Sabtu, 06 Desember 2014

Nabi tidaklah dilahirkan melalui farji (vagina)

TAHUKAH ANDA ???
Bahwa Rasululloh shollallohu alaihi wasallam tidaklah dilahirkan melalui farji (vagina), tetapi melalui tempat yang dibuka yang berada di atas farji dan di bawah pusar, Begitu juga semua Nabi tidaklah di lahirkan melalui farji.
Pendapat yg mengatakan bahwa Nabi lahir melalui farji tidaklah benar, bahkan madzhab malikiyah berpendapat untuk membunuh orang yang mengatakan bahwa Nabi kita dilahirkan melalui tempat keluarnya air kencing.


- Referensi kitab Nihayatuz Zain karya Syeh Nawawy Banten

وَنقل بعض الأفاضل عَن القليوبي وَعَن جمع من الْمُحَقِّقين أَنه صلى الله عَلَيْهِ وَسلم لم يُولد من الْفرج بل من مَحل فتح فَوق الْفرج وَتَحْت السُّرَّة والتأم فِي سَاعَته
وَنقل عَن القَاضِي عِيَاض أَن مثله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فِي ذَلِك جَمِيع الْأَنْبِيَاء وَالْمُرْسلِينَ لَكِن قَالَ الْعَلامَة التلمساني وكل من الْأَنْبِيَاء غير نَبينَا مولودون من فَوق الْفرج وَتَحْت السُّرَّة وَأما نَبينَا فمولود من الخاصرة الْيُسْرَى تَحت الضلوع ثمَّ التأم لوقته خُصُوصِيَّة لَهُ
فَتحصل لَك من هَذِه أَنه لم يَصح نقل بولادته من الْفرج وَكَذَا غَيره من الْأَنْبِيَاء
وَلِهَذَا أفتى الْمَالِكِيَّة بقتل من قَالَ إِن نَبينَا ولد من مجْرى الْبَوْل
اه
نهاية الزين
في إرشاد المبتدئين
terjemah :
sebagian dari orang-orang yang utama mengutip dari al-qulyubiy dan dari sekelompok ulama' yang menjelaskan hukum beserta dalilnya (muhaqqiq)
bahwa sesungguhnya Rosulullohi shollallohu 'alaihi wasallam itu tidak dilahirkan melalui farji, akan tetapi beliau dilahirkan melalui tempat yang dibuka yang berada di atas farji dan di bawah pusar dan menjadi rapat kembali dalam satu saat.
dan dinuqil dari al-qodli 'iyadl : sesungguhnya seperti halnya Nabi shollallohu 'alaihi wasallam adalah kesemuanya para nabi dan para utusan
akan tetapi al-allamah at-tilamsaniy berkata : setiap nabi selain nabi kita shollallohu 'alaihi wasallam itu dilahirkan melalui tempat yang berada diatas farji dan di bawah pusar sedangkan nabi kita itu dilahirkan melalui lambung bagian kiri di bawah tulang rusuk dan kemudian kembali rapat (menutup) pada waktunya, sebagai keistimewaan khusus baginya
maka kesimpulan bagimu dari keterangan ini sesungguhnya tidak benar kutipan tentang dilahirkannya nabi melalui farji begitu pula nabi-nabi yang lain,
dan karena hal inilah ulama' madzhab malikiyah berpendapat untuk membunuh orang yang mengatakan bahwa nabi kita dilahirkan melalui tempat keluarnya air kencing.
selesai

wallohu a'lam bish-showab.
Semoga sholawat dan salam Allah terlimpah curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarganya, sahabatnya dan para pengikutnya sampai hari kiyamat....
Aamiin....

Rabu, 03 Desember 2014

Nabi di Operasi


Seluruh kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengandung berbagai pelajaran berharga bagi umatnya. Tidak saja kehidupan beliau setelah diangkat menjadi penutup seluruh nabi dan rasul, melainkan juga kehidupan beliau sebelum itu. Sejak beliau dilahirkan sampai menjelang diangkat menjadi nabi dan rasul.
Ratusan bahkan ribuan karya tentang sejarah kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam telah ditulis oleh para ulama dan sejarawan Islam, sejak abad pertama Hijriyah sampai abad XV Hijriyah ini. Siapa yang mengkaji karya-karya tersebut niscaya akan mampu memetik banyak pelajaran berharga dalam berbagai aspek kehidupan dari ketauladan hamba yang paling dikasihi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam kesempatan ini, kita akan memutar kembali memori kita tentang salah satu momen penting dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Sebuah momen yang sangat besar pengaruhnya bagi perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, sekaligus besar pelajarannya bagi kita selaku umatnya. Sebuah momen yang sangat besar, namun seringkali kurang diperhatikan karena ‘terselip’ dan kalah pamornya dibandingkan momen-momen besar lainnya semisal perang Badar atau penaklukan kota Makkah. Sebuah momen yang dianggap sangat penting oleh Allah Ta’ala, sehingga diulang sampai dua kali, bahkan menurut sebagian sejarawan Islam diulang sampai tiga kali.
Momen yang sangat besar, namun seringkali kurang mendapat porsi kajian yang memadai. Momen tersebut sekali terjadi para masa jahiliyah, sebelum beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam diangkat menjadi nabi dan rasul. Dan momen tersebut terjadi lagi setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam diangkat menjadi nabi dan rasul. Momen apakah yang kita maksudkan?

Momen pertama:

Pembelahan dada Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa salam pada masa balita

Para pakar sejarah dan ulama hadits menyebutkan bahwa sudah menjadi kebiasaan bangsa Arab yang hidup menggembala ternak di daerah pedalaman untuk menawarkan jasa menyusukan bayi ke daerah ‘perkotaan’ bangsa Arab. Dari menyusui bayi orang-orang Arab yang hidup di ‘perkotaan’ itulah, orang-orang Arab pedalaman itu mendapatkan tambahan penghasilan.
Suatu kali daerah pedalaman mengalami masa paceklik panjang. Rumput-rumput hangus terbakar panas matahari, sumber-sumber air mengering, dan peternakan di ambang kemusnahan. Suku Bani Sa’ad bin Bakar yang hidup di pedalaman dari peternakan mau tak mau harus mencari jalan keluar dari bencana kekeringan dan kelaparan yang telah nampak di depan mata mereka.
Bersama para suami, kaum istri dari suku Bani Sa’ad bin Bakar berangkat ke kota Makkah untuk menawarkan jasa menyusui bayi-bayi penduduk Makkah. Di antara para ibu di kota Makkah yang menawarkan bayinya untuk disusukan, nampak Aminah binti Wahab yang menawarkan bayinya bernama Muhammad kepada para wanita Bani Sa’ad. Satu per satu wanita Bani Sa’ad mendapat tawaran menyusui Muhammad, namun satu per satu pula mereka menolak tawaran itu.
Halimah binti Harits, wanita terakhir dalam rombongan Bani Sa’ad itu juga menolak tawaran itu. Mereka semua memiliki pemikiran yang sama, “Bayi ini sudah tidak memiliki ayah lagi. Apa yang bisa diperbuat oleh ibunya? Bagaimana ia akan membayar biasa penyusuan bayinya?” Ya, wanita-wanita Arab dusun itu datang untuk menawarkan jasa penyusuan, demi mendapatkan rizki penyambung kehidupan mereka. Jika orang tua yang menawarkan bayinya tidak memiliki kepala keluarga yang memberi jaminan nafkah, lantas siapa yang akan membayar jasa penyusuan bayi itu?
Satu per satu wanita Arab dari dusun itu mendapatkan seorang bayi yang akan disusuinya. Hanya tinggal Halimah binti Harits seorang yang belum juga mendapatkan bayi yang dimaksudkan. Mereka semua hendak kembali pulang ke perkampungan Bani Sa’ad bin Bakar. Melihat keadaan yang demikian itu, Halimah tidak ingin pulang kampung dengan tangan hampa. Kepada suaminya, Harits bin Abdul Uzza, ia pun mengatakan, “Jika aku membawa bayi yang yatim itu tentu lebih baik daripada aku pulang tanpa membawa seorang bayi pun untuk aku susui.” Dengan alasan itu, ia pun menemui Aminah binti Wahab dan membawa pulang bayi yatim bernama Muhammad bin Abdullah itu.
Halimah binti Harits As-Sa’diyah menuturkan kisahnya, “Aku pun tiba di tendaku. Saat itu aku memiliki seorang bayi yang masih kecil, demi Allah, ia tidak bisa tidur karena kelaparan. Begitu aku menaruh Muhammad pada putting payudaraku, ia dan anakku segera menyusu dengan puas sesuai kehendak Allah sampai ia kenyang dan saudara sesusuannya kenyang, lalu keduanya tertidur. Suamiku lalu mendatangi seekor kambing kami yang, demi Allah, semula tidak mengeluarkan susu walau hanya setetes. Begitu tangannya memegang puting susu kambing itu, ternyata putting itu penuh, sehingga suamiku bisa memeras susunya dengan deras. Suamiku pun datang kepadaku dan berkata: ‘Demi Allah, wahai putri Abu Dzuaib, aku yakin bayi yang baru saja kita bawa ini adalah bayi yang diberkahi.”
Suamiku lantas menceritakan peristiwa kambing kami yang kurus dan baru saja diperas susunya dengan deras. Aku pun menceritakan kepadanya puting susuku yang mengenyangkan kedua anak ini. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan pulang ke kampung kami. Aku mengendarai seekor keledai kami yang kurus. Demi Allah, ia begitu kurus sehingga kalah dari semua keledai lainnya. Ketika aku pun menaruh Muhammad di atas keledaiku, tiba-tiba keledaiku mampu berjalan mendahului unta-unta orang lain. Orang-orang kaget dengan peristiwa itu dan berkomentar, “Demi Allah, keledaimu ini memiliki keajaiban.”
Kami pun tiba di negeri kami, negeri Sa’ad bin Bakar. Demi Allah, kami hanya mendapatkan berkah semata dari Allah. Sampai-sampai penggembala keluarga kami pulang dengan menggiring kambing-kambing kami yang kekenyangan. Padahal kambing-kambing orang-orang dari suku kami pulang dalam keadaan kurus dan lapar. Kambing-kambing mereka juga tidak mengeluarkan air susu walau hanya setetes. Mereka pun berkata, “Bagaimana kalian ini, gembalakan kambing-kambing kalian di tempat penggembala putri Abu Dzuaib menggembalakan kambing-kambingnya!”
Suatu hari anakku dan Muhammad bermain-main bersama kambing-kambing kami di belakang tenda kami. Tiba-tiba anakku datang tergesa-gesa dan berkata, “Anak suku Quraisy itu telah dibunuh!” Aku dan suamiku segera mencarinya ke belakang rumah. Ia menemui kami dengan raut wajah yang pucat. Aku dan suamiku bergantian memeluknya.
Beberapa saat kemudian kami bertanya kepadanya, “Engkau kenapa?” Ia hanya bisa menjawab, “Aku tidak tahu. Tadi ada dua orang datang kepadaku, lalu keduanya membelah perutku dan mencucinya.”
Mendengar ceritanya itu, suamiku berkata, “Aku kira anak ini diserang (jin). Segeralah engkau mengembalikan anak ini kepada keluarganya, sebelum urusannya semakin besar saat berada di sini.” Suamiku terus mendesakku untuk berangkat ke Makkah. Atas desakan itu, aku segera membawanya kepada ibunya.
“Sebagai ibu susuannya, aku telah menyapihnya. Aku khawatir ia terkena musibah, untuk itu terimalah ia kembali.”
Ibunya bertanya, “Kenapa engkau tidak ingin merawatnya lebih lama? Bukankah dahulu engkau meminta kepadaku agar ia engkau bawa saja? Mungkin engkau mengkhawatirkan setan menyerang anakku ini. Janganlah khawatir, anakku ini dilindungi dari setan. Aku akan memberitahukan kepadamu, saat aku melahirkannya, aku melihat dari tubuhku keluar sebuah cahaya yang menerangi istana-istana Bushra di negeri Syam.” (HR. Abu Ya’la, Ath-Thabarani dan Abu Nu’aim Al-Asbahani. Imam Al-Haitsami dalam Majmauz Zawaid wa Mambaul Fawaid, 8/220-221 no. 13840 mengatakan: Imam Abu Ya’la dan Ath-Thabarani meriwayatkan hadits yang semakna, dan para perawi keduanya adalah orang-orang yang tsiqah)
Peristiwa pembelahan dada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam pada masa kanak-kanak saat diasuh oleh keluarga Halimah bintu Harits As-Sa’diyah ini merupakan peristiwa yang dituturkan oleh semua sejarawan Islam. Peristiwa tersebut juga disebutkan dalam hadits-hadits shahih dan hadits-hadits lemah dari berbagai jalur periwayatan. Di antaranya diriwayatkan oleh imam Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu sebagai berikut:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ، فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ، فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ، فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ، فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً، فَقَالَ: هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ، ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ، ثُمَّ لَأَمَهُ، ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ، وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ – يَعْنِي ظِئْرَهُ – فَقَالُوا: إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ، فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقِعُ اللَّوْنِ “، قَالَ أَنَسٌ: «وَقَدْ كُنْتُ أَرَى أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِي صَدْرِهِ».
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam didatangi oleh malaikat Jibril saat beliau sedang bermain dengan anak-anak sebayanya. Malaikat Jibril mengambil beliau, membaringkannya, membelah dadanya, mengeluarkan jantung (hati)nya dan mengeluarkan segumpal darah yang menggantung dari dalam jantung (hati)nya. Malaikat Jibril berkata, “Ini adalah bagian setan darimu.”
Malaikat Jibril kemudian mencuci jantung (hati) beliau dalam sebuah wadah yang terbuat dari emas dengan air zamzam, kemudian menyatukan jantung (hati)nya dan mengembalikannya ke tempatnya semula.
Anak-anak sebaya yang bermain bersama beliau bergegas mendatangi ibu susuan beliau dan berkata, “Muhammad telah dibunuh!” Maka mereka beramai-ramai mendatangi beliau dan saat itu wajah beliau berubah pucat karena takut. Anas bin Malik, “Saya telah melihat bekas jahitan itu pada dada beliau.” (HR. Muslim no. 162, Ahmad no. 12221, 12506 dan 14069, Abu Ya’la no. 3374 dan 3507, Ibnu Hibban no. 6334, Abd bin Humaid no. 1308, dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 3708)

Hadits shahih lainnya tentang hal itu diriwayatkan oleh imam Ibnu Ishaq dan Ahmad dari Khalid bin Ma’dan dari beberapa orang sahabat radhiyallahu ‘anhum sebagai berikut:

وَقَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ: حَدَّثَنِي ثَوْرُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ قَالُوا لَهُ: أَخْبِرْنَا عَنْ نَفْسِكَ.
قَالَ: ” نعم أَنا دَعْوَة أَبى إِبْرَاهِيم وَبُشْرَى عِيسَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ، وَرَأَتْ أُمِّي حِينَ حَمَلَتْ بِي أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ، وَاسْتُرْضِعْتُ فِي بَنِي سَعْدِ بْنِ بَكْرٍ، فَبَيْنَا أَنَا فِي بَهْمٍ لَنَا أَتَانِي رَجُلَانِ عَلَيْهِمَا ثِيَابٌ بِيضٌ مَعَهُمَا طَسْتٌ مِنْ ذَهَبٍ مَمْلُوءٌ ثَلْجًا، فَأَضْجَعَانِي فَشَقَّا بَطْنِي ثُمَّ اسْتَخْرَجَا قَلْبِي فَشَقَّاهُ فَأَخْرَجَا مِنْهُ عَلَقَةً سَوْدَاءَ فَأَلْقَيَاهَا، ثُمَّ غَسَلَا قَلْبِي وَبَطْنِي بِذَلِكَ الثَّلْجِ، حَتَّى إِذَا أَنْقَيَاهُ
رَدَّاهُ كَمَا كَانَ، ثُمَّ قَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: زِنْهُ بِعَشَرَةٍ مِنْ أُمَّتِهِ.
فَوَزَنَنِي بِعَشَرَةٍ فَوَزَنْتُهُمْ، ثُمَّ قَالَ: زِنْهُ بِمِائَةٍ مِنْ أُمَّتِهِ.
فَوَزَنَنِي بِمِائَةٍ فَوَزَنْتُهُمْ. ثُمَّ قَالَ زِنْهُ بِأَلْفٍ مِنْ أُمَّتِهِ.
فَوَزَنَنِي بِأَلْفٍ فوزنتهم، فَقَالَ: دَعه عَنْك، فو وَزَنْتَهُ بِأُمَّتِهِ لَوَزَنَهُمْ “.
Imam Ibnu Ishaq berkata, “Tsaur bin Yazid menceritakan kepadaku dari Khalid bin Ma’dan dari beberapa orang sahabat radhiyallahu ‘anhum, bahwasanya mereka pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, “Beritahukanlah perihal Anda kepada kami!”
Beliau menjawab, “Baiklah. Aku adalah buah dari doa nabi Ibrahim dan kabar gembira nabi Isa ‘alaihimas salam. Ketika ibuku mengandungku, ia melihat dari tubuhnya keluar sebuah cahaya yang menerangi istana-istana di negeri Syam. Aku kemudian disusukan pada Bani Sa’d bin Bakar. Suatu hari ketika aku sedang berada di belakang kandang kambing-kambing kami, tiba-tba datang kepadaku dua orang laki-laki yang memakai pakaian putih. Keduanya membawa sebuah wadah yang terbuat dari emas dan penuh berisikan es. Keduanya membaringkan diriku, membelah perutku, kemudian mengeluarkan jantung (hati)ku, lalu membelahnya dan mengeluarkan dari dalamnya satu gumpalan darah hitam, lalu keduanya membuangnya. Keduannya lalu mencuci jantung (hati)ku dan perutku dengan air es. Ketika keduanya telah selesai mencucui sampai bersih, keduanya mengembalikannya seperti semula.
Salah seorang di antara keduanya lalu berkata kepada kawannya, “Timbanglah ia dengan sepuluh orang dari umatnya!”
Ia pun menimbang diriku dengan sepuluh orang umatku, ternyata bobotku lebih berat daripada bobot mereka.
Salah seorang di antara keduanya lalu berkata kepada kawannya, “Timbanglah ia dengan seratus orang dari umatnya!”
Ia pun menimbang diriku dengan seratus orang umatku, ternyata bobotku lebih berat daripada bobot mereka.
Salah seorang di antara keduanya lalu berkata kepada kawannya, “Timbanglah ia dengan seribu orang dari umatnya!”
Ia pun menimbang diriku dengan seribu orang umatku, ternyata bobotku lebih berat daripada bobot mereka.
Salah seorang di antara keduanya lalu berkata kepada kawannya, “Biarkanlah ia, sebab seandainya engkau menimbang dirinya dengan seluruh umatnya, niscaya bobotnya lebih berat daripada bobot mereka semua.” (HR. Ibnu Ishaq dalam Sirah Ibnu Ishaq, 1/51. Imam Ibnu Katsir dalam As-Sirah An-Nabawiyah, 1/227-228 berkata: Sanad hadits ini bagus dan kuat)

Hadits-hadits tentang peristiwa itu juga diriwayatkan oleh imam Ad-Darimi, Al-Hakim, Ibnu Khuzaimah, Abu Nu’aim Al-Asbahani, Al-Baihaqi, Ibnu ‘Asakir, Ibnu Abi Ashim dan lain-lain. Kebenaran berita tentang hal itu tidak diragukan lagi. Semua kitab sirah nabawiyah juga telah menyebutkannya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam antara lain menuturkan:
فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: افْلِقْ صَدْرَهُ. فَهَوَى أَحَدُهُمَا إِلَى صَدْرِي فَفَلَقَهَا فِيمَا أَرَى بِلَا دَمٍ وَلَا وَجَعٍ، فَقَالَ لَهُ: أَخْرِجِ الْغِلَّ وَالْحَسَدَ. فَأَخْرَجَ شَيْئًا كَهَيْئَةِ الْعَلَقَةِ، ثُمَّ نَبَذَهَا فَطَرَحَهَا، فَقَالَ لَهُ: أَدْخِلِ الرَّحْمَةَ وَالرَّأْفَةَ. فَإِذَا مِثْلُ الَّذِي أَخْرَجَ شَبِيهَ الْفِضَّةِ، ثُمَّ هَزَّ إِبْهَامَ رِجْلِي الْيُمْنَى فَقَالَ: اغْدُ وَاسْلَمْ. فَرَجَعْتُ بِهَا أَغْدُو بِهَا رِقَّةً عَلَى الصَّغِيرِ وَرَحْمَةً عَلَى الْكَبِيرِ» “.
“Salah seorang (malaikat) itu berkata kepada kawannya (malaikat lainnya): “Belahlah dadanya!” Maka salah satu dari keduanya mendekat kepada dadaku dan membelahnya, tanpa keluar darah dan tanpa ada rasa sakit. Kawannya berkata, “Keluarkanlah kedengkian dan rasa iri!” Maka kawannya mengeluarkan sesuatu seperti segumpal darah hitam dan membuangnya. Kawannya berkata kembali, “Masukkan kepadanya rasa kasih sayang dan rasa cinta!” Ternyata seperti yang dikeluarkan, menyerupai perak. Ia kemudian menggoyang-goyang jempol kaki kananku dan berkata: “Pulanglah dengan selamat!” Maka aku pun kembali dengan selamat, sehingga aku menjadi orang yang mengasihi anak-anak dan menyayangi orang-orang tua.” (HR. Abdullah bin Ahmad, imam Al-Haitsami dalam Majmauz Zawaid wa Mambaul Fawaid, 8/223 no. 13843 berkata: Diriwayatkan oleh Abdullah (bin Ahmad) dan para perawinya tsiqah, dan mereka dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban)

Hadits riwayat Abdullah bin Ahmad tersebut memiliki kelemahan dari sisi matan (kandungan) hadits, karena menyebutkan peristiwa pembelahan dada tersebut terjadi pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam berusia 10 tahun lebih beberapa bulan. Hal itu bertentangan dengan hadits-hadits shahih yang menyebutkan terjadinya peristiwa itu pada saat beliau diasuh oleh Halimah binti Harits As-Sa’diyah. Namun hadits riwayat Abdullah bin Ahmad tersebut memberikan informasi yang lebih detail tentang apa yang dikeluarkan dari hati beliau shallallahu ‘alaihi wa salam dan apa yang diisikan ke dalam hati beliau.
Dalam hadits yang lain dari Anas bin Malik disebutkan apa yang diisikan ke dalam hati beliau pada peristiwa pembelahan dada yang pertama tersebut:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنْ نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَخْرَجَ حَشْوَتَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَغَسَلَهَا، ثُمَّ كَبَسَهَا حِكْمَةً وَنُورًا – أَوْ حِكْمَةً وَعِلْمًا -»
Dari Anas bin Malik dari Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bahwasanya malaikat Jibril mengeluarkan hati beliau ke dalam sebuah wadah yang terbuat dari emas, kemudian malaikat Jibril mencucinya dan mengisinya dengan hikmah dan cahaya atau hikmah dan ilmu.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 744. Imam Al-Haitsami dalam Majmauz Zawaid wa Mambaul Fawaid, 8/223 no. 13844 berkata: Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani, di dalam sanadnya ada Risydin bin Sa’ad, ia dinyatakan lemah oleh mayoritas ulama hadits)
***
Momen kedua:
Pembelahan dada Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa salam pada malam Isra’
Para ulama hadits dan sejarawan Islam menyebutkan bahwa dada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam kembali dibelah pada malam Isra’. Dada beliau dicuci dengan air Zamzam kemudian dipenuhi dengan hikmah dan keimanan. Setelah itu beliau melakukan Isra’ dan Mi’raj bersama malaikat Jibril dengan mengendarai kuda tunggangan bernama Buraq.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan peristiwa itu sebagai berikut:

عَنْ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، عَنْ مَالِكِ بْنِ صَعْصَعَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” بَيْنَا أَنَا عِنْدَ البَيْتِ بَيْنَ النَّائِمِ، وَاليَقْظَانِ – وَذَكَرَ: يَعْنِي رَجُلًا بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ -، فَأُتِيتُ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ، مُلِئَ حِكْمَةً وَإِيمَانًا، فَشُقَّ مِنَ النَّحْرِ إِلَى مَرَاقِّ البَطْنِ، ثُمَّ غُسِلَ البَطْنُ بِمَاءِ زَمْزَمَ، ثُمَّ مُلِئَ حِكْمَةً وَإِيمَانًا، وَأُتِيتُ بِدَابَّةٍ أَبْيَضَ، دُونَ البَغْلِ وَفَوْقَ الحِمَارِ: البُرَاقُ، فَانْطَلَقْتُ مَعَ جِبْرِيلَ حَتَّى أَتَيْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا،
Dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhuma berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Ketika aku sedang berada di Baitullah (Masjidil Haram) dalam keadaan antara tidur dan bangun, maka dibawakan kepadaku sebuah wadah yang terbuat dari emas, penuh berisikan hikmah dan keimanan. Maka dibelah dadaku dari leher sampai bagian bawah perutku, kemudian perutku dicuci dengan air zamzam, lantas dipenuhi dengan hikmah dan keimanan. Setelah itu dibawa kepadaku sebuah kendaraan berwarna putih, yang lebih pendek dari bighal namun lebih tinggi dari keledai, yaitu kendaraan Buraq. Maka aku berangkat bersama malaikat Jibril sampai ke langit dunia….”
(HR. Bukhari no. 3207 dan Muslim no. 164, dengan lafal Bukhari)

Dalam riwayat lain, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan:

لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَسْجِدِ الكَعْبَةِ، أَنَّهُ جَاءَهُ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أَنْ يُوحَى إِلَيْهِ وَهُوَ نَائِمٌ فِي المَسْجِدِ الحَرَامِ، فَقَالَ أَوَّلُهُمْ: أَيُّهُمْ هُوَ؟ فَقَالَ أَوْسَطُهُمْ: هُوَ خَيْرُهُمْ، فَقَالَ آخِرُهُمْ: خُذُوا خَيْرَهُمْ، فَكَانَتْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ، فَلَمْ يَرَهُمْ حَتَّى أَتَوْهُ لَيْلَةً أُخْرَى، فِيمَا يَرَى قَلْبُهُ، وَتَنَامُ عَيْنُهُ وَلاَ يَنَامُ قَلْبُهُ، وَكَذَلِكَ الأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلاَ تَنَامُ قُلُوبُهُمْ، فَلَمْ يُكَلِّمُوهُ حَتَّى احْتَمَلُوهُ، فَوَضَعُوهُ عِنْدَ بِئْرِ زَمْزَمَ، فَتَوَلَّاهُ مِنْهُمْ جِبْرِيلُ، فَشَقَّ جِبْرِيلُ مَا بَيْنَ نَحْرِهِ إِلَى لَبَّتِهِ حَتَّى فَرَغَ مِنْ صَدْرِهِ وَجَوْفِهِ، فَغَسَلَهُ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ بِيَدِهِ، حَتَّى أَنْقَى جَوْفَهُ، ثُمَّ أُتِيَ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ فِيهِ تَوْرٌ مِنْ ذَهَبٍ، مَحْشُوًّا إِيمَانًا وَحِكْمَةً، فَحَشَا بِهِ صَدْرَهُ وَلَغَادِيدَهُ – يَعْنِي عُرُوقَ حَلْقِهِ – ثُمَّ أَطْبَقَهُ ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا
“Awal mula malam Isra’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam dari Masjid Ka’bah adalah ada tiga orang (malaikat) yang datang kepada beliau sebelum beliau diberi wahyu, pada saat itu beliau sedang tidur di Masjidil Haram. Salah seorang (malaikat) itu bertanya, “Siapakah ia di antara mereka?” Orang (malaikat) kedua menjawab, “Ia adalah orang yang terbaik di antara mereka.” Orang (malaikat) ketiga berkata: “Bawalah orang yang terbaik di antara mereka!” Itulah kejadian malam itu.
Beliau tidak melihat mereka sampai datang suatu malam, saat itu beliau dalam keadaan mata terpejam namun hati tidak tidur, dan hati para nabi tidak pernah tidur. Mereka tidak mengajaknya berbicara, karena mereka langsung mengangkatnya dan membaringkannya di dekat sumur Zamzam. Jibril sendiri yang mengurusnya langsung. Jibril membelah antara leher bagian atas sampai tempat kalung di leher bagian bawah, sampai selesai membelah dada dan hatinya. Jibril mencucinya dengan tangannya sendiri menggunakan air Zamzam, sehingga ia selesai membersihkan hatinya. Kemudian dibawakan sebuah wadah yang terbuat dari emas, padanya ada tempat air yang juga terbuat dari emas, yang dipenuhi dengan hikmah dan keimanan. Jibril lantas memenuhi dadanya dan urat-urat kerongkongannya dengan hikmah dan keimanan, baru setelah itu mengembalikannya seperti sedia kala. Setelah itu Jibril membawanya naik ke langit dunia…”  
(HR. Bukhari no. 7517 dan Muslim no. 162, dengan lafal Bukhari)
***
Saudaraku seislam dan seiman….

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengalami pembelahan dada sebanyak dua kali seperti disebutkan oleh hadits-hadits shahih di atas. Sebagian ulama seperti imam Abu Nu’aim Al-Asbahani dalam Dalailun Nubuwwah dan syaikh Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah dalam As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau’il Qur’an was Sunnah bahkan berpendapat pembelahan dada tersebut berlangsung tiga kali, yaitu ditambah pembelahan dada pada saat beliau shallallahu ‘alaihi wa salam menerima wahyu yang pertama kali.
Hikmah apakah yang bisa kita petik dari peristiwa sejarah yang sangat penting ini?

Peristiwa pembelahan dada yang pertama.

Berdasar hadits-hadits shahih tersebut, para ulama menyebutkan bahwa dalam hati setiap manusia terdapat bagian setan. Maksudnya adalah setan memiliki tempat untuk membisikkan, menaburkan dan menanamkan potensi kejahatan dan kemaksiatan ke dalam hati setiap manusia. Jika manusia lengah dan jauh dari perlindungan Allah, niscaya setan akan masuk ke dalam hatinya, menguasai hatinya, menyebar ke seluruh tubuhnya mengikuti aliran darahnya dan mengendalikan dirinya untuk menjadi seorang hamba Allah yang musyrik, atau kafir, atau murtad, atau munafik, atau fasik atau gemar berbuat maksiat.
Hati adalah raja dari seluruh anggota badan. Jika hati manusia telah dikuasai dan dikendalikan sepenuhnya oleh setan, maka otomatis anggota badan manusia tersebut hanya akan menjadi alat setan untuk melaksanakan perintah-perintah setan dan melakukan pembangkangan terhadap Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa salam. Manusia tersebut akan menjadi hamba setan dan budak hawa nafsu belaka, bukan menjadi hamba Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala memuliakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam di atas seluruh hamba-Nya dengan membuang jauh-jauh ‘bagian setan’ tersebut dari hati beliau. Hati beliau dibersihkan oleh malaikat dengan air Zamzam dan dipenuhi dengan akhlak-akhlak mulia, kebijaksanaan, cahaya, dan ilmu. Dengan itu sejak kecil beliau tumbuh menjadi sosok yang berakhlak mulia, terjaga dari pengaruh setan, menjalani kehidupan dengan kemuliaan dan kesungguhan, jauh dari kelalaian dan kesia-siaan.

Peristiwa pembelahan dada yang kedua.

Malam Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa agung yang hanya dikaruniakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam semata. Dalam peristiwa Isra’, beliau melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidi Aqsha. Masjidil Haram adalah masjid yang pertama kali dibangun di muka bumi, oleh kekasih Allah nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail ‘alaihis salam. Masjidil Aqsha adalah masjid kedua yang dibangun di muka bumi, oleh nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan kemudian direnovasi oleh nabi Sulaiman. Di Masjidil Aqsha, beliau bertemu dengan para nabi dan rasul terdahulu. Beliau didaulat sebagai pemimpin atas seluruh nabi dan rasul terdahulu, di mana beliau mengimami mereka dalam shalat berjama’ah.

Adapun perjalanan Mi’raj adalah perjalanan beliau ke langit yang tujuh dan ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah Ta’ala, berbicara dengan Allah secara langsung dan menerima langsung perintah-Nya dari balik tabir cahaya, tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril. Pembicaraan secara langsung dengan Allah Ta’ala di Sidratul Muntaha di atas langit yang ketujuh, merupakan keistimewaan yang hanya dikaruniakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam semata. Allah Ta’ala pun ‘hanya’ berbicara kepada nabi Musa secara langsung saat ia berada di bumi, di lembah Thuwa.
Dalam perjalanan Mi’raj itu pula, kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam diperlihatkan kehidupan alam akhirat, surga dengan penghuni-penghuninya dan neraka dengan penghuni-penghuninya. Peristiwa itu adalah peristiwa luar biasa yang sangat menggetarkan jiwa dan raga beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam. Semua kejadian yang luar biasa, tanda-tanda kebesaran Allah dan bukti-bukti nyata kekuasaan-Nya dipaparkan demikian detail kepada beliau. Semua hal itu menuntut adanya kejernihan jiwa, kelapangan dada dan keteguhan hati beliau. Itulah hikmah disucikannya hati beliau dengan air Zamzam dan dipenuhi dengan keimanan dan kebijaksanaan.
Saudaraku seislam dan seiman….

Kita adalah manusia biasa yang penuh dengan salah dan dosa. Jiwa kita kotor, hati kita keruh dan tidak kokoh, mudah goyah oleh dorongan hawa nafsu, bujukan setan, tekanan keadaan dan faktor-faktor lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengalami dua kali pembelahan dada dan ‘pengisian’ hati, karena di pundak beliau terdapat tugas yang begitu berat untuk membimbing seluruh umat manusia dan jin ke jalan keselamatan di dunia dan akhirat.
Sebagai umatnya, kita juga memiliki tanggung jawab, meski tidak sebesar tanggung jawab beliau, karena kita ‘tinggal’ melanjutkan apa yang telah beliau tunaikan. Ada tanggung jawab membimbing dan menyelamatkan diri pribadi kita. Ada tanggung jawab membimbing dan menyelamatkan keluarga dan kerabat kita. Ada tanggung jawab membimbing dan menyelamatkan tetangga, kawan, dan masyarakat kita. Ada tanggung jawab membimbing dan menyelamatkan bangsa kita. Ada tanggung jawab membimbing dan menyelamatkan masyarakat dunia.

Dari kejahiliyahan kepada Islam. Dari kekufuran kepada keimanan. Dari kesyirikan kepada tauhid. Dari kemungkaran kepada kema’rufan. Dari kebid’ahan kepada kesunnahan. Dari kemaksiatan kepada ketaatan. Dari kebodohan kepada pengetahuan. Dari kehidupan yang nista kepada kehidupan yang mulia.
Di dunia dan akhirat.
Kita memiliki tanggung jawab tersebut. Dan tanggung jawab tersebut hanya bisa kita emban jika hati kita dibersihkan dan jiwa kita disucikan.
Kita yakin sepenuhnya bahwa tidak akan ada malaikat yang akan datang kepada kita, membelah dada kita, mengeluarkan kotoran hati kita, mencucinya dan menggisinya dengan keimanan, kebijaksana dan cahaya petunjuk.

Kita sendirilah yang harus bertindak sebagai ‘malaikat’ yang membedah dada kita, mengeluarkan kotoran isi hati kita, mencucinya dan dan menggisinya dengan keimanan, kebijaksana dan cahaya petunjuk.
Dan sudah seharusnya kita yakin seratus persen bahwa bulan suci Ramadhan 1433 H ini adalah karunia Allah kepada kita agar kita berkesempatan melakukan operasi ‘pembedahan dada’ dan ‘pengisian hati’ tersebut. Tidak akan ada satu malam Isra’ dan Mi’raj untuk kita, tapi Allah menggantinya dengan 29 atau 30 malam suci Ramadhan untuk kita, insya Allah.
Sejarah dua kali pembedahan dada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam telah mengajarkan sebuah pesan penting kepada kita semua: “Jadilah dokter bedah untuk kesucian jiwa Anda sendiri demi menjadi hamba Allah yang sejati!”

Mari kita gaungkan di telinga kita dan jiwa kita seruan dari Sang Pemilik bulan Ramadhan:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seperti luasnya langit-langit dan bumi, yang telah dipersiapkan untuk orang-orang yang bertakwa.(QS. Ali Imran [3]: 133)

Wallahu a’lam bish shawab.

Operasi Nabi di waktu kecil

Hadis pembedahan dada Rasul SAW atau Operasi Nabi di waktu kecil

فَبَيْنَمَا الْحَبِيْبُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ * ذَاتَ يَوْمٍ نَاءٍ عَنِ اْلاَوْطَانِ * اِذْ اَقْبَلَتْ عَلَيْهِ ثَلاَثَةُ ‏نَفَرٍ* كَأَنَّ وُجُوْهَهُمُ الشَّمْسُ وَاْلقَمَرُ* فَانْطَلَقَ الصِّبْيَانُ هَرَبًا* وَوَقَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ ‏وَسَلَّمَ مُتَعَجِّبَا* فَأَضْجَعُوْهُ عَلَى اْلاَرْضِ إِضْجَاعاً خَفِيْفًا* ا وَشَقُّوا صَدْرَهُ شَقًّا لَطِيْفًا* ‏ثُمَّ اَخْرَجُوا قَلْبَ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ *وَشَرَحُوْهُ بِسِكِّيْنِ اْلاِحْسَانِ* وَنَزَعُوا مِنْهُ حَظَّ الشَّيْطَانِ* ‏وَمَلَؤُوهُ بِالْحِلْمِ وَاْلعِلْمِ وَاْليَقِيْنِ وَالرِّضْوَانِ*وَأَعَادُوْهُ اِلَى مَكَانِهِ فَقَامَ الْحَبِيْبُ سَوِيًّا كَمَا ‏كَانَ‏
Ketika Rasul yang tercinta  jauh dari perumahan, tiga orang menghadap beliau, wajah mereka  seolah matahari dan bulan. Anak – anak kecil lari  dan Nabi berhenti dengan penuh keheranan.  lalu  mereka membaringkan beliau dengan perlahan – lahan.  Mereka membelah dadanya  dengan halus, lalu  mereka  mengeluarkan hati anak Adnan ( Muhammad SAW ) .  Dan mereka mengoprasinya  dengan  pisau kebaikan, lalu bagian setannya  di ambil  dan di penuhi dengan sikap sabar, penuh pengampunan, ilmu, yakin dan rida, lalu di kembalikan ke tempat asalnya.  lalu  rasul tercinta  berdiri tegak  sebagaimana semula. 

Admin dalam www.nabimuhammad.info menulis sbb:

Ketika Muhammad SAW masih tinggal di keluarga Bani Sa’ad, di rumah ibu susunya Halimah as Sa’diyah, waktu itu Muhammad masih kecil. Usianya sekitar tiga tahun. Muhammad sedang menggembalakan ternaknya bersama saudara saudara sepersusuannya ketika itu dua malaikat datang menemui Muhammad. Keduanya membelah perut Muhammad dan mengeluarkan segumpal darah berwarna hitam dari hati Muhammad. Benda ini mereka buang dan hati Muhammad mereka basuh hingga bersih, lalu mereka kembalikan ke tempat semula.Kisah ini bisa di rujuk pada kitab kitab Sirah. Muslim telah meriwayatkannya dalam Shahih nya. Dari Anas bin Malik pada Kitab (bab) al Iman bagian al Isra u bi Rasulillah SAW, hadist no 261. Juga oleh Ahmad dalam al Musnad, III:121. Syaikhul Islam Ahmad bin Abdurrahim, yang terkenal dengan Waliyullah ad Dihlawi (w.1176 H) mengatakan dalam Kitabnya yang istimewa, Hujjatullahil Balighah, II: 205. “Malaikat menampakkan diri. Mereka membedah hati-(perutnya), lalu mengisinya dengan keimanan dan hikmah. Hal ini terjadi diantara alam perumpamaan dan kenyataan. Oleh karena itu pembedahan itu tidak menimbulkan bahaya dan bekas pembedahan terebut masih terdapat pada beliau. Seperti itulah yang terjadi dalam setiap peristiwa yang menggabungkan antara alam mitsal (perumpamaan) dan alam syahadah (kenyataan)”[1]

Terdapat dalam kitab sahih Ibnu Hibban yang di tahkik oleh Arna`uth 88/1 Hadisnya sbb:

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً فَقَالَ هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ لَأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ يَعْنِي ظِئْرَهُ فَقَالُوا إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقِعُ اللَّوْنِ قَالَ أَنَسٌ وَقَدْ كُنْتُ أَرْئِي أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِي صَدْرِهِ حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي سُلَيْمَانُ وَهُوَ ابْنُ بِلَالٍ قَالَ حَدَّثَنِي شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُنَا عَنْ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ أَنَّهُ جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أَنْ يُوحَى إِلَيْهِ وَهُوَ نَائِمٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَسَاقَ الْحَدِيثَ بِقِصَّتِهِ نَحْوَ حَدِيثِ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ وَقَدَّمَ فِيهِ شَيْئًا وَأَخَّرَ وَزَادَ وَنَقَصَ
Imam Muslim menyatakan: Syaiban bin Farrukh  menceritakan kepada kami, lalu berkata: Hammad bin Salamah  menceritakan hadis pada kami, lalu berkata: Tsabit al Bunnani menceritakan hadis kepada kami  dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah   di datangi oleh Jibril, dan beliau sedang bermian – main dengan  anak – anak kecil, lalu Jibril mengambil beliau, lalu di baringkan dan di bedah, lalu di ambil hatinya  dan  di ambil segumpal darahnya, lalu Jibril berkata: Ini adalah bagian setan di tubuhmu, lalu di cuci  di talam emas dengan air zamzam, lalu dipasang lagi  dan di kembalikan ke tempat semula. 

Anak – anak  kecil pergi ke pada ibu susuannya, lalu menyatakan bahwa Muhammad telah terbunuh.  Mereka menyambutnya  dan tubuhnya pucat.
Anas berkata: Saya di perlihatkan bekas jahitan itu di dadanya. 

قَالَ أَنَسٌ: قَدْ كُنْتُ أَرَى أَثَرَ ذَلِكَ الْمَخِيْطِ فِي صَدْرِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Anas berkata: Sungguh aku melihat bekas jahitan itu di dada beliau SAW.
 
قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: شُقَّ صَدْرُ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ صَبِيٌّ يَلْعَبُ مَعَ الصِّبْيَانِ وَأَُخْرِجَ مِنْهُ اْلعُلْقَةُ وَلَمَّا أَرَادَ اللهُ جَلَّ وَعَلاَ اْلِإسْرَاءَ بِهِ أَمَرَ جِبْرِيْلَ بِشَقِّ صَدْرِهِ ثَانِيًا وَأَخْرَجَ قَلْبَهُ فَغَسَلَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ مَكَانَهُ مَرَّتَيْنِ فِي مَوْضِعَيْنِ وَهُمَا غَيْرُ مُتَضَادَّيْنِ
Abu hatim berkata: Dada Nabi  di bedah waktu masih kecil ketika bermain – main dengan anak – anak, lalu di buanglah segumpal darah.  Ketika  Allah menghendaki isra`, maka  Jibril  di perintahkan  untuk membedah dadanya   sekali lagi, lalu  hatinya di keluarkan  lalu di cuci dan di kembalikan pada tempatnya  dua kali  di dua tempat  dan keduanya  tidak bertentangan. 

Ibnu Hajar  berkata: Syaiban bin Farrukh adalah  perawi yang  tertuduh qadariyah,kadang keliru.  Abu hatim berkata: Orang – orang terpaksa menerima hadisnya,

وَ قَالَ السَّاجِى: قَدَرِىٌّ ، إِلاَّ أَنَّهُ كَانَ صَدُوْقًا
Assaji menyatakan: Dia adalah qadariyah tapi tetap  berkata  benar.  [2]

Dalam www.khayma.com terdapat keterangan sbb:

Tidak di ragukan lagi bahwa membersihkan bagian setan waktu kecil adalah tanda kenabian dini, persiapan untuk ma`sum terjaga dari kejelekan  dan  beribadah kepada lain Allah.  Jadi dalam hati nabi  waktu kecil itu sudah bersemayam tauhid.  Indikatornya  kasus – kasus waktu kecil nya  menunjukkan hal itu, karena itu beliau tidak menjalankan dosa, juga tidak menyembah berhala  sekalipun membudaya di kalangan  kaumnya. 

Untuk kedua kalinya dalam bedah dada  Rasulullah waktu malam Isra`.

Nabi mendapatkan petunjuk  sebagaimana di terangkan  dalam ayat:
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu  dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.[3]

Cerita juga ada dalam Al Qur'an

Dalam ayat lain Allah berfirman:
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَذَا الْقُرْءَانَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ(3)
Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.[4]

Manusia akan sesat sebelum mendapat hidayah  sbb:
وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى
Dan Dia( Allah ) mendapatimu sebagai seorang yang sesat, lalu Dia memberikan petunjuk.[5]

Riwayat Bukhari sbb:
1-حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ عَنْ شَرِيكِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ أَنَّهُ جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أَنْ يُوحَى إِلَيْهِ وَهُوَ نَائِمٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَقَالَ أَوَّلُهُمْ أَيُّهُمْ هُوَ فَقَالَ أَوْسَطُهُمْ هُوَ خَيْرُهُمْ فَقَالَ آخِرُهُمْ خُذُوا خَيْرَهُمْ فَكَانَتْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فَلَمْ يَرَهُمْ حَتَّى أَتَوْهُ لَيْلَةً أُخْرَى فِيمَا يَرَى قَلْبُهُ وَتَنَامُ عَيْنُهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ وَكَذَلِكَ الْأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلَا تَنَامُ قُلُوبُهُمْ فَلَمْ يُكَلِّمُوهُ حَتَّى احْتَمَلُوهُ فَوَضَعُوهُ عِنْدَ بِئْرِ زَمْزَمَ فَتَوَلَّاهُ مِنْهُمْ جِبْرِيلُ فَشَقَّ جِبْرِيلُ مَا بَيْنَ نَحْرِهِ إِلَى لَبَّتِهِ حَتَّى فَرَغَ مِنْ صَدْرِهِ وَجَوْفِهِ فَغَسَلَهُ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ بِيَدِهِ حَتَّى أَنْقَى جَوْفَهُ ثُمَّ أُتِيَ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ فِيهِ تَوْرٌ مِنْ ذَهَبٍ مَحْشُوًّا إِيمَانًا وَحِكْمَةً فَحَشَا بِهِ صَدْرَهُ وَلَغَادِيدَهُ يَعْنِي عُرُوقَ حَلْقِهِ ثُمَّ أَطْبَقَهُ ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ
1-Abd Aziz bin Abdillah bercerita kepada kami, lalu berkata: Sulaiman bercerita kepada kami dari Syarik bin  Abdillah berkata: Aku mendengar  Anas bin Malik  berkata: Pada malam  Rasulullah    di isra`kan dari Masjid al haram, datanglah tiga orang  sebelum beliau menerima wahyu.  Beliau saat itu  tidur di masjidil haram. 
Orang yang pertama berkata:  Manakah Muhammad ,
Dia berkata: Orang yang paling tengah  yang lebih baik.
Orang yang terahir berkata: Ambillah yang terbaik. 
Itulah kejadian malam  itu  dan tidak melihat mereka sehingga mereka datang pada nabi di malam lain, dan hati Rasulullah melihat sekalipun matanya tidur.  Begitu juga para nabi, mata mereka  tidur  dan hatinya tidak. 
Mereka  tidak bicara  kepada Nabi lalu mereka membawanya   dan di letakkan di dekat Zamzam.  Jibril yang melakukan operasi, lalu di belah antara leher, tempat kalung  hingga  dada, perut, lalu di cuci dengan air zamzam  dengan tangannya  hingga  perutnya di bersihkan, lalu di datangkan  talam emas dengan bejana kecil dari emas  yang di isi dengan iman  dan hikmah, lalu di masukkan ke dadanya  dan urat kerongkongannya, lalu di tutup lagi, dan  di angkat ke langit. [6]

Imam Bukhari meriwayatkan sbb: 

2-حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ أَبُو ذَرٍّ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فُرِجَ عَنْ سَقْفِ بَيْتِي وَأَنَا بِمَكَّةَ فَنَزَلَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفَرَجَ صَدْرِي ثُمَّ غَسَلَهُ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ جَاءَ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مُمْتَلِئٍ حِكْمَةً وَإِيمَانًا فَأَفْرَغَهُ فِي صَدْرِي ثُمَّ أَطْبَقَهُ ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِي فَعَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا
2-Yahya bin Bukair bercerita kepada kami, lalu  berkata: bercerita kepada kami al laits dari Yunus dari Ibnu Syihab  dari Anas bin Malik  berkata: Abu Dzar bercerita  sesungguhnya Rasulullah   bersabda: Atap rumahku  di belah  dan aku di Mekkah, lalu Jibril SAW  turun, lalu membelah dadaku, lalu mencucinya  dengan air zamzam.  Dia datang dengan membawa talam emas yang penuh dengan hikmah dan Iman lalu di tuangkan ke dadaku, dan di katupkan lagi, lalu memegang  tanganku, lalu membawa aku naik  ke langit dunia.  [7]

Ada lagi riwayat Bukhari dalam bab manakib al anshor 3887  dengan redaksi yang juga berbeda  sbb:

البخاري (مناقب الانصار3887):

حَدَّثَنَا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ صَعْصَعَةَ - رضى الله عنهما - أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - حَدَّثَهُمْ عَنْ لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِهِ « بَيْنَمَا أَنَا فِى الْحَطِيمِ - وَرُبَّمَا قَالَ فِى الْحِجْرِ - مُضْطَجِعًا ، إِذْ أَتَانِى آتٍ فَقَدَّ - قَالَ وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ فَشَقَّ - مَا بَيْنَ هَذِهِ إِلَى هَذِهِ - فَقُلْتُ لِلْجَارُودِ وَهْوَ إِلَى جَنْبِى مَا يَعْنِى بِهِ قَالَ مِنْ ثُغْرَةِ نَحْرِهِ إِلَى شِعْرَتِهِ ، وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ مِنْ قَصِّهِ إِلَى شِعْرَتِهِ - فَاسْتَخْرَجَ قَلْبِى ، ثُمَّ أُتِيتُ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مَمْلُوءَةٍ إِيمَانًا ، فَغُسِلَ قَلْبِى ثُمَّ حُشِىَ ، ثُمَّ أُوتِيتُ بِدَابَّةٍ دُونَ الْبَغْلِ وَفَوْقَ الْحِمَارِ أَبْيَضَ ».  - فَقَالَ لَهُ الْجَارُودُ هُوَ الْبُرَاقُ يَا أَبَا حَمْزَةَ قَالَ أَنَسٌ نَعَمْ ، يَضَعُ خَطْوَهُ عِنْدَ أَقْصَى طَرْفِهِ - « فَحُمِلْتُ عَلَيْهِ ، فَانْطَلَقَ بِى جِبْرِيلُ حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الدُّنْيَا.............................

Hudbah bin Kholid bercerita kepada kami, lalu berkata: Hammam bin Yahya bercerita kepada kami, lalu berkata: Qatadah  bercerita kepada kami  dari Anas bin Malik  dari Malik bin Sho`sho`ah ra, sesungguhnya Nabi menyampaikan hadis kepada mereka tentang malam Isra`: Ketika  aku berbaring di hatim – mungkin dia berkata: ……….. di hijir Ismail,, ada  orang datang ………………… perawi berkata: Saya dengar  dia berkata: lantas dia membelah aku antara  ini dan ini
Aku berkata kepada Jarud ( salah satu perawi ) dan dia berada di sampingku, apa maksudnya ?
Dia menjawab:  dari lobang leher  sampai pada  rambut kemaluan.
Saya dengar dia berkata: dari tulang dada  hingga rambut kemaluan, lalu hatiku di keluarkan, lalu  talam emas yang penuh dengan keimanan di datangkan, lalu mencuci hatiku  lalu di isi. 
Lantas  hewan putih lebih kecil dari Bighol dan lebih tinggi  dari pada  keledai.  Jarud  berkata kepadanya, itulah Buraq wahai Abu Hamzah. 
Anas berkata: Ya ………….

Pancaran yang sangat mata air Zamzam yang datang dari arah Ka`bah

Armansyah
Penulis Buku "Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih", Jejak Nabi "Palsu" dan Ramalan Imam Mahdi mengeritik tentang Isra` mi`raj dengan panjang lebar, dan saya mengambil perbedaan  redaksi  dalam pembedahan dada.
Dari hadis Anas bin Malik melalui jalur Az-Zuhri dari Abu Dzar adalah, yaitu:

1. Saat itu Nabi Muhammad SAW sedang tidur dirumahnya dimekkah

2. Atap rumahnya dibuka

3. Malaikat Jibril turun lalu membedah dada Nabi SAW dan mencucinya dengan air zam-zam

Dari hadis Anas bin Malik melalui jalur Qatadah dari Ibnu Sha'sha'ah, yaitu:

1. Saat itu Nabi Muhammad SAW sedang berada di:

 Samping rumah (tidak dijelaskan rumah siapa)

.2. Samping Ka'bah (redaksional yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal)

.3. Reruntuhan bangunan (redaksional yang juga diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal)

1.4. Diatas bongkahan batu sambil berbaring (berdasar redaksional riwayat Bukhari dan Ahmad bin Hambal juga)

2. Ada 3 orang malaikat mendatangi Nabi SAW

3. Malaikat Jibril turun lalu membedah dada Nabi SAW dan mencucinya dengan air zam-zam

4. Nabi naik Buraq kebaitul Maqdis lalu isra`

Dari hadis Anas bin Malik melalui jalur Syarik bin Abu Namr, yaitu:

1. Nabi Muhammad SAW ada di Ka'bah

2. Datang 3 orang malaikat kepada Nabi

3. Malaikat Jibril membelah dada Nabi dan dicuci dengan air zamzam

4. Nabi SAW naik Buraq menuju kebaitul maqdis

نُقِلَ فِي الْمَوَاهِبِ اللَّدُنِيَّةِ عَنِ الْحَافِظِ ابْنِ حَجَرٍ اْلعَسْقَلاَنِي وَيَعْنِي فِي فَتْحِ الْبَارِي أَنَّهُ تَوَاتَرَتِ الرِّوَايَاتُ بِهِ وَأَقَرَّهُ هُوَ وَشَارِحُهُ
Dalam kitab al mawahib al laduniyah dari Al hafidh Ibn Hajar al asqalani – ya`ni di Fathul bari  bahwa  riwayat tentang hal itu mutawatir.  beliau dan syarihnya mengakuinya [2].
    
 وَمَعَ هَذَا أَنْكَرَهُ ابْنُ حَزْمٍ وَتَبِعَهُ عِيَاضٌ فِي الشِّفَا وَرَدَّهُ الْحَافِظُ بْنُ حَجَرَ وَغَيْرُهُ بِأَنَّ الرِّوَايَاتِ تَوَارَدَتْ بِذَلِكَ فَلاَ وَجْهَ ِلإِنْكَارِهِ نَعَمْ فِي اْلإِبْرِيْزِ عَنِ اْلقُطْبِ اْلغَوْثِ الشَّيْخِ مَوْلاَنَا عَبْدِ اْلعَزِيْزِ بْنِ مَسْعُوْدٍ الدَّبَّاغِ الْحَسَنِي رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ إِنْكَارَهُ كَشْفًا فَرَاجِعْهُ وَاْلعِلْمُ عِنْدَ اللّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى‏.‏
Walaupun demikian, Ibn Hazem ingkar terhadap pembedahan dada Nabi lalu di dukung oleh Iyadh dalam kitab Asy syifa ( Dia adalah hakim ).

Ibnu Hajar Al Hafidh dan lainnya  menyatakan bahwa riwayat – riwayat nya banyak. Jjadi tiada jalan untuk ingkar. 
Ya  dalam  kitab Ibriz  dari Quthub al ghous syaikh Maulana  Abd Aziz bin mas`ud addabbagh al hasani  ra bahwa beliau ingkar pembedahan dada Rasulullah secara kasyaf.  Lihatlah ke kitab tsb dan hanya Allah tabaraka  wa taala yang tahu.  [3]

Setan itu berjalan melalui darah sebagaimana  hadis:

عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلًا فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ لِأَنْقَلِبَ فَقَامَ مَعِيَ لِيَقْلِبَنِي وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِي دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ فَمَرَّ رَجُلَانِ مِنَ الْأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ فَقَالَا سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَرًّا أَوْ قَالَ شَيْئًا *
Dari Sofiah binti Huyai r.a katanya: Pada suatu malam ketika Nabi s.a.w sedang beriktikaf aku datang kepadanya. Setelah aku berbicara  dengan baginda, akupun berdiri untuk pulang. Rasulullah s.a.w ikut berdiri untuk mengantarku. Tempat tinggal Sofiah adalah di kampung Usamah bin Zaid. Tiba-tiba datang dua orang Ansor.  Mereka melihat Nabi s.a.w, mereka mempercepat langkah mereka. Lalu Nabi s.a.w bersabda: Tenanglah !. Sesungguhnya ini adalah Sofiah binti Huyai
Mereka berkata: Maha suci Allah, wahai Rasulullah.
 Rasulullah s.a.w bersabda Sesungguhnya syaitan itu berjalan melalui aliran darah manusia. Sebenarnya aku hawatir  setan meletakkan kejelekan di hati kalian[4]

Setan akan selalu menggoda manusia:

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.[5]

Bahkan Rasulullah masih tetap di suruh baca doa perlindungan dari setan sebagaimana  ayat:

وقل رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّياَطِيْنِ وَأَعُوْذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ
Katakanlah !Wahai Tuhanku, Aku berlindung dengan Mu dari goda an setan  dan aku berlindung dengan Mu  wahai Tuhanku agar mereka tidak datang. 

Bahkan beliau tersihir.  Nabi Ayyub sendiri juga kena  goda setan, Nabi Adam  juga begitu, dan nabi Sulaiman.  Dan banyak nabi masih tergoda oleh setan.  Bagian setan dalam tubuh manusia, di mana, berupa darah atau daging tidak ada dalilnya .  Begitu juga  bagian malaikat.  tapi setan itu bertugas  untuk membisiki  dari luar, begitu juga malaikat memberikan ilham yang baik. 

Tempat salat Rasulullah di rumah Khadijah di Suqullail dekat masjidil haram.

Rumah siti Khadijah – tempat Jibril masuk melalui atapnya ketika pembedahan dada Rasulullah.  Ini bekas rumahnya yang baru di bongkar oleh pemerintah Saudi di Suqullail Mekkah.  Yaitu di timur ka`bah, jaraknya  sekitar 300 m dari Ka`bah. 

Pembongkaran bangunan

جَرَائِمُ كَبِيْرَةٌ اِرْتَكَبْتَ بِحَقِّ هَذِهِ اْلآثَارِ. ... آلاَ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الظَّالِمِيْنَ
اِلَى مَتَى وَهَذِهِ اْلمَآثِرُ تُهْدَمُ وَتُخَرَّبُ وَتُهَانُ. . اِلَى الْمُنْصِفِيْنَ هَلْ يُفْعَلُ بِبُيُوْتِ الزُّعَمَاءِ هَكَذَا بَعْدَ مَوْتِهِمْ
مِنَ الْمَعْرُوْفِ اَنَّهُ لاَيُهْدَمُ الْمَنَازِلُ وَالْمَسَاجِدُ ِالاَّ اَعْدَاءُ وَلَيْسُوا اَتْبَاع ؟؟؟
جَرَائِمُ كَبِيْرَةٌ اِرْتَكَبْتَ بِحَقِّ هَذِهِ اْلآثَارِ. ... آلاَ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الظَّالِمِيْنَ
اِلَى مَتَى وَهَذِهِ اْلمَآثِرُ تُهْدَمُ وَتُخَرَّبُ وَتُهَانُ. . اِلَى الْمُنْصِفِيْنَ هَلْ يُفْعَلُ بِبُيُوْتِ الزُّعَمَاءِ هَكَذَا بَعْدَ مَوْتِهِمْ
مِنَ الْمَعْرُوْفِ اَنَّهُ لاَيُهْدَمُ الْمَنَازِلُ وَالْمَسَاجِدُ ِالاَّ اَعْدَاءُ وَلَيْسُوا اَتْبَاع
Dosa – dosa  besar yang kamu lakukan terhadap peninggalan purba, ingat la`nat Allah bagi orang – orang yang dzalim. 
Sampai kapan peninggalan dan petilasan  di robohkan, di rusak, lalu di hina .  Kepada   para pencari kebenaran, apakah rumah – rumah para pemimpin di perlakukan sedemikian ini setelah mereka mati. 
 Sudah jelas, tidak akan merobohkan rumah – rumah dan masjid – masjid kecuali  musuh, bukan pengikut Rasulullah [1].

Perjanjian Hudaibiyah

‏- حَدِيْثُ  ‏ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  ، يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ: أَنْتُمْ خَيْرُ أَهْلِ الأَرْضِ وَكُنَّا أَلْفًا وَأَرْبَعَمِائَةٍ وَلَوْ كُنْتُ أُبْصِرُ الْيَوْمَ لأَرَيْتُكُمْ مَكَانَ الشَّجَرَةِ

Jabir ibnu Abdillah ra menuturkan di hari perjanjian Hudaibiyah, Nabi saw bersabda kepada kami: “Kalian adalah manusia yang terbaik di muka bumi.” Pada waktu itu, jumlah kami adalah sebanyak seribu empat ratus orang. Andaikata pada hari ini aku melihat pohon itu, pasti akan aku tunjukan kepada kalian tempat pohon itu.” (Bukhari, 64, Kitabul Maghazi, 35, bab perjanjian Hudaibiyah.”)

 حَدِيْثُ  ‏ الْمُسَيَّبِ بْنِ حَزْنٍ، قَالَ: لَقَدْ رَأَيْتُ الشَّجَرَة، ثُمَّ أَتَيْتهَا بَعْدُ فَلَمْ أَعْرِفْهَا

Al Musayyab ibnul Hazen ra menuturkan: “Aku pernah melihat pohon yang dulunya Nabi saw mengadakan baiat ridwan di bawah pohon itu. Kemudian setelah aku mendatanginya kembali, maka aku tidak mengenalinya lagi.”

Allu`lu` wal marjan  602/1 Al albani berkata:  Hadis  tsb diriwayatkan  oleh Bukhori dalam kitab sahihnya. 
Lihat di kitab karyanya: Tahdzirus sajid mint tikhodzil  quburi masajid 116/1.  tapi di kitab Tuhfatul asyraf bima`rifatil athrof, karya  al hafizh al mizzi ada keterangan hadis tsb Muttafaq alaih, nomer hadis:  11283

[1] www.jefoon.net/vb/showthread.php?t=1221

[1] armansyah.swaramuslim.com/
[2] www.al-eman.com
[3] www.al-eman.com
[4] Muttafaq alaih  , Bukhori  1819
[5] Fusshilat 36

[1] www.nabimuhammad.info
[2] Mausuah ruwatil hadis  2834
[3]  Assyura 52
[4]  Yusuf 3
[5] Ad duha 7
[6] HR Bukhari 7517

[7] HR Bukhari

Pembedahan dada Nabi SAW

Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang menggembalakan kambing milik keluarga Halimah binti Abi Dzuaib dari Kabilah as Sa’diyah, tiba-tiba beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam didatangi dua malaikat, lalu keduanya membelah dada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengeluarkan bagian yang kotor dari hatinya. Peristiwa ini telah dijelaskan oleh Anas bin Malik dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim.

Juga telah dijelaskan sendiri oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadits. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

... فَبَيْنَمَا أَنَا مَعَ أَخٍ لِي خَلْفَ بُيُوْتِنَا نَرْعَى بِهِمَا لَنَا إِذْ أتَانِي رَجُلاَنِ – عَلَيْهِمَا ثِيَابٌ بِيْضٌ- بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مَمْلُوْءٍ ثَلْجًا ثُمَّ أَخَذَانِي فَشَقَّا بَطْنِي ثُمَّ اسْتَخْرَجَا قَلْبِي فَشَقَّاهُ فَاستخْرَجَا مِنْهُ عَلَقَةً سَوْدَاءَ فَطَرَحَاهُ ثُمَّ غَسَلاَ قَلْبِي وبَطْنِي بِذَلِكَ الثَّلْجِ حَتَّى أَنْقَيَاه ُ…

"Ketika aku sedang berada di belakang rumah bersama saudaraku (saudara angkat) menggembalakan anak kambing, tiba-tiba aku didatangi dua orang lelaki-mereka mengenakan baju putih- dengan membawa baskom yang terbuat dari emas penuh dengan es. Kedua orang itu menangkapku, lalu membedah perutku. Keduanya mengeluarkan hatiku dan membedahnya, lalu mereka mengeluarkan gumpalan hitam darinya dan membuangnya. Kemudian keduanya membersihkan dan menyucikan hatiku dengan air itu sampai bersih".[1]

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan :

فَأَقْبَلاَ يَبْتَدِرَانِي فَأَخَذَانِي فَبَطَحَانِي إِلَى الْقَفَا فَشَقَّا بَطْنِي ثُمَّ اسْتَخْرَجَا قَلْبِي فَشَقَّاهُ فَأَخْرَجَا مِنْهُ عَلَقَتَيْنِ سَوْدَاوَيْنِ

"…… keduanya lalu bersegera mendekati dan memegangiku. Kemudian aku ditelentangkan, kemudian membedah perutku. Kedua malaikat itu mengeluarkan hati dari tempatnya dan membedahnya. Selanjutnya mereka mengeluarkan dua gumpalan darah hitam darinya ……" [2]

Dari dua riwayat di atas dapat diketahui, peristiwa pembedahan dada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah benar-benar terjadi.

Pengingkaran Terhadap Peristiwa Ini.
Meskipun hadits-hadits yang memerinci peristiwa ini shahih, namun ternyata ada sebagian orang yang menolak kebenaran berita ini. Berbagai alasan dilontarkan untuk menolak kebenaran kejadian ini. Atau minimal membuat kaum muslimin menjadi bimbang dan ragu. Bahkan ada di antara orientalis yang menyuarakan dengan lantang, bahwa peristiwa itu hanya dongeng belaka. Syubhat yang dilontarkan para orientalis, mereka menganggap peristiwa itu hanyalah pengalaman ruhani, bukan sebuah fakta dalam dunia nyata.

Pandangan provokatif dari para orientalis ini, ternyata membuahkan hasil. Beberapa orang muslim yang menulis sirah termakan isu ini. Di antaranya ialah Dr. Muhammad Husein Haikal. Dia mengatakan, kaum orientalis tidak tenang, begitu (melihat) sejumlah umat Islam tidak lapang dada dengan kisah dua malaikat ini (yang melakukan pembedahan dada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam). Mereka (kaum orientalis, Red) berpendapat, hadits ini sanadnya lemah.
Ada juga yang mengatakan, bahwa hadits ini mursal. Kisah ini diceritakan oleh anak kecil usia dua tahun, belum memasuki masa tamyiz (belum bisa membedakan antara yang baik dan buruk), dan Nabi juga baru berusia sekitar itu.

Bagaimana sebenarnya permasalahan ini? Berikut kami coba mengungkap syubhat-syubhat yang dilemparkan ke tengah-tengah kaum muslimin, beserta bantahan untuk mengikis pemikiran yang kurang proporsional.

Syubhat Pertama : Keabsahan Riwayat Dan Hal-Hal Yang Berkait Dengannya.

Pendapat yang menyatakan bahwa sanad riwayat ini lemah, tidak bisa dijadikan hujjah. Penilaian ini masih bersifat global. Seharusnya, mereka yang berpendapat demikian harus memerincinya. Sebab telah melontarkan kritik terhadap suatu permasalahan yang sudah diakui keabsahannya oleh mayoritas kaum muslimin, termasuk para ulama besar yang menguasai ilmu tentang al jarh wa at ta’dil (studi kritis perawi hadits).

Kisah pembedahan dada ini diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, meskipun diceritakan secara global. Sedangkan sebagian sanad yang lainnya, meskipun tidak shahih, tetapi mencapai derajat hasan sehingga bisa dijadikan hujjah (pegangan). Selain itu, peristiwa pembedahan dada beliau n pada malam Isra’ diriwayatkan dalam kitab Shahih al Bukhari dan Shahih Muslim, serta kitab hadits lainnya, sebagian ulama ahli hadits menilainya sebagai hadits mutawatir.

Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani rahimahullah mengatakan, semua riwayat yang menjelaskan peristiwa pembedahan dada, pengeluaran hati beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berbagai peristiwa luar biasa lainnya, merupakan hal-hal yang wajib diimani (diterima dengan lapang dada) tanpa berusaha mengalihkannya dari makna yang sebenarnya.

Imam al Qurthubi, di dalam kitab al Mufhim mengatakan, pengingkaran terhadap peristiwa pembedahan dada pada malam Isra’ dan Mi’raj tidak perlu dihiraukan, karena orang-orang yang meriwayatkannya adalah orang-orang tsiqah (terpercaya) dan terkenal.

Orang yang mengimani pristiwa pembedahan dada pada malam Isra’ dan Mi’raj, semestinya juga harus mengimani peristiwa pembedahan saat beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam masa kecil, selama ada dalilnya dan dalil itu layak dijadikan hujjah.

Ada juga sebagian orang yang mengakui keshahihan sanad riwayat ini, tetapi belum bisa meyakininya secara penuh peristiwa menakjubkan ini. Ia beranggapan, hadits ini mudhtharib (rancu, lafazh-lafazhnya mengandung perbedaan yang tajam tanpa bisa dikompromikan) secara makna. Dia mengatakan,”Kami memandang, riwayat-riwayat tentang peristiwa pembedahan dada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak lepas dari kerancuan. Seandainya riwayat itu shahih, kami tidak mengatakan bahwa riwayat itu tidak bisa diterima, akan tetapi, kami akan menerimanya jika shahih. Namun kerancuan yang ada padanya, membuat kami tidak menolaknya dan juga tidak mempercayainya.”

Setelah membawakan perkataan ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani kemudian membantahnya dengan mengatakan: “Dengan filsafat yang kontradiktif seperti ini, syaikh tersebut (Abu Zahrah, Red) menolak hadits-hadits (tentang pembedahan dada) ini dan bermain-main dengan kata-kata untuk menyesatkan manusia dengan apa yang dibisikkan setan”.

Syaikh al Albani mengatakan : Sesungguhnya orang yang memiliki sedikit ilmu dan sedikit akal akan mengetahui, bahwa jika benar kerancuan yang ia tuduhkan, mestinya riwayat-riwayat itu tidak bisa diterima. Karena, menurut para ulama ahli hadits, hadits yang mudhtharib tidak bisa diterima. Jika faktanya seperti itu, seharusnya riwayat-riwayat tersebut ditolak. (Tetapi) mengapa dia justru mengatakan ‘kerancuan ini membuat kami tidak bisa menolak dan juga tidak menerima’?

Tidakkah Anda perhatikan. Jika ada orang memberikan uang kepada orang lain, kemudian dia tidak mengambilnya, apakah cocok Anda komentari dengan mengatakan “dia tidak menerimanya atau menolaknya”? Maka, maknanya hanya satu, diketahui oleh semua orang. Bagaimana hal ini tidak diketahui oleh Syaikh (Abu Zahrah, Red) sebagaimana terdapat di dalam kitabnya.

Sebenarnya, hadits-hadits tentang peristiwa pembedahan dada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam itu shahih; tidak ada yang meragukannya, kecuali orang-orang yang lemah iman, atau sama sekali tidak memiliki (iman). Sedangkan tuduhan kerancuan yang terdapat dalam hadits ini, hanyalah isapan jempol, sebagai alasan yang disampaikan kepada pembaca untuk menolak riwayat-riwayat ini.[3]

Syubhat Kedua : Kaum Orientalis Mengatakan, Bahwa Peristiwa Pembedahan Dada Itu Hanyalah Pengalaman Ruhani Yang Muncul Dari Firman Allah

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu" [Alam Nasyrah : 1]

Dan Apa Yang Diterangkan Dalam Al-Qur`an Itu Hanyalah Masalah Ruhani Saja.

Kami jawab :
Meskipun sebagian ulama menjadikannya sebagai dalil atas peristiwa pembedahan dada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, akan tetapi kami tidak menjadikannya sebagai dalil.

Dalil kami adalah hadits shahih, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu diceritakan :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً فَقَالَ هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ لَأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ يَعْنِي ظِئْرَهُ فَقَالُوا إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقِعُ اللَّوْنِ
قَالَ أَنَسٌ وَقَدْ كُنْتُ أَرْئِي أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِي صَدْرِهِ

"Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam didatangi Malaikat Jibril ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang bermain dengan beberapa anak. Jibril kemudian menangkapnya, menelentangkannya, lalu Jibril membelah dada. Jibril mengeluarkan hatinya, dan mengeluarkan dari hati beliau n segumpal darah beku sambil mengatakan “Ini adalah bagian setan darimu”. Jibril kemudian mencucinya dalam wadah yang terbuat dari emas dengan air zam-zam, lalu ditumpuk, kemudian dikembalikan ke tempatnya. Sementara teman-temannya menjumpai ibunya (maksudnya orang yang menyusuinya) dengan berlari-lari sembari mengatakan: “Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh”. Kemudian mereka bersama-bersama menjumpainya, sedangkan dia dalam keadaan berubah rona kulitnya (pucat). Anas mengatakan: “Saya pernah diperlihatkan bekas jahitan di dadanya”.

Sedangkan pernyataan, ‘Orang-orang orientalis tidak tenang dengan kisah dua malaikat ini (yang melakukan pembedahan dada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) begitu sejumlah umat Islam tidak lapang dada dengannya, dan mereka berpendapat bahwa hadits ini sanadnya lemah ….”

Sanggahan untuk pernyataan ini, bahwa kebenaran atau kepalsuan suatu kisah bukan berdasarkan diterima atau tidaknya oleh kaum orientalis. Akan tetapi berdasarkan keberadaan jalur periwayatannya. Dan mengenai riwayat ini sudah disampaikan bahwa haditsnya shahih, meskipun sebagian tidak mencapai derajat shahih, akan tetapi sanadnya baik dan bisa dijadikan sebagai dalil, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh nashiruddin di awal tadi.

Syubhat Ketiga : Anggapan Yang Membawakan Riwayat Ini Anak Kecil Yang Belum Mencapai Usia Tamyiz, Sehingga Tidak Bisa Dijadikan Hujjah.

Menanggapai hal ini, penyusun kitab as Sirah an Nabawiyah fi Dhau’il Kitab wa as Sunnah, mengatakan: “Anggapan ini berdasarkan pemberitaan dari Ibnu Ishaq. Padahal, pendapat yang benar dan didukung oleh para ulama ahli riwayat, peristiwa ini terjadi pada saat usia beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam empat tahun atau awal tahun ke lima. Ini berarti sudah mencapai usia tamyiz, apalagi untuk orang seperti Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan saudaranya dari suku Sa’diyyah”.[4]

Dan kita juga masih bisa mengingat peristiwa-peristiswa berkesan pada usia-usia itu, padahal tidak seheboh pembedahan dada yang dialami oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Syubhat Keempat : Penilaian Bahwa Peristiwa Yang Dialami Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam Ini Tidak Logis.

Lontaran syubhat ini dapat dibantah dengan keterangan bahwa apa yang dialami oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam itu bukanlah suatu yang tidak logis, akan tetapi sesuatu yang luar biasa. Dan antara sesuatu yang tidak logis dengan suatu yang luar biasa itu terdapat perbedaan yang sangat jauh.

Jika ungkapan di atas pada zaman dulu bisa menimbulkan keraguan pada kebenaran peristiwa yang dialami oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun pada sekarang ini mestinya sudah tidak lagi. Sebab sekarang ilmu kedokteran sudah mengalami kemajuan pesat, sehingga sering kita dengar para dokter melakukan operasi pada hati manusia, bahkan ada yang bisa melakukan pencangkokan sebagian anggota tubuh manusia. Jika ini mungkin dilakukan oleh manusia, apakah kita akan mengatakan, bahwa mustahil Allah mampu melakukannya atau mustahil para malaikat yang diperintahkan oleh Allah mampu melakukan pembedahan dada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tanpa menggunakan alat dan tanpa meneteskan darah ?

Sungguh zhalim orang yang seperti ini [5].

Tidakkah kita perhatikan berbagai mukjizat yang Allah berikan kepada para nabui, seperti awan yang menaungi beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan perjalanan dagang bersama pamannya, peristiwa Isra dan Mi’raj yang dialami Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, Nabi Isa Alaihissalam yang mampu berbicara pada saat bayi yang orang yang seusia beliau Alaihissalam belum bisa berbicara, tongkat Nabi Musa Alaihissallam yang bisa berubah menjadi ular dan berbagai mukjizat lainnya. Semua ini merupakan peristiwa yang luar biasa yang Allah tampilkan bagi para nabiNya sebagai bukti kebenaran risalah yang mereka bawa.

Jika alasan yang terdapat pada point empat digunakan oleh kaum muslimin untuk menolak kebenaran sebuah peristiwa yang dialami oleh para nabi, maka tidak ada lagi mukjizat yang bisa dipercayai, karena semuanya terjadi diluar jangkauan manusia saat itu.

Sebagai seorang muslim dan sebagai manifestasi dari keimanan kita kepada Muhammad sebagai Rasulullah , seharusnya kita mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu ketika orang-orang musyrik berusaha membuat beliau Radhiyallahu 'anhu ragu terhadap cerita Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang baru beliau alami. Abu Bakar mengatakan, “Jika Muhammad mengatakan hal itu, maka dia benar.”[6]

Dan sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah, Semua riwayat yang menjelaskan peristiwa pembedahan dada, pengeluaran hati beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berbagai peristiwa luar biasa lainnya merupakan hal-hal yang wajib diimani (diterima dengan lapang dada) tanpa berusaha mengalihkannya dari makna sebenarnya.”

Footnotes
[1]. Lihat, Shahih As Sirah An Nabawiyah karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hlm. 16
[2]. Lihat, Shahih As Sirah An Nabawiyah karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hlm. 17
[3]. Lihat Sirah Shahihah karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. hlm. 18-19
[4]. Lihat As Sirah An Nabawiyah, karya Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, hlm. 2002
[5]. As Sirah An Nabawiyah fi Dhau’il Kitab Wa As Sunnah hlm. 201
[6]. Lihat as Sirah An Nabawiyah As Shahihah hlm. 192

Halimah Sa'diyah : Wanita Yang Menyusui Rasulullah

Wanita mulia tersebut adalah Halimah bintu Abdullah bin Al-Harits As-Sa’diyah. Suaminya adalah Al-Harits bin Abdul Izzi bin Rifa’ah As-Sa’di. Anak-anaknya adalah Abdullah, Anisah dan Khadzdzamah. Anak-anak Al-Harits ini semuanya bertompel, mereka semua adalah saudara sepersusuan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Halimah juga menyusui Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Munthalib, anak paman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

MENCARI ANAK SUSUAN
Halimah As-Sa’diyah adalah wanita Arab yang sangat terkenal karena menjadi ibu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Halimah menceritakan tentang penyusuannya dengan penjelasan yang panjang lebar dan komprehensif. Ia mengatakan, “Suatu ketika aku keluar bersama para wanita bani Sa’ad untuk mencari anak susuan. Waktu itu adalah tahun yang sangat sulit (paceklik). Kami menegendarai keledai putih dan kurus. Kami membawa serta unta betina yang tidak mengandung air susu setetes pun. Kami semua tidak pernah tidur di malam hari karena bayi kami selalu menangis karena rasa lapar. Puting kami tidak lagi menyediakan apa yang mencukupinya. Unta betina kami tidak pula menyediakan apa-apa yang mengenyangkannya. Kami selalu mengharap hujan dan jalan keluar. Sampai kami sengaja datang ke Mekah. Setiap wanita yang diperlihatakan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam merasa enggan untuk mengasuhnya, setelah dikatakan bahwa dirinya adalah anak yatim, dikarenakan kami selalu menaruh harapan kebaikan dari ayah si anak asuh. Kami berkata, ” Ia yatim, apa gerangan yang akan diperbuat oleh ibu atau kakeknya? Oleh karena itu, kami tidak tertarik. Tidak ada dari wanita-wanita yang bersamaku mengambilnya, selain diriku. Ketika rombongan kami sepakat untuk pulang, aku berbicara kepada suamiku, “Demi Allah, sungguh aku tidak suka untuk pulang bersama kawan-kawan wanita yang lain, sebelum mendapatkan anak susuan. Demi Allah, aku pergi menuju anak susuan yang yatim itu, dan pasti aku akan mengambilnya. Ia berkata, “Lakukan itu, semoga Allah memberi kita berkah lantaran anak itu.” Aku pergi menuju anak itu dan mengambilnya.

BERKAH YANG MELIMPAH
Berkah yang melimpah kepada Halimah dan suaminya setelah mengambil Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Suatu hari, Halimah dan suaminya merasakan lapar dan haus. Namun, dari mana mereka mendapatkan makanan karena susu unta betinanya tidak berisi. Seketika mereka berdua lupa akan keadaan dirinya. Keadaan telah berubah dalam sekejap. Keadaan ini diriwayatkan sendiri oleh Halimah. Ia berkata, “Suamiku bangkit menuju unta betina milik kami. Ternyata susunya sangat penuh. Ia memerahnya untuk diminum bersamaku hingga kami puas dan kenyang, sehingga kami tertidur di malam yang sangat baik itu. Ketika pagi suamiku berkata, “Demi Allah ketahuilah wahai Halimah! Engkau telah mengambil orang yang penuh dengan berkah.”
Aku mengatakan, “Demi Allah, itulah yang kuharapkan.”
Kemudian kami serombongan bepergian dengan menunggang keledai. Kubawa serta anak itu. Demi Allah, jarak itu kutempuh dengan tungganganku jauh lebih cepat daripada keledai-keledai orang lain sehingga kawank-kawanku berkata kepadaku, “Wahai anak serigala, sial engkau! temani kami! Bukankah ini keledaimu yang dulu kau tunggangi saat bepergian?”
Kukatakan kepada mereka, : Ya, demi Allah benar. Keledai ini adalah keledai yang dulu itu.” Mereka mengatakan, “Demi Allah, sekarang keledaimu tidak seperti dulu!”
Rombongan tiba di daerah pedalaman bani Sa’ad yang terlihat bekas-bekas kekeringan di tahun itu. Halimah telah melihat berkah anak yatim itu. Kebaikan telah memancar kepadanya dari segala penjuru. Keberkahan meliputinya dalam segala hal. Kambing-kambingnya selalu keluar menuju ke tempat-tempat penggembalaan bersama kambing-kambing orang lain. Ketika kembali ke kandang selalu dengan susu yang penuh. Sedangkan kambing-kambing yang lain pulang dengan keadaan sebagaimana ketika pergi, sehingga kaumnya mencerca tukang gembala mereka. Demikianlah hari-hari Halimah hingga berjalan selama 2 tahun.

KEMBALI MENGASUH RASULULLAH
Setelah menyusuinya selam 2 tahun, Halimah harus membawanya kembali pulang ke pangkuan ibu kandungnya, Aminah, di Mekal Al-Mukarramah. Halimah membawanya kepada sang ibu, sekalipun sangat ingin agar anak asuhnya tetap bersamanya karena melihat besaranya berkah pada diri Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Aminah sangat berbahagia dengan anaknya yang mulia. Khususnya ketika melihatnya sedemikina suci dan tumbuh laksana anak berumur 4 tahun, padahal belum lebih dari 2 tahun. Halimah berbicara sangat lembut kepada Aminah, mengharap agar mengizinkan anaknya kembali ke pedalaman lagi. Aminah mengizinkannya. Halimah kembali ke pedalaman dengan anak asuhnya. Demikianlah, Nabi tinggal di tengah-tengah bani Sa’ad sampai berumur 4 atau 5 tahun dari hari lahirnya hingga terjadi peristiwa “pembelahan dada”. Setelah kejadian ini, Halimah merasa takut sehingga mengembalikan kepada ibu kandungnya. Halimah kembali ke daerah pedalaman. Dia tinggal di sana beberapa tahun. Selanjutnya ketika Allah mengutus Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam kepada seluruh manusia, maka Halimah As-Sa’diyah masuk Islam bersama suami dan anak-anaknya.

KEDUDUKAN HALIMAH
Halimah berkedudukan mulia di sisi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Tidak ada kehormatan dan kelembutan yang lebih baik daraipada yang diberikan kepada ibu asuhnya, Halimah. Bukti sikap beliau yang sangat menghormati Halimah yaitu ketika menyambut kedatangan Halimah dengan berteriak, “Ibuku, Ibuku.” Lalu beliau membentangkan sorbannya untuk ibu asuhnya itu sebagai bukti bakti dan kebaikan beliau kepadanya.

WAFATNYA
Halimah masuk Isalam dan berhijrah. Ia meninggal di Madinah Munawwarah, lalu dimakamkan di Baqi’. Makam Halimah sangat dikenal di sana. Semoga Allah mengangkat derajatnya bersama pasa sahabat Nabi lainnya.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ. فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ: نَعَمْ ,كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ

Dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari Nabi bersabda: “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi pun melainkan dirinya pasti pernah menggembala kambing”. Maka para Sahabat bertanya: ‘Apakah engkau juga wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Ya, Aku pernah mengembala kambing milik seorang penduduk Mekah dengan upah beberapa qirath
Kisah Rasullullah S.A.W dan gembala kambin 
Ketika Nabi Muhammad saw mengadakan pengepungan terhadap beberapa benteng Khaibar, datanglah seorang penggembala yang berwajah hitam bersama kambing-kambing gembalaannya. Dia adalah orang upahan yang bekerja pada orang-orang Yahudi di benteng itu untuk menggembala kambing mereka. Lalu dia berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Wahai Muhammad, terangkan kepadaku apa itu Islam!” Beliau pun memaparkannya secara panjang lebar, hingga akhirnya orang itu tertarik dan masuk Islam.
Tatkala sudah masuk Islam, dia berkata, “Wahai Nabi Muhammad saw, sesungguhnya aku ini seorang upahan yang bekerja pada pemilik kambing-kambing ini sebagai amanat bagiku. Apa yang harus aku lakukan (terhadap kambing-kambing itu)?”
Beliau menjawab, “Lemparkan pasir ke wajah-wajahnya, supaya ia kembali lagi ke tuannya.” Maka, si penggembala berkulit hitam itu mengambil segenggam pasir, lalu melemparkannya ke arah wajah kambing-kambing tersebut seraya berkata, "Pulanglah ke tuan kalian, demi Allah, aku tidak akan pernah sudi lagi menemani kalian.” Maka kambing-kambing itu pun pergi secara bergerombolan seakan ada orang yang menggiringnya hingga semuanya masuk ke benteng itu. Setelah itu, si penggembala maju ke arah benteng itu untuk ikut serta berperang bersama kaum Muslimin namun dia terkena lemparan batu keras yang kemudian merenggut nyawanya, padahal dia belum sempat shalat walaupun satu rakaat.
Kemudian jenazahnya dibawa ke samping Nabi Muhammad saw, dalam kondisi tubuhnya tertutup dengan pakaian yang melilitnya. Lalu Nabi Muhammad saw yang ketika itu bersama sebagian para shahabatnya menoleh ke arahnya kemudian berpaling. Mereka lantas berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau berpaling darinya.?”
Beliau menjawab, “Sesungguhnya dia sekarang bersama isterinya, bidadari cantik yang sedang menggerak-gerakkan badannya untuk menghilangkan debu yang menempel.”

Aurat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam Tidak Pernah Dilihat Oleh Siapapun


Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam, sebagaimana disebutkan dalam kitab Madarij ash-Shu’ud karya Syaikh Nawawi al-Bantani halaman 12, menurut pendapat yang unggul di kalangan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sesungguhnya Nabi Muhammad Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam lahir pada saat menjelang fajar hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah.
Dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mempunyai kehendak agar tiada seorang makhluk pun yang melihat aurat kekasihNya, sehingga Nabi Besar Muhammad Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam dilahirkan dalam keadaan sudah terkhitan dan terputus tali pusarnya. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Sirah Ibnu Katsir juz 1 halaman 208:
عن ابن عباس عن أبيه العباس بن عبد المطلب رضي الله عنه قال : ولد رسول الله صلى الله عليه وسلم مختونا مسرورا
“Abbas bin Abdul Muthallib Ra. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam lahir dalam keadaan sudah dikhitan dan terputus tali pusarnya (dalam keadaan bersih dan suci ).”
Juga telah disebutkan dalam kitab al-Khasha-ish al-Kubra karya al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar as-Suyuthi juz 1 halaman 91:
أخرج الطبراني في الأوسط وأبو نعيم والخطيب وابن عساكر من طرق عن انس عن النبي {صلى الله عليه وسلم} انه قال من كرامتي على ربي اني ولدت مختونا ولم ير أحد سوأتي
“Anas bin Malik Ra. berkata bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya diantara kemuliaan yang Allah subhanahu wa ta’ala limpahkan kepadaku adalah aku terlahir dalam keadaan sudah terkhitan. Sehingga tidak ada satu makhluk pun yang melihat auratku.” (HR. Abu Na’im, al-Khatib dn Ibnu ‘Asakir).
Bahkan ketika Nabi Muhammad Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam dilahirkan, Sayyidah Aminah radhiyallahu ‘anha dan Sayyidah Maryam As. sama sekali tidak melihat auratnya. Yang nampak terlihat hanyalah suatu cahaya yang sangat agung berkilauan. Tidaklah yang terlihat oleh ibundanya (Sayyidah Aminah) selain beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam sudah dalam keadaan bersih rapi dengan terselimuti sutera putih di atas hamparan sutera hijau dalam keadaan bersujud mengiba ke hadirat Allah Swt. dengan mengangkat jari telunjuknya dan mengucapkan:
ألله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا
“Allah Maha Besar dengan segala KeagunganNya. Segala puji bagi Allah atas segala anugerahNya, Maha Suci Allah kekal abadi selama-lamanya.”
Begitu pula ketika Nabi Muhammad Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam dalam asuhan Sayyidah Halimah as-Sa’diyyah radhiyallohu ‘anha, tidak ada seorangpun yang melihat auratnya. Karena setiap hari muncul cahaya dari langit, sebagaimana yang disaksikan sendiri oleh Sayyidah Halimah as-Sa’diyyah radhiyallohu ‘anha yang berkata:
“Sesungguhnya setiap hari muncul cahaya dari langit kepada beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan tidak lama kemudian menghilang.”
Bahkan sesunguhnya istri-istri beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam pun tidak pernah melihat aurat NabiMuhammad Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab Subul al-Huda wa ar-Rasyad juz 9 halaman 72:
عائشة رضي الله تعالى عنها قالت: وما رأيت من رسول الله صلى الله عليه وسلم وما رأى مني
“Sayyidah Aisyah radhiyallohu ‘anha berkata: “Sesungguhnya aku tidak pernah melihat aurat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun tidak pernah melihat auratku.
Alhasil, mustahil bagi siapapun bisa melihat aurat Baginda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Khashaish al-Kubra juz 2 halaman 411:
وأخرج ابن سعد والبزار والبيهقي من طريق يزيد بن بلال عن علي فإنه لا يرى أحد عورتي إلا طمست عيناه
“Dari Sayyidina Ali radhiyallohu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang bisa melihat auratku kecuali sebelumnya ia akan menjadi buta.”
(Sya’roni)

Aurat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam Tidak Pernah Dilihat Oleh Siapapun was last modified: January 14th, 2014 by Pejuang Ahlussunnah in Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Kamis, 20 November 2014

Nasehat Nabi kepada Wanita

1. Pada suatu ketika di Madinah, Rasulullah s.a.w. keluar mengiringi jenazah. Baginda dapati beberapa orang wanita dalam majlis tersebut. lalu Baginda bertanya, “Adakah kamu menyembahyangkan mayat?” Jawab mereka,”Tidak” Sabda Baginda “Seeloknya kamu sekalian tidak perlu ziarah dan tidak ada pahala bagi kamu. Tetapi tinggallah di rumah dan berkhidmatlah kepada suami nescaya pahalanya sama dengan ibadat kaum orang lelaki.
2. Wanita yang memerah susu binatang dengan ‘Bismillah’ akan didoakan oleh binatang itu dengan doa keberkatan.
3. Wanita yang menguli tepung gandum dengan ‘Bismillah’, Allah akan berkatkan rezekinya.
4. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti meyapu lantai di Baitullah.
5. “Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, Allah akan membinakan 7 parit di antara dirinya dengan api neraka, jarak di antara parit itu ialah sejauh langit dan bumi.”
6. “Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang, Allah akan mencatatkan untuknya perbuatan baik sebanyak utas benang yang dibuat dan memadamkan seratus perbuatan jahat.”
7. “Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang menganyam akan benang dibuatnya, Allah telah menentukan satu tempat khas untuknya di atas tahta di hari akhirat.”
8. “Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang dan kemudian dibuat pakaian untuk anak-anaknya maka Allah akan mencatit baginya ganjaran sama seperti orang yang memberi makan kepada 1000 orang lapar dan memberi pakaian kepada 1000 orang yang tidak berpakaian.”
9. “Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang meminyakkan rambut anaknya, menyikatnya, mencuci pakaian mereka dan mencuci akan diri anaknya itu, Allah akan mencatatkan untuknya pekerjaan baik sebanyak helai rambut mereka dan memadamkan sebanyak itu pula pekerjaan jahat dan menjadikan dirinya kelihatan berseri di mata orang-orang yang memerhatikannya.”
10. Sabda Nabi s.a.w. : “Ya Fatimah setiap wanita meminyakkan rambut dan janggut suaminya, memotong misai dan mengerat kukunya, Allah akan mem
beri minum kepadanya dari sungai-sungai serta diringankan Allah baginya sakaratul maut dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman daripada taman-taman syurga dan dicatatkan Allah baginya kelepasan dari api neraka dan selamatlah ia melintas Titian Siratul Mustaqim.
11. Jika suami mengajarkan atau menerangkan kepada isterinya satu masalah agama atau dunia dia akan mendapat pahala 80 tahun ibadat.
12. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumahtangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya, akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga dan menunggu kedatangan suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat daripada yakut.
13. Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat, tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang memberati auratnya iaitu memakai purdah di dunia ini dengan istiqamah. Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita (isteri) yang solehah.
14. Salah satu tanda keberkatan wanita itu ialah cepat perkahwinannya, cepat pula kehamilannya dan ringan pula maharnya (mas kahwin).
15. Sebaik-baik wanita ialah wanita (isteri) yang apabila engkau memandang kepadanya ia meng- gembirakan kamu, jika engkau memerintahnya ia mentaati perintah tersebut dan jika engkau bermusafir dia menjaga harta engkau dan dirinya. Maksud hadis: Dunia yang paling aku sukai ialah wanita solehah.
RENUNGI DAN SEBARKAN...
Mudah- mudahan menjadi asbab hidayah kepada umat MANUSIA...
Al Faqir