Kamis, 06 November 2014

Hukum Sebut Sayyidina

Bersopan santun dan beradab dengan Baginda saw baik dalam menyebut nama atau memanggilnya, kerana
Allah swt telah berfirman:

لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

{Janganlah kamu jadikan panggilan (kepada) Rasulullah saw di antara kamu seperti panggilan sesama kamu. Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang menarik diri (dari majlis Nabi saw) di antara kamu secara berselindung dan bersembunyi, maka hendaklah orang-orang yang mengikari perintah-Nya beringat serta berjaga-jaga, jangan mereka ditimpa bala bencana atau ditimpa azab yang pedih}.
[Surah An-Nuur: 63].


Fuqaha' Syafi'iyah berpendapat sunat menyebut sayyidina ketika berselawat atas alasan penghormatan dan adab. Imam Asnawi di dalam kitab Al-Muhimmaat mengemukakan ucapan Syeikh Izzud-din bin Abdus-salam, dia berkata : “Pada prinsipnya pembacaan selawat di dalam tasyahhud itu hendaklah ditambah dengan lafaz “sayyidina”, demi mengikuti adab dan menjalankan perintah. Atas yang pertama hukumnya mustahab (sunat). Dengan demikian di dalam membaca shalawat boleh bagi kita mengucapkan “Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad”, meskipun tidak ada pada lafazh-lafazh shalawat yang diajarkan oleh Nabi (ash-Shalawat al Ma'tsurah) dengan penambahan kata “Sayyid”. Karena menyusun dzikir tertentu yang tidak ma'tsur boleh selama tidak bertentangan dengan yang ma'tsur. Sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menambah lafazh talbiyah dari yang sudah diajarkan oleh Rasulullah. Lafazh talbiyah yang diajarkan oleh Nabi adalah:

 لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ


Namun kemudian sabahat Umar ibn al-Khaththab menambahkannya. Dalam bacaan beliau:

 لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ ، وَالْخَيْرُ فِيْ يَدَيْكَ، وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ


Dalil lainnya adalah dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar bahwa beliau membuat kalimat tambahan pada Tasyahhud di dalamnya shalatnya. Kalimat Tasyahhud dalam shalat yang diajarkan Rasulullah adalah “Asyhadu An La Ilaha Illah, Wa Asyhadu Anna Muhammad Rasulullah”. Namun kemudian ‘Abdullah ibn ‘Umar menambahkan Tasyahhud pertamanya menjadi:

 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ


Tambahan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah” sengaja diucapkan oleh beliau. Bahkan tentang ini ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Wa Ana Zidtuha...”. Artinya: “Saya sendiri yang menambahkan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah”. (HR Abu Dawud) Dalam sebuah hadits shahih, Imam al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Rifa'ah ibn Rafi', bahwa ia (Rifa'ah ibn Rafi’) berkata: “Suatu hari kami shalat berjama'ah di belakang Rasulullah. Ketika beliau mengangkat kepala setelah ruku' beliau membaca: “Sami’allahu Liman Hamidah”, tiba-tiba salah seorang makmum berkata:

 رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ


Setelah selesai shalat Rasulullah bertanya: “Siapakah tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu?".
Orang yang yang dimaksud menjawab: “Saya Wahai Rasulullah...”. Lalu Rasulullah berkata:

 رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلَ “


Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya”. al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fath al-Bari, dalam menjelaskan hadits sahabat Rifa’ah ibn Rafi ini menuliskan sebagai berikut: “Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan kepada beberapa perkara.

Pertama; Menunjukan kebolehan menyusun dzikir yang tidak ma'tsur di dalam shalat selama tidak menyalahi yang ma'tsur.

Dua; Boleh mengeraskan suara dzikir selama tidak mengganggu orang lain di dekatnya.

Tiga; Bahwa orang yang bersin di dalam shalat diperbolehkan baginya mengucapkan “al-Hamdulillah” tanpa adanya hukum makruh” (Fath al-Bari, j. 2, h. 287).

Dengan demikian boleh hukumnya dan tidak ada masalah sama sekali di dalam bacaan shalawat menambahkan kata “Sayyidina”, baik dibaca di luar shalat maupun di dalam shalat. Karena tambahan kata “Sayyidina” ini adalah tambahan yang sesuai dengan dasar syari’at, dan sama sekali tidak bertentangan dengannya. Asy-Syaikh al’Allamah Ibn Hajar al-Haitami dalam kitab al-Minhaj al-Qawim, halaman 160, menuliskan sebagai berikut:

 وَلاَ بَأْسَ بِزِيَادَةِ سَيِّدِنَا قَبْلَ مُحَمَّدٍ، وَخَبَرُ"لاَ تُسَيِّدُوْنِي فِيْ الصَّلاَةِ" ضَعِيْفٌ بَلْ لاَ أَصْلَ لَهُ “


Dan tidak mengapa menambahkan kata “Sayyidina” sebelum Muhammad. Sedangkan hadits yang berbunyi “La Tusyyiduni Fi ash-Shalat” adalah hadits dha'if bahkan tidak memiliki dasar (hadits maudlu/palsu)”.
Di antara hal yang menunjukan bahwa hadits “La Tusayyiduni Fi ash-Shalat” sebagai hadits palsu (Maudlu’) adalah karena di dalam hadits ini terdapat kaedah kebahasaan yang salah (al-Lahn). Artinya, terdapat kalimat yang ditinjau dari gramatika bahasa Arab adalah sesuatu yang aneh dan asing. Yaitu pada kata “Tusayyiduni”. Di dalam bahasa Arab, dasar kata “Sayyid” adalah berasal dari kata “Saada, Yasuudu”, bukan “Saada, Yasiidu”. Dengan demikian bentuk fi’il Muta'addi (kata kerja yang membutuhkan kepada objek) dari “Saada, Yasuudu” ini adalah “Sawwada, Yusawwidu”, dan bukan “Sayyada, Yusayyidu”.

Dengan demikian, -seandainya hadits di atas benar adanya-, maka bukan dengan kata “La Tasayyiduni”, tapi harus dengan kata “La Tusawwiduni”. Inilah yang dimaksud dengan al-Lahn. Sudah barang tentu Rasulullah tidak akan pernah mengucapkan al-Lahn semacam ini, karena beliau adalah seorang Arab yang sangat fasih (Afshah al-‘Arab). Bahkan dalam pendapat sebagian ulama, mengucapkan kata “Sayyidina” di depan nama Rasulullah, baik di dalam shalat maupun di luar shalat lebih utama dari pada tidak memakainya. Karena tambahan kata tersebut termasuk penghormatan dan adab terhadap Rasulullah. Dan pendapat ini dinilai sebagai pendapat mu’tamad. Asy-Syaikh al-‘Allamah al-Bajuri dalam kitab Hasyiah al-Bajuri, menuliskan sebagai berikut:

 الأوْلَى ذِكْرُ السِّيَادَةِ لأَنّ الأفْضَلَ سُلُوْكُ الأدَبِ، خِلاَفًا لِمَنْ قَالَ الأوْلَى تَرْكُ السّيَادَةِ إقْتِصَارًا عَلَى الوَارِدِ، وَالمُعْتَمَدُ الأوَّلُ، وَحَدِيْثُ لاَ تُسَوِّدُوْنِي فِي صَلاتِكُمْ بِالوَاوِ لاَ بِاليَاءِ بَاطِلٌ“

Yang lebih utama adalah mengucapkan kata “Sayyid”, karena yang lebih afdlal adalah menjalankan adab. Hal ini berbeda dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa lebih utama meninggalkan kata “Sayyid” dengan alasan mencukupkan di atas yang warid saja. Dan pendapat mu’tamad adalah pendapat yang pertama. Adapun hadits “La Tusawwiduni Fi Shalatikum”, yang seharusnya dengan “waw” (Tusawwiduni) bukan dengan “ya” (Tusayyiduni) adalah hadits yang batil” (Hasyiah al-Bajuri, j. 1, h. 156).

Wallahu 'alam.
Hukum Sebut Sayyidina * Fuqaha' Syafi'iyah berpendapat sunat menyebut sayyidina ketika berselawat atas alasan penghormatan dan adab. Imam Asnawi di dalam kitab Al-Muhimmaat mengemukakan ucapan Syeikh Izzud-din bin Abdus-salam, dia berkata : “Pada prinsipnya pembacaan selawat di dalam tasyahhud itu hendaklah ditambah dengan lafaz “sayyidina”, demi mengikuti adab dan menjalankan perintah. Atas yang pertama hukumnya mustahab (sunat). Dengan demikian di dalam membaca shalawat boleh bagi kita mengucapkan “Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad”, meskipun tidak ada pada lafazh-lafazh shalawat yang diajarkan oleh Nabi (ash-Shalawat al Ma'tsurah) dengan penambahan kata “Sayyid”. Karena menyusun dzikir tertentu yang tidak ma'tsur boleh selama tidak bertentangan dengan yang ma'tsur. Sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menambah lafazh talbiyah dari yang sudah diajarkan oleh Rasulullah. Lafazh talbiyah yang diajarkan oleh Nabi adalah: لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَNamun kemudian sabahat Umar ibn al-Khaththab menambahkannya. Dalam bacaan beliau: لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ ، وَالْخَيْرُ فِيْ يَدَيْكَ، وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُDalil lainnya adalah dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar bahwa beliau membuat kalimat tambahan pada Tasyahhud di dalamnya shalatnya. Kalimat Tasyahhud dalam shalat yang diajarkan Rasulullah adalah “Asyhadu An La Ilaha Illah, Wa Asyhadu Anna Muhammad Rasulullah”. Namun kemudian ‘Abdullah ibn ‘Umar menambahkan Tasyahhud pertamanya menjadi: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُTambahan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah” sengaja diucapkan oleh beliau. Bahkan tentang ini ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Wa Ana Zidtuha...”. Artinya: “Saya sendiri yang menambahkan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah”. (HR Abu Dawud) Dalam sebuah hadits shahih, Imam al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Rifa'ah ibn Rafi', bahwa ia (Rifa'ah ibn Rafi’) berkata: “Suatu hari kami shalat berjama'ah di belakang Rasulullah. Ketika beliau mengangkat kepala setelah ruku' beliau membaca: “Sami’allahu Liman Hamidah”, tiba-tiba salah seorang makmum berkata: رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ Setelah selesai shalat Rasulullah bertanya: “Siapakah tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu?". Orang yang yang dimaksud menjawab: “Saya Wahai Rasulullah...”. Lalu Rasulullah berkata: رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلَ “Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya”. al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fath al-Bari, dalam menjelaskan hadits sahabat Rifa’ah ibn Rafi ini menuliskan sebagai berikut: “Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan kepada beberapa perkara. Pertama; Menunjukan kebolehan menyusun dzikir yang tidak ma'tsur di dalam shalat selama tidak menyalahi yang ma'tsur. Dua; Boleh mengeraskan suara dzikir selama tidak mengganggu orang lain di dekatnya. Tiga; Bahwa orang yang bersin di dalam shalat diperbolehkan baginya mengucapkan “al-Hamdulillah” tanpa adanya hukum makruh” (Fath al-Bari, j. 2, h. 287). Dengan demikian boleh hukumnya dan tidak ada masalah sama sekali di dalam bacaan shalawat menambahkan kata “Sayyidina”, baik dibaca di luar shalat maupun di dalam shalat. Karena tambahan kata “Sayyidina” ini adalah tambahan yang sesuai dengan dasar syari’at, dan sama sekali tidak bertentangan dengannya. Asy-Syaikh al’Allamah Ibn Hajar al-Haitami dalam kitab al-Minhaj al-Qawim, halaman 160, menuliskan sebagai berikut: وَلاَ بَأْسَ بِزِيَادَةِ سَيِّدِنَا قَبْلَ مُحَمَّدٍ، وَخَبَرُ"لاَ تُسَيِّدُوْنِي فِيْ الصَّلاَةِ" ضَعِيْفٌ بَلْ لاَ أَصْلَ لَهُ “Dan tidak mengapa menambahkan kata “Sayyidina” sebelum Muhammad. Sedangkan hadits yang berbunyi “La Tusyyiduni Fi ash-Shalat” adalah hadits dha'if bahkan tidak memiliki dasar (hadits maudlu/palsu)”. Di antara hal yang menunjukan bahwa hadits “La Tusayyiduni Fi ash-Shalat” sebagai hadits palsu (Maudlu’) adalah karena di dalam hadits ini terdapat kaedah kebahasaan yang salah (al-Lahn). Artinya, terdapat kalimat yang ditinjau dari gramatika bahasa Arab adalah sesuatu yang aneh dan asing. Yaitu pada kata “Tusayyiduni”. Di dalam bahasa Arab, dasar kata “Sayyid” adalah berasal dari kata “Saada, Yasuudu”, bukan “Saada, Yasiidu”. Dengan demikian bentuk fi’il Muta'addi (kata kerja yang membutuhkan kepada objek) dari “Saada, Yasuudu” ini adalah “Sawwada, Yusawwidu”, dan bukan “Sayyada, Yusayyidu”. Dengan demikian, -seandainya hadits di atas benar adanya-, maka bukan dengan kata “La Tasayyiduni”, tapi harus dengan kata “La Tusawwiduni”. Inilah yang dimaksud dengan al-Lahn. Sudah barang tentu Rasulullah tidak akan pernah mengucapkan al-Lahn semacam ini, karena beliau adalah seorang Arab yang sangat fasih (Afshah al-‘Arab). Bahkan dalam pendapat sebagian ulama, mengucapkan kata “Sayyidina” di depan nama Rasulullah, baik di dalam shalat maupun di luar shalat lebih utama dari pada tidak memakainya. Karena tambahan kata tersebut termasuk penghormatan dan adab terhadap Rasulullah. Dan pendapat ini dinilai sebagai pendapat mu’tamad. Asy-Syaikh al-‘Allamah al-Bajuri dalam kitab Hasyiah al-Bajuri, menuliskan sebagai berikut: الأوْلَى ذِكْرُ السِّيَادَةِ لأَنّ الأفْضَلَ سُلُوْكُ الأدَبِ، خِلاَفًا لِمَنْ قَالَ الأوْلَى تَرْكُ السّيَادَةِ إقْتِصَارًا عَلَى الوَارِدِ، وَالمُعْتَمَدُ الأوَّلُ، وَحَدِيْثُ لاَ تُسَوِّدُوْنِي فِي صَلاتِكُمْ بِالوَاوِ لاَ بِاليَاءِ بَاطِلٌ“Yang lebih utama adalah mengucapkan kata “Sayyid”, karena yang lebih afdlal adalah menjalankan adab. Hal ini berbeda dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa lebih utama meninggalkan kata “Sayyid” dengan alasan mencukupkan di atas yang warid saja. Dan pendapat mu’tamad adalah pendapat yang pertama. Adapun hadits “La Tusawwiduni Fi Shalatikum”, yang seharusnya dengan “waw” (Tusawwiduni) bukan dengan “ya” (Tusayyiduni) adalah hadits yang batil” (Hasyiah al-Bajuri, j. 1, h. 156). Wallahu 'alam.

Make money by copying the best: http://bit.ly/best_tips
Hukum Sebut Sayyidina * Fuqaha' Syafi'iyah berpendapat sunat menyebut sayyidina ketika berselawat atas alasan penghormatan dan adab. Imam Asnawi di dalam kitab Al-Muhimmaat mengemukakan ucapan Syeikh Izzud-din bin Abdus-salam, dia berkata : “Pada prinsipnya pembacaan selawat di dalam tasyahhud itu hendaklah ditambah dengan lafaz “sayyidina”, demi mengikuti adab dan menjalankan perintah. Atas yang pertama hukumnya mustahab (sunat). Dengan demikian di dalam membaca shalawat boleh bagi kita mengucapkan “Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad”, meskipun tidak ada pada lafazh-lafazh shalawat yang diajarkan oleh Nabi (ash-Shalawat al Ma'tsurah) dengan penambahan kata “Sayyid”. Karena menyusun dzikir tertentu yang tidak ma'tsur boleh selama tidak bertentangan dengan yang ma'tsur. Sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menambah lafazh talbiyah dari yang sudah diajarkan oleh Rasulullah. Lafazh talbiyah yang diajarkan oleh Nabi adalah: لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَNamun kemudian sabahat Umar ibn al-Khaththab menambahkannya. Dalam bacaan beliau: لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ ، وَالْخَيْرُ فِيْ يَدَيْكَ، وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُDalil lainnya adalah dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar bahwa beliau membuat kalimat tambahan pada Tasyahhud di dalamnya shalatnya. Kalimat Tasyahhud dalam shalat yang diajarkan Rasulullah adalah “Asyhadu An La Ilaha Illah, Wa Asyhadu Anna Muhammad Rasulullah”. Namun kemudian ‘Abdullah ibn ‘Umar menambahkan Tasyahhud pertamanya menjadi: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُTambahan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah” sengaja diucapkan oleh beliau. Bahkan tentang ini ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Wa Ana Zidtuha...”. Artinya: “Saya sendiri yang menambahkan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah”. (HR Abu Dawud) Dalam sebuah hadits shahih, Imam al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Rifa'ah ibn Rafi', bahwa ia (Rifa'ah ibn Rafi’) berkata: “Suatu hari kami shalat berjama'ah di belakang Rasulullah. Ketika beliau mengangkat kepala setelah ruku' beliau membaca: “Sami’allahu Liman Hamidah”, tiba-tiba salah seorang makmum berkata: رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ Setelah selesai shalat Rasulullah bertanya: “Siapakah tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu?". Orang yang yang dimaksud menjawab: “Saya Wahai Rasulullah...”. Lalu Rasulullah berkata: رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلَ “Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya”. al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fath al-Bari, dalam menjelaskan hadits sahabat Rifa’ah ibn Rafi ini menuliskan sebagai berikut: “Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan kepada beberapa perkara. Pertama; Menunjukan kebolehan menyusun dzikir yang tidak ma'tsur di dalam shalat selama tidak menyalahi yang ma'tsur. Dua; Boleh mengeraskan suara dzikir selama tidak mengganggu orang lain di dekatnya. Tiga; Bahwa orang yang bersin di dalam shalat diperbolehkan baginya mengucapkan “al-Hamdulillah” tanpa adanya hukum makruh” (Fath al-Bari, j. 2, h. 287). Dengan demikian boleh hukumnya dan tidak ada masalah sama sekali di dalam bacaan shalawat menambahkan kata “Sayyidina”, baik dibaca di luar shalat maupun di dalam shalat. Karena tambahan kata “Sayyidina” ini adalah tambahan yang sesuai dengan dasar syari’at, dan sama sekali tidak bertentangan dengannya. Asy-Syaikh al’Allamah Ibn Hajar al-Haitami dalam kitab al-Minhaj al-Qawim, halaman 160, menuliskan sebagai berikut: وَلاَ بَأْسَ بِزِيَادَةِ سَيِّدِنَا قَبْلَ مُحَمَّدٍ، وَخَبَرُ"لاَ تُسَيِّدُوْنِي فِيْ الصَّلاَةِ" ضَعِيْفٌ بَلْ لاَ أَصْلَ لَهُ “Dan tidak mengapa menambahkan kata “Sayyidina” sebelum Muhammad. Sedangkan hadits yang berbunyi “La Tusyyiduni Fi ash-Shalat” adalah hadits dha'if bahkan tidak memiliki dasar (hadits maudlu/palsu)”. Di antara hal yang menunjukan bahwa hadits “La Tusayyiduni Fi ash-Shalat” sebagai hadits palsu (Maudlu’) adalah karena di dalam hadits ini terdapat kaedah kebahasaan yang salah (al-Lahn). Artinya, terdapat kalimat yang ditinjau dari gramatika bahasa Arab adalah sesuatu yang aneh dan asing. Yaitu pada kata “Tusayyiduni”. Di dalam bahasa Arab, dasar kata “Sayyid” adalah berasal dari kata “Saada, Yasuudu”, bukan “Saada, Yasiidu”. Dengan demikian bentuk fi’il Muta'addi (kata kerja yang membutuhkan kepada objek) dari “Saada, Yasuudu” ini adalah “Sawwada, Yusawwidu”, dan bukan “Sayyada, Yusayyidu”. Dengan demikian, -seandainya hadits di atas benar adanya-, maka bukan dengan kata “La Tasayyiduni”, tapi harus dengan kata “La Tusawwiduni”. Inilah yang dimaksud dengan al-Lahn. Sudah barang tentu Rasulullah tidak akan pernah mengucapkan al-Lahn semacam ini, karena beliau adalah seorang Arab yang sangat fasih (Afshah al-‘Arab). Bahkan dalam pendapat sebagian ulama, mengucapkan kata “Sayyidina” di depan nama Rasulullah, baik di dalam shalat maupun di luar shalat lebih utama dari pada tidak memakainya. Karena tambahan kata tersebut termasuk penghormatan dan adab terhadap Rasulullah. Dan pendapat ini dinilai sebagai pendapat mu’tamad. Asy-Syaikh al-‘Allamah al-Bajuri dalam kitab Hasyiah al-Bajuri, menuliskan sebagai berikut: الأوْلَى ذِكْرُ السِّيَادَةِ لأَنّ الأفْضَلَ سُلُوْكُ الأدَبِ، خِلاَفًا لِمَنْ قَالَ الأوْلَى تَرْكُ السّيَادَةِ إقْتِصَارًا عَلَى الوَارِدِ، وَالمُعْتَمَدُ الأوَّلُ، وَحَدِيْثُ لاَ تُسَوِّدُوْنِي فِي صَلاتِكُمْ بِالوَاوِ لاَ بِاليَاءِ بَاطِلٌ“Yang lebih utama adalah mengucapkan kata “Sayyid”, karena yang lebih afdlal adalah menjalankan adab. Hal ini berbeda dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa lebih utama meninggalkan kata “Sayyid” dengan alasan mencukupkan di atas yang warid saja. Dan pendapat mu’tamad adalah pendapat yang pertama. Adapun hadits “La Tusawwiduni Fi Shalatikum”, yang seharusnya dengan “waw” (Tusawwiduni) bukan dengan “ya” (Tusayyiduni) adalah hadits yang batil” (Hasyiah al-Bajuri, j. 1, h. 156). Wallahu 'alam.

Make money by copying the best: http://bit.ly/best_tips

Menyebut nama Rasulallah saw. dengan awalan kata sayyidina atau maulana

Sebagian orang membid'ahkan panggilan Sayyidinaa atau Maulana didepan nama Muhammad Rasulallah saw., dengan alasan bahwa Rasulallah saw. sendiri yang menganjurkan kepada kita tanpa mengagung-agungkan dimuka nama beliau saw. Memang golongan ini mudah sekali membid'ahkan sesuatu amalan tanpa melihat motif makna yang dimaksud Bid'ah itu apa. Mari kita rujuk ayat-ayat Ilahi dan hadits-hadits Rasulallah saw. yang berkaitan dengan kata-kata sayyid.
Syeikh Muhammad Sulaiman Faraj dalam risalahnya yang berjudul panjang yaitu Dala'ilul-Mahabbah Wa Ta'dzimul-Maqam Fis-Shalati Was-Salam 'AN Sayyidil-Anam dengan tegas mengatakan : Menyebut nama Rasulallah saw.dengan tambahan kata Sayyidina (junjungan kita) didepannya merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim yang mencintai beliau saw. Sebab kata tersebut menunjukkan kemuliaan martabat dan ketinggian kedudukan beliau. Allah swt.memerintahkan ummat Islam supaya menjunjung tinggi martabat Rasulallah saw., menghormati dan memuliakan beliau, bahkan melarang kita memanggil atau menyebut nama beliau dengan cara sebagaimana kita menyebut nama orang diantara sesama kita. Larangan tersebut tidak berarti lain kecuali untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan Rasulallah saw. Allah swt.berfirman :
"Janganlah kalian memanggil Rasul (Muhammad) seperti kalian memanggil sesama orang diantara kalian". (S.An-Nur : 63).
Dalam tafsirnya mengenai ayat diatas ini Ash-Shawi mengatakan: Makna ayat itu ialah janganlah kalian memanggil atau menyebut nama Rasulallah saw. cukup dengan nama beliau saja, seperti Hai Muhammad atau cukup dengan nama julukannya saja Hai Abul Qasim. Hendaklah kalian menyebut namanya atau memanggilnya dengan penuh hormat, dengan menyebut kemuliaan dan keagungannya. Demikianlah yang dimaksud oleh ayat tersebut diatas. Jadi, tidak patut bagi kita menyebut nama beliau saw.tanpa menunjukkan penghormatan dan pemuliaan kita kepada beliau saw., baik dikala beliau masih hidup didunia maupun setelah beliau kembali keharibaan Allah swt. Yang sudah jelas ialah bahwa orang yang tidak mengindahkan ayat tersebut berarti tidak mengindahkan larangan Allah dalam Al-Qur'an. Sikap demikian bukanlah sikap orang beriman.
Menurut Ibnu Jarir, dalam menafsirkan ayat tersebut Qatadah mengatakan : Dengan ayat itu Allah memerintahkan ummat Islam supaya memuliakan dan mengagungkan Rasulallah saw.
Dalam kitab Al-Iklil Fi Istinbathit-Tanzil Imam Suyuthi mengatakan : Dengan turunnya ayat tersebut Allah melarang ummat Islam menyebut beliau saw. atau memanggil beliau hanya dengan namanya, tetapi harus menyebut atau memanggil beliau dengan Ya Rasulallah atau Ya Nabiyullah. Menurut kenyataan sebutan atau panggilan demikian itu tetap berlaku, kendati beliau telah wafat.
Dalam kitab Fathul-Bari syarh Shahihil Bukhori juga terdapat penegasan seperti tersebut diatas, dengan tambahan keterangan sebuah riwayat berasal dari Ibnu 'Abbas ra.yang diriwayatkan oleh Ad-Dhahhak, bahwa sebelum ayat tersebut turun kaum Muslimin memanggil Rasulallah saw. hanya dengan Hai Muhammad, Hai Ahmad, Hai Abul-Qasim dan lain sebagainya. Dengan menurunkan ayat itu Allah swt. melarang mereka menyebut atau memanggil Rasulallah saw. dengan ucapan-ucapan tadi. Mereka kemudian menggantinya dengan kata-kata : Ya Rasulallah, dan Ya Nabiyullah.
Hampir seluruh ulama Islam dan para ahli Fiqih berbagai madzhab mempunyai pendapat yang sama mengenai soal tersebut, yaitu bahwa mereka semuanya mengharamkan orang menggunakan sebutan atau panggilan sebagaimana yang dilakukan orang sebelum ayat tersebut diatas turun.
Didalam Al-Qur'an banyak terdapat ayat-ayat yang mengisyaratkan makna tersebut diatas. Antara lain firman Allah swt. dalam surat Al-A'raf : 157 ; Al-Fath : 8-9, Al-Insyirah : 4 dan lain sebagainya. Dalam ayat-ayat ini Allah swt. memuji kaum muslimin yang bersikap hormat dan memuliakan Rasulallah saw., bahkan menyebut mereka sebagai orang-orang yang beruntung. Juga firman Allah swt. mengajarkan kepada kita tatakrama yang mana dalam firman-Nya tidak pernah memanggil atau menyebut Rasul-Nya dengan kalimat Hai Muhammad, tetapi memanggil beliau dengan kalimat Hai Rasul atau Hai Nabi.
Firman-firman Allah swt. tersebut cukup gamblang dan jelas membuktikan bahwa Allah swt. mengangkat dan menjunjung Rasul-Nya sedemikian tinggi, hingga layak disebut sayyidina atau junjungan kita Muhammad Rasulallah saw. Menyebut nama beliau saw. tanpa diawali dengan kata yang menunjukkan penghormatan, seperti sayyidina tidak sesuai dengan pengagungan yang selayaknya kepada kedudukan dan martabat beliau.
Dalam surat Aali-'Imran : 39 Allah swt. menyebut Nabi Yahya as. dengan predikat sayyid:
"...Allah memberi kabar gembira kepadamu (Hai Zakariya) akan kelahiran seorang puteramu, Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang dari) Allah, seorang sayyid (terkemuka, panutan), (sanggup) menahan diri (dari hawa nafsu) dan Nabi dari keturunan orang-orang sholeh".
Para penghuni neraka pun menyebut orang-orang yang menjerumuskan mereka dengan istilah saadat (jamak dari kata sayyid), yang berarti para pemimpin. Penyesalan mereka dilukiskan Allah swt.dalam firman-Nya :
"Dan mereka (penghuni neraka) berkata : 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati para pemimpin (sadatanaa) dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar". (S.Al-Ahzab:67).
Juga seorang suami dapat disebut dengan kata sayyid, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah swt. dalam surat Yusuf : 25 :
"Wanita itu menarik qamis (baju) Yusuf dari belakang hingga koyak, kemudian kedua-duanya memergoki sayyid (suami) wanita itu didepan pintu". Dalam kisah ini yang dimaksud suami ialah raja Mesir.
Demikian juga kata Maula yang berarti pengasuh, penguasa, penolong dan lain sebagainya. Banyak terdapat didalam Al-Qur'anul-Karim kata-kata ini, antara lain dalam surat Ad-Dukhan: 41 Allah berfirman :
"...Hari (kiamat) dimana seorang maula (pelindung) tidak dapat memberi manfaat apa pun kepada maula (yang dilindunginya) dan mereka tidak akan tertolong".
Juga dalam firman Allah swt. dalam Al-Maidah : 55 disebutkan juga kalimat Maula untuk Allah swt., Rasul dan orang yang beriman.
Jadi kalau kata sayyid itu dapat digunakan untuk menyebut Nabi Yahya putera Zakariya, dapat digunakan untuk menyebut raja Mesir, bahkan dapat juga digunakan untuk menyebut pemimpin eyang semuanya itu menunjukkan kedudukan seseorange alasan apa yang dapat digunakan untuk menolak sebutan sayyid bagi junjungan kita Nabi Muhammad saw. Demikian pula soal penggunaan kata maula. Apakah bid'ah jika seorang menyebut nama seorang Nabi yang diimani dan dicintainya dengan awalan sayyidina atau maulana ?!
Mengapa orang yang menyebut nama seorang pejabat tinggi pemerintahan, kepada para raja atau menteri, atau kepada diri seseorang dengan awalan 'Yang Mulia' tidak dituduh berbuat bid'ah ? Tidak salah kalau ada orang yang mengatakan, bahwa sikap menolak penggunaan kata sayyid atau maula untuk mengawali penyebutan nama Rasulallah saw. itu sesungguhnya dari pikiran meremehkan kedudukan dan martabat beliau saw. Atau sekurang-kurang hendak menyamakan kedudukan dan martabat beliau saw. dengan manusia awam/biasa.
Sebagaimana kita ketahui, dewasa ini masih banyak orang yang menyebut nama Rasulallah saw. tanpa diawali dengan kata sayyidina dan tanpa dilanjutkan dengan kalimat sallahu 'alaihi wasallam (saw). Menyebut nama Rasulallah saw. dengan cara demikian menunjukkan sikap tak kenal hormat pada diri orang yang bersangkutan. Cara demikian itu lazim dilakukan oleh orang-orang diluar Islam, seperti kaum orientalis barat dan lain sebagainya. Sikap kaum orientalis ini tidak boleh kita tiru.
Banyak hadits-hadits shohih yang menggunakan kata sayyid, beberapa diantaranya ialah :
"Setiap anak Adam adalah sayyid. Seorang suami adalah sayyid bagi isterinya dan seorang isteri adalah sayyidah bagi keluarganya (rumah tangganya)". (HR Bukhori dan Adz-Dzahabi).
Jadi kalau setiap anak Adam saja dapat disebut sayyid, apakah anak Adam yang paling tinggi martabatnya dan paling mulia kedudukannya disisi Allah eyaitu junjungan kita Nabi Muhammad saw. e tidak boleh disebut sayyid ?
Didalam shohih Muslim terdapat sebuah hadits, bahwasanya Rasulallah saw. memberitahu para sahabatnya, bahwa pada hari kiamat kelak Allah swt. akan menggugat hamba-hambaNya : "Bukankah engkau telah Ku-muliakan dan Ku-jadikan sayyid ?" (alam ukrimuka wa usawwiduka?)
Makna hadits ini ialah, bahwa Allah swt. telah memberikan kemuliaan dan kedudukan tinggi kepada setiap manusia. Kalau setiap manusia dikarunia kemuliaan dan kedudukan tinggi, apakah manusia pilihan Allah yang diutus sebagai Nabi dan Rasul tidak jauh lebih mulia dan lebih tinggi kedudukan dan martabatnya daripada manusia lainnya ? Kalau manusia-manusia biasa saja dapat disebut sayyid, mengapa Rasulallah saw. tidak boleh disebut sayyid atau maula ?
Dalil-dalil orang yang membantah dan jawabannya
- Ada sementara orang terkelabui oleh pengarang hadits palsu yang berbunyi: "Laa tusayyiduunii fis-shalah" artinya "Jangan menyebutku (Nabi Muhammad saw) sayyid didalam sholat". Tampaknya pengarang hadits palsu yang mengatas namakan Rasulallah saw. untuk mempertahankan pendirian-nya itu lupa eatau memang tidak mengertie bahwa didalam bahasa Arab tidak pernah terdapat kata kerja tusayyidu. Tidak ada kemungkinan sama sekali Rasulallah saw.mengucapkan kata-kata dengan bahasa Arab gadungan seperti yang dilukiskan oleh pengarang hadits palsu tersebut. Dilihat dari segi baal-Hasanya saja, hadits itu tampak jelas kepalsuannya. Namun untuk lebih kuat membuktikan kepalsuan hadits tersebut baiklah kami kemukakan beberapa pendapat yang dinyatakan oleh para ulama.
Dalam kitab Al-Hawi, atas pertanyaan mengenai hadits tersebut Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjawab tegas : "Tidak pernah ada (hadits tersebut), itu bathil !".
Imam Al-Hafidz As-Sakhawi dalam kitab Al-Maqashidul-Al-Hasanah menegaskan : " Hadits itu tidak karuan sumbernya ! "
Imam Jalaluddin Al-Muhli, Imam As-Syamsur-Ramli, Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami, Imam Al-Qari, para ahli Fiqih madzhab Sayfi'i dan madzhab Maliki dan lain-lainnya, semuanya mengatakan : "Hadits itu sama sekali tidak benar".
- Selain hadits palsu diatas tersebut, masih ada hadits palsu lainna yang semakna, yaitu yang berbunyi : "La tu'adzdzimuunii fil-masjid" artinya ; "Jangan mengagungkan aku (Nabi Muhammad saw.) di masjid".
Dalam kitab Kasyful Khufa Imam Al-Hafidz Al-'Ajluni dengan tegas mengatakan : "Itu bathil !". Demikian pula Imam As-Sakhawi dalam kitab Maulid-nya yang berjudul Kanzul-'Ifah menyatakan tentang hadits ini : "Kebohongan yang diada-adakan".
Memang masuk akal kalau ada orang yang berkata seperti itu yakni jangan mengagungkan aku di masjid kepada para hadirin didalam masjid, sebab ucapan- nya itu merupakan tawadhu' (rendah hati). Akan tetapi kalau dikatakan bahwa perkataan tersebut diucapkan oleh Rasulallah saw. atau sebagai hadits beliau saw., jelas hal itu suatu pemalsuan yang terlampau berani.
Mari kita lanjutkan tentang hadits-hadits yang menggunakan kata sayyid berikut ini:
- Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dalam Shohihnya bahwa Rasulallah saw.bersabda : "Aku sayyid anak Adam...". Jelaslah bahwa kata sayyid dalam hal ini berarti pemimpin ummat, orang yang paling terhormat dan paling mulia dan paling sempurna dalam segala hal sehingga dapat menjadi panutan serta teladan bagi ummat yang dipimpinnya.
Ibnu 'Abbas ra mengatakan, bahwa makna sayyid dalam hadits tersebut ialah orang yang paling mulia disisi Allah. Qatadah ra. mengatakan, bahwa Rasulallah saw. adalah seorang sayyid yang tidak pernah dapat dikalahkan oleh amarahnya.
- Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Majah dan At-Turmudzi, Rasulallah saw. bersabda :
"Aku adalah sayyid anak Adam pada hari kiamat". Surmber riwayat lain yang diketengahkan oleh Imam Ahmad bin Hambal, Imam Bukhori dan Imam Muslim, mengatakan bahwa Rasulallah saw. bersabda : "Aku sayyid semua manusia pada hari kiamat".
Hadit tersebut diberi makna oleh Rasulallah saw. sendiri dengan penjelasannya: "Pada hari kiamat, Adam dan para Nabi keturunannya berada dibawah panjiku".
Sumber riwayat lain mengatakan lebih tegas lagi, yaitu bahwa Rasulallah saw. bersabda : "Aku sayyid dua alam".
- Riwayat yang berasal dari Abu Nu'aim sebagaimana tercantum didalam kitab Dala'ilun-Nubuwwah mengatakan bahwa Rasulallah saw. bersabda : "Aku sayyid kaum Mu'minin pada saat mereka dibangkitkan kembali (pada hari kiamat)".
- Hadits lain yang diriwayatkan oleh Al-Khatib mengatakan, bahwa Rasulallah saw. bersabda : "Aku Imam kaum muslimin dan sayyid kaum yang bertaqwa".
- Sebuah hadits yang dengan terang mengisyaratkan keharusan menyebut nama Rasulallah saw. diawali dengan kata sayyidina diketengahkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Hadits yang mempunyai isnad shohih ini berasal dari Jabir bin 'Abdullah ra. yang mengatakan sebagai berikut:
"Pada suatu hari kulihat Rasulallah saw. naik keatas mimbar. Setelah memanjatkan puji syukur kehadirat Allah saw. beliau bertanya : 'Siapakah aku ini ?' Kami menyahut : Rasulallah ! Beliau bertanya lagi : 'Ya, benar, tetapi siapakah aku ini ?'. Kami menjawab : Muhammad bin 'Abdullah bin 'Abdul-Mutthalib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf ! Beliau kemudian menyatakan : 'Aku sayyid anak Adam....'."
Riwayat hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa Rasulallah saw. lebih suka kalau para sahabatnya menyebut nama beliau dengan kata sayyid. Dengan kata sayyid itu menunjukkan perbedaan kedudukan beliau dari kedudukan para Nabi dan Rasulallah terdahulu, bahkan dari semua manusia sejagat.
Semua hadits tersebut diatas menunjukkan dengan jelas, bahwa Rasulallah saw. adalah sayyid anak Adam, sayyid kaum muslimin, sayyid dua alam (al-'alamain), sayyid kaum yang bertakwa. Tidak diragukan lagi bahwa menggunakan kata sayyidina untuk mengawali penyebutan nama Rasulallah saw. merupakan suatu yang dianjurkan bagi setiap muslim yang mencintai beliau saw.
- Demikian pula soal kata Maula, Imam Ahmad bin Hambal di dalam Musnad nya, Imam Turmudzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah mengetengahkan sebuah hadits, bahwa Rasulallah saw. bersabda :
"Man kuntu maulahu fa 'aliyyun maulahu" artinya : "Barangsiapa aku menjadi maula-nya (pemimpinnya). 'Ali (bin Abi Thalib) adalah maula-nya..."
- Dari hadits semuanya diatas tersebut kita pun mengetahui dengan jelas bahwa Rasulallah saw. adalah sayyidina dan maulana (pemimpin kita). Demikian juga para ahlu-baitnya (keluarganya), semua adalah sayyidina. Al-Bukhori meriwayat- kan bahwa Rasulallah saw. pernah berkata kepada puteri beliau, Siti Fathimah ra :
"Yaa Fathimah amaa tardhiina an takuunii sayyidata nisaail mu'minin au sayyidata nisaai hadzihil ummati" artinya : "Hai Fathimah, apakah engkau tidak puas menjadi sayyidah kaum mu'minin (kaum orang-orang yang beriman) atau sayyidah kaum wanita ummat ini ?"
- Dalam shohih Muslim hadits tersebut berbunyi : "Yaa Fathimah amaa tardhiina an takuunii sayyidata nisaail mu'mininat au sayyidata nisaai hadzihil ummati" artinya : "Hai Fathimah, apakah engkau tidak puas menjadi sayyidah mu'mininat (kaum wanitanya orang-orang yang beriman) atau sayyidah kaum wanita ummat ini ?"
- Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad, Rasulallah saw. berkata kepada puterinya (Siti Fathimah ra) :
"Amaa tardhiina an takuunii sayyidata sayyidata nisaa hadzihil ummati au nisaail 'Alamina" artinya : "...Apakah engkau tidak puas menjadi sayyidah kaum wanita ummat ini, atau sayyidah kaum wanita sedunia ?"
Demikianlah pula halnya terhadap dua orang cucu Rasulallah saw. Al-Hasan dan Al-Husain eradhiyallahu 'anhumae. Imam Bukhori dan At-Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits yang berisnad shohih bahwa pada suatu hari Rasulallah saw. bersabda : "Al-Hasanu wal Husainu sayyida asybaabi ahlil jannati" artinya : "Al-Hasan dan Al-Husain dua orang sayyid pemuda ahli surga".
Berdasarkan hadits-hadits diatas itu kita menyebut puteri Rasulallah saw. Siti Fathimah Az-Zahra dengan kata awalan sayyidatuna. Demikianlah pula terhadap dua orang cucu Rasulallah saw. Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu 'anhuma.
- Ketika Sa'ad bin Mu'adz ra. diangkat oleh Rasulallah saw. sebagai penguasa kaum Yahudi Bani Quraidah (setelah mereka tunduk kepada kekuasaan kaum muslimin), Rasulallah saw. mengutus seorang memanggil Sa'ad supaya datang menghadap beliau. Sa'ad datang berkendaraan keledai, saat itu Rasulallah saw. berkata kepada orang-orang yang hadir : "Guumuu ilaa sayyidikum au ilaa khoirikum" artinya : "Berdirilah menghormati sayyid (pemimpin) kalian, atau orang terbaik diantara kalian".
Rasulallah saw. menyuruh mereka berdiri bukan karena Sa'ad dalam keadaan sakit esementara fihak menafsirkan mereka disuruh berdiri untuk menolong Sa'ad turun dari keledainya, karena dalam keadaan sakite sebab jika Sa'ad dalam keadaan sakit, tentu Rasulallah saw. tidak menyuruh mereka semua menghormat kedatangan Sa'ad, melainkan menyuruh beberapa orang saja untuk berdiri menolong Sa'ad.
Sekalipun -misalnya- Rasulallah saw. melarang para sahabatnya berdiri menghormati beliau saw, tetapi beliau sendiri malah memerintahkan mereka supaya berdiri menghormati Sa'ad bin Mu'adz, apakah artinya ? Itulah tatakrama Islam. Kita harus dapat memahami apa yang dikehendaki oleh Rasulallah saw. dengan larangan dan perintahnya mengenai soal yang sama itu. Tidak ada ayah, ibu, kakak dan guru yang secara terang-terangan minta dihormati oleh anak, adik dan murid, akan tetapi si anak, si adik dan si murid harus merasa dirinya wajib menghormati ayathnya, ibunya, kakaknya dan gurunya. Demikian juga Rasulallah saw. sekalipun beliau menyadari kedudukan dan martabatnya yang sedemikian tinggi disisi Allah swt, beliau tidak menuntut supaya ummatnya memuliakan dan mengagung-agungkan beliau. Akan tetapi kita, ummat Rasulallah saw., harus merasa wajib menghormati, memuliakan dan mengagungkan beliau saw.
Allah swt. berfirman dalam Al-Ahzab : 6 : "Bagi orang-orang yang beriman, Nabi (Muhammad saw.) lebih utama daripada diri mereka sendiri, dan para isterinya adalah ibu-ibu mereka".
Ibnu 'Abbas ra. menyatakan: " Beliau adalah ayah mereka " yakni ayah semua orang beiman ! Ayat suci diatas ini jelas maknanya, tidak memerlukan penjelasan apa pun juga, bahwa Rasulallah saw. lebih utama dari semua orang beriman dan para isteri beliau wajib dipandang sebagai ibu-ibu seluruh ummat Islam ! Apakah esetelah keterangan semua diatas inie orang yang menyebut nama beliau dengan tambahan kata awalan sayyidina atau maulana pantas dituduh berbuat bid'ah ?? Semoga Allah swt. memberi hidayah kepada kita semua. Amin
- Ibnu Mas'ud ra. mengatakan kepada orang-orang yang menuntut ilmu kepadanya : "Apabila kalian mengucapkan shalawat Nabi hendaklah kalian mengucapkan shalawat dengan sebaik-baiknya. Kalian tidak tahu bahwa sholawat itu akan disampaikan kepada beliau saw., karena itu ucapkanlah : 'Ya Allah, limpahkanlah shalawat-Mu, rahmat-Mu dan berkah-Mu kepada Sayyidul- Mursalin (pemimpin para Nabi dan Rasulallah) dan Imamul-Muttaqin (Panutan orang-orang bertakwa)"
- Para sahabat Nabi juga menggunakan kata sayyid untuk saling menyebut nama masing-masing, sebagai tanda saling hormat-menghormati dan harga-menghargai. Didalam Al-Mustadrak Al-Hakim mengetengahkan sebuah hadits dengan isnad shohih, bahwa "Abu Hurairah ra. dalam menjawab ucapan salam Hasan bin 'Ali bin Abi Thalib ra. selalu mengatakan "Alaikassalam ya sayyidi". Atas pertanyaan seorang sahabat ia menjawab: 'Aku mendengar sendiri Rasulallah saw. menyebutnya (Al-Hasan ra.) sayyid' ".
- Ibnu 'Athaillah dalam bukunya Miftahul-Falah mengenai pembicaraannya soal sholawat Nabi mewanti-wanti pembacanya sebagai berikut : "Hendaknya anda berhati-hati jangan sampai meninggalkan lafadz sayyidina dalam bersholawat, karena didalam lafadz itu terdapat rahasia yang tampak jelas bagi orang yang selalu mengamalkannya". Dan masih banyak lagi wejangan para ulama pakar cara sebaik-baiknya membaca sholawat pada Rasulallah saw. yang tidak tercantum disini.
Nah, kiranya cukuplah sudah uraian diatas mengenai penggunaan kata sayyidina atau maulana untuk mengawali penyebutan nama Rasulallah saw.. Setelah orang mengetahui banyak hadits Nabi yang menerangkan persoalan itu yakni menggunakan kata awalan sayyid, apakah masih ada yang bersikeras tidak mau menggunakan kata sayyidina dalam menyebut nama beliau saw.?, dan apanya yang salah dalam hal ini ?.
Apakah orang yang demikian itu hendak mengingkari martabat Rasulallah saw. sebagai Sayyidul-Mursalin (penghulu para Rasulallah) dan Habibu Rabbil-'alamin (Kesayangan Allah Rabbul 'alamin) ?
Bagaimana tercelanya orang yang berani membid'ahkan penyebutan sayyidina atau maulana dimuka nama beliau saw.? Yang lebih aneh lagi sekarang banyak diantara golongan pengingkar ini sendiri yang memanggil nama satu sama lain diawali dengan sayyid atau minta juga agar mereka dipanggil sayyid dimuka nama mereka !
Semoga dengan keterangan sebelumnya mengenai akidah golongan Wahabi/Salafi serta pengikutnya dan keterangan bid'ah yang singkat ini insya-Allah bisa membuka hati kita masing-masing agar tidak mudah mensesatkan, mengkafirkan dan sebagainya pada saudara muslim kita sendiri yang sedang melakukan ritual-ritual Islam begitu juga yang berlainan madzhab dengan madzhab kita. Semoga hidayah Allah swt. selalu mengiringi kita semua. Amin

Benarkah Nabi Muhammad Menolak Dipanggil 'Sayyid' ?

Benarkah Nabi Muhammad Menolak Dipanggil 'Sayyid' ?
Beberapa pihak yang tidak setuju dengan sebutan ‘Sayyid’ untuk Rasulullah selalu berargumen dengan hadis berikut:

عَنْ مُطَرِّفٍ قَالَ قَالَ أَبِى انْطَلَقْتُ فِى وَفْدِ بَنِى عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْنَا أَنْتَ سَيِّدُنَا. فَقَالَ السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى (رواه أبو داود)
“Diriwayatkan dari Mutharrif, bahwa bapaknya berkata: Saya berjalan dalam rombongan Bani Amir menuju Rasulullah, lalu kami berkata: “Engkau adalah pemuka (Sayid) kami”. Nabi bersabda: “Sayid adalah Allah, maha pemberi berkah dan maha mulia” (HR Abu Dawud)

Hadis ini tidak serta merta bisa dijadikan larangan mengucapkan kalimat ‘Sayid’ kepada Rasulullah, sebagaimana disampaikan oleh al-Hafidz al-Suyuthi:

وَإِنَّمَا مَنَعَهُمْ أَنْ يَدْعُوهُ سَيِّدًا مَعَ قَوْله أَنَا سَيِّد وَلَد آدَم لِأَنَّهُمْ قَوْم حَدِيث عَهْد بِالْإِسْلَامِ (عون المعبود - ج 10 / ص 327)
“Rasulullah melarang mereka memanggil dengan ‘Sayid’, sementara dalam sabda Nabi: ‘Aku adalah Sayid anak Adam’, tidak lain dikarenakan mereka baru masuk Islam” (Aun al-Ma’bud, Syarah Sunan Abi Dawud, 10/327)

Sebab, bagi kabilah Arab terdahulu para pemimpinnya selalu disebut Sayid. Karena iman mereka masih lemah, maka Rasulullah melarangnya. Terbukti dalam kesempatan lain sahabat juga memanggil Rasulullah dengan Sayid dan Rasulullah tidak menyalahkan:

قَالَ : مُرُوْا أَبَا ثَابِتٍ يَتَعَوَّذُ قَالَ فَقُلْتُ : يَا سَيِّدِي وَالرُّقَى صَالِحَةٌ ؟ (هذا حديث صحيح الإسناد و لم يخرجاه تعليق الذهبي قي التلخيص : صحيح)
Nabi bersabda: “Perintahkan kepada Abu Tsabit [Sahal bin Hunaif] agar membaca ta’awwudz (minta perlindungan kepada Allah)”. Sahal bin Hunaif berkata: “Wahai Sayid-ku, apakah ruqyah berguna?” (HR al-Hakim, ia berkata bahwa hadis ini sanadnya sahih tetapi tidak dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Catatan al-Dzahabi dalam Talkhis: Hadis Sahih)

Hadis yang dinilai sahih oleh al-Hafidz al-Dzahabi ini ternyata dinilai dlaif oleh ulama Wahabi dengan alasan Hakim bin Utsman dan neneknya, Rabab, keduanya tidak populer sebagai perawi yang adil (Silsilah Dlaifah, 4/353). Meski demikian ahli hadis al-Khattabi beristidlal dari hadis ini:

جُمْلَة يَا سَيِّدِي هِيَ مَقُولَة سَهْل بْن حُنَيْفٍ لِرَسُولِ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا هِيَ مَقُولَة الرَّبَاب لِسَهْلِ بْن حُنَيْفٍ وَيُؤَيِّد هَذَا الْمَعْنَى قَوْل الْحَافِظ بْن الْقَيِّم كَمَا سَيَجِيءُ وَقَالَ الْخَطَّابِيُّ : فِيهِ جَوَاز أَنْ يَقُول الرَّجُل لِرَئِيسِهِ يَا سَيِّدِي (عون المعبود - ج 8 / ص 414)
“Redaksi ‘Ya Sayidi’ adalah perkataan Hunaif bin Sahal kepada Rasulullah Saw. Ini bukan perkataan Rabab kepada Sahal. Hal ini diperkuat pendapat al-Hafidz Ibnu al-Qayyim. Al-Khattabi berkata: “Dalam hadis ini diperbolehkan mengucapkan kepada pimpinan dengan kalimat ‘Ya Sayidi’.” (Aun al-Ma’bud, Syarah Sunan Abi Dawud, 8/414)

    Oleh : Ust. Muhammad Ma'ruf Khozin

Related Articles

Nama-Nama Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam 2

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (6)

“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. Ash-Shaff: 6).

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah Nabi dan Rasul terakhir, agama yang dibawa beliau adalah agama yang terakhir dan terbaik. Kitab suci Al-Qur`an yang diturunkan kepada beliau adalah kitab suci terakhir dan penyempurna bagi kitab-kitab suci sebelumnya. Bagi sebagian orang, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam hanya mempunyai satu nama, namun pada kenyataannya beliau mempunyai banyak nama. Di antara sekian banyak nama Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam itu dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Minjaj Syarh Shahih Muslim ibn Al-Hajjaj, atau lebih dikenal dengan Syarh Shahih Muslim, penjelasan kitab Shahih Muslim. Berikut adalah hadits-hadits tersebut:

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ وَاللَّفْظُ لِزُهَيْرٍ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنِ الزُّهْرِيِّ سَمِعَ مُحَمَّدَ بْنَ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِي وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ

Zuhair bin Harb, Ishaq bin Ibrahim, dan Ibnu Abi Umar telah memberitahukan kepadaku –dan lafazh ini milik Zuhair-, Ishaq mengatakan, “Sufyan bin Uyainah telah mengabarkan kepada kami”, sementara dua perawi yang lain mengatakan, “Sufyan bin Uyainah telah memberitahukan kepada kami, dari Az-Zuhri, dia telah mendengar Muhammad bin Jubair bin Muth’im memberitahukan hadits dari ayahnya (Jubair), bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah Al-Mahi (penghapus), yang karena aku dihapuskan kekufuran. Aku adalah Al-Hasyir (pengumpul), di mana seluruh manusia akan dikumpulkan sesudahku. Aku adalah Al-Aqib (nabi yang datang terakhir).” Dan Al-Aqib adalah nabi yang tidak akan ada lagi seorang nabi sesudahnya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi).

حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُوْل الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِي أَسْمَاءً أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو الله بِيَ الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمَيَّ وَأَنَا الْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ أَحَدٌ وَقَدْ سَمَّاهُ الله رَءُوفًا رَحِيْمًا

Harmalah bin Yahya telah memberitahukan kepadaku, Ibnu Wahab telah mengabarkan kepada kami, Yunus telah mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im, dari ayahya (Jubair), bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya aku memiliki beberapa nama. Aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah Al-Mahi (penghapus), yang karena aku dihapuskan kekufuran. Aku adalah Al-Hasyir (pengumpul), di mana seluruh manusia akan dikumpulkan sesudahku. Aku adalah Al-Aqib (nabi yang datang terakhir) yang tidak akan ada lagi seorang nabi sesudahnya.” Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menamakan beliau dengan orang yang sangat penyantun dan sangat penyayang.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi).

وَحَدَّثَنِيْ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ ح وَحَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ ح وَحَدَّثَنَا عَبْدُ الله بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ كُلُّهُمْ عَنِ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَفِي حَدِيْث شُعَيْبٍ وَمَعْمَرٍ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي حَدِيْث عُقَيْلٍ قَالَ قُلْتُ لِلزُّهْرِيِّ وَمَا الْعَاقِبُ قَالَ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ وَفِي حَدِيْث مَعْمَرٍ وَعُقَيْلٍ الْكَفَرَةَ وَفِي حَدِيْث شُعَيْبٍ الْكُفْرَ

Dan Abdul Malik bin Syu’aib bin Al-Laits telah memberitahukan kepadaku, dia mengatakan, “Ayahku (Syu’aib) telah memberitahukan kepadaku, dari kakekku (Al-Laits), Uqail telah memberitahukan kepadaku. (H) Dan Abdu bin Humaid telah memberitahukan kepada kami, Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami, Ma’mar telah mengabarkan kepada kami. (H) Dan Abdullah bin Abdurrahman Ad-Darimi telah memberitahukan kepada kami, Abu Al-Yaman telah mengabarkan kepada kami, Syu’aib telah mengabarkan kepada kami, mereka semua meriwayatkan dari Az-Zuhri, dengan sanad ini. Di dalam hadits riwayat Syu’aib dan Ma’mar disebutkan, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.“ Di dalam hadits riwayat Uqail disebutkan, “Aku pernah bertanya kepada Az-Zuhri, “Apa yang dimaksud dengan Al-Aqib?” Az-Zuhri menjawab, “Nabi yang tidak akan ada lagi seorang nabi sesudahnya.” Dan di dalam riwayat Ma’mar dan Uqail disebutkan, “Orang-orang kafir.” Sementara di dalam hadits riwayat Syu’aib disebutkan, “Kekufuran.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi).

وَحَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا جَرِيْرٌ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى اْلأَشْعَرِيِّ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَمِّي لَنَا نَفْسَهُ أَسْمَاءً فَقَالَ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ وَالْمُقَفِّي وَالْحَاشِرُ وَنَبِيُّ التَّوْبَةِ وَنَبِيُّ الرَّحْمَةِ

Dan Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzhali telah memberitahukan kepada kami, Jarir telah mengabarkan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Amru bin Murrah, dari Abu Ubaidah, dari Abu Musa Al-Asy’ari, dia mengatakan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menyebutkan beberapa nama beliau kepada kami, beliau bersabda, “Aku adalah Muhammad, Ahmad, Al-Muqaffi (nabi yang datang terakhir), Al-Hasyir (pengumpul), Nabiyuttaubah (Nabi pembawa taubat), dan Nabiyyurahmah (Nabi pembawa kasih sayang).” (HR. Muslim)

Tafsir hadits

Dalam hadits-hadits yang terdapat pada bab ini disebutkan beberapa nama yang dimiliki Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan beliau masih mempunyai banyak nama yang lain. Abu Bakar bin Al-Arabi bin Al-Maliki, di dalam kitabnya yang berjudul Al-Ahwadzi Fi Syarh At-Tirmidzi menyebutkan berdasarkan yang dia riwayatkan dari beberapa perawi, bahwasanya Allah Ta’ala memiliki seribu nama, dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga memiliki seribu nama. Di dalam kitab tersebut Abu Bakar menjelaskan sekitar enampuluhan nama secara terperinci.

Pakar bahasa arab menuturkan, “Dikatakan رَجُلٌ مُحَمَّدٌ (lelaki terpuji) dan رَجُلٌ مَحْمُوْدٌ (lelaki yang dipuji), jika seseorang mempunyai banyak sifat-sifat yang terpuji.” Ibnu Faris dan ulama lainnya mengatakan, “Oleh karena itulah Nabi kita Shallallahu Alaihi wa Sallam dinamai dengan Muhammad dan Ahmad. Allah Ta’ala mengilhamkan kepada keluarga beliau untuk menamai beliau dengan nama yang indah tersebut, karena mereka yakin bahwa bayi yang lahir dalam keluarga mereka itu mempunyai sifat-sifat yang terpuji.”

Perkataannya, وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِيْ يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ “Aku adalah Al-Mahi (penghapus), yang karena aku dihapuskan kekufuran.”

Para ulama mengatakan, “Maksudnya adalah menghapus kekufuran dari kota Mekah, Madinah, semua negeri arab, dan semua penjuru bumi yang dibentangkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, di mana beliau telah dijanjikan bahwa daerah-daerah tersebut akan berada di bawah kekuasaan umat beliau. Ada kemungkinan, yang dimaksud adalah penghapusan yang bersifat umum, di mana agama Islam akan diberi keunggulan dengan kekuatan hujjah (dalil) dan mendapatkan kemenangan. Hal ini sebagaimana yang diterangkan di dalam firman Allah Ta’ala,

لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ

“…untuk diunggulkan atas segala agama….” (QS. At-Taubah: 33, QS. Al-Fath: 28, QS. Ash-Shaff: 9).

Dalam hadits yang lain dijelaskan, bahwa maksud dari Al-Mahi (penghapus) adalah Nabi yang mana kesalahan orang-orang yang mengikuti ajarannya dihapus karena kemuliaan dirinya. Bisa juga diartikan dengan Nabi yang karenanya dihapuskan kekufuran. Dan hal ini selaras dengan firman Allah Ta’ala yang berbunyi,

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ (38)

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu (Abu Sufyan dan kawan-kawannya), “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu…..” (QS. Al-Anfaal: 38).

Begitu pula dengan hadits shahih yang menyebutkan,

اْلإِسْلاَمُ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ

“Islam menghapuskan apa yang ada sebelumnya.”

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِيْ يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِي

“Aku adalah Al-Hasyir (pengumpul), di mana seluruh manusia akan dikumpulkan sesudahku.”

Dalam riwayat kedua disebutkan,

وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِيْ يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمَيَّ

“Aku adalah Al-Hasyir (pengumpul), di mana seluruh manusia akan dikumpulkan sesudahku.”

Adapun riwayat kedua, maka semua naskah mencantumkan hal yang sama, yaitu kalimat عَلَى قَدَمَيَّ yang secara bahasa artinya ketika aku berdiri di atas kakiku. Namun sebagian ulama ada yang membaca Ala Qadami (dalam bentuk tunggal), dan ada yang membaca Ala Qadamayya (dalam bentuk ganda). Sedangkan riwayat pertama, maka sebagian besar naskah mencantumkan kalimat عَلَى عَقِبِي (sesudahku). Sementara dalam sebagian naskah dicantumkan kalimat عَلَى قَدَمَيَّ (sesudahku), seperti riwayat yang kedua. Para ulama menuturkan, “Maksud kedua kalimat tersebut adalah bahwa manusia akan dikumpulkan setelahku, mereka semua termasuk ke dalam masa di mana kenabianku dan kerasulanku terus berlaku, dan tidak akan ada seorang pun nabi sesudahku.” Ada yang berpendapat, “Maksudnya kedua kalimat tersebut adalah bahwa manusia akan mengikuti ajaranku.”

Perkataannya, وَالْمُقَفِّي وَالْحَاشِرُ وَنَبِيُّ التَّوْبَةِ وَنَبِيُّ الرَّحْمَةِ “Al-Muqaffi (nabi yang datang terakhir), Al-Hasyir (pengumpul), Nabiyuttaubah (Nabi pembawa taubat), dan Nabiyyurahmah (Nabi pembawa kasih sayang).”

Adapun kata الْعَاقِب maka maksudnya telah disebutkan dalam hadits di atas, di mana Al-Aqib artinya Nabi yang tidak akan ada lagi seorang nabi sesudahnya, dengan kata lain Nabi yang datang terakhir. Ibnu Al-A’rabi menuturkan, “Kata الْعَاقِب dan الْعُقُوْب artinya seseorang yang menggantikan kebaikan yang telah diperbuat oleh orang sebelumnya. Dalam kalimat bahasa arab disebutkan, عَقِبَ الرَّجُل لِوَلَدِهِ (lelaki itu menggantikan kebaikan untuk anaknya).”

Adapun kata الْمُقَفِّي “Al-Muqaffi” maka menurut Syamir artinya sama dengan Al-Aqib, yakni Nabi yang datang terakhir. Sementara Ibnu Al-A’rabi menuturkan, “Maksudnya Nabi yang mengikuti para Nabi sebelumnya.” Dalam kalimat bahasa arab dinyatakan, قَفَوْتُهُ, أَقْفُوْهُ, قَفَّيْتُهُ, أُقَفِّيْهِ artinya aku mengikutinya. Dikatakan, قَافِيَةُ كُلِّ شَيْءٍ artinya akhir dari segala sesuatu.

Dalam hadits di atas disebutkan beberapa kalimat seperti نَبِيُّ التَّوْبَة “Nabiyuttaubah”, نَبِيُّ الرَّحْمَةِ “Nabiyyurahmah”, dan نَبِيُّ الْمَرْحَمَة “Nabiyyulmarhamah”, arti dari semua kalimat ini hampir sama. Maksudnya adalah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam diutus sebagai Nabi yang membawa taubat dan membawa kasih sayang di antara manusia. Allah Ta’ala telah berfirman,

رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ (29)

“…berkasih sayang sesama mereka…” (QS. Al-Fath: 29).

Firman Allah Ta’ala,

وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ (17)

“……dan saling berpesan untuk berkasih saying.” (QS. Al-Balad: 17)

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dinamakan dengan نَبِيُّ الْمَلاَحِم “Nabi perang.” Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dinamakan demikian karena beliau diutus untuk berjihad dan berperang di jalan Allah Ta’ala dalam membela agama.

Para ulama mengatakan, “Di dalam semua hadits yang ada hanya diungkapkan beberapa nama yang sudah disebutkan ini saja, padahal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam masih mempunyai nama-nama lain yang masih banyak seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Hal itu karena nama-nama yang telah disebutkan ini juga tercantum di dalam kitab-kitab suci sebelum Al-Qur`an dan diketahui oleh umat-umat terdahulu sebelum agama Islam datang.”

Wallahu A’lam.

Nama-nama lain dari nabi Muhammad.

ibn 'Araby mengatakan bahwa nabi memiliki 1000 nama, sedangkan as-Suyuthi merincinya menjadi 500 nama, al-Jazuly dalam Dalailul Khairatnya menyebutkan ada 201 nama, sedangkan as-Sakhawi, al-Qhadi 'Iyadh dll, menyebutkan ada lebih dari 400 nama.
Ka'b al-Ahbar pernah berkata: "ahli surga menyebut nabi dengan nama 'Abdul Karim, ahli neraka memanggil dengan nama 'Abdul Jabbar, ahli 'Arsy memanggil dengan nama 'Abdul Hamid, para malaikat memanggil dengan nama 'Abdul Majid, para Nabi memanggil dengan nama 'Abdul Wahhab, syaithan memanggil dengan nama 'Abdul Qahhar, jin memanggil dengan sebutan 'Abdur Rahim, hewan liar memanggil dengan nama 'Abdur Razzaq, sedangkan hewan buas memanggil dengan sebutan 'Abdus Salam, burung-burung menyebutnya 'Abdul 'Ghaffar, dan orang mu'min memanggil Nabi dengan nama Muhammad saw."
al-Quran menyebut Nabi dengan sebutan Muhammad, sedangkan Injil menyebutnya dengan nama Ahmad, dalam Taurat disebutkan dengan nama Ahyad, sedangkan dalam Zabur dipanggik dengan nama Faruq.
Nabi pernah berkata: "aku bersumpah pada diriku sendir untuk tidak akan memasukan orang-orang yang bernama Ahmad dan Muhammad kedalam Neraka".
Semoga kita tergolong orang yang mendapat syafa'at Nabi Muhammad.
*nama Nabi yang mana yang cocok dengan nama anda?

NAMA DAN JULUKAN RASULULLAH

  1. Muhammad : Yang Sangat Terpuji (Surah 3:144, 33:40, 47:2, 48:29).
  2. Ahmad : Yang paling agung puja dan pujinya kepada Allah (Surah 61:6).
  3. Hamid : Yang Memuji.
  4. Mahmud : Yang Terpuji.
  5. Qasim : Yang Membagi (sebenarnya Abul Qasim, Ayah Qasim, yang merupakan kunyah (julukan atau panggilan yang lazim untuk Nabi), beliau juga dipanggil Abu Ibrahim (nama kedua putra Nabi yang juga wafat saat kanak kanak).
  6. ‘Aqib : Yang Mengikuti, Yang Terakhir, sesudahnya tidak akan ada Nabi lagi.
  7. Fatih : Yang Membuka, Yang Menaklukkan.
  8. Syahid : Saksi (Surah 33:45).
  9. Hasyir : Yang Pertama dibangkitkan dari kubur dan Mengumpulkan Manusia (pada Hari Kiamat) di Padang Masyar.
  10. Rasyid : Yang Terbimbing (surah 11:78).
  11. Masyhud : Yang Tersaksikan.
  12. Basyir : Pembawa Kabar kabar Baik (surah 7:88).
  13. Nadzir : Pemberi Peringatan (surah 33:45 dan sering).
  14. Da’i : Penyeru (surah 33:46).
  15. Syafi : Yang Menyembuhkan.
  16. Hadi : Yang Memandu ke Kebenaran (surah 13:7).
  17. Mahdi : Yang Terbimbing Baik.
  18. Mahi : Yang Menghapus (kedurhakaan), dengannya Allah menghapuskan kekafiran.
  19. Munzi : Yang Menyelamatkan, Yang Menyampaikan.
  20. Naji : Keselamatan.
  21. Rasul : Utusan (banyak terdapat di dalam Al-Quran).
  22. Nabi : (banyak terdapat di dalam Al-Quran).
  23. Ummi : Buta huruf (surah 21:107).
  24. Tihami : Dari Tihama.
  25. Hasyimi : Dari Keluarga Hasyim.
  26. Abthani : Milik Al-Bathha (daerah di seputar Makkah).
  27. Aziz : Yang Mulia (surah 9:128). Aziz juga sebuah Nama Allah.
  28. Harish ‘alaikum : Penuh Perhatian terhadap Anda (surah 9:128).
  29. Rauf : Lembut (surah 9:128). Juga sebuah Nama Allah.
  30. Rahim : Penyayang (surah 9:128). juga sebuah Nama Allah.
  31. Thaha : (surah 20:1).
  32. Mujtaba : Yang Terpilih.
  33. Thasin : (surah 27:1).
  34. Murtadha : Yang Diridhai.
  35. Hamim : (permulaan surah 40:46).
  36. Mushtafa : Yang Terpilih.
  37. Yasin : (surah 36:1).
  38. Aula’ : Yang Lebih Patut, Yang Lebih Baik (surah 33:6).
  39. Muzammil : Yang Terbungkus (surah 74:1).
  40. Wali : Sahabat, Yang Menolong, Yang Berbuat Kebaikan. Juga sebuah nama Allah.
  41. Mudatstslr : Yang Berselimut (surah 73:1).
  42. Matin : Yang Kukuh.
  43. Mushaddiq : Yang Menyatakan Kebenaran (surah 2: 101).
  44. Thayyib : Yang Baik.
  45. Nashir : Yang Menolong. Juga sebuah Nama Allah.
  46. Manshur : Yang Ditolong (oleh Allah), Yang Berjaya.
  47. Mishbah : Dian, Lampu (surah 24:35).
  48. Amir : Pangeran, Pemimpin.
  49. Hijazi : Dari Hijaz.
  50. Tarazi
  51. Quraisyi : Dari Suku Quraisy.
  52. Mudhari : Dari Suku Mudhar.
  53. Nabi Al Tawbah: Nabinya Tobat.
  54. Hafizh : Yang Menjaga. Juga sebuah Nama Allah.
  55. Kamil : Yang Sempurna.
  56. Shadiq: : Yang Lurus, Tulus, Suci (surah 19:54), digunakan untuk Ismail.
  57. Amin : Yang Terpercaya (surah 26:107, 81:21).
  58. Abdullah : Hamba Allah.
  59. Kalim Allah : Dia yang kepadanya Allah Berfirman (biasanya nama kehormatan Musa).
  60. Habib Allah : Sahabat Tercinta Allah.
  61. Naji Allah : Sahabat Karib Allah (biasanya nama kehormatan Musa).
  62. Shafi Allah : Sahabat Tulus Allah (biasanya nama kehormatan Adam).
  63. Khatam Al-Anbiya’: Penutup Para Nabi (surah 33:40).
  64. Hasib : Yang Mulia. Juga sebuah Nama Allah.
  65. Mujib : Yang Menjawab. Juga sebuah Nama Allah.
  66. Syakur : Yang Banyak Bersyukur. Juga sebuah Nama Allah.
  67. Muqtashid : Mengambil sebuah Jalan Tengah (surah 35:32).
  68. Rasul Al Rahmah : Rasulnya Rahmat.
  69. Qawi : Kuat. Juga sebuah Nama Allah.
  70. Hafi : Yang Tahu (surah 7:187).
  71. Ma ’mun : Terpercaya.
  72. Ma ‘lum : Termasyhur.
  73. Haqq : Kebenaran (surah 3:86).
  74. Mubin : Jelas, Nyata (surah 15:89).
  75. Muthi : Taat.
  76. Awwal : Pertama. Juga sebuah Nama Allah.
  77. Akhir : Terakhir. Juga sebuah Nama Allah.
  78. Zhahir : Yang Lahir, Eksternal. Juga sebuah Nama Allah.
  79. Bathin : Yang Batin. Juga sebuah Nama Allah.
  80. Yatim : Yatim (surah 93:6).
  81. Karim : Yang Pemurah (surah 81:19). Juga sebuah Nama Allah.
  82. Hakim : Yang Arif, Bijaksana. Juga sebuah Nama Allah.
  83. Sayyid : Tuan (surah 3:39).
  84. Siraj : Dian, Lampu (surah 33:46).
  85. Muni r : Bercahaya (surah 33:46).
  86. Muharram : Yang Terlarang, Suci.
  87. Mukarram : Yang Mulia.
  88. Mubasysyir : Pembawa Kabar Baik (surah 33:45).
  89. Mudzakkir : Yang Mengingatkan.
  90. Muthahhar : Suci.
  91. Qarib : Dekat. Juga sebuah Nama Allah.
  92. Khalil : Sahabat Baik (biasanya nama kehormatan Ibrahim).
  93. Mad’u : Yang Diseru.
  94. Jawwad : Yang Pemurah.
  95. Khatim : Penutup (surah 33:40).
  96. ‘Adil : Yang Adil.
  97. Syahir : Termasyhur.
  98. Syahld : Yang Menyaksikan, Saksi. Juga sebuah Nama Allah.
  99. Muqaffi : Nabi Yang Datang sesudah Nabi Nabi sebelumnya dan mengikuti jejak mereka.
  100. Malhamah : Nabi yang telah diijinkan baginya dan bagi umatnya berperang melawan orang kafir yang menentangnya.
  101. Rasul Al-Malahim : Rasulnya Pertempuran pertempuran Hari hari Terakhir.
  102. Salah satu nama yang paling sering disebut-sebut namun tidak terdapat di dalam daftar khusus ini adalah ‘Abduhu (hambaNya, hamba Allah) yang terdapat di dalam surah 17:1 dan 53:10 dan lazim sebagai sebuah nama orang (misalnya, Muhammad ‘Abduh).
  103. Begitu pula, Mutha‘, Yang Ditaati (surah 81:21) juga tidak tercantum di sini.
Sumber: Daltar ini diambil dari copy Al-Quran milik penulis (Annemarie Schimmel) (Lahore: Taj Company), yang mengandung 17 x 6 = 102 nama, di antaranya dua kali Rasul Al-Rahmah, plus Nabi Al-Rahmah, sementara julukan (kunyah) Nabi, Abu al Qasim, tidak disebut-sebut.

Nama Muhammad di sebut Nabi Isa dalam Al Qur'an

Ketika Rasuulluh Saw belum dilahirkan, nabi-nabi terdahulu, mulai Nabi Adam sampai Nabi Isa telah memberi kabar kepada umatnya akan datangnya nabi akhir zaman dengan ciri-ciri yang tertentu. Yaitu, dilahirkan di kota Makkah, hijrah di kota Madinah dan wafatnya juga di kota Madinah, dan kekuasaannya membentang sampai di kota Syam. Nama Rasulullah Saw kalau di Kitab Injil adalah Ahmad.
Allah berfirman

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
"Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (QR. As-Shaf : 6)

Perlu diketahui, bahwa nama yang dikemukam oleh Nabi Isa tadi, itu bukan sekedar nama. Akan tetapi merupakan pemberian dari Allah Swt yang tentunya ada makna yang terkandung. Di dalam nama Ahmad jika ditulis dengan huruf Arab tanpa dipisah-pisah ada filsuf tentang adanya gerakan salat. Huruf alif (ا) menunjukan simbol tentang orang yang berdiri. Huruf ha (ح) menggambarkan tentang orang yang sedang rukuk. Huruf mim (�…) menggambarkan tentang orang yang sedang sujud. Huruf dal (د)  menunjukan gambaran orang yang sedang duduk tahiyat salat.

Selain makna tersebut, ada juga makna yang tersembunyi di balik nama Ahmad. Yaitu, secara Gramatika Arab, kata Ahmad itu termasuk sighat mubalaghah (bentuk yang mempunyai arti banyak) dari kata Hamdu (memuji). Jadi, bisa diambil kesimpulan bahwa Nabi Ahmad, nama dari Nabi Muhammad Saw mempunyai arti orang yang paling banyak memuji Allah.

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Aku adalah Ahmad tanpa mim (�…)” Ahmad tanpa mim (�…) akan mempunyai arti Ahad (Esa), yang merupakan sifat Allah yang sangat unik. Mim (�…) yang merupakan simbol personafikasi dan manifestasi Allah dalam diri Nabi Muhammad Saw pada hakikatnya adalah bayangan Ahad yang ada di alam semesta. Mim adalah wasilah antara makhluk dengan Khaliqnya. Mim adalah jembatan yang menghubungkan para kekasih Allah dengan sang kekasihnya yang mutlak. Dengan kata lain, Nabi Muhammad Saw merupakan mediator antara makhluk dengan Allah Swt.

Menurut Iqbal, "Muhammad benar-benar berfungsi “mim” yang  “membumikan” Allah dalam kehidupan manusia. Dialah “Zahir”nya Allah; dialah Syafi’ (yang memberikan syafaat, pertolongan dan rekomendasi) antara makhluk dengan Tuhannya. Ketika anda ingin merasakan kehadiran Allah dalam diri anda, hadirkan Muhammad. Ketika anda ingin disapa oleh Allah, sapalah Muhammad. Ketika anda ingin dicintai Allah, cintailah Muhammad. Qul inkuntum tuhibbunallah fat tabi’uni yuhbibkumullah, “Apabila kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku (Muhammad) kelak Allah akan cinta kepada kalian.” Kepada orang seperti inilah kita diwajibkan cinta, berkorban dan bermohon untuk selalu bersamanya, di dunia dan akhirat. Sebab seperti kata Nabi, “Setiap orang akan senantiasa bersama orang yang dicintainya.”

Selain nama Ahmad, Rasulullah Saw juga mempunyai nama Muhammad. Nama ini pemberian dari kakeknya, Abdul Muthalib. Nama ini diilhami atas  harapan besar  Abdul Muthalib agar kelak cucunya ini dipuji oleh makhluk seantero dunia karena sifatnya yang terpuji. Adapun nama tersebut kalau ditinjau secara Gramatika Arab berstatus sebagai Isim Maful (obyek) dari asal kata Hammada. Menurut kiai Maksum bin Ali dalam kitab Amsilatut Tasrifiyah menyebutkan bahwa penambahan tasdid mempunyai faidah Taksir (banyak). Jadi, artinya adalah orang yang banyak dipuji. Sebab semua makhluk di dunia ini memuji Rasulullah Saw dengan membaca shalawat untuknya. Allah berfirman, ”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab :56).

Yang heboh lagi, dari nama Muhammad, di situ ada makna yang terkandung. Yaitu, jika kita mau mengangan-angan kerangka huruf Muhammad apabila ditulis dengan hurup Arab ternyata menunjukan kerangka manusia. Sebab, mim (�…) yang bundar dari kata Muhammad (�…ح�…د) itu menunjukan kepala manusia, karena kepala manusia itu bundar. Huruf  ha (ح) kalau kita dobelkan menjadi dua akan menunjukan dua tangan manusia. Huruf  mim (�…) yang kedua menunjukan tentang perut manusia. Huruf dal (د) menunjukan kedua kaki manusia.

Selain itu, ada juga makna-makna yang tersembunyi lagi. Yaitu, huruf mim menunjukan kata Minnah yang berarti anugerah. Sebab, Allah memberi anugerah kepada Rasulullah Saw dengan anugerah yang sangat luar biasa melebihi apa yang telah diberikan kepada yang lainnya. Huruf ha menunjukan kata Hubbun (cinta). Sebab, Allah mencintai Nabi Muhammad Saw dan umatnya melebihi cintanya kepada nabi-nabi yang lain beserta umatnya. Huruf mim yang kedua menunjukan kata Maghfirah yang berarti ampunan. Sebab, Allah mengampuni segala dosa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, baik yang sudah lampau atau yang akan datang. Nabi Muhammad Saw adalah nabi yang maksum (terjaga dari melakukan dosa). Adapun jika disandarkan untuk umatnya, maka  Allah akan mengampuni dosa-dosa umat Nabi Muhammad Saw jikalau mereka mau bertaubat. Tidak seperti umat-umat terdahulu yang apabila melakukan dosa langsung mendapat siksa dan teguran dari Allah. Huruf dal menunjukan kata Dawaamuddin. Artinya, abadinya agama Islam. Sebab, agama Islam akan tetap ada sampai akhir zaman. Apabila agama Islam sudah lenyap karena ditinggal oleh manusia, maka tunggulah kehancuran dunia ini.

Kesimpulan dari semua ini adalah, kalau orang itu sudah mengaku agamanya Islam, maka kerjakanlah salat. Sebab, salat merupakan tiang agama dan merupakan ajaran nabi-nabi terdahulu yang disempurnakan oleh Nabi Muhammad Saw. Jika seseorang sudah menjalankan salat dan ajaran Islam yang lainnya, maka dia termasuk orang yang bertaqwa yang akan dimasukkan Allah ke dalam surga-Nya. Karena umat Nabi Muhammad Saw yang masuk ke surga itu akan dirupakan manusia. Mengapa demikian? Ini kembalinya kepada keagungan nama Nabi Muhammad saw yang menunjukkan kerangka manusia. Apabila  manusia masih berbentuk manusia, maka dia tidak akan masuk neraka. Adapun mengenai orang kafir, ada ulama yang berpendapat bahwa mereka di neraka itu berwujud babi.

*Penulis Adalah Esais dan ketua Website PP. Al Anwar Sarang Rembang Jateng asal Pati.

Rahasia dibalik nama Nabi Muhammad SAW





Subhanallah, Inilah ternyata rahasia dibalik nama Nabi Muhammad SAW
Rahasia di sebalik nama Muhammad, di mana banyak makna yang tersirat dalam kebesaran nama yang sederhana itu. entah apakah ini merupakan salah satu mukjizat atau sekadar kebetulan saja, bahawa ada fakta menarik di abjad / huruf-huruf yang tersusun dari nama itu:

1. Kata Muhammad , jika kita gabungkan dalam bentuk normal mim ha mim dal, maka akan menjadi sebuah sekesta seorang manusia. sudah maklum adanya bahawa sebaik-baik makhluk / ciptaan yang pernah dicipta oleh Tuhan di alam semesta ini adalah manusia dengan kelebihan aqal mereka, sementara makhluk hanyalah hayawan dan planet-planet yang penuh rahsia.


Manusia Sempurna:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh01TSwj4RkJytzh8mgBJysEK8XFjfIxMVImMIN0abWfudIRRq9VVC8mObmrUYcz6XgFyUcMIk54BYDcN3R3n4fJwVQz29JebWbZ2gRRSrJV2ic7LgSqmaK9zPvQg9YCzyGShc06_tbfHSD/s1600/kjccrd3x.jpg

2. kata Ahmad , jika kita cermati satu-persatu hurufnya maksud huruf-huruf itu akan mennggambarkan sosok orang yang sedang melakukan solat, tahukah kita bahawa solat merupakan sebaik-baik doa dan ibadah yang pernah diperintahkanNya.
 Ahmad Terpisah:https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiI2xlLvL-m_RPHSQF0lpusvkW89IpizCZ0unj_fEhryZIn9zlV99aMfSeFAc90mZnNsdetZD_n5FXNdSa5apZpP2FVwnj8kblAmCjC7vwfQ2KAeEE3uXph8GJ0ztH7POM0z15G3pij9g9g/s1600/tixruruj.jpg

3. Kata Muhammad jika digabungkan huruf-hurufnya maka akan berbentuk layaknya manusia yang sedang sujud dalam solat. dalam ritual solat Sujud merupakan inti dari semua rukun-rukunnya, kerana pada saat sujud manusia menundukkan 8 bahagian tubuhnya di bumi bukti kepasrahan total kepada sang pencipta. hmmm betapa rahsia Tuhan sangat menggetarkan hati, saya yakin masih banyak tersirat rahsia-rahaisa lain di sebalik sosok, nama dan semua yang berkaitan dengan sang kekasih sejati ' Habibullah: Muhammad '.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPRB1PxLx-heXm8eL-uz26dExilK3gT01t2F5zl3dSR7B6XpO6MHAYEmqGcuB8uuIwJuyjsZbuoNTCeEZJfSHspcsYCVxbBqdXf7Koj65WKHrdvweDmPLxsCZyJV7_GGqrwpiPkbFTtO7N/s1600/muhammad.jpg