala barang dagangan dari Syam yang kira-kira akan disukai oleh Khadijah.
Dalam perjalanan kembali kafilah itu singgah di Mar'z Zahran. Ketika itu Maisara berkata, "Muhammad, cepat-cepatlah kau menemui Khadijah dan ceritakan pengalamanmu. Dia akan mengerti hal itu."
Muhammad berangkat dan tengah hari sudah sampai di Makkah. Ketika itu Khadijah sedang berada di ruang atas. Bila dilihatnya Muhammad di atas unta dan sudah memasuki halaman rumahnya, ia turun dan menyambutnya. Didengarnya Muhammad bercerita dengan bahasa yang begitu fasih tentang perjalanannya serta laba yang diperolehnya, demikian juga mengenai barang-barang Syam yang dibawanya. Khadijah gembira dan tertarik sekali mendengarkan.
Sesudah itu, Maisara pun datang pula yang lalu bercerita juga tentang Muhammad, betapa halusnya wataknya, betapa tinggi budi pekertinya. Hal ini menambah pengetahuan Khadijah di samping yang sudah diketahuinya sebagai pemuda Makkah yang besar jasanya.
Dalam waktu singkat saja kegembiraan Khadijah ini telah berubah menjadi rasa cinta, sehingga dia—yang sudah berusia empat puluh tahun dan telah menolak lamaran pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar Quraisy—tertarik juga hatinya mengawini pemuda ini, yang tutur kata dan pandangan matanya telah menembusi kalbunya. Pernah ia membicarakan hal itu kepada saudaranya yang perempuan—kata sebuah sumber, atau dengan sahabatnya, Nufaisa binti Munya—kata sumber lain.
Nufaisa pergi menjajagi Muhammad seraya berkata, "Kenapa kau tidak mau kawin?"
"Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan," jawab Muhammad.
"Kalau itu disediakan dan yang melamarmu itu cantik, berharta, terhormat dan memenuhi syarat, tidakkah akan kau terima?"
"Siapa itu?"
Nufaisa menjawab hanya dengan sepatah kata, "Khadijah!"
"Dengan cara bagaimana?" tanya Muhammad. Sebenarnya ia sendiri berkenan kepada Khadijah sekalipun hati kecilnya belum lagi memikirkan soal perkawinan, mengingat Khadijah sudah menolak permintaan hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan Quraisy.
Setelah pertanyaan itu Nufaisa berkata, "Serahkan hal itu kepadaku."
Maka Muhammad pun menyatakan persetujuannya. Tak lama kemudian Khadijah menentukan waktunya yang kelak akan dihadiri oleh paman-paman Muhammad supaya dapat bertemu dengan keluarga Khadijah guna menentukan hari pernikahan.
Kemudian pernikahan itu berlangsung dengan diwakili oleh paman Khadijah, Umar bin Asad, sebab Khuwailid ayahnya sudah meninggal sebelum Perang Fijar. Hal ini dengan sendirinya telah membantah apa yang biasa dikatakan, bahwa ayahnya ada tapi tidak menyetujui perkawinan itu dan bahwa Khadijah telah memberikan minuman keras sehingga ia mabuk dan dengan begitu perkawinannya dengan Muhammad kemudian dilangsungkan.
Di sinilah dimulainya lembaran baru dalam kehidupan Muhammad. Dimulainya kehidupan sebagai suami-isteri dan ibu-bapak. Suami-isteri yang harmonis dan sebagai ibu-bapak yang telah merasakan pedihnya kehilangan anak, sebagaimana pernah dialami Muhammad yang telah kehilangan ibu-bapak ketika masih kecil.
Gelar al-Amin
Pada usia 20 tahun, Muhammad SAW mendirikan Hilful-Fudûl, suatu lembaga yang bertujuan membantu orang-orang miskin dan teraniaya. Saat itu di Mekah memang sedang kacau akibat perselisihan yang terjadi antara suku Quraisy dengan suku Hawazin. Melalui Hilful-Fudûl inilah sifat-sifat kepemimpinan Muhammad SAW mulai tampak. Karena aktivitasnya dalam lembaga ini, disamping ikut membantu pamannya berdagang, namanya semakin terkenal sebagai orang yang terpercaya. Relasi dagangnya semakin meluas karena berita kejujurannya segera tersiar dari mulut ke mulut, sehingga ia mendapat gelar Al-Amîn, yang artinya orang yang terpercaya.
Selain itu ia juga terkenal sebagai orang yang adil dan memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Suatu ketika bangunan Ka’bah rusak karena banjir. Penduduk Mekah kemudian bergotong-royong memperbaiki Ka’bah. Saat pekerjaan sampai pada pengangkatan dan peletakan Hajar Aswad ke tempatnya semula, terjadi perselisihan. Masing-masing suku ingin mendapat kehormatan untuk melakukan pekerjaan itu. Akhirnya salah satu dari mereka kemudian berkata, “Serahkan putusan ini pada orang yang pertama memasuki pintu Shafa ini.”
Mereka semua menunggu, kemudian tampaklah Muhammad SAW muncul dari sana. Semua hadirin berseru, “Itu dia al-Amin, orang yang terpercaya. Kami rela menerima semua keputusannya.”
Setelah mengerti duduk perkaranya, Muhammad SAW lalu membentangkan sorbannya di atas tanah, dan meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah, lalu meminta semua kepala suku memegang tepi sorban itu dan mengangkatnya secara bersama-sama. Setelah sampai pada ketinggian yang diharapkan, Muhammad SAW meletakkan batu itu pada tempatnya semula. Dengan demikian selesailah perselisihan di antara suku-suku tsb dan mereka pun puas dengan cara penyelesaian yang sangat bijak itu.
Urutan
- Nabi Lahir
- Bau Kemenyan Disukai Nabi Lho
- Sejarah Al-Barzanji
- Judul - judul : Kisah Nabi SAW
- Cap Kenabian
- Profesi Nabi Muhammad SAW
- Kisah Cinta Nabi Muhammad dan Khadijah
- Mahar Nabi kepada Siti Khotijah
- Suami Siti Khotijah
- Hajar Aswad dan Ka'bah
- Tingkah Laku Nabi sebelum diangkat menjadi Rasul a...
- Mengapa wajah Nabi tidak bisa di Gambar atau di Ph...
- Cara wahyu datang kepada Nabi SAW
- Nabi menerima Wahyu Pertama (Hadist)
- Qira'ah Sab'ah diajarkan Malaikat Jibril
- Tugas Malaikat Jibril
- Barang yang dimiliki Nabi Muhammad SAW 2
- Barang yang dimiliki Nabi Muhammad SAW 1
- Abu Jahal mau menjatuhkan batu di kepala Nabi
- Ejekan istri Abu Labab kepada Nabi
- Nabi dimarahi istrinya Abu Lahab dan Abu Lahab
- Putri Nabi SAW di ceraikan anaknya Abu Jahal
- Abu Jahal di tempeleng Hamzah
- Syarat Mendoakan Orang Kafir
- Ikrimah bin Abu Jahal Radhiallahu ‘Anhu
- Fir' aun mau ngalah dengan Istrinya
- Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW (Hadist)
- Canda Rasulullah dan Kemurahannya serta ziarah Qub...
- Sesatkah kita karena Sholawat?
- Kebolehan Aneka Redaksi Shalawat Nabi
- Nabi di asuh Halimatusa'diyah
- Tampan Tapi Nyunah Rasul
- Bentuk tubuh Rasulullah SAW
- Sepuluh orang yang sangat mirip dengan Nabi Muhamm...
- Sederhana dalam memberi nasihat biar tidak menjenu...
- Membangun masjid nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salla...
- Perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitul Ha...
- Nama Nabi Muhammad SAW
- Hadist Mencium Tangan Orang Saleh dan Berdiri meny...
- Cahaya di dahi Abdullah
- Ziarah ke Makam Nabi Muhammad SAW
- Keutamaan sang pembawa Risalah
- Macam-macam Sholawat Nabi
- Hikmah Sholawat kepada Nabi SAW
- Tiga jenis cinta manusia kepada Nabi
- Kisah Mujizat Nabi SAW
- Pujian Imam Abu Hanifah kepada Nabi SAW
- Pohon Kurman menangis
- Jangan Panggil Nabi Hanya namanya saja
- Nabi PunMencintai Tanah Airnya
- Nenek dari Nabi Muhammad SAW
- Sejarah Disyari’atkannya Puasa Romadhon
- Ayah Bunda Nabi Muhammad saw
- Nur Nabi Muhammad dari nabi Ismail ke Sayyid Abdul...
- Menemui Orang Dengan Muka Yang Manis
- Pengalihan kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitullah ...
- MU'JIZAT AIR LUDAH NABI Shollallohu Alaihi Wasalla...
- Keutamaan Nabi Ibrahim SAW
- Abdullah bin Abbas Mencari Ilmu
- Senjata yany dimiliki Nabi Muhammad SAW
- Para Pejuang perang Badar
- Abdul Multolib melaksanakan Nadzarnya
- Air Zamzam – Keutamaan dan Keberkahannya
- Lahirnya Ismail dan Membangun Ka'bah
- Kisah Nabi Ibrohim punya anak Ismal dan Ishaq
- Hadist seputar Rukiyah atau penyembuhan
- Jibril mengajarkan Sholat kepada Nabi
- Perintah Sholat
- Sejarah Adzan
- Macam - Macam Perumpamaan Rasullullah SAW
- Perumpamaan - Perumpamaan Rasulullah SAW
- Rasulullah Saw Penutup Para Nabi
- Sayang Nabi kepada Binatang
- Tanda - Tanda Kenabian Atau mukjizat Nabi SAW
- Mukjizat Nabi Muhammad Saw 1 : Al Quran Dan Memanc...
- Mukjizat Nabi Muhammad Saw 2 : Membelah Bulan Dll
- Mukjizat Nabi Muhammad Saw 3
- Mukjizat Nabi Muhammad Saw 4 : Mengetahui Kejadian...
- Rangkuman
- Keluarga Besar Rasulullah SAW
- Meninggalnya Rasulullah SAW Bg 1
- Meninggalnya Rasulullah SAW Bg 2
- Meninggalnya Rasulullah SAW Bg 3
- Makam Nabi terdapat taman Syurga
- Ketika Nabi Muhammad SAW wafat
- Nabi membeli tanah untuk bangun Masjid Nabawi
- Do'a Seputar Ibu Hamil dan Melahirkan
- Keutamaan Mualud
- Do'a agar dilancarkan Rizkinya
- Orang biasa Nikah dengan seorang syarifah
- Perayaan Maulid Nabi Saw
- Sepuluh Hewan penghuni Syurga
- Arti dan yang bergelar ulul 'azmi
- Peringatan Maulid Nabi adalah kebiasaan yang baik
- Siapa Jin Qorin itu?
- Mengapa kita mesti mencintai Ahul Bait?
- Nabi Muhammad SAW beraqiqoh dirinya
- Gelar Sayidina kepada Nabi SAW
- Syahadad ada, sejak Nabi pertama
- Tawasul kepada Nabi dan orang Sholeh
- Hukum menggabungkan Allah dan Nabi Muhammad dalam ...
- Nabi Muhammad SAW Manusia paling mulia
- Perintah Sholawat kepada Nabi SAW
- Orang tua Nabi bukan Kafir
- Adap makan Nabi Muhammad SAW
- Mengapa memakai Sholawat Ibrohimiyah di Tasyahut a...
- Nabi Muhammad juga di Utus untuk para Jin
- Khilaf tentang Nabi SAW melihat Allah di Sidratul ...
- Mengapa tidak memperingati wafatnya Nabi SAW?
- Ketika Nabi di Sidratul Muntaha
- Kehadiran Roh Nabi di Majelis Maulid Nabi SAW
- Karomah para sahabat Nabi SAW
- ROSULULLAH SAW PERNAH MEN"THOLAQ" HAFSHOH BINTI SA...
- Kitab Nurul Musthofa tentang Nabi Muhammad SAW
- NENEK RASULULLAH shallallaahu ‘alaihi wa sallam
- Lafazd Syahadad yang diUcapkan Nabi SAW
- Syafa'at Nabi kepada Umatnya
- Istri-istri Nabi Muhammad SAW
- Nabi menyukai bau Wewangian ( wangi Dupa)
- Mengapa wajah Nabi tidak bisa di Gambar atau di Ph...
- Keutamaan Ahli Yaman
- Hari dan Tempat Lahirnya Nabi SAW
- Apa Nabi Muhammad juga ditanya oleh malaikat munka...
- Sholatnya Nabi sblm turun kewajiban sholat yg 5 wa...
- Kenapa Nabi Muhammad SAW di-isra' mi'raj-kan pada ...
- Panggilan Bumi (Kuburan) kepada anak Adam
- Mujizat Nabi PohoN bisa berjalan dan Batu bisa bic...
- Silsilah nasab Nabi Muhammad Shollallohu 'alaihi w...
- Pembagian Bid'ah dalam kitab Hadis Shoheh Muslim
- Bid’ah Bukan Hukum ternyata
- Hadist “Bapakku dan Bapakmu di Dalam Neraka”
- Semua 63 tentang Rasulullah SAW
- Abu Jahal mati di tangan dua Pemuda
- Ibunda Sang Pencatat Wahyu
- Pengikut pertama Nabi dalam 3 Tahun
- Kisah Rasulullah membelah bulan.
- Nabi Ibrahim, Ismail dan Zam-zam
- Masyarakat Madinah setelah Hijrah
- Al-Qur'an
- Sejarah Nabi Episode
- Anak-anak Abdul Mutholib
- Kedatangan Nabi Muhammad SAW di Madinah
- Wanita pertama kali memakaikan Klambu pada Ka'bah
- Khitan Nabi SAW
- Kisah Ayah Rasulullah Abdullah bin Abdul Muthalib
- Kisah Ibunda Rasulullah S.A.W, Aminah Binti Wahab
- Kisah Siti Aminah
- Nur Nabi Muhammad SAW 2
- Nur Nabi Muhammad SAW 1
- Kirim fatihah atau kirim pahala kepada Nabi Muhamm...
- Menambahkan kata “SAYYIDINA” dalam pembacaan shala...
- Uban Nabi Muhammad SAW
- Aurat Nabi Muhammda SAW Tidak Pernah Dilihat Oleh ...
- Kisah Cinta Nabi Muhammad dan Khadijah
- Bau Kemenyan Disukai Nabi Lho
- Sejarah Al-Barzanji
- Judul - judul : Kisah Nabi SAW
- Pengagungan dan penghormatan pada Rasul tidak hany...
وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ سَنَةً
عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم
اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ
وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ سَنَةً سَافَرَ إِلَى بُصْرَى فِيْ تِجَارَةٍ لِخَدِيْجَةَ الْفَتِيَّةْ C
وَمَعَهُ غُلاَمُهَا مَيْسَرَةُ يَخْدِمُهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ وَيَقُوْمُ بِمَا عَنَاهْ C
وَنَزَلَ تَحْتَ شَجَرَةٍ لَدَى صَوْمَعَةِ نَسْطُوْرَا رَاهِبِ النَّصْرَانِيَّةْ C
فَعَرَفَهُ الرَّاهِبُ إِذْ مَالَ إِلَيْهِ ظِلُّهَا الْوَارِفُ وَأَوَاهْ C
وَقَالَ: مَا نَزَلَ تَحْتَ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ قَطُّ إِلاَّ نَبِيٌّ ذُوْ صِفَاتٍ نَقِيَّةْ C
وَرَسُوْلٌ قَدْ خَصَّهُ اللهُ تَعَالَى بِالْفَضَائِلِ وَحَبَاهْ C
ثُمَّ قَالَ لِمَيْسَرَةَ: أَفِيْ عَيْنَيْهِ حُمْرَةُ نِ اسْتِظْهَارًا لِلْعَلاَمَةِ الْخَفِيَّةْ C
فَأَجَابَهُ بِنَعَمْ فَحَقَّ لَدَيْهِ مَا ظَنَّهُ فِيْهِ وَتَوَخَّاهْ C
وَقَالَ لِمَيْسَرَةَ: لاَ تُفَارِقْهُ وَكُنْ مَعَهُ بِصِدْقِ عَزْمٍ وَحُسْنِ طَوِيَّةْ C
فَإِنَّهُ مِمَّنْ أَكْرَمَهُ اللهُ تَعَالَى بِالنُّبُوَّةِ وَاجْتَبَاهْ C
ثُمَّ عَادَ إِلَى مَكَّةَ فَرَأَتْهُ خَدِيْجَةُ مُقْبِلاً وَهِيَ بَيْنَ نِسْوَةٍ فِيْ عُلِّيَّةْ C
وَمَلَكَانِ عَلَى رَأْسِهِ الشَّرِيْفِ مِنْ وَهَجِ الشَّمْسِ قَدْ أَظَلاَّهْ C
وَأَخْبَرَهَا مَيْسَرَةُ بِأَنَّهُ رَأَى ذٰلِكَ فِي السَّفَرِ كُلِّهِ وَبِمَا قَالَ لَهُ الرَّاهِبُ وَأَوْدَعَهُ لَدَيْهِ مِنَ الْوَصِيَّةْ C
وَضَاعَفَ اللهُ فِيْ تِلْكَ التِّجَارَةِ رِبْحَهَا وَنَمَّاهْ C
فَبَانَ لِخَدِيْجَةَ بِمَا رَأَتْ وَمَا سَمِعَتْ أَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ تَعَالَى إِلَى الْبَرِيَّةْ C اَلَّذِيْ خَصَّهُ اللهُ تَعَالَى بِقُرْبِهِ وَاصْطَفَاهْ C
فَخَطَبَتْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهَا الزَّكِيَّةْ C
لِتَشُمَّ مِنَ اْلإِيْمَانِ بِهِ طِيْبَ رَيَّاهْ C
فَأَخْبَرَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْمَامَهُ بِمَا دَعَتْهُ إِلَيْهِ هٰذِهِ الْبَرَّةُ التَّقِيَّةْ C
فَرَغِبُوْا فِيْهَا لِفَضْلٍ وَدِيْنٍ وَجَمَالٍ وَمَالٍ وَحَسَبٍ وَنَسَبٍ كُلٌّ مِنَ الْقَوْمِ يَهْوَاهْ C
وَخَطَبَ أَبُوْ طَالِبٍ وَأَثْنَى عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَنْ حَمِدَ اللهُ بِمَحَامِدَ سَنِيَّةْ C
وَقَالَ: هُوَ وَاللهِ بَعْدُ لَهُ نَبَأٌ عَظِيْمٌ يُحْمَدُ فِيْهِ مَسْرَاهْ C
فَزَوَّجَهَا مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُوْهَا وَقِيْلَ عَمُّهَا وَقِيْلَ أَخُوْهَا لِسَابِقِ سَعَادَتِهَا اْلأَزَلِيَّةْ وَأَوْلَدَهَا كُلَّ أَوْلاَدِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ الَّذِيْ بِاسْمِ الْخَلِيْلِ سَمَّاهْ
Setelah beliau menginjak usia dua puluh lima tahun, beliau pergi ke Bushro dengan tujuan mendagangkan dagangan Kodijah . Beliau di bantu oleh budaknya yang bernama Maisaroh. Di perjalanan, beliau singgah dan istiahat di bawah pohon yang ada di dekat gereja pendeta yang berama Nasthuro. Lalu pendeta tahu bahwa beliau adalah nabi, karena dedaunan yang sangat lebat itu condong meaunginya. Ia berkata, “Tidak ada yang istirahat di bawa pohon ini selain Nabi yang memiliki sifat- sifat yang bersih dan Rosul yang di pilih dengan pemberian-Nya. Kemudian ia ingin mengecek tanda- tandanya yang lebih samar dan bertanya kepada Maysaroh, “Apakah di kedua matanya ada kemerah- merahan ?.” Maysaroh menjawab, “Ya.” Maka sungguh tepatlah apa yang ia sangka semula. Dn ia berpesan kepada Maysaroh, “Jangan sampai kau meninggalkan orang ini !. Kau harus menyertainya dengan sungguh dan hati yang lapang !, karena orang ini termasuk di antara manusia yang di pilih dan di mulyakan oleh Alloh SWT dengan kenabian !.”
Kemudian beliau kembali ke Makkah dan di jemput oleh ibu Khoijah bersama para wanita dari atas panggung, saat itu beliau di kawal oleh dua Malaikat yang menaungi dari atasnya dari terik matahari. Hal semisal ini oleh Maisaroh di lihat selama di perjalanan, lalu olehnya ia ceritakan pada S. Khodijah. Begitu juga apa saja yang di ucapkan dan di pesankan oleh pendeta, semuanya ia ceritakan. Dan di dalam perdagangan ini Alloh SWT memberikan laba yang melimpah pada S. Khodijah. Ahirnya, Khodijah tahu bahwa beliau adalah manusia pilihan Alloh SWT yang di utus pada semua mahluk. Ahirnya beliau memintanya agar Nabi SAW sudi menikahinya, agar bisa mencium bau segar keimanan padanya. Lalu Nabi SAW menceritakan lamaran ini kepada paman- pamannya, ahirnya semuanya setuju karena Khodijah memiliki kelebihan, agama, rupa, nasab, dan harta, yang mana sifat- sifat ini di gandrungi oleh setiap orang. Kemudian, Abi Tholib berpidato dengan memuji Alloh SWT dan memuji pada Nabi SAW. Di dalam pidatonya ia berkata, “Ia ini, demi Alloh, memiliki kisah yang agung yang akan menjadikan-nya mendapat sanjungan.” Ahirnya, S. Khodijah di nikahkan dengan di walikan oleh bapaknya atau pamannya atau saudaranya ( beberapa pendapat ), karena suratan yang menaqdirnya menjadi orang yang beruntung. Dan dari pernikan ini terlahir semua putra- putra Nabi SAW, kecuali putra yang beliau beri nama Ibrohim.
Langganan:
Postingan (Atom)